ADIK YANG TAK DI ANGGAP

ADIK YANG TAK DI ANGGAP
Bab 23


__ADS_3

"Jangan tinggalin Vano, Yah! Bunda ... jangan bawa adik kecil. Jangan.... "


><><><><


"STOP, VIN! BERHENTI! BERHENTI! " Alvano berteriak memotong ucapan Alvino dengan nafas tersengal-sengal. Alvino menatapnya terkejut.


"Berhenti ... tolong berhenti! Dia, Izya ... Izya adalah adikku. Kenapa kamu menyalahkannya? Tidak! Tidak boleh! Dia tidak bersalah, dia anak baik! " Alvano berkata lirih dengan kepala yang menggeleng kuat.


"Tidak! Dia adikku! Ayah bilang, Ayah bilang aku ... aku harus menjaganya. Tidak ada yang boleh menyakitinya! TIDAK BOLEH! ARGH...! "


Alvano tiba-tiba histeris. Ia berteriak, memukul meja dan menjambak rambutnya sendiri dengan kuat. Ia meraung-raung dengan mata yang memerah penuh air mata. Alvano merasa kepalanya sangat sakit pun dengan dadanya yang terasa sesak.


Alvano bahkan memukul-mukul dadanya sendiri. Alvino yang melihatnya pun syok. Botol minum yang masih ada di tangannya ia remas dengan kuat hingga remuk.


"VAN! " Alvino membuang botolnya sembarang, ia lekas meraih dua bahu Alvano. Ia mengguncangnya dan menyuruhnya untuk berhenti menyakiti diri sendiri. "Van! Hei, berhenti! "


Namun Alvano masih tetap meraung kencang bahkan tangannya tak berhenti untuk menjambak dan memukul dadanya sendiri. Alvino merasa kewalahan.


Alvino merasa dejavu. Dia pernah berada di posisi ini yang kewalahan menenangkan Alvano yang tiba-tiba mengamuk dan menangis histeris. Saat itu ia begitu takut melihat Alvano yang mengamuk. Dan rasa takut itu kembali ia rasakan saat ini.


Namun itu sudah lama sekali, ia pikir Alvano telah benar-benar sembuh selama ini. Beberapa tahun ke belakang, Alvano terlihat baik-baik saja. Emosinya selalu stabil. Alvino tak menyangka bahwa saudara kembarnya itu bisa kembali kambuh kembali hanya karena Alizya.


Mereka saudara kembar ... dan Alvano lah yang tampak lebih pandai mengolah emosi. Selalu terlihat tenang dan baik-baik saja hingga Alizya lebih berani mendekatinya timbang Alvino yang acap kali berbicara kasar. Hanya saja Alizya tak tahu bahwa Alvano pernah mengalami depresi.


Setelah kematian kedua orang tuanya, Alvano pernah mengalami gangguan mental selama hampir satu tahun lamanya. Selama itu, Alvano tinggal di rumah sakit. Alvano berobat penuh kepada dokter psikolog. Para dokter bilang, Alvano kecil mengalami syok yang hebat akibat kehilangan Ayah dan Bundanya. Mentalnya tidak siap, dia tidak siap kehilangan. Itu yang membuatnya depresi hingga membuatnya sering mengamuk dan menangis secara tiba-tiba.


Alizya tak pernah tahu bahwa kakak pertamanya yang terkenal akan kepintarannya itu pernah mengalami depresi. Hanya Alizya yang tak tahu, semua itu dirahasiakan darinya.


"Hey, Van. Tenanglah! Jangan seperti ini! Lo buat gue takut, " ucap Alvino dengan suara serak. Ia menarik tubuh Alvano ke dalam pelukannya. Ia rengkuh dengan erat, tak peduli dengan berontakan Alvano yang terus memukuli punggungnya.


"Kenapa? Kenapa Ayah dan Bunda ninggalin kita? Kenapa hanya adik kecil yang selamat? Aku ... aku bahkan belum sempat mengucapkan selamat atas lahirnya adik kecil sama Bunda. Kenapa...? " Alvano masih terus meracau tak tentu arah. Di balik punggungnya, Alvino mendengarkan dengan hati yang serasa teremas. Ia ikut sakit, ia merasakan sakitnya kehilangan orang tua.


