ADURA

ADURA
Bagian 20. Orang Baru


__ADS_3

Penduduk berkerumun pada jalan utama kota Mitri, mereka memandangi tubuh tak bernyawa milik seorang pemuda. Pemuda itu tampak meregang nyawa seraya memegangi perutnya, menggunakan kaos kuning pucat senada dengan celana panjang berwarna coklat.


Albar memandangi tubuh kaku tak bernyawa itu, berlutut penuh penghayatan. Sementara Hazard berdiam diri pada posisi berbeda, dengan pakaian kulitnya yang sudah kering, Hazard menopang dagunya yang mengenakan masker. Ketika digulingkan menjadi terlentang, Albar mengenali mayat tersebut.


"Ya ampun, bukankah itu Denrick?"


"Benar, itu Denrick!"


"Astaga ...."


"Sangat tidak bisa di percaya ...."


Para penduduk mundur satu langkah dari mayat Denrick, kebanyakan dari mereka terkejut melihatnya, orang kepercayaan Walikota mati begitu mengenaskan.


"Tuan Walikota, saya orang yang melaporkan hal ini tadi." Seorang pemuda tiba-tiba menginterupsi. "Denrick adalah teman saya. Jadi saya sangat tahu kegiatan apa yang ia lakukan sebelum mati."


Albar mulai serius mendengarkan, "katakan, apa yang kau tahu, Anak Muda."


"Denrick merupakan orang kepercayaan Tuan, benar? Ia sempat bercerita pada saya sore tadi ... Anda memberinya tugas memata-matai rombongan Raja Firan sampai mereka pulang. Kemudian saya menunggunya sampai malam, tapi teman saya tidak pulang, rumahnya gelap. Karena khawatir saya mencarinya dan mendapat kabar dari seorang penduduk bahwa ada seorang pemuda terbunuh di jalan utama. Tanpa pikir panjang saya berlari ke rumah Tuan Walikota. Di sana saya mendapat informasi dari beberapa pelayan bahwa teman saya Denrick sempat berkeliaran di rumah Tuan Walikota, tentu saja karena ia memiliki akses bebas tidak seperti saya yang harus di tanya-tanya dulu oleh para pelayan sebelum memasuki rumah Anda. Apakah Tuan sempat bertemu dengannya?" Si pemuda mengakhiri ceritanya dengan pertanyaan yang cerdas, memaksa pendengar untuk berfikir.


Hazard memasang telinga dari jauh. Cerita si pemuda tak di kenal terdengar cukup menarik.


"Tidak, saya belum bertemu dengan Denrick setelah memberinya tugas," ujar Albar mulai curiga.


Si pemuda tersenyum tipis, "Sepertinya informasi yang saya dapatkan kemungkinan besar tidak salah."


"Informasi? Informasi apa?"


"Jadi setelah saya melapor, saya langsung kemari dan mendapatkan satu informasi lagi. Bahwa ada beberapa penduduk yang melihat Denrick di tusuk dengan pedang oleh Panglima Eden. Mereka tidak mengetahui kenyataan bahwa teman saya sempat berkeliaran di rumah Tuan Walikota, tapi pemiliki rumah tidak sadar. Apakah itu wajar?"


"Sepertinya Denrick berkhianat," gumam Hazard, tiba-tiba sudah ada di samping si pemuda dan Albar.


"Oh, Tuan Hazard? Sejak kapan anda ada di sini?" tanya Albar sedikit terkejut.


"Saya mendengarkan dari jauh, topik yang kalian bicarakan cukup menarik ... pemuda yang bernama Denrick kemungkinan besar sudah berkhianat."


Si pemuda menatap takjub. Dalam kondisi riuh, penuh celotehan ria para manusia, Hazard masih sanggup mendengar dengan baik dalam jarak yang cukup jauh dari posisinya—yaitu tepat di samping, berjarak delapan jengkal orang dewasa.


"Pria yang sangat fokus, pantas saja Yang Mulia Firan mengundang para pengguna black magic untuk melemahkannya," ucap si pemuda dalam hati.


"Benar juga, sangat masuk akal karena semua bukti mengarah padanya," ucap Tuan Albar membenarkan. Ia tersenyum, "Kemampuanmu mengesankan. Berkat bantuan darimu, saya belajar satu hal penting ... jangan terlalu percaya pada orang lain."


"Syukurlah, saya senang mendengarnya."


"Tentu. Kamu berhak mendapat sekarung gandum sebagai tanda terimakasih. Anak Muda, sebutkan, siapa namamu?"


Pemuda itu tersenyum sembari menunduk sedikit, "Nama saya Dienra, biasa di panggil Enra."


"Hm, nama yang unik."


