Ada Cinta Di Hati Yang Jahat

Ada Cinta Di Hati Yang Jahat
Pekerjaan


__ADS_3

Reza pulang dengan perasaan gembira. Telunjuknya dia arahkan untuk menyentuh perban yang melekat di keningnya, terasa sedikit nyeri tapi itu sensasi yang sudah lama ia dambakan.


Anak buahnya juga sangat pandai merawatnya, tidak seperti anak buahnya yang lama, saat dia masih sekolah SMK dimana mereka seenaknya saja membalut lukanya dengan robekan sarung bekas pakai. Setidaknya sekarang lukanya terbalut dengan keren.


Sementara pertandingan final gulat yang berlangsung tadi terasa sangat menegangkan. Banyak murid bahkan guru bergunjing mengenai pertandingan tersebut, menjadi topik hangat pembicaraan seluruh Universitas.


Rumor menyebar secepat angin, Reza mendapat julukan baru di antara para mahasiswa, itupun masih belum di sadari nya. Julukan yang di sematkan padanya oleh para mahasiswa adalah Kepala Beton.


"Assalamu'alaikum "


Reza masuk dan segera berlalu ke kamarnya. Dia sedang tidak ingin menjawab pertanyaan yang akan di lontarkan nenek sihir, Reza sempat melihat ke arah Syifa saat memenangkan pertandingan tadi, dia sudah merasa tidak nyaman dengan pandangan aneh yang di pancarkan gadis itu.


Sementara Syifa yang sedang menyetrika baju menjawab salam Reza dan kemudian memandang perilaku aneh dari pria tersebut.


Tidak ada tegur sapa dan hanya berlalu seperti angin lewat. Dia sempat ingin mengucapkan selamat, namun di sisi lain dirinya bingung dengan tindakan Reza hingga berani membenturkan kepalanya ke lawan tandingnya. Tapi dia tahu bahwa mencerca orang yang sedang terluka dengan banyak pertanyaan itu tidak baik. Nanti bukan hanya tubuh yang down, mental juga.


Reza berlalu ke kamar mandi juga tanpa basa-basi, menghindari pertanyaan cewek yang sepertinya sama saja. Itu tentang kekhawatiran, nasehat dan kedepannya tidak boleh seperti itu lagi.


Waktu menunjukkan pukul enam. Badan Reza terasa sangat letih, dia hendak mengistirahatkan badannya di tempat ternyaman baginya saat ini. Itu adalah masjid.


Peci dan sarung sudah siap, tinggal berangkat dan tidur.


Reza membuka pintu kamar dan hendak keluar. Tiba-tiba suara Syifa menghentikannya.


"Mas Eza. "


'Duh, ngapain manggil ni nenek lampir, pasti mau ceramahin gua. '


"Iya mbak? "


Reza menghadapkan wajahnya ke arah Syifa. Syifa sedikit tersenyum kemudian berkata kembali.


"Mas mau ke masjid? Luka di kening mas basah, ganti perban dulu ya biar Syifa bantu. "


Reza mengangguk. Entah kenapa wanita satu ini berbeda dari anak buahnya yang sangat cerewet. Reza kemudian duduk di sofa dengan tenang.


Syifa membawa sebuah kotak obat, di ambilnya kain kasa, betadine dan kapas.


"Apa masih sakit? " Tanya Syifa sembari melepas perban yang memerah tercampur darah.


"Ndak kok mbak. " Ucap nya singkat.


Tanpa banyak suara lagi Syifa mengganti perban itu dengan hati-hati. Dia juga melakukan hal tersebut tanpa menyentuh kulit Reza sama sekali, mereka bukan mahrom.


Biasanya wanita akan banyak bicara. Mamanya saja kalau melihatnya babak belur bisanya hanya bisa mengomel seraya menunggu dokter keluarga untuk datang. Sedangkan papanya biasa nya malah akan menambahkan pukulan untuknya.


