
Hati kecilnya memaksanya untuk pergi mencari Alizya sedang egonya menolak. Egonya menahannya untuk mencari Alizya yang selama ini ia anggap sebagai sumber penderitaannya. Tapi sebagai seorang kakak, rasa benci itu tak sepenuhnya menutupi rasa sayangnya pada Alizya sebagai adiknya.
Hingga semalaman Alvano hanya bisa terpaku menunggu kepulangan Alizya. Ia meyakinkan dirinya bahwa gadis manja itu akan pulang. Ya, baginya Alizya hanyalah gadis manja yang tak bisa apa-apa dan selalu bergantung padanya. Ia melalaikan fakta bahwa selama ini Alizya terbiasa mandiri tanpa bantuannya maupun Alvino.
Dan sayangnya, hingga pagi menjelang ternyata tak ada tanda-tanda Alizya akan pulang.
"Nggak perlu lo pikirin. Gue yakin dia pasti pulang. Mana tahan dia hidup di luar sana?! " sungut Alvino. Dari ucapannya, ia terlihat seperti tak mau tahu.
Alvano menggeleng, " tapi dia tak pulang sejak kemarin. Bibi bilang, dia nggak ada di rumah sejak kemarin pagi. Ranselnya tak ada, beberapa bajunya juga tak ada di lemari. Untuk apa ia pergi membawa baju dan ransel? Bukankah itu artinya ia akan pergi lama? " Alvano menatap Alvino dengan pandangan sayu penuh harap. "Berapa lama, Vin? Kapan Izya pulang? "
Alvino menghela nafas. Ia berlalu menuju kulkas di dapur yang berada berdampingan tanpa sekat dengan ruang makan. Ia mengambil sebotol minuman dingin dan menenggaknya sampai hampir habis.
"Jawab, Vin! " Alvano berbalik, ia mengikuti pergerakan Alvino. "Kapan Izya pulang? Nanti? Siang ini atau nanti sore? Dia nggak boleh pergi lama-lama, Vin. Kalau nggak nanti aku ... aku ... aku.... " Alvano terbata-bata, ia tak tahu kata apa lagi yang mesti ia ucapkan. Dirinya penuh dengan keragu-raguan.
__ADS_1
Alvino menyudahi gerakannya, ia memandang lekat Alvano. Saudara kembarnya itu duduk menghadap padanya. Tapi bola matanya berpendar, Alvano menatap liar sekeliling dan tak menatapnya. Bahkan kedua tangan Alvano berulang kali terlihat mengacak rambut dengan kasar. Sikap ini biasa Alvano tunjukkan ketika sedang cemas dan takut.
Alvino mendekat. "Tenanglah ... dia pasti pulang. Dia tidak akan pergi lama, mungkin saja ia sedang menginap di rumah temannya, " ucapnya mencoba menenangkan dan menepuk pelan pundak Alvano.
Sama halnya seperti saudara kembar pada umumnya. Dua saudara kembar pasti memiliki sifat dan sikap yang bertolak belakang. Di banding Alvino, Alvano jauh lebih lembut dan perasa. Ia tak sedingin Alvino pun juga tak pernah berkata kasar seperti Alvino. Ibaratnya, Alvano adalah air dan Alvino adalah apinya.
Dan Alvino tahu bahwa Alvano tak pernah benar-benar tega membenci Alizya hingga sedemikian rupa.
"Jangan membohongiku, Vin. Bibi bilang, Izya tak ada di rumah teman-temannya. Bibi sudah mendatangi semua rumah temannya. " Alvano merengek. Ia tak puas dengan ucapan Alvino.
"Kalau dia mau pergi, biarkan saja! Gue rasa akan lebih baik dia pergi dari kehidupan kita karena memang seharusnya dia tidak datang ke keluarga ini! " sungut Alvino yang tak bisa menahan diri. Rahangnya mengetat menahan emosi.
"Vin.... "
__ADS_1
"Jangan lupakan fakta bahwa karena dia kita kehilangan Ayah dan Bunda! Masa kecil kita harus terenggut karena dia! Berhenti berpura-pura peduli padanya! Dia tidak pantas! " sergah Alvino dengan keras.
Alvano seketika terpaku dengan pandangan yang terlihat kosong. Pura-pura?
"Perlu berapa kali gue bilang?! Andai dia nggk ada di dunia ini, andai dia yang mati saat itu ... andai bukan demi dia, Ayah dan Bunda pasti masih ada sama kita sekarang! Dia penyebabnya, jangan lupakan fakta itu, Van! " Alvino mengepalkan tangan erat-erat. Bayangan kematian kedua orang tuanya bertahun-tahun silam terputar bagai DVD lawas di otaknya.
Tatapan mata dua bersaudara itu beradu. Alvino dengan pandangan tajamnya sedang Alvano menatap dengan sayu. Matanya berkaca-kaca seolah-olah kata-kata Alvino menyakiti hatinya. Entah untuk ke beberapa kalinya Alvino mengatakan kalimat yang sama.
Alvino pernah mengatakan hal yang sama padanya beberapa hari yang lalu saat ia duduk termangu di sofa ruang tamu menunggu Alizya yang pulang terlambat. Malam itu, Alvano merasa tak biasanya Alizya pulang malam. Alvano menungguinya, ia ingin memarahi gadis itu.
Tapi Alvino yang datang, pemuda itu memintanya untuk tidak perlu mempedulikan Alizya. Kalimat yang sama seperti hari ini Alvino ucapkan padanya. Hingga malam itu dan seperti waktu-waktu yang lalu, ia merasa ucapan Alvino benar.
Tapi kali ini, ia merasa apa yang Alvino katakan salah. Alvano ingin membantahnya.
__ADS_1
"Karena di---"
"STOP, VIN! BERHENTI! BERHENTI! "