ADURA

ADURA
Bagian 30: Siasat Licik


__ADS_3

Hazard dan Yena duduk pada tangga rumah oase, kakinya berada di pasir berumput jarang. Terik mentari tak terlalu menyorot berkat awan yang menutupi, hawa lembab begitu kuat membelai kulit mereka, riak air danau bergulung menuju ke tepian. Cuaca yang sangat biasa terjadi di gurun ketika memasuki musim hujan.


"Kau menolongku karena tidak ingin menjadi pengawal raja lagi? Beri alasan kuat agar aku bisa percaya."


Kepala tertunduk dan bibir mengatup. Yena menatap jempol kaki, memaksa otak untuk mencari alasan.


"Dulu ... aku tidak suka bekerja padanya. Tapi, tak ada pilihan. Hidupku akan jauh lebih buruk jika tidak berusaha menjadi orang yang berguna untuknya," tutur Yena, terasa begitu jujur. Karena mungkin, ia mengutarakan perasaan terdalamnya.


Tatkala Yena menoleh, Hazard sedang menatapnya. Datar, namun dalam. Tatapan yang sulit sekali diartikan. Apakah itu tatapan simpati? sedih? terharu? atau curiga?


"Ada apa?"


Hazard menggeleng pelan. "Tidak, aku hanya sedang memperhatikanmu. Mungkin saja, kau berbohong?"


Bibir mengerucut dan alis bertaut. Jelas terlihat raut kesalnya. "Aku tidak berbohong."


"Sungguh?"


Tatapannya dialihkan, Yena tak sanggup melawan tatapan yang begitu dalam dan serius dari Hazard. Rasa-rasanya ada yang berdegup kencang dalam dada.


Sorot matanya beralih pada lengan Yena. Jemari Yena yang bertaut dengan lutut menjadi alasnya, terlihat kegelisahan yang kuat di sana. "Baiklah, aku percaya." Tersungging sebuah senyuman tipis dari Hazard dengan netra kembali menatap danau. Setidaknya Hazard sudah tahu apa yang harus dia lakukan setelah ini.


Sementara, di balik tumpukan pasir dan semak, seorang pemuda bermata biru langit pergi dari persembunyian. Dia Samper, jejak kakinya menunju kota Reda.


...


"Kau serius ingin bersekutu denganku?" tanya Hazard. Ia berdiri berhadap-hadapan dengan Yena, di tengah malam.


"Tentu, tapi aku harus mengamankan keluargaku dulu. Raja Firan, pasti, akan mengincar mereka sebagai sandera," tutur Yena berbohong. Dalam hati dia tertawa keras karena telah berhasil mengelabui si pembunuh. Bagaimana pun juga, Yena tidak ingin mengkhianati tuannya. Ia sudah bersumpah.


"Baiklah, nanti akan kukabari lewat gulungan. Balas jika kau sudah siap," jelas Hazard tanpa menampilkan ekspresi. Sedikit membahayakan bagi Yena, karena dia jadi kesulitan membaca perasaan lawan bicara. Padahal akan sangat membantu jika ia bisa mendeteksi emosinya.


Hazard berpamitan, lalu melesat bagai kilat. Kehadirannya sudah tak tampak lagi. Melihat dengan matanya sendiri, bulu kuduknya jadi meremang. Barang tentu Yena harus memberi tahu Sang Raja, karena akan sangat berguna sekali jika suatu saat Hazard melancarkan aksinya.


...


Di depan rumah ibunya, Yena mengetuk pintu tiga kali. Tapi, tak ada yang menyahut. Dia mengintip melalui jendela kayu dari celah-celahnya. Yang di dapat hanya kegelapan, terlihat tidak ada penghuninya. Ini aneh.


"Ibu! Aku pulang!" teriak Yena seraya menggedor-gedor pintu dengan keras. Raut khawatir tercetak jelas dari wajahnya.


Tanpa pikir panjang, Yena mengambil ancang-ancang, ditendangnya pintu hingga menimbulkan suara keras. Seketika pintu lepas dari engselnya. Menimbulkan bunyi gedebam!


"Ibu! Adam!" teriak Yena. Netranya beredar ke segala arah pada ruangan keluarga itu. Cahaya bulan menyorot lantai kayu dari balik pintu yang terbuka.