"Dia! Iya, dia yang salah! Adik kecil yang salah! Siapa? Alizya? Iya, dia yang salah. Harusnya dia nggak lahir ke dunia ini. GARA-GARA DIA AYAH DAN BUNDA NINGGALIN KITA! ARGHH...! "


Dan di detik berikutnya Alvano menggeleng dengan cepat. Bolanya matanya berpendar liar. "Nggak! Bukan, bukan adik kecil yang salah. Dia tidak tahu apa-apa, " racaunya tak begitu jelas. Suaranya melirih setelah sebelumnya berteriak amat kencang. Bahunya berguncang, ia menangis hebat. "Tuhan yang salah! Dia yang sudah mengambil Ayah dan Bunda! Tuhan yang salah, Vin, bukan adik kecil. "

__ADS_1


"ALVANO! SADAR, VAN! JANGAN KAYAK GINI! " Alvino berteriak dengan keras di depan wajah Alvano yang nampak kacau.


"Izya ... kamu di mana? Kakak kangen, Sayang.... "


"Bunda.... "


"Ayah, bawa Van pergi, Ayah. Van capek, Van ngantuk.... " lirih Alvano tak peduli sedikitpun pada Alvino.


Lama-lama tenaga Alvano melemah. Ia terkulai lemas di pelukan sang kembaran. Namun bibir merahnya tiada henti meracau mengucapkan kalimat-kalimat yang sebagian tak terdengar begitu jelas. Suaranya parau dan bergetar.


Dari tempat Alizya berada, kegaduhan yang terjadi di rumah yang telah ia tinggalkan kini mungkin tak akan pernah ia tahu sampai kapanpun. Di benaknya telah terbayang bahwa ia tak akan pernah kembali ke rumah itu. Meski dalam hati ia berharap, dua kakaknya akan datang dan mengajaknya pulang. Sungguh, jika hal itu terjadi maka dengan senang hati Alizya akan pulang.


Alizya sangat merindukan Alvano dan Alvino.


"Gimana ya, kabar mereka? Panik nggak sih, mereka pas tahu gue nggak ada di rumah? " Alizya bermonolog. Pagi ini ia sarapan dengan semangkok bubur ayam di teras kontrakan.


Alizya menghela nafas setelah mengunyah habis sesendok bubur di mulutnya. "Kak ... Izya kangen tahu! "


Tak ada perasaan lega ketika Alizya memutuskan meninggalkan rumah. Justru, kesedihannya kian menggunung. Ia merasa tertekan, kecewa, sedih, marah, dan rindu. Entah bagaimana Alizya harus melampiaskan semua perasaannya itu.


Ia menyesal ... andai saja ia mau bertahan lebih lama. Andai ia tetap pada tujuan awalnya tak peduli seberapa bencinya Alvano dan Alvino padanya, mungkin kini ia masih bisa bersama mereka. Setidaknya bisa menatap mereka setiap hari dan memastikan mereka baik-baik saja.


Alizya tak akan terima jika dirinya dikatakan terlalu bodoh karena tetap mengharapkan kasih sayang dari Alvano dan Alvino yang jelas-jelas membencinya. Baginya, semua yang ia lakukan bukanlah kebodohan. Setelah kehilangan Ayang dan Bunda, Alizya merasa hanya Alvano dan Alvino lah satu-satunya keluarga yang ia punya.


Mereka adalah harta berharganya. Bahkan jika boleh dikata, Alizya siap menanggung resiko apapun demi mereka.


Sebodoh itu memang.


"Huh.... "Lagi-lagi Alizya menghembuskan nafas dengan kasar. Dengan perasaan berkecamuk ia kembali melahap bubur ayam miliknya.


