ADIK YANG TAK DI ANGGAP

ADIK YANG TAK DI ANGGAP
Bab 21


__ADS_3

"Dia nggak boleh pergi lama-lama, Vin."


><><><


"Gue nggak habis pikir sama lo, Bang. Ternyata lo orang yang seperti itu, ya. "


"Maksud lo? " Mata Ares memincing.


"Ya, itu. Anu ... Abang, mau perk0s4 gue, 'kan? " cicitnya pelan. Mata Alizya bergerak liar menghindari tatapan tajam Ares.


"Heh! "


Alizya berjengkit kaget saat Ares menyentak keras. Ia melotot menatap Ares yang juga memelototinya.


"Ya, apa?! Abang, bilang mau naikin aku? Dalam artian apa coba kalau nggak itu?? " Alizya tak kalah sewot. Umur Alizya itu udah banyak, sudah tujuh belas tahun. Tentu saja otaknya tidak hanya berisi tetang main dan sekolah.


"Justru gue yang nggak habis pikir sama otak kecil lo itu! Dasar piktor! " decak Ares dibarengi dengan salah satu tangannya yang terulur menyentil pelan kening Alizya. "Maksud gue, kalau lo nggak mau naik ke motor sekarang juga, gue bakal gendong lo naik ke motor gue! " lanjut Ares menjelaskan.


Alizya memincingkan kedua alis. "Masa, sih? " balasnya sangsi. Apalagi jika dilihat-lihat dari tampilan Ares yang terkesan urakan. Celana jeans sobek-sobek dengan kemeja kotak-kotak yang digulung sampai siku. Lebih mirip preman, sih, pikir Alizya. Apalagi ditambah rambut berantakan dan raut wajah Ares yang selalu galak padanya.


"Jadi lo nuduh gue?! " Ares jadi tambah ngegas.


"Nggak, Bang, nggak!" sangkal Alizya.


"Dasar! "


Karena hari semakin sore pun dengan Ares yang memaksa, pada akhirnya Alizya pun terpaksa pula menerima ajakan Ares untuk mengantarnya pulang. Alizya merasa canggung tepat setelah menduduki jok belakang motor Ares. Ia merasa canggung.


Selama perjalanan yang tidak lebih dari dua puluh menit itu pun tak terjadi percakapan sama sekali. Ares sibuk dengan isi kepalanya sedangkan Alizya merasa segan untuk memulai percakapan. Mereka bukan teman dekat.


Hingga mereka sampai di kontrakan tempat Alizya kini tinggal. Kontrakan kecil yang berada di dalam gang.


"Makasih, Bang! " Alizya tersenyum tipis. Ia telah turun dan kini berdiri di samping Ares.


Ares berdeham singkat.

__ADS_1


Alizya pikir setelahnya Ares akan segera berlalu pergi. Nyatanya sampai sepuluh menit berikutnya, Ares masih setia duduk berdiam diri di atas motor. Alizya mengerjap bingung.


"Abang, masih punya urusan? " tanya Alizya dan Ares menggeleng. Pemuda itu bahkan tak menatapnya sama sekali. Pandangannya lurus ke depan.


"Lalu kenapa lo masih diam di sini, Bang? Abang, nggak pulang? " bingung Alizya.


"Lo ngusir? " Ares menoleh dan menatap datar.


Alizya sontak menyengir lebar. Ingin mengangguk tapi tak enak hati tapi jika menyangkal, itu artinya dia berbohong.


"Mana Hp lo? " Ares mengulurkan tangan.


Alizya menatap telapak tangan Ares lalu kembali pada wajah Ares. Ia menatapnya penuh tanya. "Buat apa, Bang? "


"Mana dulu? Nggak usah banyak tanya! " ketus Ares.


Alizya mendelik tak suka. "Ya udah, sih, kalau nggak mau jawab. Hp-Hp juga punya gue, apa hak lo main minta-minta?! " balas Alizya tak kalah ketus.


"Nggak usah banyak omong! Mana Hp lo? Siniin! " sentak Ares.


"Nggak akan gue bawa kabur juga! " Ares tambah ngegas. Alizya merengut, dengan kesal ia meraih gawainya dari dalam tas. Dengan kesal meletakknya pada telapak tangan Ares.


