
Reza berjalan di trotoar dengan linglung. Dia hanya mengikuti jalanan yang terus memanjang tanpa henti sambil terus mengutuki ayahnya yang kejam.
Mentari tidak diam, ia mulai merangkak naik ke atas kepalanya. Membuat hari semakin panas, tenggorokannya pun meminta di bilas seteguk air di tambah juga perutnya mulai meronta-ronta.
Tidak pernah dirinya merasa sesial ini selama menjadi manusia.
Sebelumnya, jika dia ingin bepergian, selalu ada mobil Porsche putih kesayangannya yang siap menemani nya kemana saja. Dengan AC yang sejuk dan muka bersih tak berdebu.
Jika dia ingin makan siang dia bahkan tidak pernah memandang makanan murah di pinggir jalan.
Tapi sekarang, setiap ada warung yang menampilkan hidangan sederhana yang terlihat enak, dirinya pasti akan menelan seteguk ludah tanpa bisa meraihnya.
Di perjalanan, Reza menoleh dan melihat seorang pengemis yang tersenyum saat di beri sedekah oleh seseorang yang sedang lewat.
Sempat terbesit pikiran aneh di otaknya.
"Ah bego kali gua sempet-sempetnya mikirin jadi pengemis. Gak, gak, gak.. Mending gua mati kelaparan dari pada kek gitu."
Setelah menepis pikiran anehnya, Reza terus saja berjalan melamun membuat dirinya tidak mengetahui bahwa dia sedang melewati sebuah SMK otomotif. Tiba-tiba dari kejauhan seorang pria berseragam berteriak.
"Woi, itu ketua Bad Boy... Serang, serang woooi, dia sendirian. "
Reza terkejut dari lamunannya setelah seseorang meneriaki nya dengan kencang.
Tanpa sadar dia ternyata sedang melewati salah satu SMK yang telah lama menjadi musuh bebuyutan sekolahnya. Dia mulai berlari saat puluhan siswa mengejarnya dengan niat membunuh.
"Yaelah, kenapa harus sekarang sih bangs4t. Kaburr dulu lah!! "
Hosh, Hosh, Hosh,
Dengan bersusah payah Reza menahan haus dan capek setelah berlari menyelamatkan nyawanya.
Tiga puluh menit dia bermaraton dengan tas berisi penuh hingga membuat siswa-siswa yang mengejarnya tertinggal di belakang.
Dia telah berada di pinggiran kota, karena terlalu lelah Reza kemudian menjatuhkan pantatnya ke trotoar dimana terdapat sebuah konter HP yang bisa di bilang cukup besar.
__ADS_1
"Duh, perut! kenapa gak diem sih! Badan juga bau apek. Apes banget! . Apa gua bakal mati kelaparan? Apa perlu ngemis kayak bapak tua tadi? . Nanti kalau dapat uang kan bisa buat makan. Tapi.... Ah, masak ngemis sih. " gerutunya pada dirinya sendiri.
Perasaan lapar sekaligus hausnya sudah berada di ambang batas wajar yang dapat di tolerir tubuhnya. Dia kemudian mengambil hp dari kantong untuk menghubungi seseorang.
Beberapa kali di utak-atik layar ponsel namun tidak ada nomer siapapun disana selain nomer Tama. Semua nomer sudah di reset sesuai perjanjian dengan papanya.
Sepintas Reza melihat counter HP besar di depannya. Dia punya ide untuk menjual hpnya demi bertahan hidup.
Selang beberapa detik di dalam konter.
"Ya, ada yang bisa saya bantu mas? " Ucap resepsionis wanita berwajah jutek yang sedang berjaga.
Sesekali terlihat dia menggoyangkan hidungnya karena mencium bau yang tidak nyaman dari pria di depannya.
"Ini mbak, saya mau jual HP. " Kata Reza dengan muka songong.
Reza memberikan hpnya, itu adalah iPhone keluaran terbaru. Dulu dia membelinya juga menggunakan seperlima uang saku bulanannya.
Mbak resepsionis sedikit terkejut dengan HP yang di bawa pemuda di depannya. Namun wanita itu juga merasa ragu bagaimana bisa pemuda lusuh dan bau seperti Reza bisa memiliki HP secanggih itu.
