ADIK YANG TAK DI ANGGAP

ADIK YANG TAK DI ANGGAP
Bab 12


__ADS_3

"Ada beberapa hal yang nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ada beberapa hal yang terlalu menyakitkan hingga tak mampu mengabarkan pada orang lain. "


"Itu nggak benar! "


Alizya sontak menoleh saat Alvano tiba-tiba menyahuti ucapannya. Kakak lelakinya itu mengambil duduk pada kursi di sampingnya.


"Bukan tidak bisa diungkapkan. Aku rasa orang-orang cenderung tak ingin mengatakannya pada orang lain. Mereka tak ingin orang lain mengetahui masalah mereka, " seru Alvano menatap lurus halaman yang ditumbuhi rerumputan hijau.


Alizya memiringkan wajahnya.


"Kenapa? "


Alvano menoleh dan Ia tersenyum menatap Alizya. "Karena tak semua orang dapat mengerti dan memahami. Kita tak memerlukan orang lain untuk tahu kesulitan kita. Manusia itu tidak dapat dipercaya! "


"Emm.... "


"Gitu aja harus mikir. Kalau lo percaya sama manusia itu namanya musyrik, gobl0k! " Alvino tiba-tiba datang memotong ucapan Alizya. Pria itu mendekat dan menyentil pelan kening Alizya.


Alizya melotot marah. "Ugh! Sakit ih! " Ia mengusap-usap keningnya. Alvino tertawa.


"Vin, jangan kasar! " peringat Alvano. Alvino hanya mencebik, saudara kembarnya itu terlalu possessive terhadap Alizya.


"Kak Vin, itu bisa nggak, sih, nggak usah dateng-dateng bawa bencana. Merusak momen tahu, nggak?! " sungut Alizya dengan galak.

__ADS_1


Alvino mengedikkan bahu. Ia lantas menyandarkan tubuhnya di tiang teras dan menyeruput coklat hangat yang ia bawa.


"Tak ada hal yang tak bisa diungkapkan. Begitu juga tak ada orang yang tak ingin orang lain tahu masalah yang ia alami. Pada dasarnya setiap orang di dunia ini ingin perhatian dari orang lain, " ucap Alvino tiba-tiba.


Alizya cengo melihat kakaknya yang paling konyol terlihat serius mengeluarkan kata-kata mutiaranya.


"Jika memang ada orang seperti itu, itu artinya ia adalah orang munafik! " sambung Alvino lalu kembali meminum coklatnya.


Alvano hanya diam sedangkan Alizya justru berdecak. "Kak Vin, memang agak lain, ya! "


"Omongan gue mana pernah salah! " seru Alvino dengan sombongnya.


"Musyrik tahu percaya sama, Kakak, tuh! " sahut Alizya. Ia menatap sinis.


"Ugh! " Alizya kehabisan kata-kata.


Alvano tertawa melihat dua saudaranya berselisih. Mereka memang sering kali meributkan hal-hal kecil. "Ucapan Vino nggak salah, tapi juga nggak sepenuhnya benar. "


Alizya dan Alvino langsung mengalihkan atensi mereka pada Alvino. Sang kakak pertama terlihat tersenyum kecil. "Di dunia ini banyak orang dengan tipe yang berbeda-beda. Izya, kamu lihat kami? " Alizya mengangguk saat Alvano menanyainya. "Wajah kami bahkan serupa, bak pinang dibelah dua. Tapi sifat kami berbeda bahkan tak jarang kami berselisih paham seperti saat ini, " lanjut Alvano menjelaskan.


Mata Alizya berbinar penuh kagum saat menatap Alvano. Kakaknya yang satu ini memang sangat bijak menurutnya. Sedetik kemudian Alizya melirik sinis Alvino.


"Kak Van, nggak pernah salah, kok. Yang salah itu Kak Vin! " seru Alizya kembali menatap Alvano dengan senyuman yang manis.

__ADS_1


Alvino mendelik kesal, " pilih kasih lo, anj**ing! "


"Tuh, 'kan kasar! "


"Si alan! "


_


_


_


_


_


_


_


Nggak boleh sedih-sedih melulu. Part ini spesial sebagai penghibur untuk pembaca setia yang menginginkan keakuran mereka bertiga. Scene ini nggak ada dalam cerita asli ya.


Andaikan saja semua itu terjadi pasti aku sangat bahagia, saat membayangkan kedua kakak kembar nya yang begitu menyayangi nya.

__ADS_1


__ADS_2