ADIK YANG TAK DI ANGGAP

ADIK YANG TAK DI ANGGAP
Bab 24


__ADS_3

“TAPI GUE NGGAK! GUE BENCI SAMA LO! ”


<><><><>


Ini adalah hari kedua Alizya tak hadir di sekolah. Kejadian kemarin lusa masih begitu panas di perbincangkan. Ketidakhadiran Alizya seolah menguatkan asumsi bahwa gadis itu memang sengaja melakukan pemb*ull*yan.


Sebagian besar merasa tidak percaya karena tak melihat langsung kejadiannya. Apalagi mengingat perangai Alizya yang terkenal baik hingga mereka berasumsi bahwa Alizya mungkin saja difitnah. Bahkan jika benar melakukannya, mereka yakin Alizya punya alasan dibalik itu semua.


Sebagian besar lainnya menerima mentah-mentah kabar yang berhembus. Para saksi yang telah angkat bicara bagi mereka sudah cukup membuktikan bahwa Alizya memang tak sebaik kelihatannya, ia bermuka dua.


“Ren! Are you okay? ”


Darren tersentak dari lamunan saat salah satu temannya menepuk pundak kekarnya. Ia menggeleng pelan sebagai jawaban.


“Masih kepikiran soal Alizya? ” Beni, salah satu teman baik Darren yang juga seorang anggota Osis. “Sulit dipercaya sih, emang! Tapi gue lihat di depan mata kepala gue sendiri gimana sadisnya Alizya jambak rambut adek kelas kemarin, ” lanjutnya tanpa menunggu jawaban dari Darren.


Darren bergeming. Dia juga menyaksikan sendiri kemarin, ia juga saksi sama seperti Beni. “Gue yakin Alizya nggak salah! ”


Beni mendengarnya tapi enggan membalas. Ia lebih memilih melanjutkan acara makan siangnya. Ia tidak bisa berbicara banyak. Banyaknya saksi yang melihat secara langsung membuatnya tidak bisa setuju dengan ucapan Darren. Alizya sendiri bahkan telah mengakui perbuatannya.


“Alizya bukan orang seperti itu. Dia nggak mungkin tega menyakiti orang lain. Gue nggak percaya. Si alan! Gue harus cari bukti kalau Alizya nggak salah! ” Darren bersungut dengan telapak tangan terkepal.


Beni menghel nafas. “Bukti yang kayak gimana? Lo bahkan udah lihat sendiri kejadiannya kemarin. Dia juga udah ngaku, 'kan? Jadi bukti yang kayak gimana yang mau lo cari? ” balas Beni. Ia mengambil gelas berisi es jus di meja kantin lalu menyeruputnya hingga tandas sebagai ritual akhir setelah makan.


“Tapi Alizya nggak mungkin melakukan itu! ” sanggah Darren.

__ADS_1


“Lo bisa ngomong kayak gitu kalau seandainya nggak ada bukti. Tapi nyatanya ... buktinya itu ada, bukti hidup lagi, Ren. Nggak cuman satu, banyak! Dan itu juga termasuk lo sendiri! Mana dia juga udah mengaku, 'kan? ” balas Beni sedikit nyolot.


Bahu Darren lemas. Beni benar, ia tak bisa melakukan apapun. Ingin menyangkal tapi tak bisa. Semua bukti sudah ada di depan mata. Darren sendiri merasa ragu, antara percaya dan tidak dengan kejadian kemarin.


“Bukannya ini bagus buat lo, ya? Dengan kasus ini otomatis Alizya dicopot jabatannya jadi ketua osis. Lo yang bakal gantiin dia, harusnya lo seneng, dong! ” seru Beni.


Tatapan Darren bertambah suram.


Apa yang Beni ucapkan benar. Harusnya ia senang karena dengan adanya kasus ini maka ia bisa mengambil alih posisi sebagai ketua osis. Tapi yang terjadi sekarang, Darren justru tak lagi tertarik. Padahal biasanya ia selalu mencari-cari kesalahan Alizya, apapun itu yang bisa membuatnya turun dari jabatannya.


Darren bahkan tak segan menjelekkan nama gadis itu di depan orang lain. Benar, Darren pernah melakukan itu hanya demi menjatuhkan Alizya. Hubungan mereka seburuk itu, hanya Alizya yang bersikap seolah-olah mereka baik-baik saja. Kini ketika apa yang ia inginkan tinggal selangkah lagi, ia justru merasa tak lagi berg4irah.


