Ada Cinta Di Hati Yang Jahat

Ada Cinta Di Hati Yang Jahat
Mencari Tempat Bernaung


__ADS_3

Alfareza Rahardika adalah anak tunggal dari keluarga kaya di Indonesia.


Semua kalangan masyarakat tahu sebesar apa perusahaan sixth Group. Perusahaan yang bertahun-tahun menguasai puncak perekonomian di Indonesia, bahkan sepuluh besar di Asia.


Namun Reza yang menjadi anak semata wayang keluarga itu baru saja di tendang keluar oleh keluarganya dan kini hidup terlunta-lunta.


Dia juga baru menyelesaikan pendidikan SMK nya pada usia dua puluh satu tahun.


Tiga kali tidak lulus sekolah adalah kebanggaan baginya. Dia bahkan berniat tidak ingin lulus sekolah lagi tahun ini jika saja ayahnya tidak memukulinya dan mengutuknya untuk segera menyelesaikan pendidikannya.


Reza tidak ingin segera lulus bukan karena dia terlalu menyukai pendidikan.


Itu lebih kepada dia tidak rela kehilangan satu-satunya organisasi besar yang telah di bangunnya dari nol dan sudah melambungkan namanya di dunia perkelahian antar pelajar di seluruh sekolahan di daerahnya.


Sehari pun berlalu, setelah selesai mengepak pakaiannya, dia melangkah keluar.


Sesuai ucapan ayahnya kemarin, saat ini dia hanya akan membawa pakaian dan ijasahnya saja.


Semalam mamanya bersikeras agar anak semata wayangnya di ijinkan untuk membawa HP, itu untuk memudahkan Reza dalam berkomunikasi.


Melalui perdebatan panjang antara tuan Teja dan istrinya Ny. Nova. Finalnya, Reza di izinkan membawa alat elektronik tersebut namun harus menghapus seluruh kontak, aplikasi serta mengganti nomer miliknya.


Tambahan peraturan tuan Teja Rahardika, baik mamanya atau Reza tidak boleh saling menghubungi satu sama lain selama Reza di luar.


Pemuda itu keluar dari rumah pagi pagi buta. Beberapa langkah setelah keluar dari gerbang rumahnya yang besar dia menoleh kembali kebelakang.


Sekali lagi dia melihat rumah mewah yang selalu memanjakannya, lebih tepat nya istana yang menaunginya.


Selama ini, dia bahkan tidak pernah kekurangan apapun.


Membawa mobil Porsche ke sekolah dan mentraktir seluruh teman-temannya di restauran mewah adalah kebiasaan nya setiap hari. .


'Akan ku buktikan kalau aku bisa melewati semua ini kepada pak tua sial4n itu. ' gerutu Reza dalam hati. Kepalan tangannya semakin membulat sebulat tekatnya kali ini.


Langkah pertama yang dia tuju adalah rumah Tama.


Tama adalah salah satu dari teman dekatnya di sekolah saat mereka masih SMK.


Dulu, saat masih bersekolah, Reza dan empat temannya termasuk Tama bersama-sama mendirikan sebuah geng yang bernama Bad Boys. Kelimanya adalah tetua yang mengkoordinasi sekitar lima ratus siswa sebagai bawahan mereka.


Mereka berlima selalu mengatur tempat dan waktu terjadinya tawuran antar sekolah dan mengatur pasukan untuk menyerang sekolah lain.


Satu setengah jam Reza berjalan, membuat kakinya terasa sangat pegal.


Di tambah tas besar yang melekat di punggungnya menambah bebannya semakin berat.


Sumpah serapah dia lantunkan sepanjang jalan kepada pria tua yang telah membuangnya. Dia bahkan tidak memegang uang satu Rupiah pun untuk sekedar naik ojek online.


Akhirnya dia sudah sampai sesuai alamat yang pernah Tama berikan.


