
”Terima kasih, sudah mempertemukan ku dengan calon putraku di masa depan. Aku tidak percaya, akan ada seseorang yang menikahi ku suatu saat nanti dan membentuk keluarga bersamanya.” Chloe mengusap matanya yang berair saat dirinya sedang berbicara dengan Gill di waktu yang sama.
”Maaf, karena sudah memperlihatkan masa depan padamu. Kau pasti tidak akan percaya aku mengatakannya.” jawab Gill berdiri di hadapannya.
”Tidak. Tidak perlu meminta maaf. Aku senang kamu ada di sini. Setidaknya, aku bisa percaya kalau aku memiliki masa depan yang baik meski usiaku tidak bisa lebih panjang lagi. Terima kasih, sudah menunjukkannya padaku.” Chloe tersenyum padanya sembari menangis.
Gill merasa tersentuh. Baru kali ini ada seseorang yang berterima kasih padanya setelah ia menunjukkan masa depan padanya. Ia melakukan ini karena Luois yang memintanya agar ingatan Ayhner kembali terbuka. Sebelumnya ia juga telah memprediksi, Luois akan bertarung mati-matian dengan Aciel yang memiliki monster pelindung yang sangat kuat. Karena itu, yang hanya bisa menyelamatkannya hanyalah Ayhner yang bisa menjelaskan semua yang sebenarnya terjadi selama ini.
”Tuan. Waktunya kembali. Tubuh Anda tidak akan sanggup bertahan diwaktu yang sekarang.” ucap Sen yang menemaninya di sana.
”Ya.” jawab Gill sedikit menatap ke arahnya.
”Kalau begitu, bisakah aku menitipkan pesan padamu.” Chloe menberi jeda. ”... Tolong jaga Ayhner untukku. Meski saat ini, aku belumlah menjadi Ibu untuknya, aku bisa merasakan perasaannya yang sangat dalam. Diam-diam, dia juga pasti merasa kesepian. Dia pasti sering bertemu dengan orang jahat yang ingin menyakitinya. Karena itu, aku mohon jagalah dia dengan baik.”
Gill terdiam selama beberapa saat sebelum menjawab, ”Ya. Aku akan menjaganya dengan baik.”
Chloe berhenti mengusap-usap matanya kemudian menatap Gill sembari tersenyum. ”... Terima kasih.”
Setelahnya, pemandangan hamparan rumput luas tadi perlahan memudar dan menghilang, sekarang ia dan Sen telah kembali ke kediaman mereka. Jam saku yang ada di tangan Gill kembali berjalan seperti semula. Semua telah kembali normal hanya saja, Gill tiba-tiba terjatuh dan memuntahkan seteguk darah.
”Tuan, Anda baik-baik saja?” Sen langsung menanyakan keadaannya begitu melihat darah berwarna sangat gelap keluar dari mulutnya.
Gill terdiam sejenak kemudian menyeka darah yang masih tersisa di bawah bibirnya. ”... Ya, aku baik-baik saja.”
Sen memapah Gill kembali ke kamarnya, ”Anda harus segera beristirahat. Saya akan membuatkan makanan untuk Anda.”
__ADS_1
...~o0o~...
Beberapa hari kemudian. Saat kejadian kemarin, Aciel dengan terpaksa membawa Luois pulang ke rumahnya. Ivonne membantu dengan mengobati semua lukanya dan hingga sampai sekarang, ia belum sadar juga. Setiap hari, Aciel menunggu di sebelahnya. Ia hanya berharap bisa mendapatkan kejelasan dan tidak menyesali apapun keputusannya.
”Aku cemas sekali. Aku sempat berpikir kau akan kembali dalam keadaan tak bernyawa. Tapi, apakah mereka itu benar-benar penculik seperti yang orang-orang katakan?” tanya Eldric yang langsung mengunjungi kediamannya begitu mendengar Ayhner telah kembali.
”Sepertinya kau lebih cemas daripada aku yang menjadi korbannya. Tentu saja aku tidak akan kembali dalam keadaan tidak bernyawa! Usiaku masih terlalu muda untuk mati apalagi sampai jatuh ke tangan orang lain!” ketus Ayhner sembari mengalihkan perhatiannya ketika mereka berdua tengah berbicara dihalaman belakang rumah yang hijau.
”Lalu, siapa laki-laki berambut putih itu? Mengapa Tuan Leory selalu menjaga di sebelahnya? Aku lihat wajahnya terlihat mirip dengan Tuan Leory.”
”Tentu saja. Kakak beradik seharusnya memiliki wajah yang sama dan tidak jauh berbeda kan?”
Eldric yang mendengarnya terlihat sangat terkejut bahkan tidak percaya. ”... Jadi. Dia adiknya dan juga pamanmu? Bagaimana aku tidak tahu itu? Kau tidak pernah mengatakannya.”
”Hmph!” Ayhner mendengus sembari melipat tangannya. ”... Untuk apa aku mengatakannya padamu?! Sia-sia saja! Kau tidak akan mengerti!”
”Ada apa terburu-buru? Awas saja kalau kau mengatakan sesuatu yang tidak penting!” ketus Ayhner sembari menatapnya.
Dengan cepat, pelayan itu menjawab, ”Tuan Luois, dia sudah sadar!”
...~o0o~...
