ADIK YANG TAK DI ANGGAP

ADIK YANG TAK DI ANGGAP
Bab 11


__ADS_3

"Bolehkah Izya memilih? Izya ingin memiliki keluarga yang bahagia. "


*


*


*


Alizya turun dari motor tepat saat azan magrib berkumandang. Ia melepaskan helm yang ia pakai, memberikan beberapa lembar uang kepada ojek yang ia sewa jasanya lantas berterima kasih. Ia berjalan memasuki halaman rumah setelah ojek yang ia tumpangi pergi.


Kakinya melangkah pelan, membuka gerbang dengan pelan dan menutupnya kembali.


Dengan air mata yang luruh Alizya perlahan membuka pintu. Rumah dalam keadaan gelap, tak ada satu orang pun di rumah. Kedua kakaknya belum pulang. Bahkan mungkin mereka tak akan pulang malam ini. Kedua kakaknya pasti menghindarinya.


Alizya tersenyum kecut saat berhenti di hadapan sebuah foto berbingkai besar yang terpajang di ruang tamu. Ia mendongak, menatap pilu senyum hangat orang-orang yang ada dalam foto.


Air matanya mengalir semakin deras.


Di dalam foto itu, ada ayah ... ibu ... dan kedua kakaknya yang masih kecil. Mereka tersenyum lebar, mereka saling merangkul dengan hangat. Alizya? Kenapa ia tak ada dalam foto itu?


"Bunda ... maafin, Izya.... "


"Ayah.... " Alizya tergugu dalam tangisnya. Tubuhnya berguncang.


Karena dia tak berhak ada di dalam foto itu. Alvano bilang, kamu bukan bagian dari keluarga ini. Sedangkan Alvino, dia bilang akan lebih baik Alizya tak pernah ada di dunia ini. Dan dipajangnya foto itu di ruang tamu agar setiap orang yang datang tahu bahwa Alizya bukanlah bagian dari keluarganya sendiri. Alvano dan Alivo benci saat orang menyebut Alizya sebagi adik mereka.


"Kenapa mereka benci sama Izya, Bun? Kenapa, Ayah? Apa salah Izya...? "


Alizya terjatuh, ia berlutut di bawah bingkai besar potret bahagia keluarganya. Bahunya bergetar, ia menangis sesenggukan. Alizya menangis dengan keras hingga suaranya menggema bersamaan Adzan yang sedang berkumandang.


Bolehkan ia membenci kedua kakaknya?


Kenapa mereka begitu jahat padanya?


Lama sekali Alizya menangis. Perasaannya hancur berantakan. Setelah tujuh belas tahun lamanya, Alizya tetap tak dipedulikan oleh Alvano maupun Alvino.


Mereka seperti tak punya hati. Pernahkan mereka berpikir bahwa Alizya hanyalah gadis kecil yang memiliki hati rapuh. Sebagai seorang kakak, harusnya mereka menjadi pelindung dan tempat bersandar untuk Alizya. Namun mereka justru berlaku sebaliknya.


Ketika suara Azan tak lagi terdengar, Alizya beranjak bangun. Dengan tertatih ia menaiki tangga. Ia ingin segera melaksanakan kewajibannya dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Meminta Tuhan pemilik alam ini untuk membuka pintu hati kedua kakaknya.

__ADS_1


"Bolehkah Izya memilih? Izya ingin memiliki keluarga yang bahagia. Ada Ayah, ada Bunda. Izya juga ingin kakak yang baik. Bukan keluarga yang lain, tapi hanya keluarga ini. Tolong ... buat Kak Van dan Kak Vin sayang sama Izya. Ya Allah ... Izya hanya ingin itu.... "


Ia ingin keluarga yang bahagia seperti yang ada dalam foto besar itu. Keluarganya ... ia ingin berada di tengah-tengah mereka.


*


*


*


Pukul 01:21 dini hari.


Deru mobil milik Alvano terdengar berhenti di depan rumah. Pria muda dengan setelan jas itu keluar dari mobil. Halaman yang gelap, rumah besar miliknya juga nampak gelap.


Alvano melangkah dengan enggan. Ia sebenarnya tak ingin pulang malam ini, tapi entah mengapa hatinya tak tenang. Ia ingin segera pulang. Cukup lama ia berdiam diri di tempat kerja, pikiran dan hatinya berperang. Ia ingin pulang tapi enggan. Egonya pun kalah, Alvano pun segera bergegas pulang.


Pelan Alvano membuka pintu, ia menahan nafas saat pintu rumah mulai terbuka lebar. Ia terpaku di ambang pintu.


HAPPY BIRTHDAY KAK VAN & KAK VIN!


Tulisan besar itu tertempel di dinding tepat di atas foto besar keluarganya. Ruang tamu yang berhadapan langsung dengan pintu depan. Dua kue ulang tahun dengan lilin yang tak dinyalakan menyambut kedatangannya. Remang cahaya dari luar membuat Alvano mampu melihatnya dalam gelap.


