Ada Cinta Di Hati Yang Jahat

Ada Cinta Di Hati Yang Jahat
Akulah Bos nya


__ADS_3

Disisi lain, Syifa dengan perasaan bersalah tengah mencari keberadaan Reza yang tak nampak batang hidungnya setelah melakukan pendaftaran.


Apalagi dia mau mengatakan suatu hal penting. Dia harap Reza tidak membocorkan kepada mahasiswa lain mengenai mereka yang tinggal serumah.


"Duh! Kemana perginya mas Eza! aku juga kelupaan ngebahas soal tinggal bareng. Bodohnya aku ninggalin dia tadi, bisa aja kan dia tersesat karena pertama kalinya dia masuk di kampus ini. Padahal dari awal aku sudah janji mau menemaninya.


Semoga dia juga mau menerima kaos ini sebagai permintaan maaf, memang murah, Tapi aku tau dia pasti senang. Dulu aku juga senang kalau di kasih-kasih pakaian kayak gini buat jadi baju ganti. "


Syifa mulai khawatir dengan keadaan Reza.


"Syifa sayang! "


Seorang pria mengagetkannya dari belakang.


Syifa sudah tidak asing dengan suara pria itu.


"Syifa cantik kok lagi bawa kaos cowok sih, buat gua ya! . " Rayu seorang pria yang sudah lama naksir kepadanya, namanya Evan, mahasiswa angkatan yang sama dengan Syifa.


Syifa cukup terkenal karena kepandaian dan kecantikannya di kampus. Awal kemunculannya dulu menggemparkan seluruh mahasiswa di kampus, sudah puluhan pria mendekatinya namun semuanya berakhir begitu saja.


Setelah terkenal dengan sikapnya yang dingin, saat ini sangat sedikit yang mencoba mendekatinya lagi.


Sementara Evan termasuk golongan yang masih kukuh memepetnya, mengatakan cinta hingga ratusan kali namun tidak membuahkan hasil sama sekali.


"Jangan ganggu aku Van, aku sibuk hari ini. " Ucap Syifa mengernyit dengan mata berpandangan liar ke arah lain.


"Hmm.. Pasti nyariin dimas ya! Kenapa lo gak mau pacaran ma gua aja si fa? Dari pada mencintai dalam diam sama orang kek gitu. " Ujar Evan sembari melirik kaos yang di pegang Syifa.


Pria itu menganggap Syifa akan memberikan kaos tersebut pada idola kampus yang saat ini lagi naik daun, yaitu dimas.


"Asal jeplak aja mulutmu van. Ini bukan buat dimas. Lagian aku gak ada hubungan apa-apaan sama ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa. Aku sebagai anggota yang terlibat di dalamnya hanya sekedar membantu dan tidak lebih. "


"Ngeles mulu padahal udah rahasia umum kalian deket secara teratur gitu. Tapi gua gak akan menyerah mendapatkan cinta elo fa. Loe pantas gua perjuangin. "


"Uda ah, semua cowok sama saja, aku pergi dulu. Minggir! "


Syifa berlalu menuju lapangan kampus saat melihat banyak mahasiswa baru berkumpul di sana. Dia yakin akan menemukan Reza kali ini.


Syifa memandang satu persatu kelompok mahasiswa baru yang berjejer sesuai jurusan masing-masing.


Matanya menyorot langsung pada seorang pria jangkung yang berdiri di barisan paling depan dan terlihat mencolok saat di kelilingi mahasiswi baru di sekitarnya.


Di tambah sebuah peci putih yang masih terus melekat di kepala pria itu membuatnya sangat menonjol di antara siswa baru yang lainnya.

__ADS_1


"Hihi... Mas Eza lugu banget, dia gak malu memakai seragam berwarna cute itu, apalagi semua teman kelasnya keseluruhannya wanita. Emang wajar sih, dia kan milihnya jurusan PG-PAUD, jarang ada pria yang mau ambil jurusan itu kecuali pria sabar dan penyayang anak kecil."


