Ada Cinta Di Hati Yang Jahat

Ada Cinta Di Hati Yang Jahat
Babak Final


__ADS_3

Pertandingan final segera di mulai. Penonton mulai memenuhi lapangan kampus dimana pertandingan akan berlangsung.


Kali ini jumlah penonton berkali-kali lipat dari pertandingan perlombaan lainnya.


Selain Olahraga merupakan pertandingan yang menghibur, Ini juga merupakan pertandingan fenomenal karena salah satu peserta merupakan siswa yang tidak di prediksi masuk final olahraga gulat oleh para mahasiswa yang hadir.


Saat ini semua mata tertuju pada Reza, itu karena dia mencapai final dengan cara yang tidak biasa, bisa di bilang, dia bahkan tidak melawan siapapun tetapi mampu mencapai final dengan sendirinya.


Pertandingan perempat final sebelumnya di menangkannya hanya menggunakan trik tipuan. Bahkan lawannya sempat emosi dan mengajak melakukan duel ulang. Tapi kemenangan tetaplah kemenangan dan tidak perlu di perdebatkan.


"Brian sudah pasti memenangkan pertandingan ini, dia itu kingkong. Liat aja badannya gede banget. " Ujar seorang penonton kepada teman di dekatnya.


"Iya, ini berat sebelah, apalagi lawannya kek banci gitu. Brian sudah pasti menang. " Timpal teman lainnya.


"Kalau ini ada taruhannya pasti semua akan meletakkan pada sisi Brian, apalagi stamina lawannya sudah terkuras habis setelah ngikutin lomba lari. "


"Maruk banget si peserta dari PG-PAUD itu, semua lomba di ambil sendiri. Tapi memang semua anggotanya cewek si, jadi gak ada gantinya. "


"Bencong melawan The real hero ini mah. Haha. "


Banyak komentar yang menyudutkan sisi kejurusan PG-PAUD. Bahkan anggotanya sendiri meragukan Reza.


"Eza, kita sampai sini aja ya, aku gak mau kamu kenapa-kenapa. " Ujar Eva dengan raut wajah khawatir.


Dia baru saja datang dan membaca suasana yang cukup di bilang buruk setelah memenangkan perlombaan pidato bahasa Inggris.


"Iya za, menyerah aja ya. Pliss. " Timpal Diah.


'Kenapa para betina ini berisik sekali sih, ah bikin telinga gua gatal aja. 'Cerca Reza dalam hati.


Reza tidak menanggapi berbagai komentar baik dari penonton maupun teman sekelasnya. Saat ini tujuannya adalah fokus mengatur nafasnya agar lebih teratur dan memperteguh niatnya untuk mengalahkan Brian.


Reza sudah menyelidiki semua tentang Brian, dari awal Reza menyuruh salah satu teman gadisnya untuk mengamati pertandingan gulat yang di ikuti Brian.


Menurut informasi yang dia Terima. Dua kali Brian memenangkan pertandingan dengan kurun waktu kurang dari satu menit dan dia hanya menggunakan satu tangan untuk menghadapi mereka semua.


Itu berarti lawannya kali ini memiliki tenaga yang sangat kuat, dari segi bertarungnya masih belum bisa di konfirmasi namun melihat keseluruhan tubuhnya yang di penuhi otot, bisa jadi seluruh tubuhnya tidak ada celah.


Reza terlihat lebih banyak merenung sebelum seorang temannya menyela dengan santainya


"Kalau kamu menang aku akan mentraktirmu di restoran bintang lima sekali saja. "


Semua mata yang di penuhi kekhawatiran mulai menuju sumber suara yang seenaknya saja ceplas-ceplos.


"Kenapa kalian melihat begitu lagi padaku? Aku cuma punya tiket makan di restoran bintang lima yang di berikan mama dan aku sebenarnya tidak suka. " Jawab nya dengan enteng.

__ADS_1


Dia gadis yang sama yang menawari Reza bekalnya selama enam bulan.


"Hahaha! " Reza tiba-tiba tertawa lebar. Seluruh temannya memindahkan pandangannya pada dirinya sekali lagi dengan tatapan heran.


'Anak buah gua yang satu ini memang paling pengertian sama gua.'


"Ok! Deal! " Ucap Reza setelah tertawa.


Dia kemudian bangkit, mulai melakukan peregangan sebelum wasit memanggil namanya.


Di sisi lain ada seorang gadis yang tengah bekspresi gelisah, bahkan kedua teman panitianya dapat menangkap raut kegelisahan dari mimik mukanya.


Dia adalah Syifa yang sedari tadi menggigit jarinya. Dimas yang melihat itu semakin yakin bahwa keduanya memiliki hubungan spesial.


Bagaimana mungkin seorang gadis idola kampus yang biasanya dingin dan hambar pada pria bisa bersikap seperti itu?


"Syifa lo kenapa sih? " Tanya Evan penasaran.


"Gak apa-apa Van, cuma kayaknya pertandingan ini gak seimbang." Jawabnya dengan mata yang tertuju kepada kedua peserta yang sudah naik panggung.


Matanya dengan jelas menatap salah satu peserta yang berbadan lebih kecil, Reza.


"Kalau sudah tahu gak seimbang kan harusnya mundur. Kalau maksa gitu kayak tuh cowok sombong banget buat dapetin perhatian cewek. " Dimas berkata dengan dingin.


Pertandingan Gulat kali ini akan di mulai, peraturannya sangat mudah tidak seperti gulat biasanya.


