
”Dimana ini?”
Ayhner yang baru saja membuka matanya tak sadar dirinya berada di sebuah tempat yang menurutnya asing baginya. Rumah-rumah di sana kebanyakan menggunakan kayu. Tidak ada satupun yang menggunakan batu. Bahkan tak jauh di depan sana, ia melihat sebuah istana megah yang sangat luas. Tentu pemandangan ini bukanlah pemandangan yang biasa dilihatnya di London. Pakaian yang orang-orang ini gunakan juga sangat lebar dan tebal. Wanita-wanita yang ada di sini juga memiliki ekor kepang di belakang kepalanya.
Tidak salah lagi. Ini adalah Korea?!
”Bagaimana aku bisa sampai kemari?”
Ayhner bingung. Ia mencoba menyentuh seseorang yang berjalan melintasinya akan tetapi, tangannya mampu menembusnya seakan dirinya tidak nyata. Ia pun mencoba untuk kedua kalinya dan lagi-lagi tangannya tidak bisa menyentuhnya. Tentu ini sangat aneh. Apakah dia sudah mati? Itu hanyalah sakit kepala biasa! Tidak mungkin dia sampai mati!
”Aku harus kembali ke London. Tapi, bagaimana caranya? Tidak mungkin sampai harus berjalan kaki kan?”
Ayhner kebingungan. Ia sendiri tidak terlihat di sini dan tidak mampu menyentuh apapun selain tanah dan benda-benda lain. Ditambah, ia tidak tahu kemana arah menuju London dan tidak mungkin ia harus berjalan kaki seperti ini.
”Ini adalah bencana!”
Di tengah kepanikan yang terjadi dalam dirinya, tiba-tiba seseorang datang melintasinya. Seorang wanita dengan gaun berwarna merah muda dan rambut hitam. Dia juga memiliki sepasang mata berwarna ungu yang tampak indah. Yang lebih anehnya lagi, ia merasa kenal dengan sosok ini. Kepalanya tiba-tiba terasa sangat sakit. Kemudian, tanpa disadari olehnya, langkahnya berjalan menuju wanita tadi lalu menggenggam tangannya.
Wanita itu jelas langsung menoleh ke belakang, menatap ke arah Ayhner yang juga sedang menatapnya. Mereka saling menatap selama beberapa detik sampai akhirnya ia pun sadar kalau sekarang tangannya sudah bisa menyentuh tangan orang lain.
”Ajaib sekali! Apakah aku sudah terlihat oleh orang-orang ini.”
Wanita tadi tersenyum kemudian berkata, ”Ohh, Ayhner. Akhirnya aku bisa melihatmu tumbuh dewasa.”
Ayhner tersentak kaget dan langsung menatapnya. ”... Bagaimana kau tahu itu namaku?”
__ADS_1
Wanita itu tertawa kecil kemudian mendekat dan mengelus kepala Ayhner seperti biasa. ”... Tentu saja. Tujuh tahun aku membesarkanmu. Mana mungkin aku lupa dengan wajah putraku sendiri?”
”Putra?” Ayhner semakin bingung dan dirinya terus terdiam selama beberapa saat.
Wanita itu berkata, ”Benar. Kamu adalah putraku, Ayhner dan aku adalah Chloe Yeoun, Ibumu.”
Ayhner terus terdiam menatapnya. Tanpa dia sadari, air matanya jatuh menatap wajah seorang wanita yang mengaku sebagai Ibunya. Ia tidak tahu mengapa ia bisa menangis seperti ini. Padahal awalnya, ia tidak merasakan apapun.
”Kenapa aku merasa kalau kau adalah seseorang yang berharga bagiku? Kenapa, aku merasakan perasaan ini? Aku tidak bisa mengingat apapun. Tidak adakah yang bisa menjelaskan apa yang telah terjadi?” Ayhner terus menangis, kebingungan dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Kemudian, orang-orang yang ada di sekitarnya dalam sekejap menghilang seperti tak pernah ada seorangpun yang berjalan di sekitar mereka berdua. Lalu, pemandangan sebuah pemukiman kecil itu berubah menjadi sebuah hamparan rumput luas dengan aroma embun wangi dimana-mana.
Chloe mengusap wajah Ayhner secara perlahan lalu memeluknya. ”... Ya. Ini aku, ibumu. Sudah lama aku ingin bertemu denganmu. Senang melihatmu tumbuh dewasa seperti ini meskipun, aku tidak bisa menemani kesedihan yang selama ini kamu rasakan.”
~o0o~
Diwaktu bersamaan, Luois berulang kali terkena serangan yang dilakukan Leth berkali-kali namun tetap melindungi Ayhner. Aciel tampaknya tak akan pernah melepaskannya dan akan langsung membunuhnya di sini. Kemarahannya ini semakin bertambah karena ia melihat Luois yang masih belum ingin menyerahkan Ayhner padanya.