Reza sempat kebingungan, itu karena bisa saja alamat yang di berikan Tama salah, namun saat melihat lagi sebuah rumah kecil kumuh bertengger lusuh dan berlokasi yang sama dengan kertas petunjuk yang sedang di bawanya, dengan ragu dia mulai menggerakkan langkahnya ke rumah kecil itu.


Tok, tok, tok.


"Woi Tam, Lo tinggal disini kah? " Teriak Reza tanpa sopan. Itu memang watak asli dari seorang Reza.


Beberapa kali ketukan ia tamparkan dengan kesal ke arah pintu yang memang terlihat usang. Sesaat kemudian terdengar suara wanita setengah berteriak.


"Sebentar! Sebentar! "

__ADS_1


Klek!


Pintu di buka dan wajah Reza yang tengah tertunduk kelelahan mulai menaikkan menir matanya keatas.


Bola matanya bergulir dari bawah melihat kaki seseorang yang tengah membukakan pintu.


Itu kemudian naik ke atas perut dan melihat wanita yang berada di hadapannya ternyata sedang hamil besar.


Dia kemudian segera mengangkat pandangannya ke atas untuk melihat wajah wanita di depannya dan mulai tersentak kaget.


"Mira? "


Wanita di depannya juga tidak kalah kaget melihat sosok pria yang berkunjung.


"Re-za? "


Saat ini, yang sedang berdiri di hadapan Mira adalah sesosok pria yang menakutkan baginya, pria sombong dan urakan serta yang terkejam di sekolahnya.


Mira tahu bahwa Reza sangat di jauhi siswa-siswi lain karena tidak akan ada hal baik bila berdekatan dengan dirinya.


Hal itu wajar karena sifat reza yang buruk dan selalu seenaknya sendiri dalam bertindak pada teman-teman maupun adik kelasnya.


Reza merupakan sahabat suaminya. Entahlah kenapa suaminya mau berteman dengan pemuda begajulan seperti Reza.


"Iya Rez, hallo! " Sapa wanita muda itu dengan sedikit canggung, wajahnya pucat pasi karena dia merasa lebih baik bertemu hantu dari pada bertemu sosok pria di depannya.


Mira sebetulnya tidak ingin terlibat dalam hal apapun dengan pria menjengkelkan seperti Reza, namun kali ini pria itu datang sebagai tamu ke rumahnya.


"Mmm... Lo ngapain disini mir? Loe hamil ya," Selidik Reza, "kebanyakan ngen sih sama Tama loe waktu SMK, tuh kan ngandung anak haram loe nya. "


Dia melirik perut wanita di depannya dengan penuh hina tanpa memikirkan perasaannya.


Mira hanya tersenyum kecut mendengar ucapan pedas dari teman suaminya yang satu ini.


" Mari masuk dulu Rez. " Tawar mira dengan berat hati.


Reza melangkah masuk mengikuti langkah Mira.


Reza tidak menyangka mereka berdua yang telah lama pacaran akan menikah secepat ini. Apalagi Reza dan kelompoknya berpisah baru tiga bulan belakangan.


Reza duduk di karpet yang di persilahkan oleh Mira, mata Reza berputar ke sekitar dengan pandangan merendahkan, tidak ada kursi, meja ataupun perabot mahal yang tersedia di sana.


Dia kemudian meletakkan tas besar yang di gendongnya ke sebelah sisi kanan tangannya. Pinggangnya yang kaku selama perjalanan dia putar agar terasa lebih rileks.


Mata reza kembali liar. Dia merasa rumah itu sangat kecil bahkan lebih kecil dari ukuran gudang rumahnya sendiri.


Di tambah tempat itu tidak terawat karena seolah-olah atapnya akan runtuh kapan saja.


"Inikah yang di namakan kehidupan orang miskin?" gumamnya pelan. Suara itu masih terdengar oleh mira namun Reza seolah acuh tak perduli meskipun terdengar oleh si empu rumah.