"Apa ada dosbuknya mas? " Tanya wanita itu dengan pandangan curiga. Reza hanya menggeleng santai sembari tangannya memutar perutnya yang lapar.
Mendengar itu reza naik pitam, telinganya seolah akan meledak karena tidak percaya ada seseorang yang berani berkata begitu pada dirinya.
"Eh mbak, panggil manager loe sekarang! Asal loe tau ya, HP ini gua beli pake uang gua sendiri. Jaga ya tu mulut kalau ngomong anzeng. " Bentak Reza membuat seorang pria menghampiri nya dengan wajah penuh penyesalan.
"Maaf kak, ada yang bisa di bantu? " Ucap pria itu dengan sopan.
"Ini karyawan loe, masak gua cuma mau jual HP malah di bilang maling. "
Dengan segera pria tersebut memberi isyarat tangan yang seolah mengatakan dia akan menggantikan wanita disebelahnya untuk melayani Reza.
Meski dengan perasaan kesal, Reza tetap mau menunggu dengan kesabaran maksimalnya karena perutnya sungguh sudah meronta-ronta.
Jika ini Reza yang kemarin, mungkin konter itu sudah dia gusur setelah dia membeli semuanya yang ada di sana dengan cara hina, dia pasti akan membalas seribu kali lipat perilaku karyawan dan toko yang sudah tidak sopan kepadanya.
__ADS_1
"Kami bisanya ngasih harga tertinggi 10juta kak, itupun kalau kakak serius buat jual HP ini." Ucap pria itu dengan sopan.
" Kok murah banget sih bang, itu bahkan gak nyampe setengahnya loh kalau beli barunya. " Jawab Reza dengan nada emosi.
"Ya terserah kakaknya mau jual atau nggak. Namanya juga barang second kak, terus tidak ada kelengkapan apapun juga. Makanya harganya segitu. "
Merasa sangat lapar, Reza menyetujui transaksi tersebut dengan berat hati. Dia juga membeli HP bekas murah seharga satu juta untuk menggantikan HP lamanya itu.
"Ini mah namanya downgrade. Masak pegang hape jadul kek gini sih gua."
Reza kemudian mampir ke sebuah warteg. Setelah melampiaskan rasa lapar, dia mulai mengeluarkan uang sebesar dua ratus ribu rupiah. Dia berbincang dengan si empu warung.
"Berapa buk. Makan sama teh hangat tadi. "
"Dua puluh ribu nak. " Ucap ibu-ibu penjual dengan senyum bersahaja.
"Apa bu? " Reza seolah tidak percaya.
Reza sedikit kaget dengan nominal yang di ucapkan penjaga warteg itu.
"Dua puluh ribu saja nak. Ngapain ngeluarin dua lembar merahan. Makanan ibu gak mahal lho. "
"Murah amat bu. kembaliannya ibu ambil saja, uang receh gini males saya Terima lagi. " Ucap Reza dengan menyombongkan kekayaannya.
Setelah Reza menyodorkan selembar uang seratus ribuan kepada penjaga warteg, si ibu itu terlihat sangat senang.
"Semoga lancar rizki nya ya nak. "
Setelah itu Reza keluar dari warung dan mulai mencari kos-kos an.
Sembari mencari kos-kos an di jalan, dia juga browsing tentang biaya pendaftaran kuliah di internet.
"Kok mahal semua sih. Apa gak ada yang lima jutaan? Uang gua juga sisa delapan jutaan. Belum lagi nyari kos-kos an. Gimana caranya gua kuliah coba."
Reza menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia kemudian lanjut mencari kos-kos an agar malam ini dirinya tidak terlunta-lunta di jalanan.
__ADS_1
Reza menemukan sebuah kos-kos an di pinggir jalan yang sempat di lewatinya. Dia memasuki rumah di samping kost yang dia yakini sebagai pemilik dari kost-kostan tersebut.
Setelah melakukan transaksi pembayaran senilai delapan ratus ribu untuk sebulan menetap. Reza mengikuti bapak kost yang mengantarnya ke salah satu kamar.