
Semua perwakilan jurusan kembali menuju tempatnya masing-masing.
Reza memegang secarik kertas yang membuat penasaran teman-temannya.
"Kertas apa itu Za? " Ucap salah satu gadis di kelasnya yang ingin tahu.
"Oh, ini daftar lomba, isi saja yang mau ikut." Ujar Reza santai.
Mereka dengan cepat membaca kertas yang di berikan Reza. Ada enam kolom kosong yang artinya ada enam perlombaan.
Setiap kolom perlu di isi nama peserta yang akan mengikuti lomba.
Beberapa gadis terlihat sedikit kecewa dan menunjukkan mimik wajah sedih mereka, hal itu dapat di baca oleh Reza.
"Kenapa kalian kayak gak seneng? "
"Kita bakalan kalah za, ada enam perlombaan yang mana dua di antaranya adalah olahraga. Dari tahun-tahun sebelumnya jurusan kita yang mayoritas adalah wanita akan kalah melawan peserta pria, Apalagi mahasiswa jurusan Olahraga sangat menguasai dalam lomba ini." Eva menjelaskan dengan serius.
"Iya, sedih banget liatnya, kayaknya kita gak punya kesempatan deh. Padahal poin dari masing-masing kemenangan yang di peroleh sangat besar ngaruhnya untuk menunjang kepopuleran jurusan PG-PAUD sebagai ke jurusan favorit nantinya. " Timpal Diah.
Di kampus mereka, poin merupakan suatu hal penting. PG-PAUD memang memiliki Kepopuleritasan yang paling kecil di antara jurusan lain selama ini.
Reza sebenarnya ingin menyombongkan diri dengan cara tertawa lebar di depan teman-temannya sekarang. Mengatakan bos kalian adalah orang hebat.
Jika dia Reza yang dulu maka dia akan membusungkan dadanya seraya bersumpah akan memenangkan kedua perlombaan itu baik dengan cara halal maupun haram.
Tetapi saat ini dia harus mawas diri sebagai bos dari gadis-gadis lemah ini.
Perlakuan terhadap anak buah cewek dan anak buah cowok haruslah berbeda.
Bila kepada anak buah cowok dia merasa harus terlihat kuat tetapi jika pada anak buah cewek dia harus lebih berkharisma seperti saat ini.
Dia akan bermain halus mulai sekarang, suatu cara yang berbeda dari saat dia masih SMK dulu.
Bagi dirinya, kenapa meski takut jika itu hanya lomba lari dan gulat.
Dia sudah puluhan kali lari dari kejaran polisi, dia juga lihai saat lari dari kejaran para musuhnya yang terkadang menyerangnya secara bergerombol.
Sementara untuk lomba gulat juga tidak jauh berbeda dengan tawuran, siapa kuat dia menang.
Reza merasa dia mampu untuk memenangkan kedua perlombaan ini dengan mudah.
Reza juga masih ingat celetukan kecil dari perwakilan pendidikan olahraga yang membuatnya geram.
Ketika mereka maju kedepan bersama untuk mengambil kertas perlombaan.
Saat itu pria kekar perwakilan Olahraga mengatakan sesuatu hal yang sangat di bencinya. Dia berbisik
D.A.S.A.R B.A.N.C.I
Itu artinya pertumpahan darah harus terjadi dalam waktu dekat ini. Reza bukanlah orang yang mudah bersabar.
"Baiklah! kedua perlombaan ini biar aku yang maju. "
Ucapan Reza membuat semua mata yang tadinya fokus pada kertas di depannya kini serempak menuju ke arahnya.
__ADS_1
"Serius? " Ucap mereka serentak.
"Ya aku serius. Bagaimana jika aku memenangkan kedua perlombaan ini? He he he. " Dengan cengengesan Reza mencoba mendapatkan keuntungan lebih dari teman-temannya.
"Aku akan memberimu bekalku selama enam bulan. "
Respon cepat terdengar dari seorang temannya dari belakang.
Semua mata yang awalnya tertuju pada Reza akhirnya berpindah pada seorang gadis bernama putri. Melihat teman-temannya menatapnya serentak, membuat wanita itu diam mematung.
"Kenapa kalian ngeliatin aku? emang aku salah? Aku juga gak begitu suka bekal dari mamaku, uda eneg makan itu dari SMA." Celetuk gadis itu.
'Ah, makanan selama enam bulan ya? He he he... Lumayan lah persembahan dari anak buahku yang baik. ' ucap Reza dalam hati.
"Deal! "
Dengan suara yang keras Reza membuat semua teman-temannya kaget.
"Kalau begitu ketua kalian akan melakukan yang terbaik. " Lanjut Reza bersemangat.
Percakapan mereka berlanjut pada rencana perlombaan serta menyusun siapa saja yang akan ikut serta.
Setelah beberapa menit menyusun siapa saja yang akan berpartisipasi menjadi peserta. Akhirnya Reza kembali ke depan untuk mengumpulkan kertas yang sudah di terisi nama teman-temannya.
Setengah jam berlalu dan perlombaan pun di mulai. Mahasiswa yang tidak mengikuti perlombaan boleh mendukung peserta dari kejurusannya agar lebih bersemangat.
"Semangat Eza, Semangat Eza, Semangat Eza! "
Yel-yel mulai terdengar ramai dan saling bersautan.
Reza dan para kontestan sudah berada di garis start.
"Lihatlah si banci, dia dapat dukungan dari sesama kaum nya. " Celetuk seorang pria dengan tubuh yang tegap.