”Hei! Kau bisa jelaskan sekarang kan? Alasanmu pergi dari rumah dan membunuh semua orang yang ada di rumah sebelumnya.” Aciel menatapnya serius sembari bersandar pada sebuah kursi sandaran empuk yang ada di sebelah tempat tidurnya.
”Karena kau ada di sini, kupikir kaulah yang membawaku kemari. Jadi untuk apa menyelamatkanku? Bukankah seharusnya kau membunuhku? Terlebih, selama ini akulah yang merencanakan semua kejadian ini.” ucap Luois dengan pelan. Dia masih membaringkan tubuhnya dan menolak untuk duduk saat berbicara dengannya.
__ADS_1
”Kalau bukan Ayhner yang memintanya, kau pasti sudah tidak bisa membuka matamu lagi. Sekarang jelaskan semuanya. Barulah aku bisa memaafkanmu.”
Luois terdiam sejenak. ”... Aku tidak meminta permintaan maafmu. Ini semua memang sudah aku rencanakan sejak awal. Tapi, aku rasa aku bisa menjelaskannya demi memenuhi rasa penasaranmu.”
Luois mulai menjelaskannya perlahan. ”... Ayhner sudah menjelaskan semuanya dan itu benar. Aku hanya tinggal menjelaskan sisanya saja. Kau tahu, Ayah melakukan percobaan terlarangnya pada manusia dengan objek kedua putranya sendiri kau dan aku. Kemudian semua ini terjadi. Tetapi, tidak sampai sana dia kembali melakukan percobaan lain yang melibatkan manusia dengan serangga. Lalu, tercipta monster-monster lain. Dia memiliki seorang pesaing bernama Sergei. Dia juga melakukan percobaan terlarangnya pada manusia dan menciptakan zombi dalam jumlah banyak. Tetapi, akibat dari percobaan itu, ada banyak manusia yang terbunuh oleh monster termasuk Ibu. Setelah melihat mayatnya, Ayah menjadi gila dan berubah menjadi monster seutuhnya. Saat ini dia sedang bersembunyi di suatu tempat sementara keberadaan dokter Sergei masih belum diketahui. Aku sempat bertarung dengan Ayah tetapi hasilnya malah seperti ini.”
Aciel memperhatikan ekspresinya. Dan sepertinya yang dia katakan adalah kebenaran. Selain pintar, adiknya juga sangat kuat. Bahkan dia mampu mengalahkan puluhan zombi yang waktu itu berdiam diri di kediamannya yang dulu. Ia bahkan tidak pernah tahu, Luois bisa terluka parah seperti ini.
”Rasanya sulit untuk mempercayai perkataanmu. Tapi aku akan berusaha percaya.” Aciel beranjak dari tempat duduknya dan berjalan pergi meninggalkannya. ”... Kau ku izinkan tinggal di sini sementara waktu. Kalau kau ingin pergi sekarang juga tidak masalah. Pilihanku tergantung pada Ayhner Apakah dia mau percaya padamu atau tidak.” lanjutnya kemudian ia pergi meninggalkannya.
Pintu kamarnya tertutup kembali. Luois sedikit merenung di dalam kamarnya. Ia menatap ke jendela luar dan hari sudah sangat siang. ”... Aku tidak bohong. Aku tidak pernah berbohong pada siapapun. Apa yang membuatnya tidak percaya.” gumamnya.
”Itu jelas karena paman berpura-pura berkhianat untuk menyelamatkan satu keluarga. Payah sekali.” Ayhner yang baru saja memasuki kamarnya berjalan ke arahnya dengan membawa semangkuk bubur hangat yang hendak dibawakan oleh seorang pelayan untuknya.
”Pergilah. Aku tidak ingin bertemu dengan siapapun.” ucap Luois yang langsung membuang wajah.
Ayhner duduk di kursi yang digunakan Aciel tadi kemudian menaruh nampannya di atas meja. ”... Aku lihat semuanya loh.” Ayhner memberi jeda sembari menatap Luois. ”... Jadi, kenapa kau tidak segera menyerahkanku pada kakakmu sendiri? Padahal dia bisa saja melepaskanmu. Apakah karena saat itu dia terlalu berbahaya sampai kau takut untuk menyerahkanku padanya?”
Luois sedikit tertawa dan menjawab, ”Tidak masuk akal! Untuk apa aku melakukannya? Tindakannya yang terlalu gegabah membuatku sulit untuk melakukannya.”
”Aku tidak percaya. Kau bukanlah seseorang yang seperti itu. Jadi, untuk apa menahan diri?”
Luois terdiam sejenak. Ia menarik selimutnya lalu menutup dirinya. ”... Diamlah! Aku ingin beristirahat! Pergilah! Mulai besok aku akan pergi dari sini.”
”Pergi kemana? Memangnya kau punya rumah?” Ayhner memberi jeda. ”... Tinggallah di sini sebentar. Setidaknya sampai lukamu sembuh. Bibi yang mengatakannya. Bubur yang ada di sebelahmu juga harus dibuat karena Bibi repot-repot membuatnya sendiri. Ahh, sudahlah aku pergi saja.” Ayhner berdiri dari kursinya lalu berjalan pergi meninggalkan kamarnya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Ayhner pergi, Luois kembali membuka selimutnya dan melirik ke arah bubur hangat yang ada di atas meja sebelahnya. Ia duduk di atas kasurnya lalu, mengambil bubur itu dan memperhatikannya.
”Hanya dia yang memperhatikanku sampai sejauh ini.”