Ada Cinta Di Hati Yang Jahat

Ada Cinta Di Hati Yang Jahat
Pemimpin Mode On


__ADS_3

"Nomer urut dua puluh enam. "


Terdengar suara dari speaker kecil yang ada di atas pintu. Mendengar nomernya di sebutkan, Reza berdiri dan memasuki ruangan.


Terlihat dua orang petugas sedang duduk di hadapannya sembari membaca nilai-nilai rapot miliknya.


Seorang perempuan terlihat menggelengkan kepala dengan tampilan kecewa seraya membetulkan letak kacamatanya, dia kemudian menutup buku itu.


Melihat mimik yang di pancarkan pengawas, Reza tanpa sadar menelan salivanya dengan berat. Dia tahu sesuatu yang buruk akan segera terjadi padanya.


"Saudara Reza Mulyono! ," Reza terkaget saat bentakan wanita berkaca mata di depannya begitu nyaring.


Dan siapa pula nama kampung yang awalannya menyerupai namanya.


Reza Mulyono? Siapa itu? dia sendiri kebingungan.


"Reza mulyono, saya selaku petugas penerimaan mahasiswa baru telah membaca semua nilai dan perilaku saudara yang tertulis di rapot SMA saudara.


Semua nilai saudara sangat jauh dari kata cukup. Terutama dari nilai sikap dan kesopanan saudara, itu adalah nilai terburuk dari yang terburuk yang pernah saya temui selama menjadi penerima peserta didik.


Saat ini juga, bisa saja saya menolak anda untuk mengenyam pendidikan disini, namun sebelum itu, saya terlebih dahulu ingin mendengar alasan, kenapa nilai anda sangat buruk sementara penampilan anda sangat berbanding terbalik dengan nilai-nilai di dalam rapot saudara. "


Reza mematung dan mulai berkeringat, dia bahkan tidak pernah melihat nilai di dalam rapotnya itu.


Ditambah dia tidak menyangka Reza mulyono adalah namanya, berfikir bahwa ayahnya sudah melakukan hal licik dengan merubah nama belakangnya sebagai penyamaran di dalam rapotnya.


Bagi keluarga Rahardian sangat mudah memanipulasi semua itu dengan uang, tetapi kenapa harus mulyono yang notabene nya adalah nama tukang kebunnya?


Dia jadi ingin melihat kartu KK nya saat ini juga. pasti kartu keluarganya juga sudah di ganti dengan kartu keluarga tukang kebun rumahnya. Dia mulai mengutuk ayahnya sekali lagi.


Saat ini, kedua pengawas di depannya terlihat saling berbisik.


'Papa kamfreet.. Padahal gua sudah ngomong ke mama buat nyogok guru yang ngasih nilai pas kelulusan, ini pasti ulah si bandot tua itu. Dia sengaja ingin menggagalkan pendaftaran gua saat kuliah agar bisa seenaknya membuang gua kan?


Nilai gua di ancurin sementara nama gua yang di rubah. Sekarang Gua harus gimana.. Butek butek semuanya, ide gak ada ya ampun. ' gumam Reza dengan keringat dingin bercucuran.

__ADS_1


Dia kemudian teringat pengemis yang mengiba di pinggir jalan.


Mengemis.


Itu adalah satu-satunya cara agar dia bisa lolos dari suasana buruk itu.


Reza yang tengah berdiri segera menjatuhkan lututnya ke lantai. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.


'Ayo nangis, kenapa gua gak bisa nangis Bambang. Pikirin hal yang sedih, Papa meninggal contohnya.(Haha) Bukannya nangis malah Gua mau ngakak. Apa yang harus gua lakuin biar nangis. gua gak bisa gagal sekarang. Ini jalan satu-satunya buat lulus ujian dari bandot tua itu. Ah, sebentar, Sebentar.. Demi harta warisan dengan terpaksa mata indah ini harus gua korbanin.


Ya, Culek...


Gak ada cara lain, bodoh amat kalau buta. harta gua adalah nyawa gua. Kalau itu benar-benar di sumbangkan mending gua mati aja. '


Cluk!


Reza Kemudian Mencolok Kedua Matanya Dengan Kedua Jempolnya secara samar.


"Aaaaaaarrrkkkgg.. Saaakiit....! " Peliknya Dalam Hati.


Mereka Mengira Calon Mahasiswa Yang Bertingkah Aneh Di Depannya Mungkin Sudah Gila.


"Kenapa Saudara menangis? " Ucap Salah Satu Petugas Yang Tidak Mengenakan Kacamata. Dia Tidak Tergerak Dengan Pengorbanan Besar yang di lakukan oleh Reza.


'Kalian Sinting Apa, Kenapa Malah Sok Tenang Gitu saat gua banyak berkorban.'


"A-ku Bingung Bu. Ak-ku Sudah Mendaftar Kesemua Kampus Dan Keseluruhannya Menolak Ku. Hikz, Sekarang Aku Bingung Harus Bagaimana, Pulang Juga Percuma Karena Bapakku Pasti Memenggal Leherku. "


Reza Mulai Mendramatisir Keadaan, Sesengukannya Mengubah Ruangan Yang Awalnya Tegang Menjadi Melankolis.


Namun Air Muka Kedua Pengawas Masih Tampak Sama, Malah Mereka Semakin Curiga Dengan Apa Yang Di Perbuat Reza.


"Lalu Kenapa Saudara Sampai Mendapat Nilai Buruk Jika Tahu Keluarga Saudara Akan Sangat Marah? Saya Lihat Nilai Kepribadian Saudara Sangat Berbanding Terbalik Dari Sikap Saudara Saat Ini. " Ucap Pengawas dengan tegas Namun Di Liputi Rasa Penasaran.