__ADS_1


Yena panik. Dirinya mendobrak pintu kamar Layha. Tapi, tak ada siapa pun. Beralih pada pintu kamar Adam, dan tidak ada juga, hanya selimut hijau lumut tampak berantakan dengan meja rendahnya terguling ke sisi kasur—seperti ada yang menendang. Kemudian Yena meremas kepala, kesal dengan pikiran negatif yang terus menerus menghantam kepalanya.


Terakhir, Yena pergi ke dapur. Sangat gelap sekali di sana. Yena kembali ke ruang keluarga, bermaksud mengambil lentara yang tergantung dan menyalakannya. Tak disangka seseorang dengan tangan berurat dan besar membekap mulutnya hingga sulit bernapas. Yena berontak, kedua tangannya di cengkram erat. Hingga warna hitam dari matanya naik keatas dan akhirnya pingsan.


🍂🍂🍂


Terdengar besi bergesekan dengan tanah, tawa beberapa pria menyadarkan Yena dari pingsan. Namun, sebuah kain menutupi kedua matanya. Semua terlihat hitam kecuali cahaya obor sedikit menyelinap dan menerangkan pandangan.


Yena menguping obrolan mereka dari kejauhan, tampak sedang membicarakan Sang Raja. Dan dia baru sadar tangannya diikat kebelakang. Lantai yang diduduki terasa kasar, di penuhi bebatuan kecil, atau sekadar tanah yang mengering.


Aroma tanah dan besi-besi tua tercium cukup jelas di sini. Yena beringsut menuju ke depan, kepalanya sampai terbentur jeruji besi tebal hingga menimbulkan bunyi teng!


Yena meringis dengan sedikit mengumpat. Bunyi sepatu besi mendekat kearah Yena, dirinya bisa mencium bau alkohol yang sangat pekat.


"Sebaiknya Anda diam. Yang Mulia sebentar lagi datang."


Suara seorang pria terdengar dari luar jeruji tua ini. Yena segera menengadah. "Siapa kau? Kenapa aku diperlakukan seperti ini?" pekiknya, dengan napas yang tak normal dan gigi bergemeretak. Marah.


"Tidak penting siapa saya, Lebih baik Anda duduk manis saja, Nona."


Suaranya terdengar jelas, seperti sejajar. Mungkin pria tersebut sedang berjongkok. Yena kesal mendengar perkataan pria itu, namun dari kejauhan fokusnya teralihkan akibat bunyi sepatu yang saling sahutan, dan pekikan seorang pria pada bawahannya, memerintah mereka untuk berbaris.


Tertangkap ketukan sepatu dengan alas kayu begitu mulus, beberapa orang berjalan menuju posisi Yena sekarang. Seketika penutup mata di tarik hingga terlepas.


Tunggu, Sameer?


"Kau pasti bertanya-tanya mengapa temanmu bisa ada di sini, bukan?" Raja Firan menepuk punggung Sameer, "tentu saja karena dia bekerja padaku. Aku menugaskannya untuk mengawasimu dan orang-orang di sekitarmu." Lanjutnya tersenyum dengan dagu terangkat ke atas.


"Tapi, saya bukan pengkhianat," elaknya. Kepalan tangan mengeras hingga buku-bukunya memutih. Menatap tajam pada Sang Raja.


"Memang sekarang kau belum berkhianat. Bahkan setelah melihat ingatanmu, Penasihat Zain berkata kau tidak ada keinginan untuk berkhianat. Sungguh aku tersanjung," tutur Sang Raja seraya berlutut di hadapan Yena. Lengannya menelusup pada celah jeruji, mencengkram dagu Yena, mereka pun bertemu pandang.


"Tidak ada yang bisa memastikan apakah kau akan setia sampai akhir atau tidak, selepas hubunganmu dengan musuh menjadi lebih dekat. Apa kau pikir aku akan membiarkannya?"


Raja Firan melepas cengkraman dengan kasar. Bangkit kembali lalu berjalan keluar. Sameer dan Eden mengikutinya dari belakang, meninggal Yena di dalam. Sungguh, Yena bisa kecolongan seperti ini merupakan hal yang sangat memalukan. Belum lagi, ibunya dan Adam mendadak hilang. Jangan bilang Raja Firan yang menyandera mereka.