Pagi ini, kehidupan tiga bersaudara terasa berubah tiga ratus enam puluh derajat, tak lagi seperti kemarin dan sebelum-sebelumnya. Alizya duduk sendirian menikmati semangkok bubur ayam. Baginya suasana baru ini hanya membuatnya tambah kesepian, biasanya ia masih bisa sarapan bersama Alvano dan Alvino meski terabaikan.


Dan di saat bersamaan, Alvino belum berhasil menenangkan Alvano yang mendadak tantrum. Di ruang makan, dua saudara kembar itu larut dalam suasana yang kacau.


"Van, stop! Hey ... please, dengerin gue! " Alvino mengurai pelukan dan beralih menangkup wajah Alvano. Ia memaksa wajah tampan saudaranya yang nyaris tak ada bedanya dengannya itu untuk mendongak. "Dia baik-baik saja. Adikmu itu pasti akan pulang. Adik kecil ... adik kecil pasti akan pulang. Tenanglah.... "

__ADS_1


Alvano sesenggukan menatap Alvino. Mata dan hidungnya memerah. Lagi-lagi Alvano menggeleng dengan kuat. "Dia pasti marah. Adik kecil marah karena aku tak mau menemaninya bermain. Dia marah ... dia pergi.... "


Mata Alvino mengembun menyaksikan betapa rapuh dan berantakannya penampilan Alvano saat ini. Bukan hal yang mudah untuk membuat Alvano kembali tenang. Bahkan dulu Alvano sering diberi obat penenang karena terlalu sering menangis histeris dengan tiba-tiba. Alvino tak sampai hati jika Alvano kembali mengalami hal yang sama. Ia tak tega.


Alvino kalut, tak tahu rasanya harus bagaimana. Ia tak menyangka, Alvano yang terlihat baik-baik saja nyatanya mengalami tekanan batin yang kuat hingga tiba-tiba Alvano mengalami tantrum ketika tak lagi mampu menahannya.


"Dia nggak marah. Lo bilang dia anak baik, 'kan? " Alvino membalas dengan suara selembut mungkin. Ia tidak bisa menghadapi Alvano yang tiba-tiba tantrum dengan keras. Itu hanya akan membuat mental Alvano semakin tertekan.


"Ta--tapi, tapi ... NGGAK! DIA JAHAT! GARA-GARA DIA AYAH SAMA BUNDA PERGI! ARGGHH...! AYAH! BUNDA! "


Setelah sedikit melunak, Alvano nyatanya kembali histeris.


"BUNDA! "


"IZYA! AYAH, IZYA PERGI, YAH! AKU NGGAK MAU DIA PERGI! NGGAK BOLEH! "


"PERGI! PERGI! PERGI SAJA, PERGI YANG JAUH! DASAR PEMBVNVH! "


Bukannya tenang, Alvano justru semakin histeris. Ia bangkit dan membalikan meja dan kursi. Ia mengacak-acak semua barang yang ada di dapur dan ruang makan. Alvino kewalahan, dari belakang ia berusaha mendekap tubuh tinggi Alvano dan berusaha menenangkannya.


"Van, please ... jangan kayak gini. Jangan buat gue takut.... " lirih Alvino namun tak sekalipun mampu memengaruhi Alvano.


"AARRGGHH...! "


"Argh...! Sakit ... sakit, Bunda. Sakit.... "


Pikiran Alvano kacau, ia tak bisa mengendalikan emosinya. Dua sisi dalam tubuhnya berperang. Ia membenci Alizya tapi juga mencintainya. Alvano kesakitan, dadanya sesak. Dia tak sadar dengan apa yang ia lakukan saat ini.


Hilangnya Alizya memicu traumanya. Bayangan masa lalu saat ia kehilangan orang tuanya membuat Alvano sakit kepala. Ia tertekan, ingin mencari Alizya namun sisi lain dirinya berkata sebaliknya.


"Van ... Van! Ya Allah ... sadar, Van, sadar! "


"Jangan tinggalin Vano, Yah! Bunda ... jangan bawa adik kecil. Jangan.... "


"AARRGGHH...! "

__ADS_1


__ADS_2