ADIK YANG TAK DI ANGGAP

ADIK YANG TAK DI ANGGAP
Bab 26


__ADS_3

"Saya mengundurkan diri sebagai Wakil.


"Ini gue, Kak. " Alizya menatap dengan raut terkejut yang belum sepenuhnya hilang.


"Jawab pertanyaan gue, Kak. Kenapa kalian jadi perampok? Kalian ini masih sekolah, kalaupun mau cari uang, ya, yang halal, Kak. Apa nggak takut digebukin warga kalau seandainya tertangkap? Lebih parahnya kalian bisa masuk penjara, " ucap Alizya panjang.


Ozi menatap datar sedangkan Reyhan merasa malu. Benar apa yang Alizya kira, ini memang kali pertamanya merampok. Ia tak menyangka akan langsung dikenali seperti ini.


"Bukan urusan lo! " sergah Ozi.


"Tapi, Ka--- "


"Nggak usah sok suci, An*ji*ng! Lo sama gue sama, nggak ada bedanya! Lo kira tindakan lo kemarin itu bener? Lo kira bull*y orang itu tindakan yang mulia, hah?! "


Alizya merapatkan bibir bungkam. Ia lupa bahwa kini di mata semua orang ia bukanlah Alizya yang dulu.


"Diam, 'kan lo? " Ozi berdecih sinis. Reyhan menatap Alizya dengan lamat. Wajah gadis itu menjadi muram tapi Reyhan masih bisa melihat senyum tipis di bibirnya.


Ozi memalingkan wajah enggan menatap wajah gadis di depannya lebih lama. Ia berlalu kembali menuju motornya tanpa mengembalikan gawai milik Alizya yang telah ia rampas. Yang ia lakukan justru memasukkan ponsel mahal itu ke dalam saku hoodie yang ia kenakan.


Meski ketahuan, barang rampasan yang telah ia dapatkan tak akan ia kembalikan. Tak masalah Alizya mengenalinya, toh, dia juga tak akan melapor. Alizya tak akan melakukannya dan juga tak ada saksi di sini.


Ozi mengenakan kembali masker hitamnya. Lalu mulai menduduki motornya. "Kalau nggak salah, dulu lo pernah bilang kalau nggak akan ada yang lolos dari hukum timbal balik di dunia ini. Jadi...! " Ozi menoleh dan menatap dengan tajam. " Gue rasa ini timbalan yang bagus untuk cewek munafik kayak lo. Gue tahu, sekarang kedok lo sudah terbongkar dan semua orang benci sama lo! Lo nggak punya teman, lo sendirian sekarang, " sambung Ozi tanpa perasaan. Pemuda itu mengkode rekan merampoknya untuk segera mendekat. Dengan ragu-ragu Reyhan bergerak menjauh dari Alizya yang diam menatap dengan datar.


Cara berbicara Ozi memang seperti itu, kasar dan sarkas. Apalagi terhadap orang yang dianggap musuh. Melihat wajah Alizya, entah mengapa ia merasa sedikit ... sedikit iba.


"Urus aja diri lo sendiri! Timbal balik apa yang akan gue dapetin lo nggak berhak ikut campur! " Ozi kembali melontarkan kata-kata tajam sebelum melajukan motornya bersama Reyhan diboncengan. Mereka pergi dengan kecepatan tinggi meninggalkan Alizya yang berdiri mematung di jalanan yang sepi.

__ADS_1


'Semua orang benci sama lo! Lo nggak punya teman, lo sendirian sekarang! '


'Semua orang benci sama lo! '


'Lo nggak punya teman! '


'Lo sendirian sekarang! '


Alizya terkekeh sendiri, bukankah dia baru saja memikirkan hal ini? Ia pikir Tuhan mengirimkan perampok yang lucu seperti Reyhan untuk menghiburnya, nyatanya itu tidak benar. Tuhan mengirimkan Ozi untuk kembali mengingatkan posisinya saat ini.


Tawa Alizya tiba-tiba menggema. Ia tertawa sendirian, andai ada yang melihat mungkin orang-orang akan berpikir bahwa ia gila.


Timbal balik, ya?


Alizya mulai hitung-hitungan. Setelah kerja kerasnya selama ini untuk meluluhkan hati Alvano dan Alvino, apa yang sudah ia dapatkan? Semua cinta yang ia berikan untuk mereka, adakah mereka membalas? Tidak, tidak ada timbalan apapun yang ia dapatkan. Mereka menolaknya mentah-mentah.


