
"Mas Eza apa sudah solat isya? Kalau belum, Syifa ngingetin aja biar nanti gak ketiduran. "
'Gua sholat? Nunggu gunung Semeru meletus aja sono dari pada nungguin gua ngerjain hal gak penting kek gitu. ' cibir Reza dalam batin. Sementara bibirnya berkata dusta.
"Sudah mbak tadi di masjid." Ucapnya sekenanya, dirinya malas mencari alasan lain.
Dia tidak mau harus bolak balik ke kamar mandi lagi untuk berpura-pura mengambil air yang di namakan wudhu, dia bahkan tidak tahu wudhu itu seperti apa. Saat ini Reza sudah mengantuk dan ingin segera tidur.
"Jarang ya ada cowok kayak mas Eza jaman gini. Oh ya, disini masjid juga gak terlalu jauh kok mas. Besok subuh Syifa bangunin ya, biar mas sholat jamaah tepat waktu. "
Dug! Hati Reza bergetar.
'Apa? Mana bisa gua bangun sepagi itu fvck. ribet kan! Duh, ngapain tadi gua pake alesan pergi ke masjid segala. '
Reza hanya tersenyum getir mendengar Syifa bertutur demikian, dia sekarang tidak punya alasan untuk mengatakan tidak.
Ketika dia pamit untuk segera kembali ke kamarnya. Syifa segera menghentikan langkah kaki pria itu.
'Keribetan apa lagi yang mau nenek lampir ini berikan padaku. 'gumamnya kesal dalam hati.
"Mas memang mau tidur pake apa? Kan kamarnya kosong, aku liat mas cuma bawa barang seadanya. Sebentar tunggu di sini ya mas. "
Syifa berlalu ke kamarnya dan kemudian kembali sembari membawa sebuah selimut tebal dan sebuah bantal.
"Mas Eza pake dulu punya ku ini, dari pada kedinginan. "
Reza menerima barang pemberian Syifa dengan cepat. Dia sebenarnya memang membutuhkan benda-benda tersebut.
Baru semalam dia tidur dengan nyaman di kamar besar yang bahkan lebih luas dari rumah tipe 36 yang di tempatnya ini. Malam ini malah dirinya harus tidur di atas lantai sempit.
"Jadi ngerepotin mbak Syifa. "
"Ah, gak apa apa kok mas. "
Malam pun kian larut dan Reza sudah tertidur pulas.
--
Tepat pukul tiga Reza terbangun dari tidurnya. Badannya terasa remuk karena tidur di tempat yang tidak nyaman.
"Gimana ceritanya mo tidur kalau tulang kesentuh keramik kek gini. " Gerutunya.
Dia kemudian bangun dan pergi ke kamar mandi untuk kencing. Sebentar wajahnya yang kaku dia bilas dengan air yang terasa dingin.
Reza meletakkan pantatnya di sofa ruang tamu dengan malas. Bahkan sofa itu lebih nyaman dari pada selimut yang di pakainya untuk tidur. Setelah dirinya merasa akan benar-benar duduk terlelap, suara pintu terdengar.
__ADS_1
Reza menoleh saat melihat Syifa keluar dari kamar saat hendak ingin bertahajjud.
"Mas Eza sudah bangun ya? "
Reza hanya tersenyum pias ketika matanya hanya tinggal lima watt saja. Syifa segera menuju ke kamar mandi.
'Aku kira dia akan kelelahan dan tidak bisa bangun sepagi ini. Tau-taunya aku yang kalah cepet bertahajjud. ' batin Syifa mulai berbicara sendiri. Kesalahpahaman semakin menjadi-jadi.
Selesai mengerjakan sholat tahajud Syifa keluar dari kamarnya dan melihat Eza tidak mengubah caranya duduk.
Jika saja Syifa melihat dari sisi lain mungkin akan nampak bahwa Reza sebenarnya sedang menutupkan kedua matanya dan sedang enak tidur dengan posisi tersebut.