Lama sekali ia memandangi dua kue yang tertutup kaca bening itu. Remang cahaya membuat kacanya berkilauan. Kue cantik dengan tulisan selamat ulang tahun itu membuat mata Alvano berembun tanpa sadar. Ada rasa yang sulit ia pahami di sudut hatinya.


Setelah tterdiam cukup lama, Alvano pun memilih berlalu. Ia sudah menduga bahwa Alizya yang membuat semua kejutan ini. Kali ini Alvano kembali memilih abai seperti waktu-waktu yang lalu, ia segera menaiki tangga menuju kamarnya. Tak ada niatan untuk mencicipi kue yang adiknya buat untuknya.


Ada perasaan lega saat melihat kejutan yang Alizya buat untuknya.


Hingga malam pun berlalu begitu saja. Dua kue yang ditutup kaca itu teronggok dan tak tersentuh.


Ketika subuh tiba, Alvino tiba di rumah setelah semalam memilih untuk bermalam di luar. Ia menatap datar pesta kecil yang Alizya buat untuknya. Tak ada yang istimewa baginya. Seperti yang telah lalu, ia tak pernah peduli dengan apa yang Alizya berikan.


Alvino menghidupkan lampu hingga ruangan nampak terang benderang. Ruang tamu nampak meriah dengan balon-balon warna-warni dan pita-pita dengan berbagai warna yang tampak bergantungan di setiap sudut ruangan.


Alvino mendekat dan berdiri tepat di samping meja. Ia menatap lekat dua kue dengan warna berbeda. Satu berwarna putih bersih, itu warna kesukaannya. Sedangkan satunya berwarna hitam, itu warna kesukaan saudara kembarnya. Dan juga ... ada dua kota kado yang diletakkan di samping masing-masing kue. Warna kotak kado itupun sama dengan warna kue yang Alizya buat.


Alvino terpaku kotak hadiah yang terbungkus kertas putih. Entah ini hadiah ke berapa yang Alizya siapkan untuknya. Alizya selalu memberinya barang-barang kesukaannya hinggga membuat Alvino sendiri menjadi benci semua itu.


Kali ini apa?

__ADS_1


Jam tangan?


Motor?


Handhpone?


Atau laptop?


Alvino berjanji akan membuang apapun yang Alizya berikan. Bila perlu, ia akan menghancurkannya.


"Den.... "


Alvino tersentak. Ia berbalik dan mendapati Bi Darsih yang baru saja masuk. Wanita tua itu nampak bingung melihatnya. "Ada apa, Den? "


Bi Darsih mendekat. Awalnya ia kaget melihat pintu rumah yang terbuka, setelah masuk ternyata ada Alvino yang mematung di dekat meja ruang tamu. Bi Darsih mengamati sekeliling. Ia menatap haru dekorasi cantik yang Alizya buat untuk ulang tahun kakak kembarnya.


"Wah ... cantik banget, Den. Non Izya pinter banget mendekorasi ruangan ini. Ini pasti juga kue buatan Nona Izya, " seru Bi Darsih. Ia mengamati kue cantik yang ada di meja.


"Buang aja, Bi! " suruh Alvino saat Bi Darsih ingin menyentuh lilin di atas kue.


Bi Darsih sontak menegakkan tubuh, menatap tak percaya Alvino yang ada di sampingnya. "Loh? Jangan, toh, Den! Kuenya bagus begini, pasti enak! " bantahnya tak mau. Bukan hanya kue, Bi Darsih tahu bahwa pemuda itu memintanya membuang semua yang Alizya siapkan.


"Kalau begitu untuk, Bibi, saja. " Alvino berlalu tanpa mengindahkan protes yang Bi Darsih katakan. Ia pergi menuju lantai atas.


Tatapannya sedingin es saat menatap pintu kamar Alizya yang tertutup rapat. Pintu mereka berjajar, tiga pintu dengan kamar Alizya yang paling ujung sedang kamarnya berada di tengah antara Alvano dan Alizya.


Alvino mengepalkan tangan erat-erat ketika bayangan wajah Alizya memenuhi isi kepalanya.


"Selamat ulang tahun, Kak Vin, yang ganteng!"


"Selamat ulang tahun, Kak Vin. Cie, tambah tua! "


"Kak Vin, selamat ulang tahun. Semoga, Kakak, semakin sukses dan tambah ganteng. "


"Selamat ulang tahun, Kak Vin. Izya punya kado istimewa buat, Kakak! "


Senyum merekah dan ucapan-ucapan selamat ulang tahun dari Alizya setiap tahunnya tiba-tiba berputar begitu saja dalam otak Alvino. Seperti DVD film lawas, semua itu terlihat hitam putih di otaknya. Semua yang Alizya lakukan untuknya tak pernah berarti dan tak mampu memberikan warna dalam hidupnya.


Alvino memalingkan wajahnya. Ia kembali memutar kenop pintu kamar sendiri. Tak akan ada bedanya dari yang lalu dan yang sekarang. Alvino tak perlu menunggu gadis itu keluar dari kamar dan memberikan ucapan selamat secara langsung padanya.

__ADS_1


"Apa peduli gue?! Si alan!


__ADS_2