"Aku Korban Buliying Bu. Hiks Hiks, Dulu Aku Di Sekolah Sudah Mencoba Menjadi Anak Baik dan pintar. Tapi Ada Seseorang Dengan Kekayaan Yang Luar Biasa Selalu Menggangguku.

__ADS_1


Saat Aku Tidak Mau Menuruti Perintahnya Maka Dia Mengancam Akan Merusak Nilaiku Dengan menyogok Guru. Padahal Aku Sudah Melakukan Segalanya Selama Tiga Tahun, Tapi Dia Tetap Melakukannya Padaku, Semua Nilai Ku Anjlok. Aku Harus Gimana Bu. Aku Bingung. Semua Universitas Hanya Melihat Seseorang Dari Nilainya Saja. Siapa Yang Akan Mengerti Dengan Sikap Baik Yang Tulus Dalam Hati Saya." Reza Berucap Dengan Berderai Air Mata, Bahkan Tangannya Sesekali Menepuk Dadanya dengan keras Agar Aktingnya Dalam Bertekad Semakin Terlihat Nyata.


Bahkan Kedua Pengawas Yang Mendengar Akhirnya Bisa Merasakan Perasaan Yang Saat Ini Reza Rasakan.


Sementara Di Sisi Gelap Reza Mengutuk Kedua Guru Yang Membuat Nya Harus Melakukan Akting Mengenaskan Seperti Ini.


'kalau Gua Sudah Dapat Harta Gua. Gua Pastiin Kalian Berdua Bakalan Di Pecat Tanpa Pesangon Dari Kampus Ini. Semuanya Bakalan Gua Beli. Termasuk Kampus Ini. Enak Saja Mempersulit Perkuliahan Gua. "


Reza Kemudian Berdiri, mukanya tertunduk. Matanya Memerah Hingga Terlihat Sangat Begitu Menyedihkan. Dia Kemudian Mengambil Kembali Raport Nilai Nya Dengan Sejuta Kesedihan. Saat Dia Mulai Berbalik Dia Menyeringai Seperti Setan. Dia Sudah Tahu Skenario Apa Yang Akan Terjadi Selanjutnya.


"Tunggu Saudara Reza, Kami Bisa Mempertimbangkan Saudara Untuk Bisa Mengikuti Perkuliahan Disini. Di kampus ini Tidak Akan Ada yang namanya Diskriminasi Seperti Itu. " Ujar Pengawas Berkacamata. Umpan Reza Ternyata Berhasil. Namun Itu Rasanya Masih belum Terlalu sempurna.


"Sudahlah Bu.Mempertimbangkan Itu Sama Saja Seperti memberi Harapan Palsu pada saya. Saat Ini Pikiran Saya Hanya Ingin Berdiri Di Atas Jembatan. " Ucap Reza Dengan Senyum Licik Dari Balik Wajahnya. Kedua Pengawas Kaget Dan Mulai Berfikiran Aneh. Mungkin Reza Akan Bunuh Diri. Itu Pikiran Pendek Mereka.


"Jangan Pergi Nak, Kelas PG-PAUD Masih Membutuhkan banyak Calon Mahasiswa. Kamu Saya Terima Dan Bisa Mengikuti Orientasi Study Dari Hari Ini. " Ucap Pengawas Berkaca Mata Dengan Iba.


"Apa Ibu Risma Yakin Menerima Dia Begitu Saja? " Ucap Pengawas Sebelah Nya Dengan Perasaan Curiga.


"Iya Bu, Saya Bisa Mempertaruhkan Reputasi Saya Sebagai Dosen Bahwa Anak Ini Sebenarnya Sangat Baik, Dari Pakaiannya Saja Sudah Dapat Di Pastikan Dia Adalah Anak Orang Sederhana, Mungkin sangat Miskin. Pantas Saja Dia Di Bully Dulunya. " Balas Bu Risma Dengan Serius. Sementara Reza Menghardik Perbincangan Kedua Pengawas Penerimaan Itu Di Dalam Hati.


'Awas Saja Kalian Berdua. Gua Benar Benar-benar Akan Membeli Kampus Ini Setelah Mendapatkan Kekayaan Itu, Gua miskinkan kalian nanti karena sok Ngatain Gua sangat miskin.'


Setelah Wawancara Selesai, Reza Berangkat Menuju Ruang Tata Usaha. Reza Kemudian Memberikan Uang Sebesar Lima Juta Rupiah Kepada Bagian administrasi Untuk Membayar Separoh Uang Registrasi Dan Juga Pembayaran Semester Pertamanya.


Dia Kaget Karena Di Minta Uang Tambahan Untuk Membeli Buku Dan Almamater Kampus Sebanyak tujuh ratus ribu Rupiah. Uangnya Pun Berkurang Drastis Dan Hanya Menyisakan dua Ratus Ribu Rupiah.


"Ini Mah Cuma Cukup Makan dua Kali Doank. " Ucapnya Menggerutu.


Dia Kemudian Menuju Ruangan E1 Sesuai Arahan Pihak Kampus Untuk Memasuki Kelasnya Dengan Ke Jurusan PG-PAUD Semester Pertama.


Saat Ini Pemuda Begajulan Itu Akan Bertemu Teman-teman Kampusnya Untuk Pertama Kali.


"Yosh, Gua harap bertemu orang-orang kuat di kelas gua kali ini. Gua akan memulai dari nol untuk membangun Geng Badboys untuk menyerang kampus lain. Gua kali ini musti bermain cantik dari balik layar. Gua cukup mengumpulkan mahasiswa lain sebagai bidak catur kekuasaan Gua kali ini Ha Ha Ha. "


Dengan mata membara Reza membuka ruang kelas yang akan di tempatinya.

__ADS_1


Brakk!


__ADS_2