ADURA

ADURA
Bagian 24: Alkemis


__ADS_3

Tetes air dari langit-langit gua membuat gema berulang di dalamnya. Ada tetesan yang jatuh pada lantai gua yang berbentuk tonjolan bebatuan, ada pun tetesan yang jatuh tepat pada danau dengan kilau hijau kebiruan. Penerangannya cukup bagus akibat mulut gua yang melebar dan tinggi menjulang.


Di dalam, ada Hazard yang sedang duduk bersila dan bertelanjang dada. Kedua netranya terpejam dengan punggung dan telapak tangan yang saling bertaut. Tetes air jatuh mengenai bahu Hazard, matanya terbuka perlahan dengan warna ungu terang yang sangat menyilaukan. Hazard segera memuntahkan cairan hitam pekat pada batu yang didudukinya ke samping. Kegiatan meditasi berhasil, energi hitam keluar dengan sendirinya dalam tubuh Hazard.


Setelah memuntahkan cukup banyak cairan pekat, badannya sangat lelah. Namun, seluruh tubuh jadi terasa lebih ringan. Hazard mengusap bibir dengan punggung tangan, kepalanya sedikit pening ketika memaksakan diri untuk bangkit.


"Shhh ... harusnya jangan berdiri dulu." Hazard meringis seraya memijat pelipis. Dirinya segera mengambil pakaian yang disimpan pada batu stalakmit berujung pipih. Lantas memakainya seperti semula. Syal merah dan kain turban segera dililitkan pada leher dan dahi Hazard. Kecuali masker, Hazard tidak memakainya jika sedang berada di Middle Earth.


"Bagaimana meditasinya, Pangeran? Berhasil, kah?"


Suara elves gadis terdengar menggema, ia berjalan telanjang kaki ke dalam, melewati lantai gua yang dialiri air danau. Elves itu memiliki lingkar pinggang kecil dengan pakaian dari kulit hewan. Rambut biru navy-nya yang panjang diikat seperti ekor kuda. Ciri fisiknya tidak jauh berbeda dengan elves lain, perbedaan hanya ada pada flek di sekitar mata. Flek tersebut berwarna hitam tidak seperti Sang Ratu atau pun Pangeran Vrede.


"Seperti yang kau lihat, aku berhasil memuntahkan sesuatu berwarna hitam," jawab Hazard, garis matanya mendapati si gadis berjalan menghampiri, terlihat penasaran dengan muntahan hitam pekat yang menempel pada batu.


"Aku harus melihat lebih dekat," ucap si gadis. Dirinya melangkah lebar, menyenggol Hazard menuju muntahan hitam. Ia mengambil sempel muntahan dengan kapas yang dibawa dari rumah kemudian masukannya ke botol kaca kuno—berisi cairan bening—terikat pada pinggang. Gadis itu langsung menutup botol dengan tutup kayu agar aromanya yang busuk tidak merebak ke mana-mana.


"Kau aneh," cerca Hazard.


Tatapan tajam segera dijatuhkan, gadis itu bangkit, langsung menendang tulang kering Hazard membuatnya mengaduh sakit dan jatuh berlutut.


"Aww ... sakit ... kau tega sekali memperlakukan seorang Pangeran seperti ini," kelakarnya.


"Oh, aku pikir kau pantas diperlakukan begitu," sindirnya, gadis itu melenggang pergi setelah melakukan kekerasan terhadap Pangeran Ukheil.


"Tunggu, Arum! Kau sudah tidak sopan padaku!" teriak Hazard, berjalan dengan tertatih-tatih berkat tendangan gadis bernama Arum, cukup kuat dan menyakitkan.


Arum tak memedulikan panggilan Hazard, ia terus berjalan menyusuri hutan, mengikuti jalan setapak yang sudah dibuat oleh para peri pekerja.


"Kau mau apa 'kan cairan itu?" tanya Hazard. Kakinya sudah tidak pincang lagi.


"Kau pikir mau aku apa, kan?"


"Ah, Paman Agail yang menyuruhmu?"


"Begitulah, Guruku ingin meneliti energi hitam ini. Beliau tidak percaya seorang dwaft mampu membuat obat penawar seperti cairan yang kau bawa kemarin."


"Maksudmu air rebusan Ametis?"


"Uh'um."


Setelah percakapan itu tak ada yang memulai obrolan. Hingga sampailah mereka di rumah pohon seorang Alkemis bernama Quassir'agail. Ada beberapa bagian rumah pohon yang menempel terpisah, disambung oleh tangga kayu yang dipasang melingkari pohon. Tujuannya agar lebih mudah berpindah ruang.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Quassir'agail, guru dari Quassir'arum membuka pintu kayu. Ia segera menghampiri mereka.


"Bagaimana, Pangeran? Sudah baikan?" tanya Agail, tersenyum ramah. Namun, pada setiap detail wajahnya tidak tampak menua sama sekali. Agail juga, termasuk Alkemis yang sudah berpengalaman dan hidup lebih lama dari Hazard. Dirinya mengenakan jubah berwarna coklat bercorak pagar kayu, melingkar di sekitar lengan.


"Saya sudah melakukan meditasi, sesuai dengan apa yang Paman katakan. Sempelnya ada di Arum."


"Ini, Guru." Arum memberikan sempel dengan kedua tangan. Sedikit membungkuk agar terlihat lebih sopan.


Agail menerima sempel dengan senang hati, rambutnya yang putih tak diikat menjuntai ketika dirinya sedikit membungkuk. "Baiklah, terima kasih Arum. Kau boleh pergi, aku ada urusan dengan Pangeran Hazard."


