
Darren merasa ia benar-benar telah kehilangan selera makannya. Biasanya, ia akan menanggapi dengan antusias tentang apapun yang berkaitan dengan menjatuhkan Alizya. Tapi kali ini, telinganya serasa gatal mendengar kedua orang tuanya terus menjelklek-jelekkan Alizya. Ia merasa tak suka.
"Kamu dengar ucapan Papa, Ren?! " Nada bicara Robyan sedikit naik saat tak mendapatkan respon apapun dari Darren.
"Iya, Pa, " balas Darren dengan singkat. Pemuda itu lantas berdiri dan meraih tasnya yang berada di gantungkan di belakang kursi. "Darren berangkat! " Ia segera berlalu tanpa bersalaman atau pun mengucapkan salam karena kebiasaan itu tak ada dalam keluarganya.
Ia berlalu meninggalkan Mama dan Papanya yang mungkin saja heran dengan sikapnya kali ini. Namun, pemuda dengan seragam sekolah lengkap itu tak peduli, isi pikirannya kali ini penuh dengan Alizya.
Hilang?
Pergi ke mana Alizya?
Jadi, selain tak pernah lagi muncul di sekolah, Alizya ternyata pergi dari rumah. Tak ada yang tahu keberadaannya di mana. Entah bagaimana kondisinya saat ini, baik-baik saja atau justru sebaliknya.
Darren menambah kecepatan laju motor besarnya tanpa penduli kondisi jalan dan pengendara lainnya. Pikirannya kacau dan semua itu karena Alizya seorang.
Ketika tiba di sekolah, Darren menjadi pusat berhatian. Bukan apa, tapi suara bising motornya yang melaju dengan kecepatan tinggi jelas menarik atensi setiap orang. Darren tak acuh, ia lebih memilih segera berlalu tanpa peduli tatapan penuh tanya orang-orang.
__ADS_1
"Ren! "
"Hemm? " Darren berhenti di koridoor menunggu Beni yang kini berlari ke arahnya.
"Di cari kepala sekolah! " ucap Beni memberi tahu. Tanpa kata, Darren memutar arah menuju kantor kepala sekolah. Tak biasanya kepala sekolah memanggilnya pagi-pagi seperti ini.
Setelah mengetuk pintu dan memberi salam, Darren dipersilakan untuk masuk dan duduk. Kini ia telah berhadapan dengan Kepala Sekolah dan juga ... Bu Dilla, si guru Bimbingan Konseling.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak? Ada apa, ya, mencari saya? " tanya Darren dengan sopan dan tak lupa tersenyum ramah.
Sebelum menjelaskan maksud dan tujuannya, Bapak Kepala Sekolah sempat menarik nafas dengan panjang. "Jadi, Darren, kamu tahu, 'kan kalau Alizya sudah dikeluarkan dari sekolah? "
"Saya tahu apa yang kamu pikirkan! " seru Kepala Sekolah. Wajah pria paruh baya itu tak terlihat enak dipandang. Wajahnya masam. "Sebenarnya kami juga tidak berani mengeluarkan, Tuan Besar sendiri yang meminta Alizya dikeluarkan dari sekolah. "
Mata Darren membulat, Kakeknya yang minta? Kenapa?
"Bukan dikeluarkan sebenarnya, lebih tepatnya dipindahkan. Tuan Besar akan memindahkan Alizya ke sekolah lain. Setelah Alizya pindah, otomatis jabatan ketua osis kosong dan hanya kamu yang pantas menggantikannya. Bagaimana, apa kamu setuju? " tanya Kepala Sekolah.
__ADS_1
Sayangnya Darren tak lagi fokus dengan ucapan Kepala Sekolah sejak pria itu mengatakan bahwa Kakeknya akan memindahkan Alizya. Jadi, apa saat ini Alizya bersama Kakeknya? Ke mana Alizya akan dipindahkan?
"Ke mana Alizya akan pindah, Pak? " tanya Darren tanpa peduli pada pertanyaan Kepala Sekolah sebelumnya.
"Saya tidak tahu! "
"Tidak tahu bagaimana?! Seharusnya, Bapak, tahu karena, Bapak, yang mengurus surat-surat kepindahannya, " sungut Darren yang tiba-tiba merasa emosi.
"Kami semua tidak ada yang tahu, Darren. Kakekmu itu tidak mengatakan apapun kepada kami. Beliau hanya meminta kami mengurus surat pindah untuk Alizya, " timpal Bu Dilla yang melihat Darren mulai emosi. "Kami juga tidak berani bertanya. Saya kira kamu lebih tahu tentang hal ini, " lanjut Bu Dilla. Wanita itu pikir, sebagai sepupu Alizya itu artinya Darren lebih tahu karena mereka adalah keluarga.
"Benar! Jadi Darren, bagaimana keputusanmu? Jika kamu tidak bersedia saya akan mencari orang lain. Tapi saya dan guru-guru yang lain berharapnya kamu yang menggantikan, " tutur Kepala Sekolah.
Darren bergeming.
Dia tidak bisa berpikir hal lainnya. Pikirannya hanya berpusat pada Alizya.
"Darren? "
__ADS_1
Darren membuang nafas gusar. Tak pernah ia sangka ia akan begitu kesulitan ketika Alizya tak ada lagi di dekatnya.
"Saya tidak bisa, Pak. " Suara Darren tercekat. Keputusannya ini mungkin akan membuat Mama dan Papanya marah. "Saya tidak bisa menggantikan Alizya menjadi Ketua Osis. Saya ... saya mengundurkan diri sebagai Wakil Ketua Osis. "