
Seminggu berlalu setelah kejadian itu. Area sekitar gereja masih terlihat sepi dan hanya beberapa orang yang melintas di sana. Itu pun dilewati dengan penuh rasa takut dan trauma akibat pembantaian yang dilakukan oleh tiga zombi sekaligus. Tidak ada kabar mengenai pasukan anjing ratu yang sebelumnya terluka parah begitu juga dengan kediaman keluarga Leory yang masih menutup pintu dan tidak menjelaskan kejadiannya.
Sama halnya yang dialami Eldric saat ini. Saat kejadian, ia sempat tertidur selama dua hari sebelum akhirnya bangun dengan luka yang ada di sekujur tubuhnya. Kain kasa masih menutupi beberapa area tubuhnya yang masih terluka. Wajahnya pun memiliki sebuah plester akibat luka gores yang dialaminya.
Dia duduk sendirian di atas sofa kulitnya yang berwarna krem. Dengan membawa selimut yang berada di punggungnya, dia berusaha melupakan apa yang terjadi di gereja saat itu. Dia pun juga memikirkan bagaimana keadaan Ayhner saat ini. Mungkin saja luka yang dialami Ayhner lebih parah darinya dan hingga sekarang dia belum melihatnya sama sekali.
”Tuan, ada pesan untuk Anda.” seorang wanita muda berjalan menghampirinya dengan membawa sebuah amplop putih di tangannya. ”... Tuan dan Nyonya Hanley ingin segera menemui Anda. Keduanya sedang berada dalam perjalanan menuju tempat ini.”
Eldric menghela nafasnya dan membuang surat yang diberikan padanya. Sudah biasa Eldric selalu menolak kedatangan seorang pun ke rumahnya bahkan kedua orang tuanya sendiri. Biasanya ia akan memilih pergi jauh selama berjam-jam bahkan berhari-hari. ”Siapkan kereta. Aku akan pergi menjenguk seseorang.”
”Tapi, bagaimana dengan Tuan dan Nyonya Hanley yang ingin melihat Anda.”
”Aku tidak peduli. Siapkan saja kereta kuda untukku. Bilang saja pada mereka kalau aku ada hal yang mendesak.” ucapnya sembari meninggalkan tempat duduknya.
...~o0o~...
”Maafkan aku, Ayhner.” Aciel saat ini berada di dalam kamar Ayhner, sedang duduk tepat di sebelah tempat tidurnya sembari menggenggam tangannya.
Sudah seminggu, Ayhner tertidur seperti ini dan membuat Aciel semakin merasa cemas. Dia takut Ayhner tidak bisa kembali lagi padanya setelah dia melihat kematian Chloe langsung didepan matanya beberapa tahun lalu.
Kain kasa nyaris menutupi seluruh bagian tubuhnya. Ivonne tidak ikut serta saat mencoba menyelamatkannya karena dia sudah terlalu takut untuk melakukannya. Dia takut pada kematian yang dialami oleh orang tersayangnya karena itu dia berusaha menyelamatkan orang-orang dengan menyembuhkan luka mereka. Namun, tidak disangka. Dia malah terlalu takut untuk melihat keadaan Ayhner saat itu.
”Kumohon, bukalah matamu.” Isakan Aciel terus terdengar. Dia sangat takut tidak bisa bertemu dengan putranya lagi. Dia tidak ingin kehilangan orang tersayangnya untuk kesekian kalinya. Dia hanya bisa berharap, semoga yang dilihatnya hanyalah mimpi.
”Dimana, ini?”
__ADS_1
Suara pelan itu masih bisa didengar di telinga Aciel yang sedang memegang tangannya. Dengan cepat, Aciel langsung menatap Ayhner di sebelahnya. Benar saja, saat ini dia tengah melihat Ayhner yang sedang berusaha membuka kedua matanya.
”Ayhner! Apakah kau sudah merasa baikan? Bagian mana yang masih sakit.” dengan cepat Aciel langsung mengatakan apa yang tersimpan dalam benaknya. Dia merasa sedikit lega dan sangat bersyukur melihat Ayhner membuka kedua matanya.