Terlihat jelas, luka yang ada di tubuh Luois kembali terbuka bahkan darahnya sampai berjatuhan ke lantai. Sudut bibirnya juga mengucurkan darah yang tidak sedikit akibat dibanting berkali-kali oleh Leth. Boneka raksasa yang selalu menjadi andalannya pun telah berhasil dihancurkan oleh monster ini. Sekarang, ia tidak membawa senjata apapun selain pisau milik Ayhner yang selalu disimpan di balik jubahnya.
”Ternyata kau sungguh-sungguh ingin mati! Leth! Cepat akhiri pertarungan ini!”
Aciel memberi perintah yang didengar oleh Leth. Kemudian monster tanpa bentuk itu membentuk sebagian dari dirinya menjadi sebuah pisau besar yang tajam. Pisau itu pernah digunakannya untuk membelah tubuh monster yang sulit dikalahkan termasuk para zombi yang menyerang di gereja beberapa waktu lalu.
”Cih! Aku masih belum ingin berakhir di sini!”
__ADS_1
Luois mengeluarkan sisa tenaganya untuk mengumpulkan serpihan-serpihan boneka yang hancur tadi menjadi ke bentuk semula. Boneka itu memegang sebuah kapak besar kemudian ia langsung berlari mengejar Leth yang sudah siap membunuhnya.
”Ahh, sekarang aku sudah ingat.”
Boneka yang dibentuk dengan sisa tenaganya telah berhasil dihancurkan oleh Leth. Sekarang, pisau pisau besar yang dibentuk dari sebagian tubuhnya tengah melaju dengan kecepatan tinggi dan akan segera mengoyak tubuhnya sampai hancur.
Ia mulai berpikir Aciel akan segera mengakhiri hidupnya. Lalu tiba-tiba, sebuah kupu-kupu biru bercahaya muncul di depannya dan membuat sebuah pelindung yang menghempas pisau pisau besar yang mengarah pada mereka berdua.
Luois begitu terkejut dengan keberadaan kupu-kupu di didepannya. Ia pun langsung menatap Ayhner yang masih dibawa olehnya dan ternyata benar, perlahan Ayhner membuka matanya dan menghentikan pertarungan dua saudara ini.
”Hentikan pertarungan kalian berdua. Ayah dan Paman Luois.” Ayhner memberi jeda selama beberapa saat untuk menatap ke arah Aciel yang tampaknya sangat terkejut melihat ingatannya sudah kembali seperti semula.
”Ayhner! Pergilah dari sana! Dia berbahaya bagimu!” ucap Aciel sedikit berteriak.
”Omong kosong. Selama ini, Paman Luois yang menemaniku dan selalu meluangkan waktunya untukku.” Ayhner memilih turun dan berdiri dengan kedua kakinya.
”Apa maksudnya, Ayhner. Dia adalah pengkhianat di keluargamu! Dirumah ini, yang dulu pernah kau tempati bersama dengannya! Dia membantai orang-orang yang ada di rumah ini! Demi tujuannya sendiri!” tegas Aciel.
”Aku sudah tahu itu.” Ayhner memberi jeda kemudian berjalan dan berdiri tepat di depan Aciel. ”... Aku tidak begitu ingat kejadiannya karena saat itu aku masih berusia tiga tahun. Aku hanya ingat satu hal saja. Aku sudah mengatakan kalau semua orang yang ada di sini adalah zombi dan mereka mengincar Ayah, Ibu juga Paman dan bibi. Tetapi, tak ada yang percaya padaku padahal aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri mereka semua telah membantai orang-orang yang ada di desa terpencil. Hanya Paman Luois yang percaya padaku. Dia membantai semua orang dan mengatakan kalau semua ini adalah keegoisannya. Ibu juga sudah memiliki firasat kalau akan terjadi pembantaian. Lalu, Ibu membawaku jauh dari rumah agar aku tidak melihatnya. Jadi, Paman Luois bukanlah seorang pengkhianat. Dia hanya mencoba melindungi semua orang hanya saja ia tidak ingin orang-orang tahu kalau dia sudah berbuat baik. Jangan menganggapnya penjahat! Lagipula dia tetap Pamanku dan dia tetap adik Ayah!”
Aciel yang mendengarnya sedikit tersentuh. Kata-kata itu keluar dari mulut putranya sendiri. Leth yang selalu berada di sebelahnya seketika menghilang saat suasana hatinya telah menjadi lebih baik. Dia ingat dan akan selalu ingat kejadian itu. Tetapi, ia tidak tahu kalau Ayhner telah mengatakan sebuah kebenaran.
Aciel menatap serius ke arah Luois dan bertanya, ”Hei! Luois! Jelaskan apa yang terjadi!”
Luois terdiam. Belum sempat menjawabnya, tiba-tiba ia terjatuh ke samping karena luka yang ada di sekujur tubuhnya kembali terbuka. Tubuhnya pun tidak bisa digerakkan sama sekali hingga akhirnya ia kehilangan kesadarannya.
__ADS_1