ADIK YANG TAK DI ANGGAP

ADIK YANG TAK DI ANGGAP
Bab 25


__ADS_3

Pikiran Alvino langsung tertuju pada Alizya. Mungkinkah karena gadis itu pergi dari rumah? Alvino tahu kalau saudara kembarnya masih menyisakan cinta untuk Alizya. Tapi ia tak pernah menyangka bahwa Alvano bisa sampai seperti ini di hari kedua setelah ditinggal Alizya.


“Saya tidak tahu, Dok. Alvano tiba-tiba mengamuk dan menangis, ” jawab Alvino dengan kedua tangan yang terkepal erat-erat. Urat-urat hijau terlihat dibalik kulit putihnya.


Sang Dokter menghela nafas, ia beralih kembali pada Alvano. Pemuda itu terlihat damai dalam lelapnya. “Kamu harus mencari tahunya dan juga, jangan biarkan ia sendirian. Temani Alvano setiap saat, sering-sering saja mengajaknya berbicara. Jangan sampai pikirannya kosong. Kalau bisa jauhkan dia dari hal-hal yang memicu luka masa lalunya hingga ia bisa trauma, ” jelasnya.


Menjauhkannya dari hal-hal yang memicu rasa traumanya? Bagaimana? Sedang yang memicu rasa trauma itu adalah kepergian Alizya. Haruskah Alvino mencari Alizya?


“Untuk beberapa jam ke depan dia akan tertidur karena efek obat penenang yang saya kasih. Ketika dia bangun nanti, pastikan untuk tidak menyinggung hal-hal yang dapat menimbulkan rasa traumanya. Temani dia, jangan tinggalkan dia sendirian,” lanjut Sang Dokter. “kalau begitu saya pamit dulu. Saya memiliki pasien darurat lainnya, kabari saya kalau terjadi sesuatu. ”


Alvino memijat pelipisnya dengan pelan. Ia terduduk di sofa yang ada di kamar Alvano setelah tadi mengantar Dokter sampai dengan rumah. Dia merasa amat pusing dan lelah.


Teringat beberapa menit yang lalu saat ia begitu kesulitan menenangkan Alvano. Alvano terus mengamuk, menangis, dan tak bisa dikendalikan. Alvino yang kesulitan pun segera meninggalkan Alvano. Ia mencari telepon genggamnya dan menghubungi dokter yang dulu merawat Alvano. Beruntung ia memiliki nomornya.


“Kalau bisa jauhkan dia dari hal-hal yang memicu luka masa lalunya hingga ia bisa trauma! ”

__ADS_1


Kalimat Sang Dokter kembali membayang. Awalnya ia berpikir jika Alizya pergi dari rumah mereka maka kehidupannya akan jauh lebih baik. Karena kehadiran Alizya di depan wajahnya selalu membuatnya terbayang detik-detik ketika ia kehilangan kedua orang tuanya.


Siapa sangka semuanya berbanding terbalik. Trauma Alvano justru kembali. Haruskah ia membawa Alizya kembali? Apa perlu ia mencarinya? Huh ... ke mana? Ke mana dia harus mencari?


Alvino mengambil gawai yang ada pada saku celananya.


“Ck! ”


Dengan kasar ia mengotak-ngatik gawainya. Ia membuka menu aplikasi hijau bergambar gagang telepon. "Si al! Gue nggak punya nomornya! "


“Pergi pun ninggalin masalah! Dasar si alan! ”


Alvino melempar gawai miliknya dengan keras ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Suara keras yang ditimbulkannya tak mengganggu Alvano sama sekali.


Alvino meraup wajah dengan kasar. Tiba-tiba, kebencian itu bertambah besar. Alizya pembawa masalah untuknya. Alizya terus-terusan membuatnya menderita. Bahkan ketika Alizya meninggalkan rumah, gadis itu masih meninggalkan masalah untuknya.

__ADS_1


Alvino membencinya, sangat membencinya.


Andai tidak ada Alizya ... andai Alizya tidak terlahir ke dunia ini, kehidupannya pasti masih baik-baik saja. Semuanya salah Alizya, ini salahnya.


“Kak, Alizya sayang sama, Kak Vin. ”


“TAPI GUE NGGAK! GUE BENCI SAMA LO, BANG**SAT! ”


Alvino berteriak dengan kencang ketika bayangan Alizya muncul dipikirannya. Nafasnya terengah-engah, rahangnya terkatup rapat.


Ada Alvano yang trauma karena pernah kehilangan orang yang paling dicintai. Lalu ada Alvino yang lupa cara mencintai sebab orang yang paling ia cintai pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.


Lalu Alizya? Dia sedang berusaha menggapai cinta sang Kakak untuknya.


Tiga bersaudara ... ada benang tak terlihat yang menghubungkan mereka satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2