"Ish! " Kaki Alizya bergerak menendang angin. "Udah dirampok, dikata-katain pula. Kok bisa, sih, mereka jadi perampok? "


*


*


*


"Darren, Papa dengar Alizya dikeluarkan dari sekolah? "


"Nggak tahu, Pa, " Darren menjawab dengan malas tanpa mengalihkan tatapannya dari piring berisi sarapannya.

__ADS_1


"Nggak tahu gimana? Katanya dia bull*y siswi lain, bukannya peraturan sekolah kamu kalau ada yang melakukan tindak bull*y*ing akan dikeluarkan dari sekolah? " Papa Darren tak puas dengan jawaban Darren. Pria dewasa yang hampir mencapai umur kepala lima itu menatap putranya dengan tajam.


"Ya, mungkin saja karena sampai sekarang pihak sekolah belum mau buka mulut, " balas Darren.


Robyan, Papa Darren itu mendengus mendengarnya. "Ck! Ini pasti ulah kakekmu itu! Dia terlalu memanjakan gadis itu dan selalu menutupi kesalahannya! " tukasnya tak suka namun Darren hanya diam tak menanggapi.


"Ayah terlalu memanjakannya! Lihatkan sekarang! Siapa yang melempar kot0ran ke wajahnya! Bukankah Ayah selalu membangga-banggakan Alizya, lihat, sekarang gadis itu yang mempermalukannya! " timpal Arin, ibu kandung dari Darren. Wanita yang tak lagi muda namun masih terlihat begitu cantik. Pantas saja Darren begitu tampan dengan hidung mancung, ternyata itu menurun dari ibunya.


Wanita itu menikmati sarapannya dengan wajah tak sedap. "Jika anak kita yang melakukan kesalahan, Ayah pasti akan marah besar. Tapi jika Alizya yang melakukannya, pria tua itu justru akan menutup-nutupinya. Apa dia pikir cucunya hanya Alizya saja, ouh?! " lanjutnya.


Darren diam menikmati makanannya yang terasa hambar sebab kedua orang tuanya membahas tentang Alizya di meja makan. Moodnya bertambah buruk pagi ini.


"Pembantunya juga datang ke sini beberapa hari yang lalu. Dia mencari Alizya, katanya gadis itu pergi dari rumah! "


Gerakan tangan Darren terhenti, ia membeku mendengar ucapan ketus Mamanya.


"Hilang? "


"Benar, Pa. Kata orang suruhan Mama, dia sudah satu mingguan nggak pulang ke rumah. Entah pergi ke mana, mungkin saja kabur bersama kawan-kawannya yang beg4julan, " seru Arin menjawab pertanyaan suaminya.


"Sudah kuduga! Selama ini dia cuman pura-pura baik di depan Ayah. Seperti itukah kelakuan cucu kesayangannya itu! Ck, seharusnya Ayahmu itu sadar sekarang! " ucap Robyan. Senyum sinis nampak tersungging di bibirnya.


"Oh ... ya, Darren! Ini merupakan kesempatan yang sangat bagus untukmu. Akhirnya kedok Alizya yang sok baik itu terungkap. Dengan begitu kamu bisa menunjukkan pada Kakekmu bahwa kamu lebih baik dari Alizya! " Robyan menatap putranya dengan senyum intimidasi. Tak boleh ada bantahan, ucapannya adalah benar.


Darren merasa ia benar-benar telah kehilangan selera makannya. Biasanya, ia akan menanggapi dengan antusias tentang apapun yang berkaitan dengan menjatuhkan Alizya. Tapi kali ini, telinganya serasa gatal mendengar kedua orang tuanya terus menjelklek-jelekkan Alizya. Ia merasa tak suka.


"Kamu dengar ucapan Papa, Ren?! " Nada bicara Robyan sedikit naik saat tak mendapatkan respon apapun dari Darren.

__ADS_1


"Iya, Pa, " balas Darren dengan singkat. Pemuda itu lantas berdiri dan meraih tasnya yang berada di gantungkan di belakang kursi. "Darren berangkat! " Ia segera berlalu tanpa bersalaman atau pun mengucapkan salam karena kebiasaan itu tak ada dalam keluarganya.


__ADS_2