"Kau tidak perlu khawatir. Keluargamu aman dalam pengawasan Sang Raja."


Yena lekas menatap pada seorang pria kekar di samping jeruji. Pria kekar itu tampak menyeringai. "Bersyukurlah, setidaknya keluargamu baik-baik saja sekarang."


"Mereka di mana?"


Pria itu tak menghiraukan Yena, ia pergi tanpa kata, melewati para pengawal yang sedang bermain permainan bodoh—Adu Panco tanpa taruhan.

__ADS_1


Yena menggigit bibir. Dirinya tak bisa berbuat apa-apa, lagi. Pedangnya pun sudah tak ada, Sang Raja sudah pasti mengambilnya. Sakit dalam dada mulai terasa. Percuma telah setia, jika pada akhirnya akan di buang jua.


Sekarang, aku harus bagaimana?


Pikirnya seraya menunduk dengan mata terpejam. Dia jadi teringat si pembunuh gurun, begitu dekat dengannya, namun Yena baru menyadari. Seketika senyuman remeh mengembang, ia sempat berpikir akan diselamatkan oleh Hazard. Sungguh pemikiran yang sangat naif.


🍂🍂🍂


"Kerjamu bagus, Sameer. Tidakkah kau ingin menggantikan posisi Yena?" tanya Sang Raja, mereka bertiga masih berada di lorong tangga menuju ke atas.


"Menjadi Pengawal Anda?"


"Aku tidak akan memaksa. Lagi pula, kau masih memiliki seseorang yang harus dijaga, bukan?"


"I-iya ... Yang Mulia."


Eden memperhatikan gerak-gerik Sameer. Ketika dipancing dengan sesuatu yang harus 'dijaga' kepribadiannya seketika berubah. Berbagai perasaan tergambar jelas dari lirikan mata dan raut wajahnya. Seorang assassin yang baru pertama kali ia lihat ini sepertinya menyembunyikan sesuatu. Haruskah Eden menyelidikinya?


Mereka bertiga keluar dari lorong bawah tanah. Kanan dan kirinya ada dua pengawal berjaga di ujung lorong.


Sang Raja menoleh, menatap Sameer. "Ah, bagaimana dengan persediaan topeng Buno milikmu. Apa masih banyak?"


"Yang Mulia tidak perlu khawatir, saya belum kekurangan apapun."


"Bagus, jika persediaanmu menipis, katakan saja. Penasihat Zain akan segera memberikan topeng yang baru untukmu."


"Saya mengerti, Yang Mulia," ucapnya sembari menunduk hormat.


Sudut bibir Sang Raja tersungging ke atas. Ia segera pergi bersama Eden.


...


Sameer termenung dalam perjalanan. Unta tunggangan berjalan santai hingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Hari sudah gelap, ia harus secepatnya sampai di kota Dokka. Kota tempatnya berpulang.


Kau masih memiliki seseorang yang harus dijaga, bukan?


Pertanyaan itu masih terngiang-ngiang dalam benaknya. Bukan karena Sameer merasa terbebani, hanya saja pertanyaannya begitu mengerikan. kelemahan seorang Sameer benar-benar di genggam erat oleh Sang Raja.


Dalam saku jaketnya, Sameer mengeluarkan sebuah kalung berbandul perak dengan bentuk matahari. Terdapat permata indah pada tengahnya memancarkan cahaya rembulan.


Kepalan tangan mengerat, kalung tersebut merupakan benda yang sangat berharga bagi Sameer. Merupakan penghubungnya dengan seseorang yang harus 'dijaga'. "Sebentar lagi, hanya sampai urusan ini selesai kita bisa bersama-sama lagi," gumamnya, pandangannya berubah sendu, penuh kerinduan yang amat jelas terpatri di sana.


.

__ADS_1


Topeng Buno, berwarna putih bersih, merupakan topeng menyamaran yang diciptakan oleh Zain, campuran dari kuku manusia dan berbagai macam bahan lainnya. Topeng Buno hanya bisa dipakai satu kali. Setelah lepas, topeng itu langsung menjadi abu.


__ADS_2