"Alhamdulillah kalau dia sudah nyaman dengan teman-teman nya. Kaos ini mungkin aku kasih waktu di rumah saja." Gumam Syifa saat melihat para mahasiswa baru sedang berdiri di bawah terik matahari seraya mendengar kata pengantar dari perwakilan dosen yang teramat panjang.


'Kampus sialan, kapan selesainya ceramah si bandot tua ini sih. Mana ni perut dari pagi ini belum keisi apa-apa. Gimana caranya gua ngilang dari sini kalau semuanya nyuruh gua ada di depan kek gini. ' keluh Reza dalam batin. Dia merasa pergerakannya sangat dibatasi kali ini.


Reza memaksakan kakinya untuk tetap bertahan menopang tubuhnya yang lapar. Dia menyadari banyak mata memandang ke arahnya, baik dari kelasnya maupun dari jurusan lain.


Mereka memandang dengan tatapan menghakimi seolah berbisik dan mengutuk penampilannya yang seperti banci. Tulisan cute girl berwarna pink di dadanya juga menambah kepercayaan dirinya semakin nge drop.


"Kamu gak apa-apa za? Kok aku liatin kayak gak nyaman gitu. " Tanya Eva penasaran, gadis imut nan cantik yang berada di sebelahnya itu tidak bisa tidak peduli melihat tingkah aneh yang di lakukan olehnya.


Dengan terpaksa Reza mulai jujur. Dia sudah tidak dapat menahan rasa laparnya lagi.


"Jujur aku belum sarapan pagi ini Va. Aku laper banget." Bisik Reza pelan. Beberapa teman barunya mendengar itu dan mulai mengerti hingga mereka saling berbisik.


"Za, kamu ke tengah aja dulu. Nanti kamu duduk dan kita bakalan tutupin. Si putri katanya bawa bekel dan bisa kamu makan. "


"Beneran? " Balasnya dengan mata berkaca-kaca. Kelaparannya sungguh tidak bisa dia tahan lagi


"Iya."


Senyum Reza mengembang lebar. Dengan cepat dia mengganti posisinya dan segera memakan bekal temannya di antara kerumunan para wanita.


'Pinter juga ni cewek-cewek ngambil hati gua. Oke lah, gak dapet anak buah cowok juga gak apa-apa, gua harus bermanuver dan mengganti gender anak buah, nanti mereka akan gua paksa untuk menuruti semua kemauan gua. Cuma butuh sedikit usaha buat dapetin mereka biar nurut ma gua. Hahaha '


Uhuk, uhuk..


Reza tersendak saat berbicara di dalam pikiran jahat nya sendiri.


Setelah Reza beristirahat sebentar, ia kemudian kembali ke posisinya semula dengan kekuatan penuh untuk memulai ambisinya.


Ambisi jahatnya kali ini adalah menargetkan para wanita di kelasnya untuk di jadikan anak buahnya.


Setelah ceramah panjang dari perwakilan dosen selesai. Itu kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan dewan mahasiswa.


Beberapa gadis terdengar meneriaki orang yang tengah menjadi pusat perhatian di Universitas itu dengan antusias.


Namanya adalah Dimas, dia adalah pria yang cukup tampan dan dan kaya, ia di segani di antara para mahasiswa baru saat ini.


Hanya Reza yang terlihat berbeda, dia memancarkan pandangan permusuhan yang pekat saat pria yang tengah menjadi pusat perhatian itu tersenyum renyah di tengah-tengah karpet merah kecil di lapangan sembari memegang microphone.


'Bajing kepar4t itu ternyata ada disini juga rupanya. Si pemerkosa ini jadi perwakilan mahasiswa? sialan. Hardik Reza di dalam hati.

__ADS_1


Reza mulai mengingat kejadian tiga tahun silam. Saat itu salah satu anak buahnya melapor bahwa adiknya menjadi korban penipuan berkedok pacaran dan pemerkosaan oleh seorang ketua geng murid SMK Z.