Pertandingan di mulai, aba-aba dari wasit sudah di kumandangkan.


Priiiiit!!


Pertandingan di mulai, kali ini Brian dengan sombong berada di depan Reza menaruh tangan kirinya kebelakang, itu artinya dia hanya akan menggunakan satu tangan.


Dia kemudian menggunakan tangan kanannya mengisyaratkan agar Reza maju terlebih dahulu.


'Hah! Sombong sekali sialan ini. Lo bakal menyesal bajing4n.'


Reza maju dengan kecepatan tinggi. Tujuannya bukan beradu banteng dengan musuhnya. Dia tahu bahwa dia akan kalah jika beradu kekuatan.


Ini adalah gulat, berarti saat ini dirinya harus bermain cantik.


Saat tangan kanan Brian hendak mencengram kepala Reza. Reza kemudian menunduk dengan reflek. Dia lalu memutar badannya dan akhirnya tangan Brian berada tepat di atas pundaknya.


Dengan sekuat tenaga Reza menarik tangan pria besar itu sedangkan bahunya di pakainya untuk tumpuan. Seketika Brian terbang ke atas dan hendak tersungkur ke tanah.


Tapi dengan cepat tangan kirinya berpijak kelantai dan melakukan kayang sehingga membuat tubuhnya gagal jatuh ke lantai.

__ADS_1


"Bagus juga kemampuanmu. " Ucap Brian yang saat ini melakukan pemanasan pada kedua tangannya.


"Terima kasih pujiannya. Tapi aku malu kalau aku jadi kau, masak habis bergaya mau pake satu tangan eh sekarang malah ingkar hahaha. "


Brian geram dan tidak membalas ucapan Reza yang sudah menghinanya. Keduanya kemudian saling beradu otot. Beberapa kali kedua tangan mereka bertemu namun ada perbedaan besar di antara keduanya. Kekuatan Reza tidak sebesar tenaga Brian.


Jika ini perkelahian. Bisa saja Reza menang karena dia akan menggunakan pukulan dan tendangan yang telah dia latih. Tapi peraturan tidak memperbolehkannya. Pertandingan ini lebih menggunakan otot untuk saling beradu.


Saat ini, baik Eva, Diah dan teman-temannya yang lain mulai merasa kasihan pada Reza. Terlihat jelas Reza kewalahan saat menghadapi Brian yang memiliki tubuh lebih besar.


Brian juga berniat main-main terlebih dahulu. Bisa saja dia membanting Reza keluar arena tapi tidak di lakukannya.


Semua mata yang mengasihani Reza merasa sedih termasuk Syifa.


Sementara mahasiswa yang tidak menyukai Reza malah tertawa dan menghardiknya dengan berbagai macam kutukan. Dimas termasuk yang tersenyum sinis dengan apa yang terjadi.


"Eza menyerah saja! " Teriak seorang gadis dari kelasnya. Namun Reza tidak memperdulikannya.


Dia tahu sedang terdesak, beberapa kali dia terbanting dan itu hal biasa baginya. dia juga kadang tertekan dan tersiksa saat jadi bulan-bulanan Brian, membuat penonton yang melihat nya seolah sedang melihat pembantaian.


Tapi sebenarnya Reza merasa biasa saja. Malah dia menikmati mendapat lawan yang lebih kuat darinya.


Berapa lama dia sudah tidak meregangkan otot? ini waktunya untuk badannya mulai terisi dari dahaga akan kekerasan.


Waktu banyak berlalu, tenaga keduanya mulai terkuras. Brian juga kelelahan setelah puluhan kali membanting dan mengunci Reza. Dia berencana mengakhiri permainannya dengan mendorong Reza keluar arena.


Awalnya dia ingin mendengar Reza mengatakan menyerah. Tapi pemuda di depannya bahkan semakin tertawa seolah menikmati penyiksaan itu. Entah pria macam apa musuhnya kali ini.


Reza juga sudah ingin mengakhiri semua. Tapi dia tidak memiliki celah karena musuhnya sangat kuat. Semua otot Brian sangat kuat. Dia mulai berfikir bagian apa yang tidak pernah di latih musuhnya itu.


'Apa kelemahannya. Ah benar, itu adalah kepala, kepalanya pasti tidak pernah di latih. Dalam peraturan tidak boleh memukul. Tapi mengadu kepala juga bukan memukul. Hehehe... Mati loe kali ini kepar4t. "


Reza meloncat tinggi. Sementara musuhnya menangkapnya dengan erat. Brian hendak melemparkan Reza keluar arena sebelum sesuatu membentur kepalanya dengan keras.


Gelap!


Brian pingsan seketika. Darah mengucur dimana-mana. Reza yang juga kepalanya mengeluarkan darah mulai tersenyum lebar atas kemenangannya.


Tapi tidak ada sorakan. Semua tertegun dengan apa yang terjadi. Tidak ada yang menyangka Reza akan melakukan tindakan segila ini.


Tiba-tiba pluit berbunyi dan kemenangan untuk Reza.


Masih dalam keadaan yang tidak percaya membuat kemenangan itu tanpa sorakan. Namun Reza juga tidak melanggar peraturan meski darah keduanya sampai tumpah.


Dia tidak memukul dan tidak ada peraturan yang melarang untuk membenturkan kepala.

__ADS_1


"Kayaknya tahun depan kita bikin tambahan peraturan. Di larang membenturkan kepala. " Ucap Evan sedikit ngeri dengan pemandangan di depannya.


__ADS_2