Ada Cinta Di Hati Yang Jahat

Ada Cinta Di Hati Yang Jahat
Akhirnya Menemukan Tempat Tinggal


__ADS_3

Belum sempat Reza menapaki kamar kost baru nya. Para penghuni kos yang sedang duduk santai di teras melihat tajam ke arahnya, mereka melihat sesosok wajah yang tidak asing.


Pada akhirnya mereka mulai meneriaki Reza.


"Eh, itu si Reza bukan sih. Ketua bad boys sekolah sebelah. Dia musuh sekolah kita loh. "


"Betul tu. Terakhir kali tangan gua patah karena tu bocah. Mukanya tua banget padahal baru lulus. Kuy keroyok aja! "


"Woi Reza, jangan lari loe. "


Delapan orang berhamburan menuju Reza dengan teriakkan yang cukup keras.


Pandangan masyarakat mengarah pada suara nyaring itu, termasuk Reza yang mendengar, dia pun mulai berlari kencang tanpa memperdulikan bapak kost yang terlihat kebingungan.


"Kenapa hari ini semua orang pada ngejar gua sih . Hosh, hosh. "


Reza berlari selama satu jam penuh. Setelah yakin tidak ada yang mengejarnya, dia berhenti sambil memegangi dadanya yang sesak.


"Selamet lagi kali ini. Heh.! Terimakasih dewa perang sudah memberikan gua kekuatan untuk lari lagi hari ini. Kalau bukan karena peraturan nomer satu, Gua jabanin buat ngancurin muka-muka tuh bocah. " Cerca Reza.


Reza sudah tidak memiliki tenaga sama sekali. Bahkan apa yang baru saja dia makan terasa sudah habis terpakai untuk berlari.


"Gimana mau hidup damai kalau semua orang ngejar kek setan gini! Kalau gua sampai kena kasus dan berakhir di kepolisian, bisa jadi pengemis gua karena gagal." Keluh Reza pada dirinya sendiri.


Dia tidak menyangka Kehidupannya akan seberat ini setelah keluar dari rumah gedongnya. Dia baru sadar musuhnya sangat banyak di luaran sana.


Reza mulai berfikir. Meski dia nanti berkuliah dan menginginkan kehidupan yang damai selama empat tahun kedepan, semua itu terasa tidak akan tercapai.


Pasti banyak musuh yang akan menarget nya karena para mantan murid SMK yang dendam padanya sudah banyak yang berkuliah. Di jalanan juga banyak musuh yang mengenali dirinya.


Dia harus mencari cara untuk menyamarkan penampilannya dan menjauh dari kota dimana musuh-musuhnya tinggal.


Ciri-ciri Reza sangat mencolok, dia memiliki tinggi dan berat yang ideal sebagai pria idaman, dengan rambut hitam terbelah dua, Garis rahang nya juga tampak jelas dengan hidung menjulang mancung bagai aktor Korea membuatnya mudah di kenali sebab ketampanannya sangat menonjol.


"Gua terlalu ganteng buat menyamar. Gimana caranya nurunin ketampanan coba! " Cercanya dalam hati. Entahlah, dia lagi mencerca atau menyombongkan diri.


Dia terus berjalan dengan lesu sebelum kemudian menemukan sebuah toko pemasangan gigi palsu yang masih buka di sore hari.


"Permisi pak."


Seseorang kemudian menoleh ke arahnya.


"Oh, ya... Silahkan Masuk. "


"Hallo pak. Apa bapak menjual gigi palsu yang bisa merubah penampilan seseorang? "


Orang tua itu mulai menatap Reza dengan pandangan aneh.


Tapi beberapa detik kemudian tangannya mulai mencakar-cakar sesuatu dan mengeluarkan dua buah gigi kelinci semi implan yang terlihat besar.


"Ini mungkin yang kamu maksud. Ini semi permanen dan bisa di lepas setelah kamu datang ke tempat ini lagi. "


"Oke pak, Gua mau pasang yang ini. "

__ADS_1


"Gigimu sudah bagus dan rapi. Kenapa mau pasang kayak gini? " Tanya bapak itu heran sembari mengerjakan pekerjaannya.