"Mari di minum Za, " Tawar Mira sembari memberi sebuah aqua gelas di hadapan pria itu.


Sekilas suasana hening, namun Reza mulai menambahkan pembicaraan.


"Tama dimana Mir?" Tanyanya penasaran.


Wajah menjengkelkan Reza masih membuat Mira risih. Pria itu kemudian hendak menyesap air yang di berikan oleh wanita di depannya, sebelum itu, dia membersihkan tutup air dengan bajunya karena menganggap air itu berkemasan kotor.


"Kerja za, sama bapaknya di proyek." Jawab Mira singkat.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian dua anak kecil keluar berlarian membuat suasananya menjadi bising.


"Mereka siapa? berisik sekali! "


"Oh, mereka adik adiknya Tama, oh ya ada keperluan apa kamu kesini za? "


Reza bingung harus menjawab apa. Awalnya dia ingin mencari tempat tinggal untuk sementara waktu agar dirinya bisa numpang hidup di rumah temannya sebelum memikirkan rencana kedepan.


Namun melihat keluarga Tama sangat miskin dan sepertinya tidak dalam kondisi lebih baik dari dirinya, Reza segera mengurungkan niatnya tersebut.


"Aku cuma mau main saja ke rumah orang biasa. Apa gak boleh? " Ketus Reza. Mendengar itu Mira hanya diam.


Beberapa waktu berlalu, Reza pun pamit pergi. Dia sempatkan meminta nomer Tama agar bisa menghubungi teman lainnya dengan mudah. Setelah beberapa saat Reza keluar dari rumah itu, dia segera menghubungi Tama.


"Ya hallo dengan siapa? "


"Heh! Gua Reza tam. "


"Reza?? Reza tetua suhu kah? "


"Yoi bro. Jangan pura-pura lupa lo lah. "


"Eh gimana kabar loe? Btw, Lagi dimana bos besar ni? "


"Baru dari rumah loe bro, ketemu istri loe dan Tama junior yang lagi di kandungan. "


"Waduh jadi malu gua bro. "


"Sans aja. Itu urusan elo. Loe hebat gak ngebuang anak haram itu. Best pokoknya. "


"Loe Ngomong kek gitu buat gua tambah malu aja, za. "


"Halah, dah lah, oh ya.. Loe tau alamat Miko, Roy ama kevin gak? "


"Tau lah za, ngajak reunian nie ye? Tapi kayaknya mereka gak lagi di rumah, za. "


"Lah kenapa? dimana? "


"Roy katanya belajar di luar negeri. Dia sekarang di Jepang. Mungkin mau jadi yakuza nerusin perjuangan kita. "


"Heh. Seriusan bocah kurus itu belajar keluar negeri? Atau pindah tawuran antar negara, haha. "


"Haha, Serius bro. Dah berangkat sebulan lalu pas nikahan gua. Terus miko sama kev..... in. "


"terusin dong ngomongnya, jangan setengah-setengah, bikin gua penasaran aja. "


"Mereka di tangkep polisi bro."


"Hah! Yang bener? "


"Yoi, mereka tawuran trus di tes urine dan ternyata positif narkoba. "


"Beg-0 banget si mereka itu. Kan aturan di geng kita gak boleh pake gituan. "


"Nggak tau juga gua bro, gua waktu itu pusing sama kehamilan si Mira, jadi gak ngikutin kabar lanjutan mereka. "


Lama Reza mengobrol dengan sahabatnya yang kemudian panggilan itu di putus dengan senyum pias dari wajahnya.


Dia tengah pusing memikirkan rencana untuk kedepannya. Tempat untuk menginap pun dia tidak dapat.

__ADS_1


"Trus gua harus gimana. Nasib sialan, bokap sialan. " Kutuk Reza pada takdir yang mempermainkannya.


Dia kemudian meneruskan untuk berjalan menapaki pinggiran kota mencari tempat tinggal untuk nanti malam.


__ADS_2