"Mas Eza sebentar lagi Adzan lo, Mas bisa berangkat sekarang. " Ujar Syifa dengan suara agak keras. Reza segera sadar saat mendengar ucapan Syifa yang mengingatkannya..
'Ya ampun. Baru aja bisa tidur dengan nyaman. Ni nenek lampir terus ngoceh aja.'
"Oh, Iya mbak. " Ucap Reza datar namun merasa kesal. Dia kemudian berjalan keluar dengan mata tertutup.
Reza tiba di masjid. Sangat mudah menemukan tempat itu karena suara toak masjid terdengar sangat nyaring.
Dengan rasa malas Reza memasuki tempat itu yang ternyata memiliki karpet bulu yang lumayan tebal sebagai lantainya. Di tambah AC yang mendinginkan ruangan besar itu sangat cocok untuknya tidur, semua terasa sempurna setelah suasana kantuk semakin menyeruak di dalam dirinya.
Reza mencari tempat pojokan yang sulit di jangkau mata para jamaah. Dia kemudian tidur dengan menutupi tubuhnya dengan sarung.
"Tempat ini nyaman juga ternyata ya! "
Setelah membasuh muka di toilet masjid dia kemudian kembali ke kontrakannya dengan perasaan puas.
'Apa gua gak usah ngontrak aja ya. Enakan tidur di masjid kayak gitu. Udah adem, nyaman lagi. '
Reza kemudian masuk ke rumah dan di sambut oleh Syifa yang sedang sarapan. Sekali lagi Reza masuk harus lebih religius.
"Assalamualaikum." Ucap Reza dan di jawab dengan balasan yang sangat sopan.
"Walaikumsalam....Mas Eza kayaknya keenakan di masjid, lagi dzikir sambil nunggu dhuha ya! Syifa gak nyangka kalau mas itu adalah remaja masjid. emmm.... tapi hari ini mas gak boleh telat. Setengah jam lagi mas harus ada di kampus, kalau mau sarapan ini Syifa sisihin ."
'Taik kucing nyisihin lah, ngasih infonya mendadak sekali ini nenek lampir. Sok nawarin makan di jam mepet kek gini pasti dia cuma mau ngehina gua. '
Reza segera meluncur ke kamar mandi setelah mengambil handuk. Saat dia selesai mandi matanya sudah tidak mendapati wajah Syifa di sekeliling. Wanita itu sudah pergi duluan.
'Brengsek, harusnya nawarin nebeng bareng kek. '
Dengan segera Reza memesan ojol. Dengan bersusah payah dia menepuk pundak abang ojol untuk segera mempercepat laju kendaraannya.
Sekali lagi Reza membayar ojol yang hanya memintanya membayar tarif 9ribu rupiah dengan uang seratus ribu. Dia juga mengatakan untuk mengambil sisa remahan uangnya.
__ADS_1
"Uda bang, buat lu aja. " Ucap Reza sekenanya.
"Alhamdulillah, terimakasih mas. Pagi pagi gini dapat rezeki. Makasih banget loh mas, istri saya lagi sakit, mungkin ini rizki dari Allah lewat mas yang dermawan. " Ucap ojol tersebut kegirangan.
"Iya mas. Santai aja. " Balas Reza, 'Orang miskin kalau di kasih uang girangnya minta ampun. Cih! ' ucapnya dalam hati.
Sesampainya di sebuah kampus yang tidak terlalu besar, dia hendak melangkah masuk ke dalam gerbang. Dia merapikan gigi kelincinya kembali dan membetulkan letak pecinya. Kemudian seorang satpam mendekatinya seraya berucap.
"Preman tidak boleh masuk kesini meskipun pake kopyah! . " Ujar bapak satpam dengan suara membentak.
'Siapa yang preman sontoloyo. ' gumam Reza dalam hati.
"Maaf Pak, saya bukan preman, saya calon mahasiswa. " Jawab Reza pelan. Matanya kemudian dia coba senduh-senduhkan untuk mendapat simpati dari bapak satpam di depannya itu.