Anak buahnya saat itu bercerita dengan berurai air mata hingga bersimpuh padanya untuk membalaskan dendamnya.


Anak buahnya mengatakan bahwa keluarganya sudah melaporkannya pada pihak yang berwajib, namun karena lambatnya respon dan bisa saja para polisi di sogok karena si pemerkosa merupakan anak dari seorang pejabat daerah.


Membuat murid malang itu tidak memiliki cara selain melaporkannya pada bos besar di sekolahnya saat itu, yaitu Alfareza Rahardian.


Mengingat itu, Reza mulai tersenyum karena itu momen saat dirinya sedang berdiri di puncak kejayaannya. Itu di saat dirinya menjadi seorang ketua geng.


Bagi Reza keadilan sebenarnya tidak terlalu penting, namun itu cukup untuk menjadi alasan untuknya menyerang siswa dari SMK lain. Intinya tawuran.


Saat bentrokan kedua kubu terjadi, Reza bahkan mampu mematahkan tangan dan kaki pemerkosa dari adik anak buahnya tersebut meski dirinya juga di keroyok dan dalam kondisi babak belur.


Saat ini, di tengah-tengah sebuah acara, dia melihat pemerkosa di depannya masih dapat tersenyum renyah dan sedang di sanjung-sanjung oleh khalayak ramai.


Mendengar itu telinga Reza berdengung memprotes, harusnya semua mahasiswa itu menyanjung dirinya dan bukan sang pemerkosa itu.


Saat ini, Reza khawatirkan bila kekuasaan kampus di pegang orang seperti Dimas maka semua tidak akan aman, oleh karena itu dia sudah memiliki alasan kenapa dirinya harus mengambil alih kekuasaan tersebut, Dia akan menjadi Raja di kampus itu.


'Tunggu saja, gua catet nama lo kali ini, hemm..Dimas ya, nanti tangan lo bakalan gua patahin lagi hahaha. '


Setelah mendengar penjelasan tidak penting dari Dewan perwakilan mahasiswa, akhirnya orientasi study pun di buka (Ospek).


Perwakilan mahasiswa dari masing-masing Kelas di persilahkan maju untuk mengambil daftar kompetisi yang akan di mulai.


Tujuh orang maju dan kesemuanya adalah pria, sementara Reza tidak menyangka bahwa teman kelasnya akan memilihnya untuk menjadi perwakilan dari kelas mereka.


"Sudah sana maju. Kamu saja yang mewakili kami, kamu kan ketuanya. "


"Ketua? Aku? " Tanya Reza terkejut. Itu karena seolah teman-temannya mengerti keinginannya untuk menjadi ketua geng di kelasnya.


Padahal yang di maksud para wanita disana bukan ketua geng juga.


"Iya, kamu kan yang paling besar disini dan juga seorang pria. Pimpin kami ya Eza. " Celetuk seorang wanita sekenanya, itu juga di iyakan oleh teman-teman wanita lainnya.


Reza yang mendengar itu sangat bangga. 'Pemimpin? kalian menunjuk ku sebagai pemimpin di kelas tanpa harus menundukkan kalian satu persatu? Kalian sudah memilih orang yang tepat dengan menunjukku sebagai pemimpin Haha... Bagus bagus, jalan ini ternyata mudah sekali. Akan ku pimpin kalian menjadi wanita yang tangguh dalam pertempuran. 'Gerutu Reza dalam otak jahatnya.


Reza mulai maju dengan gagah berani sembari mengenakan kaos cute girl berwarna pink ke tengah lapangan tanpa memperdulikan semua wajah yang menertawai nya.


Dalam pikirannya kini hanya ada satu hal. kini dia adalah bos di kelasnya, ini juga merupakan langkah awal yang bagus untuk menundukkan Universitas itu.


Bos satu kelas saat ini, dan Bos semua kelas suatu saat nanti.

__ADS_1


__ADS_2