Albar memanggil seorang pelayan pria. Ia memerintahkan pelayannya untuk mencatat identitas Enra. Setelah semua dicatat dalam selembar kertas, si pelayan memberikannya langsung pada Albar.


"Sepertinya saya sudah tidak diperlukan lagi. Saya pamit undur diri, Tuan Walikota, Tuan Hazard." Enra membungkuk hormat sebelum akhirnya pergi.


Albar segera membubarkan kerumunan orang, kemudian memerintahkan para pelayan pria untuk mengebumikan mayat Denrick sebelum membusuk dan mengeluarkan bau tidak sedap.


🍂🍂🍂


Di gudang tempat persediaan. Bertumpuk karung-karung berisi bahan makanan, gentong berisi air bersih berjejer rapi di sisi gudang. Hazard hampir tidak percaya, semua ini adalah hasil curian Furo.


"Semua bahan pangan berasal dari Paman. Ah, maksud saya orang sebelum Paman. Kami tidak tahu siapa orang itu, dari mana asalnya dan bagaimana caranya ia mendapatkan semua bahan pangan ini," tutur Hannah dengan wajah tersenyum.


"Kau tidak perlu khawatir. Bahan pangan di dapat berkat hasil kerja keras kami. Karena berlebih, kami memilih untuk memberikannya pada orang-orang yang lebih membutuhkan," dustanya, Hazard tidak bisa jujur. Orang baik seperti mereka akan sulit menerima barang curian, jadi lebih baik di rahasiakan saja.

__ADS_1


"Syukurlah, tidak ada yang dirugikan," Hannah tersenyum semakin cerah.


Lihat? Benar dugaan Hazard. Untung saja dirinya tidak jujur.


Mendadak dada sebelah kiri terasa nyeri. Hazard menekan rasa sakitnya perlahan. Sesak di dada mulai terasa, ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Wajah tenangnya berubah menjadi pucat, semakin sulit untuk bernapas.


"Sepertinya pengobatan dari Paman Albar tidak sempurna. Jangan sampai mereka mengetahuinya," pikir Hazard. Ia mengerahkan seluruh energi dalam diri untuk menutupi luka dalamnya. Tubuh Hazard kembali terlihat sehat.


Hannah berbalik, netranya memandangi Hazard cukup lama, "Apakah paman mendengar sesuatu tadi?"


"Mendengar apa? Tidak ada apa-apa, kok," ucap Hazard sambil tersenyum dibalik masker.


Mereka segera keluar dan menutup gudang dengan rapat.


...


"Rasanya tidak nyaman terus menumpang. Saya harus segera pergi dari sini."


Mereka semua ada di depan pintu rumah Walikota. Paman Albar berdiri sambil memeluk Masha, di sampingnya ada Hannah tersenyum simpul.


"Jangan lupa, jika Pangeran sudah menemukan Pangeran Harith. Beritahu saya," ucap Albar.


"Secepatnya akan saya beritahu Paman." Lagi-lagi Hazard tidak jujur karena masih banyak yang perlu ia selidiki dulu.


"Oh, Yang Mulia Ratu juga, temukan beliau Pangeran. Saya yakin beliau masih hidup," Albar.


Hazard tersenyum ringan, "Tentu saja, Paman." Kemudian berlutut di depan Masha, menatap intens, "Masha tak ingin ikut paman?"


Anak perempuan berkuncir dua itu menggeleng kemudian memeluk kaki Albar.


Semua orang yang ada di sana tertawa termasuk Hannah, tawa kecil tanpa terbahak. Sungguh anggun tampak seperti perempuan kebanyakan.


Hazard bangkit, ia mengambil setangkai bunga prup kecil dari kantong belakang miliknya.


"Paman—Ah! Maksudku Pangeran, ini bunga apa?" tanya Hannah penasaran sambil menerimanya dengan kedua tangan.


"Itu bunga spesial. Jangan sampai hilang, ok?"


Rona merah tampak jelas pada pipi. Hannah berusaha menyembunyikannya dengan menunduk, "Terima kasih, Pangeran."


Hazard tersenyum, "Kalau begitu saya pamit."


Hazard membungkuk sebagai tanda perpisahan, menyunggingkan senyum terakhir kali. Di perjalanannya menuju ke luar kota Mitri, ia menyempatkan diri untuk membungkuk beberapa kali, berpamitan pada setiap orang yang ada di sana. Dalam beberapa hari Hazard sudah sangat terkenal di sana. Semoga tidak berpengaruh buruk, karena saat ini Hazard memerlukan penyembuhan yang utuh dan sempurna. Ia membutuh waktu yang tidak sebentar.


🍂🍂🍂


Kota Reda.


