Ada Cinta Di Hati Yang Jahat

Ada Cinta Di Hati Yang Jahat
Wanita itu Syifa


__ADS_3

"Ya Allah! Kapan mau sampai kalau terus seperti ini. Dia bakalan mau nunggu gak ya. " Keluh seorang gadis berjilbab dengan kecantikan sempurna pada dirinya sendiri.


Dia terjebak kemacetan saat mengendarai motor matic nya ketika akan kembali ke rumah.


Udara sekitarnya terasa sesak saat ratusan kendaraan masih tetap menyalakan mesin mereka, menyalakan mesin berarti membiarkan kenalpot mereka terus menerus mengeluarkan polusi udara.


Bunyi kelakson juga terdengar saling sahut menyahut memekikkan telinganya, orang-orang terlihat mulai tidak sabar menunggu roda mereka untuk bisa berputar kembali.


Baru setelah hampir dua jam lamanya gadis itu mematung, akhirnya dia berhasil lepas dari rasa penat saat kendaraan mulai kembali melaju.


Namanya adalah Asyifa Aulia. Dia biasa di panggil Syifa oleh teman-temannya. Gadis ini adalah seorang mahasiswi kampus semester empat dengan kemampuan di atas rata-rata.


Syifa merantau dari kampung halamannya untuk melanjutkan jenjang pendidikannya setelah mendapat beasiswa selepas SMA.


Dia juga bekerja part time sebagai guru privat untuk menyambung hidup karena keluarganya tidak mampu membiayai kehidupannya.


Saat ini, Syifa tengah membutuhkan seseorang untuk mengisi kamar kontrakannya yang tengah kosong. Rumah yang terdiri dari dua kamar tidur dengan sebuah dapur dan ruang tamu yang kecil.


Sebelumnya, kamar itu penuh saat tempati kakak angkatannya dan juga dirinya. Namun setelah teman sekamarnya lulus dan pulang kampung, Syifa akhirnya harus menanggung sendirian pembayaran kontrakan.


Syifa awalnya ingin pindah ke tempat yang lebih murah, namun karena dirinya sudah terlanjur nyaman di tempat itu, alasannya lebih karena dekat dengan kampus dan tempatnya bekerja, dia mulai mengurungkan niatnya.


Dia memilih mencari parner kontrakan dan memposting hal tersebut di suatu forum grup Facebook.


Setelah satu minggu barulah ada seseorang yang menanggapi postingannya.


Meski awalnya dia ragu karena yang menghubunginya adalah seorang pria.


Dia masih merasa lega setelah instingnya mengatakan bahwa pria tersebut adalah pria baik dan sangat sopan dalam ber pesan text.


Apalagi pria itu menyetujui semua persyaratan darinya.


Dia juga tidak punya banyak pilihan untuk menunggu seorang perempuan untuk menjadi partnernya.


Kontrakan sudah mendekati jatuh tempo. Sudah baik dia di beri kelonggaran oleh si empu rumah.


Syifa memarkirkan motornya di depan rumah. Dia melihat seorang pria berkaos hello kitty tengah tertidur memeluk barang bawaannya dengan lusuh.


Syifa mengembangkan senyum melihat penampilan pria itu, sederhana. Kata itu yang terbesit saat melihat Reza yang tertidur di terasnya untuk pertama kali.


Dia yakin bahwa pria tersebut adalah pria sederhana dan tidak akan melakukan hal yang tidak senonoh padanya.


Tapi itu sebenarnya hanya tipuan sempurna dari Reza sang bos gengster.

__ADS_1


Terlihat Kopyah miring dimana dia memang tidak pandai menggunakan kopyah, dengan sarung yang di pakai bersamaan celana jeans yang menyumbul keluar memunculkan pemandangan yang tidak biasa, 'Lucu' kata itu yang pantas di sematkan saat Syifa melihat Reza pertama kali nya,


Apalagi pria itu dengan sabar menunggu kepulangannya. Syifa mulai menghilangkan perasaan ragu-ragunya.


"Mas, mas, bangun, masuk yuk! " Ucap Syifa menepuk bahu Reza. Reza yang terlelap kemudian bangun setelah mendengar seseorang memanggilnya.


Beberapa kali punggung tangan pria itu mengucek matanya yang terasa sangat sepat.


'Datang juga ni cewek sial4n. Gua kira bakalan sampai pagi. ' Hardik Reza di dalam hati, namun bibirnya berkata lain.


"Eh kakak sudah tiba ya. " Ucap Reza dengan memaksakan senyum lembut yang membuat gigi kelinci implan nya semakin terlihat bertambah besar.


"Iya, maaf ya mas sudah buat mas lama nunggu, tadi macet di jalan. Dan jangan panggil aku kakak, panggil saja Syifa. " Ujar Syifa sembari membuka pintu rumah.


'Maaf, maaf, matamu picek. Banyak nyamuk disini sampai gua harus pakai sarung soalnya di serang satu batalion pasukan. Cih, enak aja cuma ngomong maaf.' Umpat Reza di dalam hatinya. Sementara di bibirnya masih terus berkata lain.


"Baik mbak Syifa. Namaku Rez.. Eh, nama gu.. Aku Eza. " Jawab Reza dengan gugup saat dirinya bingung ingin memakai sebutan apa.


Terlintas di dalam pikirannya dia harus menggunakan nama lain.


Penyamaran yang sempurna adalah totalitas.


Dia merasa harus mengubah semua identitasnya agar tidak ada lagi yang mengenali dirinya sebagai ketua geng dari bad boys kedepannya.