Dalam artian lain, Darren sebenarnya hanya tertarik untuk bersaing dengan Alizya bukan pada jabatan yang ia perebutkan.


“Gue yakin, semua guru dan murid-murid yang ada di sini bakalan protes kalau Alizya tetap jadi ketua osis. Masalahnya dia itu udah melanggar aturan yang paling berat sanksinya. Kalau lo nggak lupa, sanksi untuk tindak pemb*ull*yan di sekolah ini yaitu dengan dikeluarkan secara tidak hormat. ” Beni kembali menambahkan. Ia bahkan dengan santai melanjutkan kegiatannya makannya dengan mengemil.


“Da---”


Brak!


Beni berjengkit kaget saat Darren dengan kasar berdiri hingga kursi yang ia duduki jatuh ke belakang. Tanpa sepatah kata pun ia melangkah pergi dengan bersungut-sungut. Ia tak tahan mendengarkan lebih lanjut segala perkataan Beni.


Beni menghembuskan nafas pelan melihatnya. “Kelihatan banget kalau lo itu sebenarnya suka sama Alizya. Yang dapet masalah siapa yang panik siapa! Dasar bucin! ”


Darren mengalaminya, ia berada pada titik di mana ia merasa salah atas apa yang telah ia lakukan. Dia memiliki alasan yang tak sederhana untuk setiap tindakan buruknya terhadap Alizya. Lalu Alizya yang memilih tak peduli dan bersikap biasa saja adalah keputusan gadis itu sendiri yang tak ingin hubungan mereka semakin jauh.

__ADS_1


Kini setelah semua ini terjadi dan pertemuan mereka terakhir kali, Darren bisa melihat tatapan muak Alizya padanya. Darren tersentil. Mungkin saja gadis itu sudah muak dengannya. Mungkin juga Alizya sudah lelah menghadapinya.


Alizya yang terlihat rapuh, putus asa, dan tatapan terluka sore itu mengusik hati Darren. Tatapan itu membuatnya takut.


“Izya ... tolong jangan pernah berubah. ”


*


*


*


“Bagaimana keadaan Vano, Dok? ”


Paruh baya dengan tubuh tegap itu menghela nafas panjang demi mendengar pertanyaan Alvino. “Dia tidak baik-baik saja, ” jawabnya.


Raut wajah khawatir tak lekang dari muka Alvino sejak tadi. Ia tatap saudara kembarnya yang berbaring tak sadarkan diri di kasur itu dengan sendu.


“Kenapa Vano bisa tiba-tiba mengamuk, Dok? Bukankah dia sudah sembuh? ” tanya Alvino lagi. Rasanya masih tak percaya mengingat kejadian beberapa menita lalu.


“Sepertinya Alvano mengalami tekanan emosi, Alvano terlihat ketakutan, marah, dan juga cemas. Ada hal yang memicu rasa traumanya. Apa kamu tahu hal apa yang memicu traumanya? ” Dokter menjelaskan. Dokter psikolog yang sebagian rambutnya telah berwarna putih itu adalah dokter yang merawat Alvano dulu hingga dinyatakan sembuh. Beliau tak menyangka akan kembali bertemu dengan Alvano dengan keadaan yang sama seperti pertemuan pertama mereka.


Alvino gelagapan. Ia sendiri merasa tak yakin dengan apa penyebab tantrumnya Alvano. Ia rasa selama ini Alvano baik-baik saja. Mereka masih sering menghabiskan waktu berdua untuk mengobrol panjang lebar. Alvano tak pernah menunjukkan gelagat aneh. Saat bersamanya, Alvano bersikap santai dan kadang membercandainya.


Pikiran Alvino langsung tertuju pada Alizya. Mungkinkah karena gadis itu pergi dari rumah? Alvino tahu kalau saudara kembarnya masih menyisakan cinta untuk Alizya. Tapi ia tak pernah menyangka bahwa Alvano bisa sampai seperti ini di hari kedua setelah ditinggal Alizya.

__ADS_1


“Saya tidak tahu, Dok. Alvano tiba-tiba mengamuk dan menangis, ” jawab Alvino dengan kedua tangan yang terkepal erat-erat. Urat-urat hijau terlihat dibalik kulit putihnya.


Untuk saat ini jangan membahas hal yang akan membuat dia kembali histeris.


__ADS_2