
”Ayhner! Menghindar dari sana!”
Dari belakang, Aciel langsung memeluk erat Ayhner begitu ia menyadari waktunya sangat mepet. Pot besar yang jatuh tadi akhirnya menghantam punggungnya hingga hancur dan berjatuhan ke tanah. Ketiga pelayan tadi sangat terkejut mendengar suara dentuman yang cukup keras dan tampaknya sangat sakit hingga membuatnya langsung terdiam di tempat. Mereka merasa bersalah dan langsung membungkuk meminta maaf.
”Maafkan kami Tuan! Kami pantas mendapatkan hukuman!” ucap ketiganya secara bersamaan.
Aciel sedikit mengangkat kepalanya kemudian menjawabnya pelan, ”Bukan apa-apa. Kalian hanya mencoba melindunginya.” Aciel memberi jeda kemudian ia berdiri memastikan Ayhner baik-baik saja. ”... Apakah kau terluka?”
Ayhner tampaknya masih sangat terkejut melihat kejadian tadi. Dalam waktu yang singkat ia terus terdiam hingga ia akhirnya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
Aciel menghela nafas kemudian menatap dinding pagar yang tampak baik-baik saja tidak kotor sedikitpun dan tidak terkoyak. ”... Sepertinya pagar ini sudah sangat tua dan potnya juga sudah terlalu tipis. Kalian bertiga!” Aciel menunjuk ketiga pelayan hingga membuat mereka terkejut.
”I- iya Tuan. Ada perintah apa?” jawab pelayan pria canggung dan ketakutan.
”Perbaiki pagar yang sudah rusak ini. Akan sangat merusak pemandangan jika tembok pagarnya sampai roboh.” jawabnya.
”B- baik Tuan! Akan kami perbaiki!” jawab pelayan pria dengan spontan.
”Tuan Leory, apa yang terjadi? Aku mendengar suara pot besar jatuh di sini.” Eldric yang tampak baru saja menuruni kereta kudanya langsung berlari menuju kediaman Leory begitu ia mendengar suara pot jatuh yang mirip dengan suara ledakan.
”Ah, aku baik-baik saja. Pot yang jatuh bukan masalah besar.” jawab Aciel yang tampak baik-baik saja.
”Ahh, itu.” Ayhner tiba-tiba menarik lengan pakaian Aciel hingga mengundang perhatiannya. ”... Kenapa kau melakukannya? Aku hanya tidak akan terluka parah kalau kau tidak melindungiku. Kenapa kamu repot melakukannya?”
Aciel terdiam sejenak. Tak lama ia pun tersenyum, menatap Ayhner penuh kasih sembari menyentuh kepalanya dengan lembut. ”... Tentu saja. Melindungimu adalah tugasku. Menjagamu agar tetap aman adalah kewajiban ku. Kamu tidak perlu bertanya lagi tentang ini. Jawabanku akan tetap sama seperti tadi.”
...~o0o~...
”Hei! Sen! Aku ingin pakaian ini!” Aima menunjuk ke arah sebuah pakaian wanita yang terpajang di depan sebuah toko. Pakaian itu adalah pakaian yang sangat terbatas dengan warna merah mencolok dan berhiaskan manik-manik berwarna emas.
__ADS_1
”Tidak! Aku tidak mengajakmu untuk berbelanja. Kalau Tuan tidak menyuruhku melakukannya, aku juga tidak akan pernah melakukannya.” jawab Sen cuek dan memalingkan wajahnya.
Aima tampak cemberut sembari melipat tangannya. ”Orang dewasa yang pelit sekali!” ia menggerutu kecil kemudian mencium aroma harum dan manis dari sebuah toko yang tidak jauh berada di sini. Aromanya sangat menggugah selera dan membuatnya terpancing untuk melihat aroma apa ini.
Aima berjalan, tanpa menghiraukan Sen yang berdiri di belakangnya. Ia terus berjalan mengikuti aroma ini hingga ia akhirnya berhenti tepat di depan sebuah toko yang menyajikan makanan. Dan tepat berada di salah satu kursinya, aroma ini berpusat di sana. Ia pun semakin mendekatinya dan tidak sadar bahwa aroma yang dihirup olehnya berhenti tepat di depannya.
”Wah! Harum sekali. Manis. Aku belum pernah melihat ada makanan dengan aroma setajam ini.” ucap Aima memperhatikan sepiring wafel manis yang ada di atas meja dan di depan seorang anak laki-laki yang sedang duduk menikmatinya.
”Apa yang kau lakukan di sana? Mengganggu selera makan orang lain!” Ketus Ayhner yang kesal melihat Aima muncul tiba-tiba seperti ini.
Aima mengangkat kepalanya, menatap Ayhner yang sedang duduk di sana sendirian. Awalnya ia tampak biasa namun, ia mulai merasakan ada sesuatu yang aneh dalam dirinya.
”Kamu, sama sepertiku.”