Tapi Syifa berbeda, dia merasa lebih di sayangi dan di perhatikan di waktu seperti ini.


"Apa mbak gak mau tanya kenapa saya melakukan itu? " Tanya nya spontan. Entah kenapa bibirnya malah membuka pertanyaan aneh.


Syifa hanya tersenyum. Dia kemudian berkata sembari menaruh kotak P3K nya kembali.


"Pasti mas Eza sudah menyadari sendiri kenapa harus melakukan itu. "

__ADS_1


Reza bingung. Dia membatin di dalam dirinya sendiri.


"Apa gadis ini tahu gua ini suka tawuran? Alasan gua ya cuma satu. Gua pengen jadi cowok terkuat di dunia. Tapi dia gak bakalan tau deh, orang gua lagi nyamar. "


"Syifa yakin mas melakukan hal tersebut karena ada sesuatu alasan yang kuat. Kalau boleh tau, kenapa mas berlomba sampe segitunya? "


Deg!


'!nyesel gua mancing omongan. Alasan kuat gua ya pengen kuat. "


"Mungkin karena aku pengen dapat beasiswa mbak Syifa. Katanya kalau berprestasi bisa mengajukan beasiswa? Nanti kuliahnya gratis donk. " Reza berbicara ngawur sembarangan. Dia bahkan tidak tahu apa benar ada beasiswa seperti itu, semuanya hanya dia karang semata karena reflek spontan.


Syifa yang kali ini terenyuh. Jawaban Reza dapat di terima akalnya. Memang benar ada beasiswa jalur prestasi. "


"Mbak saya pergi dulu. Takut terlambat. "


'Jangan lama-lama biarin dia mikir, nanti gua di cerca pertanyaan lagi. Kabur aja enaknya. '


"Oh iya mas. Hati-hati. "


Syifa mendalami ucapan Reza yang sebenarnya hanya ngasal. Bertambah pula kekaguman gadis itu padanya.


***


Sholat magrib selesai. Setelah salam terakhir, orang-orang yang hendak pulang memandangi sesosok tubuh yang tengah berbaring di pojokan masjid, tubuh itu tergulung oleh sebuah sarung.


Ada kegiatan mengajar mengaji setelah menunaikan sholat magrib yang di pimpin oleh kiayi komplek setempat. Namanya pak Haji hasan.


"Pak apa perlu saya usir saja gelandangan yang tidur itu? " Ucap seorang pengurus masjid yang merasa tidak nyaman atas kehadiran Reza.


Pak Haji hanya tersenyum. Kiayi komplek itu memang terkenal akan kesabarannya.


"Tapi dia tidak sholat pak, hanya tidur seperti itu dari subuh kemarin. Masjid kan bukan tempat penampungan. "


. "Rumah Allah bebas siapapun yang mau masuk. Selama masih bermanfaat buat banyak orang. Siapa tahu dia tidak memiliki tempat tinggal. Nanti biar aku yang urus. "


Pengurus masjid kemudian mengerti dan pamit. Sementara pak Haji hasan meninggalkan murid-murid nya yang tengah murojaah.


"Mas, mas.. Assalamu'alaikum. "


Dengan linglung Reza yang keenakan tidur, terbangun saat seseorang mengguncang tubuhnya. Dengan reflek dia berkata.


"Ah, siapa lu? "


Beberapa kali punggung tangannya mengucek matanya yang sepat. Orang di depannya hanya tersenyum dan kemudian duduk di depannya.


"Saya pak Hasan. Maaf sudah mengganggu tidurnya. Boleh kenalan? "


Melihat pria tua di depannya membangun kannya hanya ingin melakukan yang tidak penting. Reza kembali tidur.


"Nanti aja pak tua kenalannya. Aku masih ngantuk. "


Pak Haji hasan tidak mengganggu Reza lebih lanjut, dia kemudian meneruskan mengajar mengaji murid-murid nya.