"Terlalu tampan gua pak, mau nurunin sedikit. Banyak gadis yang sakit hati. Haha.. " Jawab Reza sekenanya.


Reza kemudian membayar sebesar satu juta rupiah. Uangnya kini bersisa tujuh juta seratus ribu rupiah. Itu setelah di kurangi dari makan siangnya tadi dan membayar kost yang tidak sempat di tinggalinya.


Setelah itu reza memarkirkan dirinya di sebuah warteg, gigi kelinci super jumbonya terasa tidak nyaman karena terlalu besar.


Itu sedikit menyulitkannya saat mengunyah makanan.


Reza kemudian membayar kembali sebesar seratus ribu rupiah tanpa meminta sisa remahan kembaliannya.


Itu sudah menjadi hal lumrah baginya. Dia tidak pernah mau melihat uang di bawah seratus ribu.


Sebelumnya, saat dirinya makan, itu bisa menghabiskan uang senilai satu juta hingga dua juta rupiah. Nominal seratus ribu bukan apa-apa bagi Reza.


Kembali ke kehidupannya yang menyedihkan.


Reza mulai duduk di trotoar saat senja menyambut malam. Reza dengan memegang HP kembali berselancar di internet.


Dia enggan untuk tinggal di kos-kos an seperti sebelumnya. Jika ada anak sekolahan atau alumni yang mengenali wajahnya sekali lagi maka misinya untuk hidup tenang akan buyar.


Dia berencana mencari rumah kontrakan yang bisa di gunakan secara pribadi. Namun melihat harganya di atas lima belas juta pertahun, Reza segera mengurungkan niatnya.


"Sialan. Ini mah namanya pemerasan. Mahal amat sih cuma kandang kecil kayak gini. " Kehidupan Reza penuh makian.


Reza berlanjut membuka Facebook yang tidak pernah dia gunakan. Dia masih mengingat kata sandi facebook lamanya itu.


Setelah log in, dia mencari grup yang bertema joinan tinggal bareng kontrakan rumah.


Beberapa postingan ramai dengan komentar.


[Di butuhkan teman sekamar, boleh cewek atau cowok dan bisa memberi uang jajan bulanan. Saya cewek loh guys :) ]


Postingan itu di balas hingga seribu komentar. Hampir semuanya balasan dari cowok dan bertujuan mesum.


"Dasar per3k, ni cewek si maunya di bayarin. "


Reza kemudian menscrol layarnya ke atas. Dia mulai membaca postingan lainnya.


[Di butuhkan teman serumah yang bisa di ajak suka maupun duka. Bisa berantem untuk membantu geng gua. Gua juga gratiskan untuk kontrak rumah dan tinggal sesukanya.]


Ujar salah satu postingan dengan komentar sekitar dua ratusan. Itu mengundang minat Reza karena dirinya juga sangat hobi berkelahi.


Namun mengingat kembali persyaratan pertama dari papanya bahwa dia tidak boleh terlibat kriminal. Dia menghela nafas berat.


'Pasti seru kalau bisa tinggal di tempat gini. Bokap sialan pake acara ngelarang berantem lagi. Yasudahlah. '


Reza berlanjut pada postingan berikutnya. Nama facebooknya aneh. Hanya tertulis Hamba Allah dan tidak ada foto satupun di profilnya.


[Assalamualaikum, Di butuhkan seseorang yang mau untuk kontrak bareng. Bisa bayar bulanan sebesar lima ratus ribu rupiah. Orangnya juga harus bersih dan rapi. wajib anak religius dan tidak banyak bicara ataupun ikut campur urusan saya.]


Notes: tidak boleh mengajak orang lain tinggal]

__ADS_1


Postingan ini memiliki nol komentar dan ada dua ratus emotikon tertawa.


Dari emotnya saja sudah terlihat bahwa persayaran itu terdengar konyol. Terlalu banyak aturan hanya untuk sekedar menyewa rumah. Melihat peluang itu Reza sedikit berfikir.