Jawaban ini sempat membuat Ayhner terkejut. ”Apa maksudmu?”
”Aima! Apa yang kau lakukan! Sudah kubilang jangan jauh-jauh!” Sen tiba-tiba muncul di belakangnya dan langsung menarik Aima menjauh dari Ayhner. Saat itu, Sen sempat memperhatikannya dengan tatapan penuh selidik. Ia baru tahu anak ini adalah anak yang waktu itu di bicarakan oleh Gill. Tentu dia tampak seperti anak-anak biasa yang baru saja kehilangan ingatannya.
”Ayo, kita pergi dari sini.” lanjutnya sembari menarik Aima pergi dari sana.
Ayhner sempat terkejut melihat kedatangan mereka berdua yang tiba-tiba. Seperti sudah kenal lama saja. ”Karena cewek itu, aku menjadi tidak nafsu makan.”
”Mengapa begitu Tuan muda?”
”Tentu saja karena mencium aroma nafasnya—
Ayhner tiba-tiba berhenti menjawab begitu tahu suara ini bukanlah suara yang mampu dikenal olehnya. Dengan cepat, ia pun langsung berbalik ke belakang dan menatap seorang laki-laki tinggi dan besar sedang berdiri di sana dengan tatapan seringai.
Karena terus memperhatikannya, ia tidak sadar bahwa di belakangnya ada dua orang laki-laki yang lain. Kereta kuda pun tampak terbuka lebar tak jauh di sebelahnya. Kemudian dalam hitungan beberapa detik saja, kedua laki-laki di sana langsung menariknya dan menyeretnya masuk ke dalam kereta kuda yang sengaja disiapkan di sana. Ia sempat meronta berkali-kali namun, ada seseorang yang berada di dalam kereta juga ikut membantu dengan menariknya masuk ke dalam.
__ADS_1
Begitu selesai dengan tugas mereka, kereta ini pun berjalan cepat menuju suatu tempat. Saat itu terjadi dan baru saja terjadi, Eldric keluar dari sebuah toko setelah membeli sesuatu untuk orang di rumah. Ia menatap ke arah meja yang sebelumnya dipakai oleh Ayhner. Akan tetapi, ia tidak menemukan Ayhner di sana. Apalagi, makanan yang ada di atas meja tampak belum tersentuh sama sekali. Ia pun merasa ada yang janggal dan mencoba mencarinya.
”Ahh, Tuan Leory!” Eldric menyapa Aciel yang baru saja melakukan hal yang sama dengannya di toko yang berbeda.
”Ada apa? Kau terlihat terburu-buru?” ucapnya.
”Ayhner tidak ada di tempatnya. Aku sudah mencarinya tapi tidak ketemu.”
Seketika wajah Aciel berubah pucat. Ia merasa cukup terguncang bahkan sampai tidak bisa berkata-kata. ”... Bagaimana itu bisa terjadi? Kemana dia pergi?”
”Aku tidak tahu. Saat aku baru saja keluar dari toko, dia sudah tidak ada.” jawabnya panik.
”Mungkin dia sudah diculik.” ucap seorang nenek yang duduk di sebuah kursi jalanan yang berada di dekat mereka.
”Apa maksudnya nek? Bisa kamu jelaskan?” tanya Aciel sembari berjalan mendekatinya.
”Cucuku juga menjadi korban oleh para penculik penculik itu. Karena ekonomi yang sangat kurang, sebagian dari rakyat bawah memanfaatkan kesempatan. Mereka menculik anak-anak kemudian menjualnya atau menjual organ dalamnya. Bersiap saja, anakmu akan diantarkan pulang dalam keadaan tidak bernyawa.”
”Y- yang benar saja. Ayhner tidak mungkin diculik. Sebaiknya, kita cari saja dia sampai ketemu. Dia orang yang cukup waspada.” ucap Eldric yang tidak sanggup menerimanya.
”Ah, itu, sebenarnya aku melihatnya.” seorang gadis remaja pengantar surat kabar tiba-tiba berjalan mendekati mereka berdua dengan wajahnya yang pucat.
”Apa? Apa yang kau lihat?” tanya Aciel mulai panik.
Gadis itu mulai menjelaskannya dengan wajah yang pucat, ”Posisiku saat itu tidak jauh dengannya. Ketika aku baru saja keluar dari toko untuk memberikan surat kabar, ada sekelompok orang yang menarik anak itu ke dalam sebuah kereta kuda. Kereta itu cukup besar dan mampu menampung sepuluh orang di dalamnya. Aku tidak begitu memperhatikan coraknya karena saat itu aku sangat terkejut.”
”Seperti apa anak itu? Katakan dengan jelas!” ucap Eldric.
Gadis itu menjawab dengan sangat yakin, ”Dia anak laki-laki yang mengenakan sebuah pita berwarna biru di bawah kerah pakaiannya. Hanya itu yang bisa aku lihat saat itu.”
__ADS_1