Ada Cinta Di Hati Yang Jahat

Ada Cinta Di Hati Yang Jahat
Akal dan Otak


__ADS_3

"Yeaaah!"


Teriak Syifa seketika saat melihat Reza menyentuh garis finish.


Gadis itu spontan berdiri dari bangku panitia dan meneriakkan yelling kemenangan.


Sementara dua panitia yang berada di sampingnya mulai memandangnya dengan tatapan heran.


Syifa tidak bisa menyembunyikan raut kebahagiaannya, bibirnya merekah merah dan giginya yang rapi terlihat saling bertabrakan membuat pesona kecantikannya bertambah berkali lipat.


Salah satu panitia yang duduk berdekatan dengan Syifa, Dimas, yang saat ini adalah ketua dewan perwakilan mahasiswa menatap heran pada Syifa karena ekspresi berlebihan yang di pancarkan gadis yang sedang di incarnya itu.


"Apa kamu mengenal peserta dari perwakilan PG-PAUD itu fa? " Selidik Dimas karena keheranan.


"Eh! "


Syifa bingung akan merespon seperti apa setelah tiba-tiba di beri pertanyaan macam itu. Dia baru menyadari dua pasang mata sedang menatapinya seolah sedang mencari kebenaran.


Syifa bingung, dia bahkan tidak memiliki ikatan apapun dengan Reza kecuali teman berbagi ruangan.


Itupun akan selalu di rahasiakan dari teman kampusnya sampai dirinya lulus. Bisa kacau bila semua anak di kampusnya tahu kalau mereka yang bukan mahrom tinggal bersama.


"Emmm..... Bukan, bukan. Aku cuma takjub peserta itu bisa mengalahkan pelari nasional. " Ucapnya sekenanya. Dia tidak memiliki alasan lain selain itu.


Untung saja Syifa sempat mendengar berita bahwa salah satu peserta lari adalah pelari nasional.


Dia bahkan sudah menebak dari awal bahwa Reza mustahil memenangkan perlombaan ini tetapi saat ini semua perkiraannya salah.


"Apa? Pelari nasional? Si juara dua itu? " Tanya Dimas bertambah rasa herannya pada kemenangan Reza. "Berarti peserta juara satu itu memiliki potensi yang tinggi atau mungkin itu hanya suatu keberuntungan? "


Dimas mengerutkan keningnya. Dia mulai tidak menyukai pria yang memenangkan perlombaan itu karena mampu mengambil perhatian wanita yang di incarnya.


Sudah dua tahun lamanya dia mengincar Syifa, gadis tercantik yang memiliki hati sedingin es, namun gadis itu bahkan tidak pernah menoleh sedikitpun kepadanya.


Dia bahkan sudah menyebar rumor kedekatan antara keduanya pada teman-teman nya tapi Syifa seolah acuh tak perduli dengan rumor itu.


Tetapi kini ada lelaki berpenampilan kumuh dan aneh yang datang tiba-tiba dan mendapat perhatian Syifa.

__ADS_1


Padahal bisa di katakan mustahil seorang Syifa bisa berekspresi seperti ini hanya karena seorang pria.


"Keberuntungan tidak akan pernah terjadi dengan cara seperti itu. Sudah jelas anak itu memiliki bakat. " Celetuk Evan yang juga merupakan bagian dari panitia yang duduk di sebelah mereka berdua. "Oh ya fa, kalau kaos yang tadi gak mau kamu kasih ke Dimas, kasihkan aku saja ya. " Imbuhnya lagi.


Mendengar hal itu membuat Dimas bertanda tanya.


'Kaos? Kaos apa yang dia maksud? '


Syifa seolah salah tingkah. Dia segera menimpali ucapan Evan.


"Apaan sih Van. "


Syifa terlihat menghindari pembicaraan, itu merupakan sifatnya pada pria yang seolah risih bila dirinya disindir-sindir.


Di dalam diri Syifa ada perasaan takjub kepada Reza. Pemuda yang di ketahuinya polos dan sederhana bisa memenangkan pertandingan lari hanya dengan menggunakan tenaga dan tekatnya saja.


Bahkan mungkin Reza tidak pernah mendapatkan pelatihan apapun seperti yang di dapat pelari nasional yang merupakan lawannya saat ini. Apalagi bila dia di latih, bisa saja dia menjadi pelari internasional.


****


Gadis-gadis mulai mengerubungi Reza. Memberinya air minum dan camilan sesegera mungkin. Beberapa tangan juga membantu menyeka keringat Reza yang bercucuran.


"Capek banget aku hosh hosh! "


"Kamu hebat Za. " Celetuk salah satu teman kelasnya dengan perasaan gembira.