__ADS_1


Pak hasan sudah berumur tujuh puluh tahun. Dia hidup sebatang kara dan memiliki sebuah rumah sederhana di salah satu komplek sekitar.


Istrinya sudah meninggal dunia sepuluh tahun lalu dan dia tidak di karuniai anak. Oleh karena itu dia memilih menjadi guru ngaji untuk menghilangkan kesepiannya. Pak Haji hasan memiliki sebuah toko baju syar'i yang lumayan laris di salah dekat pasar.


Setelah sholat isya' selesai. Banyak pasang mata menatap sesosok tubuh yang tengah tidur terlelap. Posisinya juga masih sama seperti saat mereka menyelesaikan sholat magrib tadi.


Pak Haji Hasan kembali membangunkan Reza. Kali ini Reza mulai duduk dan beberapa kali mengerjapkan matanya.


"Ada apa pak tua, dari tadi loe gangguin gua tidur. " Reza dengan muka songong merasa terganggu dengan kedatangan pria tua tersebut.


"Apa adek seorang muslim? "


Reza mengangguk dengan malas. Sedangkan pak Haji ikut mengangguk anggukkan kepalanya kecil.


Pria seusia Reza sangat rentan untuk di nasehati, jika tidak maka hanya akan ada pemberontakan. Itu karena hati seorang yang sudah berumur sangat berbeda dengan hati anak kecil yang masih gampang di bolak balik.


Pak Haji Hasan tidak ingin kehilangan momen ini. Dia berfikir mungkin ini cara Allah untuk membuatnya mendapatkan pahala. Sangat jelas takdir Allah, dimana tiba-tiba ada seorang pemuda yang selalu tidur di masjid namun enggan melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.


"Boleh bapak tahu, apa adek pernah sholat? "


Kali ini Reza menggeleng. Dia tidak memiliki alasan untuk berbohong pada pria tua yang menurutnya hampir mati.


Dengan mengacak rambutnya Reza hendak tidur kembali.


"Adik mau bekerja ? Lumayan nambah duit. "


Mendengar kata duit Reza sedikit membuka matanya. Dia memang membutuhkan kertas tersebut. Tapi saat pria tua di hadapannya mengatakan kata bekerja, dia mulai ragu.


"Memang kerjaannya berat gak? Kalau berat gua gak bisa pak tua. "


Pak Haji Hasan hanya mulai tersenyum. Pancingannya mengenai uang ternyata berhasil.


"Oh tidak sulit, cukup meluangkan waktu sehari 30menit. Tidak ada keterikatan tempat. Gimana? " Tawar pak Haji Hasan.


Reza bingung. Memang ada kerjaan seperti itu? 30 menit? Reza masih berfikir.


"Emang apa kerjaannya pak. Kalau sudah gua gak mau. "


"Gak susah kok, kamu cuma harus sholat berjamaah di masjid. Lima kali, dhuhur, ashar, magrib, isya' dan subuh. Masing masing mungkin cuma mengambil waktu kamu lima menit. "


Reza berfikir sejenak. Kemudian bibirnya mulai berucap lagi.


"Kayaknya susah deh pak tua. Kerjaannya si gampang. Tapi gua gak hapal jam nya. Lagian gua gak tau sholat itu ngapain. "


Panjang lebar pak Haji Hasan menjelaskan pada Reza, mereka juga saling berbagi kontak HP. Setiap kali tanda mau sholat berkumandang, pak Haji Hasan akan menelpon Reza. Reza yang merasa itu tidak terlalu sulit akhirnya mengiyakan bisnis nya ini.


"Trus lo mau ngegaji gua berapa pak tua? "


"Gimana kalau dua juta perbulan? "


"Lima juta gak kurang. " Reza menyilangkan tangannya seolah tidak ingin bernegosiasi kembali.


"Ini kan masih training. Gimana kalau tiga juta dulu. "

__ADS_1


"Oke sepakat. "


__ADS_2