'Lima ratus ribu perbulan itu hanya uang yang sedikit kan. Bersih dan rapi bisa saja gua lakuin donk. Religius?? Hmmm... Pura pura aja kan bisa. Yang penting beli kopyah sama sarung.


Masak dia akan ngurusin agama gua terus. Haha.. Ini adalah pilihan teraman. Gua perlu ambil ni kesempatan, empat tahun akan terasa sebentar kalau hidup gua tenang dan aman. '


Setelah saling berbalas inbox, Reza mulai memesan ojek online dan melunjur ke alamat yang di berikan oleh si pemosting.


Tempatnya bisa di bilang daerah pemukiman biasa, jauh dari kota dimana Reza tinggal dan sekolah. Tempat teraman untuk bersembunyi.


Reza sempatkan membeli sebuah kopyah putih dan sarung sebagai penyamaran, tidak lupa dia memakai satu satunya kaos bermotif helo kitty warna merah pemberian sahabatnya saat dirinya ulang tahun.


Sebenarnya dia enggan memakai baju itu dan tidak sengaja terbawa. Namun melihat semua baju nya berupa gambar tengkorak dan daun Rasta membuatnya tidak ada pilihan selain memakai baju penghinaan tersebut.


Baju itu sebenarnya hanya di berikan padanya sebagai lucu-lucuan dari teman-teman nya.


Dia merasa penyamarannya sudah sempurna kali ini. Gigi palsu yang besar dan kopyah putih yang menutupi rambut belahnya, itu cukup untuk tidak memperlihatkan ketampanan dan keangkuhan seperti biasanya. Di tambah baju hello kitty dan sarungnya membuatnya terlihat seperti pemuda yang baik.


Rumah hunian yang di tunjukkan padanya ternyata bertipe 36. Tidak terlalu besar namun rasanya lebih cocok untuk dirinya yang menyukai tempat sepi untuk menghindari perkelahian sementara waktu.


Perumahan yang akan dia tinggali bisa di bilang perumahan baru dan belum banyak penghuni yang menempatinya.


Reza beberapa kali mengetuk pintu rumah itu namun tidak ada yang menjawab.


Dia mencoba menelpon orang yang belum di ketahui identitasnya itu.


Reza juga tidak perduli pria seperti apa orang yang akan tinggal bersamanya, dia cukup numpang tidur saat malam menjelang.


Beberapa saat teleponnya masih berdering, itu kemudian ter angkat.


"Assalamu'alaikum, mas tunggu sebentar ya, saya masih di jalan! "


Terdengar suara si penelpon yang merdu membuat Reza memiringkan kepalanya.


'Dia cewek? Apa gua gak salah denger! '


"Walaikumsalam. Iya kak saya tunggu. " Ucap Reza mengikuti cara bicara pria penjaga konter yang menurutnya terlihat seperti pria baik tadi siang.


Dia merasa ada gunanya meniru seseorang yang baik agar kedepannya dirinya tidak mudah mendapatkan masalah.


Reza merasa suka di panggil kakak saat itu oleh pria penjaga konter dan karena itu dirinya saat ini memperaktekannya demi penyamarannya yang sempurna.


"Terimakasih mas. " Jawab wanita itu.


Tut.. Tut.. Telepon di matikan.


 


Reza menunggu dengan banyak mengumpat. Ini sudah satu jam lamanya dan wanita yang tadi bilangnya sebentar masih belum muncul juga. Sumpah serapah dia nyanyikan bak genderang perang yang akan memulai pertumpahan darah.


Itu berakhir dengan suaranya yang akhirnya serak setelah berteriak-teriak. Dia kemudian terbaring di teras rumah dengan kedua tangannya memeluk tas besar karena kelelahan.

__ADS_1


"Ku bunuh saja kau penipu. Bilangnya sebentar, ini sih sebentar apanya, ini sudah sejam lebih dasar cewek lucnut"


__ADS_2