"Mana ada calon mahasiswa pakai kalung rantai sama baju tengkorak kayak gini, kamu mau nipu saya ya? . " Tegas bapak satpam. Reza tersentak, pandangannya secepat kilat turun dan melihat apa yang di kenakannya.
'Ya ampun tololnya Gua. Kenapa gua gak sadar kalau lagi pake ini sih. ' gumamnya dalam hati lagi.
Sudah kebiasaan Reza memakai pakaian serba hitam dan terdapat rantai yang mengalungi lehernya. Dia merasa kedepannya dia harus lebih ber hati-hati lagi.
"Maaf Pak, saya habis cosplayer jadi preman insaf. Ini buktinya saya pakai kopyah. " Bela Reza dengan menggoyangkan kopyahnya kekanan dan kiri.
Dia mulai membuka kalung yang di pakainya sekaligus membalik bajunya agar tidak terlihat gambar tengkoraknya.
"Yasudah masuk sana. Jangan bikin keributan. "
Di dalam gedung terlihat beberapa siswa menatapi Reza dengan pandangan aneh. Selain gigi kelinci besar dan kopyah putih, dia nampak bodoh dengan bajunya yang terpasang terbalik. Sesaat kemudian Seseorang memanggilnya dari belakang, membuatnya terkejut.
"Mas! Mas Eza sudah datang ya. Ayuk ke tempat pendaftaran, penerimaannya hampir di tutup lo. " Ucap Syifa dengan memandang pakaian Reza yang terbalik.
'Kenapa mas Eza ngebalik pakaiannya gitu? Apa dia gak sadar? Atau jangan ja....ngan Kali aja baju mas Eza tidak ada yang layak pakai. Makanya dia membalik bajunya agar tidak kelihatan kusam. Baju sebelumnya kan juga bermotif hello kitty yang sedikit aneh. ' Pikir Syifa dengan pandangan mengasihani.
Dia tahu bahwa Reza adalah lelaki miskin yang nekat mencoba menimba ilmu di pinggiran kota dengan sekuat tenaga, sangat wajar bila apa yang di kenakannya saat ini tidak terlalu baik.
Dirinya dulu juga sempat memakai pakaian berlubang di ketiak saat pertama kali datang ke kampus itu, mencoba menutupi sebisa mungkin lobang itu karena perasaan malu.
Namun melihat pria di depannya sangat tangguh tanpa malu dengan pakaian seadanya, Syifa merasa Reza memang bersungguh sungguh dalam menuntut ilmu. Niat belajar dan kegigihan Reza di nilai sebagai yang terbaik oleh Syifa.
'Kenapa mata mereka melotot gitu sih ke gua, ni nenek lampir malah ikut-ikutan. Apa gak pernah liat kaos supreme limited edition kali ya. Mau di bolak balik kek gimana pun ni kaos kesayangan gue seharga dua puluh juta yaelah. '
Reza berjalan dengan canggung di belakang Syifa.
Meski dirinya berteriak dalam hati dan menganggap bahwa semua mata siswa miskin disana telah bodoh dalam menilai kaosnya, tetapi tetap saja dia masih terkena serangan mental. Dari serangan mental itu membuat jalannya menjadi sedikit linglung.
"Mas reza mengantri disini saja. Nanti akan di panggil sesuai nomer urut. Ini sudah saya ambil kan nomer antriannya." Ucap Syifa sembari undur diri. Dia juga mengatakan dia ada kelas setelah ini.
__ADS_1
Sebenarnya Syifa ingin tetap membantu Reza menyelesaikan pendaftarannya. Namun dirinya juga tidak mampu menahan mental malu dengan pandangan orang di sekitar yang menghakimi mereka saat keduanya berjalan.
'Maafin aku mas Eza. Syifa memang dzolim tidak sepenuh hati membantu mas. ' Tutur syifa dalam hati.