Perlahan, Ayhner menatap ke arah Aciel yang berada di dekatnya. Tatapannya masih terlihat kosong seolah dia merasa bingung. Ia juga memperhatikan sekitar dan tampak tak terkejut melihat dirinya masih selamat. Selama beberapa saat dia terus terdiam, memperhatikannya. Sementara Aciel tampak sedang menunggu jawaban darinya.
Ayhner menarik nafas sebelum bertanya, ”Siapa, kau?”
Aciel terdiam, tak percaya mendengar pertanyaan Ayhner. Jantungnya nyaris berhenti berdetak saat ucapan itu menusuk telinga dan seluruh tubuhnya. Tatapan Ayhner begitu meyakinkan bahwa saat ini, dirinya yang sekarang tidak mengenal siapa sosok Aciel sebenarnya. Tapi, bagaimana itu terjadi? Apakah karena terlalu banyak obat yang digunakan sehingga itu mempengaruhi ingatannya?
”Kau tidak mengenalku, Ayhner?”
...~o0o~...
”Tuan, apakah ini adalah pilihan yang tepat?”
”Ya. Aku yakin, dia dan Ayahnya bisa memperbaiki hubungannya. Itu semua sesuai dengan rencanamu kan, Luois?” Gill menoleh ke belakang, menatap Luois yang baru saja berdiri di depan pintunya.
”Ternyata kau mampu mengetahui semuanya, ya? Itu hal yang wajar jika seseorang bisa melihat masa depan dan masa lalu seseorang.” Luois menyeringai. Sementara Sen langsung berdiri di depan Gill, menutupi pandangannya dari Luois.
”Kau bukanlah manusia. Bagaimana kau bisa masuk kemari?” ucap Sen dengan waspada.
”Aku sudah tahu dia akan datang kemari. Jadi, aku membiarkannya masuk.” ucap Gill menjawab pertanyaan Sen.
”Kau memiliki pelayan yang sangat melindungimu.” Luois memberi jeda. ”... Aku kemari hanya untuk memberimu ini.” Luois melemparkan sebuah kartu as hati ke lantai dan diperhatikan oleh mereka berdua.
__ADS_1
Luois melanjutkan, ”... Sembilan tahun lalu, ada seorang anak yang memberikannya padaku. Aku tidak tega membuangnya jadi aku berikan saja padamu.” setelah mengatakannya, dengan segera Luois berjalan pergi meninggalkan tempatnya.
Sen mengambil kartu itu dari atas lantai dan memperhatikannya. Tampak jelas hanya sebuah kartu biasa yang sudah sangat tua dan terdapat banyak lipatan di sekitarnya. ”... Dia tampak seperti orang yang tidak akan menyesal ketika melepas sesuatu. Tapi, hanya membuang kartu tua ini, mengapa sangat sulit dilakukannya?”
Gill kembali berdiri menghadap keluar jendela dan menjawab, ”... Dia bisa membuangnya tetapi tidak sanggup membuang kenangan yang ada di dalamnya.”
...~o0o~...
”Apa maksudmu putraku tidak ada di sini?!” Nyonya Hanley langsung membentak seorang pelayan wanita ketika dia baru saja mengatakan kalau Eldric baru saja pergi dengan kereta kudanya.
”I- iya Nyonya. Tuan muda melarangku untuk mengatakan kemana dia akan pergi.” ucap pelayan dengan terpaksa.
”Sudahlah, tidak perlu semarah itu. Kita akan menunggunya sampai dia kembali.” ucap Tuan Hanley sembari duduk di sofa dan mengangkat secangkir teh hangat yang sudah disediakan.
Nyonya Hanley mendengus kesal dan melepaskan pelayan wanita yang dibentaknya tadi. ”... Kau tahu kan kalau anak kita itu sangat sulit diatur. Dia malah memutuskan tinggal sendiri saat tabungannya cukup untuk membeli rumah.” Nyonya Hanley menyusul dengan duduk tepat disebelah Tuan Hanley.
”Dia sama sepertimu.”
”Hah?!” Nyonya Hanley menatap wajahnya dengan jengkel dan sedikit terkejut.
”Kau dulu juga memutuskan untuk tinggal sendiri saat tabunganmu sudah cukup kan?”
”S- siapa yang menceritakannya padamu?! Itu bukanlah aku!” Nyonya Hanley mendadak canggung saat mendengarnya.
”Tentu saja. Setiap anak pasti menuruni sifat orang tuanya kan?”
__ADS_1