Pria itu bukanlah ketua yang tadi maju ke depan dan menghinanya, namun keduanya sama sama pandai membuat darah Reza mendidih.
"Ha ha ha. "
Para peserta lain tertawa dengan candaan pria itu.
'Sabar Reza, jangan pukuli dia, jangan pukuli dia. ' itu yang ada di dalam benak Reza saat ini.
Reza yang biasanya frontal kali ini mencoba untuk tenang, Namun kesabaran Reza tidak ada, dia mulai menahan dendam di dalam hatinya.
'Setelah Empat tahun gua bakal ingetin wajah kalian semua, Gua mampusin kalian satu-satu.' Gerutunya sembari membalas senyum sinis mereka.
Semua peserta mulai bersiap. Akhirnya perlombaan akan segera di mulai.
"Satu, dua, tiga. Door! "
Semua peserta Mulai berlari dengan kencang. Ini perlombaan lari middle distance yang berjarak 800meter.
Semua pelari berlari dengan cukup baik pada beberapa puluh meter pertama.
Namun perbedaan mulai terlihat saat mereka memasuki seratus meter lebih.
__ADS_1
Hanya ada dua orang yang memiliki kecepatan yang sama yaitu Eza dari PG-PAUD dan seorang pelari yang sempat menghinanya tadi, dia dari jurusan olahraga.
Mereka berdua berlari dengan sangat epic hingga memasuki enam ratus meter berikut nya.
'Sialan, bagus juga stamina banci ini. ' ucap pelari dari ke jurusan Olahraga di dalam hati.
Sementara Reza sendiri sudah merasakan kepayahan.
'Gua gak mau tahu, gua harus menang, gua harus menang dari cecunguk ini. Ini menyangkut makanan gua selama enam bulan, Ini juga soal gua yang harus jadi Bos yang guna, gua bakal buktiin kalau gua kuat. Sialan kutu kupret, ini orang larinya bagus juga. ' gerutu Reza dalam hati.
Anton adalah pelari dari jurusan Olahraga, dia sendiri adalah pelari nasional yang sempat menduduki ranking tiga besar saat mengikuti perlombaan Nasional tahun lalu.
Tidak mengherankan dia berlari dengan baik. Sementara di kursi penonton semua takjub melihat Reza yang berlari bagus dan dapat mengimbangi pelari dari jurusan olahraga.
Sementara itu,
Penonton paling tegang sebenarnya dari ke jurusan Olahraga yang notabene nya sudah tahu bahwa Anton adalah atlet nasional yang sangat mereka andalkan, namun saat ini dia berlari seimbang dengan seorang pria aneh.
"Eza semangat! Eza semangat! "
Yelling dari penonton jurusan PG-PAUD semakin menggema melihat peserta dari jurusan mereka mampu mengimbangi pelari dari ke jurusan Olahraga.
Akhirnya kurang dari lima puluh meter sebelum mencapai garis finish. Stamina Reza sendiri mulai kendor.
Keringatnya mulai deras bercucuran keluar dari wajahnya.
Reza mulai kewalahan dan sedikit tertinggal sekian belas inci dari anton. Anton terlihat sedikit menarik senyumnya mengejek kearahnya.
Meski Anton melakukan itu, dia cukup memuji Reza di dalam hatinya karna bisa membuatnya mengeluarkan kemampuan terbaiknya.
Sementara di sisi terdalam Reza yang kepayahan.
'Gua gak bisa kalah dari si bajing4n ini, Gua Reza, jangan sebut nama gua lagi kalau tidak bisa menghalalkan segala cara untuk menjadi yang nomer satu. ' teriak Reza dalam batinnya.
Tiba -tiba pandangan Anton menjadi buram. Dia mengucek matanya dan kehilangan kecepatannya di momen-momen akhir.
"Yeeeeeaaaaaahh! Finish!!"
Sorak sorai terdengar keras dari bangku penonton terutama dari ke jurusan PG-PAUD. Ini kemenangan pertama kali bagi mereka dalam bidang olahraga.
Bahkan kakak kelas jurusan PG-PAUD sendiri juga mulai bersorak untuk adik-adik kejurusannya, semua yang mereka lihat itu terasa seperti mukzizat.
Sepintas, mereka seperti melihat perlombaan lari internasional beberapa detik lalu.
Sementara itu beberapa detik sebelum finish.
Dalam pikiran Reza dia harus menang bagaimanapun caranya. Dengan cepat dia mengelap keringatnya dan dengan kecepatan tangannya dia melemparkan keringat itu ke mata Anton yang sekilas hendak menoleh kebelakang untuk menghina dirinya, membuat pandangan pria itu menjadi buram.
Tapi dari mata semua yang memandang tidak terjadi sesuatupun kecuali kecepatan anton mulai memburuk di detik-detik garis finish.
Bahkan Anton sendiri tidak menyadarinya selain rasa panas di mata karena ada benda asing memasuki kornea matanya.
Saat itu, dia hendak menoleh untuk mengejek lawannya pada momen-momen terakhir namun seketika matanya perih.
Kemenangan curang milik Reza. Wasit yang tidak mengetahui hal itu pun sudah melegalkannya bahwa semuanya sah.
__ADS_1
Pertandingan usai, Reza mendatangi Anton yang masih mengelap matanya. Dia menepuk pundak pria itu seraya berucap.
"Kalah kok sama banci. hahaha! "