"Iya, tadi seru banget lo, aku sampe gemeteran liatnya! Kamu ternyata hebat banget Za. " Timpal yang lain dengan bangga.


Beberapa kali Reza membuang salivanya yang menandakan keletihan nya yang teramat sangat, namun dia harus bergegas melanjutkan pada pertandingan selanjutnya, yaitu gulat.


"Kalau memang tidak bisa di lanjut. Menyerah juga boleh kok Eza, Kamu sudah menyumbang satu kemenangan saja sudah lebih dari cukup. Kami tahu kamu pasti capek banget. " Ucap Diah yang merasa kasihan melihat satu-satunya pria di kelasnya harus menanggung dua pertandingan sekaligus.


"Iya za, lewat aja gak apa-apa. "


Reza tidak mengindahkan ucapan teman-teman nya. Dia merasa harus memenangkan pertandingan selanjutnya.


Siapa yang tidak bergetar jiwanya bila itu menyangkut soal perkelahian. Gulat adalah salah satu jenis tawuran yang mungkin memakai sedikit peraturan, pikirnya. Apalagi ini momen yang bagus untuk menunjukkan bakatnya di kampus tersebut.

__ADS_1


Jika seseorang ingin di akui, maka dia harus lebih hebat dari orang biasa lainnya. Itu prinsip Reza.


"Gak apa-apa, aku akan ikut serta, lagian kita bisa langsung ke seperempat final kan? "


Semua Gadis mengangguk setuju.


Memang benar khusus jurusan PG-PAUD bisa langsung ikut seperempat final. Itu karena pesertanya hanya tujuh orang dan salah satu peserta tidak akan mendapat lawan di seperdelapan pertandingan.


Semua jurusan juga sudah setuju akan hal itu dan di tambah fisik Reza juga sudah terkuras setelah pertandingan lari sebelum nya, itu memberikannya perlakuan khusus.


'Dia dari kejurusan Olahraga ya.! '


Reza mulai menyeringai menatap salah satu peserta yang memiliki badan besar dari jurusan Olahraga yang mengatai dia banci beberapa waktu lalu, lawan yang di tatapnya juga tak kalah menatap tajam ke arahnya. Itu karena dia tidak menyangka jurusannya kalah dalam lomba lari karena seorang pria aneh.


'Kita buktikan siapa yang banci kali ini. ' gumam Reza dalam hati.


Seperempat final akan segera di mulai. Keringat Reza masih bercucuran deras sementara lawannya adalah mahasiswa baru dari ke jurusan PGSD yang terlihat cukup memiliki stamina.


"Hei, gimana kalau selesaikan ini dalam satu gerakan. " Sahut Reza seketika, lawannya merasa kebingungan.


"Apa maksudmu? "


"Kita main adu kekuatan saja seperti dasar gulat gimana, tidak perlu berlama-lama. Aku sendiri sudah lelah. mungkin aku akan kalah. jadi cukup satu gerakan dan kita hanya akan beradu tubuh sekali. siapa yang kalah maka harus menyerah. "


lawannya menyeringai, melihat derasnya keringat dari Reza yang mana baru menyelesaikan pertandingan lari. Dia setuju karena merasa akan cepat memenangkan pertandingan.


Dia akan mengalami kerugian jika menolak apa yang di tawarkan oleh Reza. Apa lagi masih ada pertandingan final selanjutnya. Dia tidak ingin kehilangan banyak stamina saat ini hanya untuk sekedar bermain kucing-kucingan.


"Baiklah! "


"Satu, dua, tiga mulai.. "


Keduanya mulai mengeluarkan tenaga terkuat nya masing-masing. Dengan sekuat tenaga baik Reza maupun lawannya maju dengan kecepatan tinggi dan juga dengan kekuatan penuh dan priiiiiiiiitttt!!!


Kemenangan di menangkan Reza tanpa menyentuh lawannya sedikit pun. Semua mata terbelalak dan bahkan bingung dengan apa yang terjadi.


Ternyata saat Reza hampir beradu banteng dengan lawannya, kurang dari satu detik dia mulai memelintir kan tubuhnya kesamping sehingga gaya dorong musuh yang besar membuat dirinya terdorong sendiri kedepan.

__ADS_1


Kaki Reza juga sedikit menyentuh kaki musuhnya sehingga lawannya kehilangan keseimbangan sehingga terjatuh dan keluar dari Area, Keluar dari arena berarti kekalahan. Itulah yang terjadi. Kemenangan mutlat milik Reza tanpa mengeluarkan tenaga sama sekali.


"Curang, curang, curang! " Teriak peserta itu setelah merasa di kelabuhi oleh Reza, namun Reza hanya Tersenyum sinis.


__ADS_2