ADURA

ADURA
Bagian 28: Takdir


__ADS_3

Baru kali ini ada yang berani menggandeng Hazard, oleh tangan seorang gadis pula. Hazard bukannya tidak suka, hanya saja berkat sentuhan tak terduga itu fokusnya mendadak goyah. Selama bergandengan detak jantungnya seperti terdengar sendiri. Garis merah muda terlukis samar pada wajah. Kesadarannya kembali ketika Yena berhenti berlari dan meremas kepala seperti orang gila.


Hazard mengerjap beberapa kali. Mereka berdua sudah benar-benar dikepung. Seorang penyihir hitam menepuk leher kuda tunggangannya untuk mendekat, penyihir yang pernah bertarung dengannya. Hanya ada satu cara agar mereka bisa selamat. Yaitu dengan cara...


"Maaf, Nona." Tanpa menunggu persetujuan, Hazard langsung memangku Yena. Melompat ke atap dan berlari sembari mengelak, menghindari bayangan hitam yang ingin menangkapnya.


Yena memeluk erat tengkuk Hazard, akibat anak panah hampir mengenai kepalanya. Hazard berlari zig-zag dari satu atap ke atap lain, beberapa kali menunduk untuk menghindari panah yang menyerbunya dari bawah.


"Nona, Anda membawa kuda?" tanya Hazard setelah berhasil kabur dari musuh.


"Ah, tentu! Kudaku di sebelah sana!" seru Yena, menunjuk ke kanan.


Tak sengaja, Hazard menginjak atap rapuh. Kakinya terperosok dengan punggung yang jatuh terlebih dahulu, menimbulkan bunyi gedebuk yang sangat keras. Tulang belakang serasa remuk, begitupun dengan perutnya, terasa ingin muntah berkat tekanan dari tubuh Yena. Kepala Hazard pening dengan telinga yang berdengung. Ia mengerjap-erjapkan mata, langit rumah yang bolong dan Yena yang memanggil-manggil tampak berputar-putar.


...


"Suaranya ada di sebelah sana. Ayo cepat! Jangan sampai mereka lolos!" Teriakan lantang seorang pria pada bawahannya. Mereka turun dari kuda, berjalan bersama ke arah rumah reyot.


...


Riuh tapal kuda semakin mendekat dan terhenti. Ringkikan kuda mengalihkan perhatian Yena. Terdengar pintu depan yang didobrak. Yena segara menyampirkan sebelah lengan Hazard pada pundak. "Tidak ada waktu, kita harus kabur!" pekiknya. Yena memaksa Hazard untuk berlari, beberapa pengawal berbaju besi mengejar mereka di belakang. Mereka keluar dari rumah lewat pintu belakang, lalu dihadapkan pada sebuah tembok—dari lumpur dan susu—berwarna putih kekuningan. Yena segera memanjat kemudian mengulurkan tangan untuk membantu Hazard.


Sebuah anak panah dari belakang hampir menembus lengan Hazard, tangannya terpeleset sampai badannya tergantung-gantung. Hazard mencengkram ujung tembok lagi, berusaha memanjat.


"Ayo, Naik!!!" Yena berteriak, segera menarik ikat pinggang Hazard hingga dirinya terjengkang kebelakang. Kantung dari ikat pinggang Hazard terlepas dan tergeletak di bawah lantai lumpur padat. Beruntung mereka jatuh di atas tumpukan pakan ternak—berupa daun-daun kecil, pipih, dan bulat dari pohon Akasia—yang sudah menguning.


Yena segera keluar dari sana, berlari sembari merapat pada Hazard. Membawanya hingga ke gudang tempat kudanya diikat.


Setelah masuk kedalam Yena segera menutup pintu gudang dengan rapat. Hazard menjatuhkan diri pada lantai kayu, beringsut ke sisi gudang sebelah kiri. Tangannya memegangi perut. Napas mereka berdua tampak berat, keringat panas membasahi pelipis.


Beberapa saat mengambil napas, Yena berjalan pelan menuju kudanya, meraih sebuah jubah dalam kantung besar—tersampir pada punggung kuda. "Ambil ini, kita harus segera pergi," ucap Yena seraya melempar jubah bertudung coklat kusam pada Hazard. Hazard menagkapnya tanpa kata. Yena mengambil jubah lain dan memakainya.

__ADS_1


Bunyi langkah kaki beberapa pengawal terdengar sangat jelas. Yena duduk di sisi lain bersama kudanya. "Sepertinya mereka mulai berpencar," bisik Yena, merapatkan diri ke dinding gudang.


Tiba-tiba pintu gudang terbuka lebar. Kedua bagian pintu menutupi mereka yang tengah bersembunyi. Seorang pengawal memasuki gudang tanpa melihat ke belakang.


"Satu orang. Aku bisa membuatnya pingsan," bisiknya pada diri sendiri. Hazard memakai tudung jubah. Ia berjalan mengendap kearah si pengawal, kemudian menyerang dari belakang, menekan lehernya menggunakan lengan hingga terjatuh pingsan.


Yena keluar dari balik pintu, menatap sesaat si pengawal yang tergeletak. "Ayo, pergi." ajak Yena. Dirinya keluar terlebih dahulu dengan Hazard mengekor dari belakang.


🍂🍂🍂


Yena akhirnya dapat kabur dari kota Mitri. Sementara si pria berpegangan pada pinggangnya. Yena memacu kuda untuk berlari secepat mungkin hingga bangunan kota semakin mengecil dan hilang.