"Gitu aja, lama banget! "


Alizya tambah kesal. Kakak laki-laki Reni itu terlalu memaksa. Jika tak mengingat hubungannya dengan Reni, Alizya tak akan mau menuruti ucapan Ares.


Alizya mengamati dengan waspada apa yang Ares lakukan. Pemuda galak yang Alizya akui cukup tampan itu terlihat serius mengotak-ngatik gawainya. Kepala Alizya mendekat, ia mencoba mencuri lihat apa yang Ares lakukan. Takutnya Ares melakukan hal yang aneh-aneh pada ponselnya.


"Nih! "


Alizya menerima kembali gawai miliknya yang Ares sodorkan. Matanya menyipit, menatap Ares dengan curiga. Segera ia lihat isi gawainya. Bolak balik, tapi ia belum menemukan apa-apa. Semua baik-baik saja, pikirnya.


"Gue pamit, " seru Ares. Segera Alizya kembali menatap pemuda itu. Ares segera menstater motornya.


"Hubungi gue kalau ada apa-apa! " cetus Ares sesaat sebelum melajukan motornya.

__ADS_1


Alizya termangu mendengarnya. Tanpa menatap kepergian Ares, gadis itu segera membuka kembali gawai miliknya.


Mulut kecil Alizya menganga saat menemukan hasil perbuatan Ares di ponselnya. Ares memasukkan kontak miliknya ke dalam daftar kontak whatsapp Alizya. Nomornya berada di daftar paling atas.


"Abang ganteng. " Alizya bergidik geli membaca nama kontak pada nomor Ares. Pemuda itu menamainya sendiri. "Selain galak, ternyata Bang Ares juga narsis, " ucap Alizya terkekeh.


Tanpa berniat merubah nama kontaknya, Alizya segera memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia berbalik dan berjalan masuk ke dalan kos-kosan. Senyum tipis timbul di bibirnya.


Setidaknya untuk hari ini semua berjalan dengan baik-baik saja.


Hingga malam pun berlalu begitu saja. Ketika keesokan harinya matahari kembali muncul, kehidupan si kembar terlihat tak ada yang berbeda. Kehadiran Alizya yang sejatinya tak begitu berarti membuat mereka terlihat acuh tak acuh dengan hilangnya Alizya.


Namun ...


"Bi Darsih mana? " Alvino berdiri di samping meja makan dengan dahi mengernyit. Dilihatnya sang kembaran yang duduk termangu di kursi.


"Van! " panggilnya ketika Alvano tak menanggapi sama sekali.


"Bi Darsih tidak datang, " jawab Alvano tanpa mengalihkan pandangannya. Alvino terlihat bingung melihatnya.


"Kenapa? Apa Bi Darsih baik baik saja? " Terlihat adanya raut khawatir di wajah rupawan pemuda berusia hampir seperempat abab itu.


Sayangnya Alvano hanya bergeming. Tak ada satu patah kata pun keluar dari mulutnya. Tatapan matanya lurus ke depan. Alvino semakin khawatir melihat sikap saudara kembarnya itu. Alvano tak terlihat baik baik saja.


"Jawab, Van! Kenapa lo diem aja?! " sentak Alvino.


Alvano menoleh dengan pelan. Alvino sendiri tertegun melihatnya, wajah Alvano terlihat kuyu. Matanya memerah dan sedikit bengkak.


"Van.... "


"Alizya menghilang. Dia pergi, dia tidak pulang sejak kemarin. Aku harus gimana? Alizya ... Izya ... dia ada di mana, Vin? " lirih Alvano dengan suara parau. Bibirnya bergetar terlihat menahan tangis.


... Alvano tak bisa baik baik saja sejak ia mendengar kabar menghilangnya Alizya. Ia ingin abai tapi nyatanya tak bisa. Semalaman ia tak tidur. Ia berdiri di balkon kamar menatap pagar rumah yang menjulang kokoh. Semalaman hati dan egonya berperang.


Hati kecilnya memaksanya untuk pergi mencari Alizya sedang egonya menolak. Egonya menahannya untuk mencari Alizya yang selama ini ia anggap sebagai sumber penderitaannya. Tapi sebagai seorang kakak, rasa benci itu tak sepenuhnya menutupi rasa sayangnya pada Alizya sebagai adiknya.

__ADS_1


__ADS_2