Perjalanan yang begitu melelahkan. Yena berpamitan pada Panglima Eden dan Wakil Syamsir, sebelum akhirnya pulang dengan menunggang kuda dari Istana Raja Firan ke rumah orang tua. Ia mengikat kuda coklatnya pada tiang khusus—sebagai tempat mengikat kuda. Di halaman rumah yang masih berupa tanah kering, Adam bermain sendiri, mengumpulkan bebatuan berwarna putih di sekitar rumahnya.


"Adam!"


Senyum Yena tersungging. Ia berlari kemudian mendekap tubuh kecil Adam erat-erat.


"Uwaaa ... Nona! Adam enggak bisa napass!"


Seketika pelukan itu terlepas. Yena mengusak rambut ikal adiknya sembari sedikit menjitak. "Dasar! Masih saja manggil kakak begitu. Belajar dari mana sih?"


Adam cengengesan, kedua tangannya berada di atas kepala, "Ehehehe, Adam belajar dari Paman Eden. Katanya kalau panggil Kakak dengan sebutan Nona, Adam akan cepat besar. Adam juga pengen kayak Paman Eden."


"Terus kenapa waktu ada Paman Hazard manggilnya berubah jadi 'Kakak'?"


"Waktu itu 'kan Nona lagi kesel. Jadi aku panggil 'Kakak' biar Nona gak marah lagi, hehehe."

__ADS_1


"Ish, dasar anak ini." Gemas, Yena ingin sekali menjawil pipi Adam. Namun, tak jadi karena Adam menutupi kedua pipinya.


Yena terkekeh melihat ekspresi wajah Adam, sungguh lucu sekali. Membuat perasaannya jadi membaik.


"Oh ya, Adam. Tentang Paman Hazard. Bagaimana kabarnya? Dia masih sering main, kan?"


Air muka Adam berubah sedih, helaan napas terdengar jelas dari bibirnya. "Paman Hazard gak ada di rumah. Adam gak tau kenapa ...."


"Loh, sejak kapan gak ada di rumahnya?"


"Sejak Nona pergi kerja. Paman Hazard udah gak ada."


Yena mengerutkan alisnya. Mengapa bisa kebetulan seperti ini? Apa mungkin hanya kebetulan saja?


"Terus, sekarang gimana? Paman Hazard masih belum pulang?"


Adam menggeleng lemas. Napasnya terdengar tak bersemangat sama sekali.


Hebat, polanya sudah mulai terlihat. Yena bangkit dari berlutut. Untuk memperkuat dugaan, ia harus menyelidiki rumah Hazard sekarang juga.


"Nona mau ke mana?" Tiba-tiba Adam menarik celana hitam di atas lutut yang digunakan Yena. Raut wajahnya sedih tapi penasaran juga ingin tahu ke mana Yena akan pergi.


Yena berlutut kembali lalu mengelus pucuk kepala Adam dengan lembut. "Tunggu di sini. Nona mau ke rumah Paman Hazard dulu. Siapa tahu Paman sudah pulang."


"Adam mau ikut~"


"Jangan, Adam main aja di sini ya? Oh ... atau main saja dengan teman-teman. Kenapa Adam main sendiri?"


"Teman-teman udah di jemput. Soalnya udah sore, jadi harus mandi."


"Ya udah, Adam mandi juga. Masa mau tidur gak mandi? Ibu lagi masak 'kan sekarang?"


Adam mengangguk, masih dengan wajah merajuk. Akhirnya Yena memutuskan untuk mengantar Adam ke dalam rumah dulu.


Ceklek


Pintu rumah terbuka, Layha berlari kecil dari dapur ketika mendengar suara pintu terbuka.


"Aku pulang!"


Seketika senyuman lembut terukir jelas di sana. Layha menghampiri putrinya dengan riang.


"Gimana kerjaannya? Susah gak? Kata tetangga, Yang Mulia sedang memburu seorang pembunuh bayaran? Apa ya sebutannya?" tanya Layha sembari berlutut meraih Adam ke dalam dekapannya.


"Assasin, Bu."


"Ah, ya itu. Assasin. Gimana?"


"Kami gak berhasil menangkapnya, tapi kabar baiknya assasin itu terluka parah ketika melawan pengguna black magic."


"Black magic?"


"Iya, Bu. Memangnya kenapa?"


Layha mendadak muram. Cahaya kebahagiaan dari wajahnya bagai hilang di telan bumi. Ia bangkit dan berjalan ke belakang rumah tanpa sepatah katapun.


Yena segera menghentikan langkah ibunya dengan menjegal dari depan. "Ibu, kenapa? Ada apa dengan black magic?"


"Pokoknya kamu jangan terlalu dekat dengan mereka."


"Tidak, pasti ada yang ibu sembunyikan. Tolong beritahu aku, Bu."


Layha menghela napas, pandangannya tampak kosong, "Ceritanya panjang. Kamu akan membenci Yang Mulia jika mendengarnya."

__ADS_1


__ADS_2