Hari sudah gelap, bintang-bintang bertaburan di langit. Yena menurunkan masker kainnya lalu menepuk leher kuda untuk berjalan biasa. Sebuah pelukan dari pria di belakang sedikit membuatnya tidak nyaman. Yena menoleh, rupanya si pria telah tertidur di pundaknya.


Yena memutuskan untuk berkemah di tengah gurun, beberapa pohon kaktus tumbuh dengan acak di sekitarnya. Dirinya segera membangunkan pria di belakang. Pria itu ikut membantu Yena membuat tenda. Sayangnya Yena hanya membawa satu tenda.


...


Di dalam tenda dengan penerangan satu lentera. Hazard duduk dengan satu kaki di luruskan, sakit akibat terjatuh sudah mulai hilang. Tetapi, warna hitam aneh semakin menjalar pada kedua tangannya. Ketika kaos merah disingkap keatas, tanda lahir jadi terlihat jelas, kemerahan, dan tidak tersentuh oleh warna hitam pekat itu.


"Tidak perlu. Kau pakai saja dulu. Kita tidur bergantian untuk jaga-jaga jika ada yang mengejar sampai sini," tutur Hazard.


"Hn, oke."


Yena menghamparkan selimut di atas matras kemudian duduk pada selimutnya. "Kau masih kuat, kan?" tanya Yena, menatap jemari Hazard yang sudah benar-benar hitam. Begitupun pada lehernya.


"Kuat apa?"


"Warna hitam pada tubuhmu semakin menyebar."


Hening. Hazard tidak menjawab pertanyaan. Ia tampak menunduk seperti memikirkan sesuatu yang berat. Sedangkan Yena segera berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal. Mencoba tidur.

__ADS_1


Beberapa menit terlewat Hazard mulai bertanya, "Sebenarnya, mengapa kau membantuku?"


Tak ada jawaban, yang terlihat hanya selimut membungkus tubuh Yena. Mungkin Yena sudah tidur.


🍂🍂🍂


Suara bising dari lentera berhasil menyadarkan Yena dari tidurnya. Ia duduk, dan terbelalak saat mendapati Hazard meringkuk, tampak kesakitan. Lentera segera dijauhkan dari badannya, kemudian Yena membaringkannya jadi terlentang. Napas Hazard terputus-putus, dadanya naik turun seperti sedang diambang kematian.


"Astaga! Aku harus bagaimana?" Yena meremas.kepalanya lagi. Bingung harus melakukan apa.


Cahaya putih seketika menerawang di balik kaos merah Hazard. Ketika disingkapkan cahaya itu menghapus ingatan Yena, seakan pikirannya menjadi kosong. Kemudian muncul perintah dikepalanya untuk memeluk dan menyalurkan energinya pada Hazard.


Yena memangku Hazard di atas paha, kemudian mengelus pipinya lembut. Warna mata abu-abu Yena berkilat dan berubah menjadi ungu terang. Pertama kalinya energi alam terbangun dari tubuhnya. Bibir Yena terbuka, segera menarik masker Hazard dan membuangnya. Yena mencium Hazard dengan kedua netra yang tertutup.


Dibalik kerah pakaian Yena, menyala cahaya putih di sisi kiri pundaknya. Cahaya itu membetuk lingkaran spiral dan memanjang menjadi benang cahaya, kemudian menjalar pada bibir yang saling mengecup. Benang cahaya itu melanjutkan perjalanannya pada bibir Hazard, memecah aura hitam yang hampir menyelimuti seluruh tubuh Hazard. Perlahan, benang cahaya semakin masuk kedalam pakaian Hazard. Sementara tanda lahir yang ada di bawah pusar, bereaksi dan membentuk lingkaran spiral juga. Kemudian benang cahaya memanjang dari ujung lingkaran, saling bertemu dan mengikat di sekitar organ jantung Hazard.


Aura hitam itu hancur tampak seperti pecahan kaca yang berjatuhan lalu menyisakan kabut hitam dan hilang. Lambat laun, benang cahaya menyatu dan masuk pada kulit mereka, tapi tanda lahir tidak kembali pada bentuknya yang semula.


Ketika sadar, Yena menjatuhkab Hazard, keluar dari tenda. Wajahnya memerah semua, bahkan sampai ke telinga.


"Apa yang sudah kulakukan? Argh! Bodoh!" erang Yena, kemudian berjongkok dan memeluk kaki. Pipinya tampak semakin merah.


...


Tengah malam seperti ini tak ada angin yang berhembus kencang. Yena memutuskan untuk mencari kayu di sekitar pohon Akasia yang tumbuh dekat tendanya.


Tadi itu apa? Mengapa aku melakukan itu dengan orang sakit? Memalukan!


Seketika pipinya memerah lagi. Yena menggeleng, berusaha menghindari pikiran-pikiran aneh dengan terus berjaga, mengumpulkan kayu dan ranting untuk api unggun.


...

__ADS_1


Sementara di dalam tenda. Hazard terduduk setelah kejadian itu. Tubuhnya kembali sehat seperti sedia kala. Saat ciuman berlangsung, Hazard tak bisa berbuat banyak karena tubuhnya yang lemah, tapi kesadarannya tidak hilang. Hal itu menjadi pengalaman pertama baginya, cukup intim dengan seorang gadis. Tiba-tiba perasaan gerah menyerbu. Hazard langsung melepas jaket dan keluar dari dalam tenda.


Diluar ada Yena, terlihat menenteng ranting-ranting kering. Semburat kemerahan muncul dari pada keduanya.


__ADS_2