Dia yang sedari tadi mencium bau yang tidak sedap dari aroma tubuhnya, merasa harus melakukan sesuatu.


"Kayaknya aku perlu mandi mbak. Seharian ini jalan kaki nyari tempat buat menginap. "


Syifa mengangguk karena dirinya juga mencium bau aneh dari tubuh pria di depannya.


Syifa merasa kasihan pada Reza dari awal perkenalan mereka. Padahal biasanya dia sangat cuek pada sosok pria.


Tapi tampilan lusuh dan terlihat sangat sederhana membuat Syifa lebih melunak pada Reza seorang dari pada pria luaran yang sok sombong menunjukkan harta orang tuanya


Itu karena Reza mengingatkan nya pada dirinya saat pertama kali dia pergi jauh dari rumah dan masih sangat polos.


Syifa ingin membantu Reza, karena kehidupan pinggiran kota memang keras bagi orang-orang miskin seperti mereka.


Percikan air terdengar keras. Reza merasakan perasaan segar setelah mengguyur tubuhnya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.


'Tidak buruk, gua tinggal daftar kuliah dan cari jurusan yang tidak rumit. Sisanya gua cuma harus bertahan hidup selama empat tahun dengan damai. Abis itu, semua harta keluarga bakalan gua kuasain hahaha. '


pikiran jahat mulai merasuki otak Reza. Dia tertawa karena dirinya merasa mampu melewati semua ini dengan mudah untuk kedepannya.

__ADS_1


Dalam guyuran air dingin dirinya mulai sedikit merindukan saat-saat kehidupan mewahnya. Mengingat mobil Porsche kesayangannya yang baru sehari di tinggalnya dan segala fasilitas kehidupan nya dulu membuat dadanya terasa sesak.


Takdir memang tidak bisa di tebak. Siapa sangka dirinya akan bernasib miris seperti ini.


Pintu kamar mandi di buka. Dengan santai Reza mengenakan Boxer selutut dan mengibaskan handuk ke atas rambutnya. Reza kemudian keluar dari kamar mandi tanpa merasa bersalah.


"Mas Eza? " Pekik Syifa dengan mata tertutup rapat oleh kedua tangannya.


Reza yang tidak sadar kemudian melihat dadanya yang terbuka. Ekspresinya sebenarnya biasa saja, bagi preman sekolah adalah hal biasa bertelanjang dada, di tambah tubuhnya memang atletis menambah kesan garang saat tawuran. Semakin bidang dada pria maka semakin banyak kesempatan menang dalam duel saat tawuran pikirnya.


Reza sangat membangga-banggakan tubuhnya yang bagus dan ideal. Tapi saat dia mengingat kembali persyaratan dari si pemosting yang menekankan kata 'Religius'. Reza segera berlari ke kamarnya dengan cepat.


Brak!


Pintu kamarnya tertutup dengan keras.


"Maaf, maaf mbak, aku lupa kalau sekarang ada wanita. " Teriak Reza dari balik pintu.


Syifa tersenyum. Dia memahami bahwa mungkin Pria itu masih belum terbiasa tinggal serumah dengan wanita lain yang bukan muhrimnya.


Syifa sendiri sempat merasakan hal tersebut. Bahkan dirinya hampir lupa mengenakan jilbab saat hendak ke ruang tamu barusan. Namun mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, dia akhirnya sadar bahwa dirinya harus lebih ber hati-hati menjaga auratnya dari sekarang.


"Ah, ribet banget si kata R-E-L-I-G-I-U-S itu. Cuma telanjang dada aja matanya sudah melotot kek gitu, gak pernah liat dada cowok tampan dan seksi apa tu betina. Padahal kan gua ganteng pas pose gini. Haha....!


Dah lah. Yang penting kamar ini adalah wilayah kekuasaan Gua, gua bebas ngapain aja disini. Sekarang waktunya ganti baju, lalu pikirin cara buat nyari kuliah dengan pelajaran yang gampang. Btw, ada kelas tawuran gak ya? . "


*****


Syifa agak cemas karena sudah satu jam ini Reza tidak keluar kamar, dia hendak mengetuk pintu kamar pria itu untuk memberikan bakso yang tadi sempat di belinya sebagai permintaan maaf karena datang terlambat.


"Apa dia ketiduran? Tapi ini kan baru jam sepuluh. Atau mungkin dia malu karena keliatan telanjang dada di depan ku. Biar dia gak merasa bersalah, biar ku ketuk aja pintunya. "


"Mas, mas Eza belum tidur kan? " Ucap Syifa seraya mengetuk pintu kamar Reza.


"Dih, apaan sih ni cewek ganggu orang yang lagi capek aja. Pasti mau minta bayaran kan. Ketahuan banget pola pikir nya busuk banget. Semua cewek sekarang kan mata duitan. Apa gak bisa sabar gitu ampe besok." Gumam Reza menghardik.


"Iya mbak, sebentar.! " Jawab Reza dari dalam. Dia kemudian segera mengambil uangnya sebesar lima ratus ribu rupiah. Tidak lupa kopyah putih dan sarung dia kenakan sebisanya.


Klek, pintu di buka.


"Iya mbak ada apa? "


Reza tersenyum dengan perasaan jengkel di dalam hati. Dia sebenarnya ingin beristirahat dengan tenang saat ini dari pada di ganggu karena hal-hal kotor seperti pemerasan uang.

__ADS_1


"Ini mas ada bakso. Tadi aku belikan, Makan bareng yuk. "


__ADS_2