Arum menatap Hazard, alisnya berkerut agak kesal. Ia ingin protes pada gurunya. "Guru, izinkan saya membantu."


"Kau ingin membantu? Membantu apa?"


"Tentang penelitian itu, saya ingin—"


"Arum ... kau itu perempuan sementara Pangeran Hazard laki-laki. Apa kau melupakan Batasan-Batasan Bangsa Elves?"


"Itu ...."


"Batasan-Batasan Bangsa Elves untuk Para Pemuda dan Pemudi. Pasal 2 ayat 1 berbunyi—"


"Maaaaaf!" Arum memekik. Lengkingan suaranya hampir memecahkan gendang telinga Hazard. Saat itu Hazard menjauh selangkah lebih lebar, kupingnya terasa berdenging hampir tuli. Begitu pula dengan Agail, tersenyum paksa untuk menyembunyikan rasa ingin marah.


"Saya permisi!" Arum melesat, langsung menghilang seperti angin. Padahal dirinya hanya berlari.


Agail tersenyum memohon maklum pada Hazard, ia berkata, "Maafkan anak didik saya, Pangeran. Ia masih gadis dan sangat polos. Belum pernah sekalipun berteman dengan laki-laki kecuali ayahnya dan saya, gurunya."


"Tidak masalah, Paman. Saya mengerti," balas Hazard, garis matanya membentuk bulan sabit.


"Syukurlah. Kalau begitu, Mari Pangeran. Penelitian ini tidak akan berhasil jika Pangeran tidak ikut membantu saya." Agail segera membuka pintu rumahnya yang berada tepat di atas tanah—tidak seperti rumah pohon kebanyakan yang ada di atas pohon.


"Baiklah, saya sudah tidak sabar," balasnya. Hazard segera masuk ke rumah Paman Agail sesuai permintaan.


Di dalam rumah, banyak perabotan yang sama sekali Hazard tidak tahu. Padahal baru lantai satu, tapi sudah disuguhkan benda-benda unik. Seperti pada rak kayu berwarna coklat gelap, banyak sekali botol-botol kaca berbagai bentuk berjejer rapih. Ada yang berisi cairan berwarna, ada pun yang tidak. Selain itu, di tengah ruangan, ada bangkai kayu hasil pembakaran membentuk lingkaran. Di atasnya ada sebuah panci beralas cembung tergantung tepat di bawah bangkai itu.


Agail sendiri berjalan menuju meja yang melingkar di sudut ruangan. Di atas meja terdapat botol-botol kaca berbagai ukuran serta tumpukan buku yang sama sekali Hazard tidak tahu isinya.


"Pangeran, tolong duduk sebentar. Saya akan memindahkan sempel dulu," pinta Agail dengan sopan. Ia menatap sebuah bangku kayu tanpa sandaran di sampingnya.


Sesuai permintaan, Hazard duduk dengan tenang di samping meja-meja tinggi tersebut. Dirinya tidak mengerti apa yang sedang di lakukan Agail, yang jelas sempel itu sudah dipindahkan ke dalam panci cembung tadi lalu Agail menyalakan api dengan sebuah batu yang di lempar ke dalam bekas pembakaran.

__ADS_1


Bara api berkobar-kobar menghangatkan tubuh Hazard yang sempat kedinginan setelah bermeditasi di dalam gua. Hazard menggosok-gosok tubuhnya sendiri agar kehangatan dari api merata. Yang dilakukan Agail seperti sihir dan dapat di pelajari. Andai Hazard bukanlah seorang Pangeran, mungkin ia ingin menjadi seorang Alkemis juga.


"Permisi, Pangeran."


Mendadak Agail meraih pergelangan tangan kanan Hazard, ia membawa pisau sekecil telunjuk lalu menyayatkannya pada lengan dalam Hazard. Seketika darah segar mengalir keluar secara perlahan—Hazard tidak berekspresi karena sudah terbiasa dengan darah, hanya sedikit meringis akibat rasa sayatannya. Agail berjalan kembali pada meja sambil membawa kain putih lembut—di simpan pada lengan, kapas, dan botol berisi cairan bening. Ia menyerap darah segar dari lengan Hazard dengan kapas kemudian memasukannya ke dalam botol.


"Ambil ini, Pangeran, untuk menutup lukanya," pinta Agail sembari menyodorkan kain lembut pada Hazard.


Segera, kain itu diambil. Hazard melilitkan langsung pada lengan dan mengikatnya. Ia menyunggingkan senyum menatap Agail. "Terima kasih."


Agail berjalan setelah membalas ucapan Hazard dengan senyum tipisnya. Ia kembali ke meja dan mulai meramu.


Sekitar 30 menit mereka saling diam. Hazard sedikit ragu untuk berbicara. Dirinya menatap kosong pada bara api.


"Jika ada yang ingin Pangeran tanyakan, katakan saja. Saya akan menjawab pertanyaan Anda seakurat mungkin," tutur Agail membuka percakapan.


Hazard melirik ke arah Agail yang sedang meramu. "Berapa lama proses penelitiannya? Rasanya bosan harus menunggu begitu lama."


Agail tersenyum sembari mengusap kedua tangannya dengan kain yang sudah tersedia di samping meja. "Sebenarnya, Pangeran tidak perlu menunggu lagi, karena penelitian yang saya lakukan akan memakan waktu cukup banyak. Saya hanya menunggu Pangeran untuk bertanya."


Mendengar hal tersebut Hazard segara bangkit, menatap Agail. "Soal itu, saya kehabisan pil hijau, Paman. Apa Paman masih membuatnya?"


"Tentu saja, masih. Tunggu sebentar." Agail berjalan menuju rak coklat. Dirinya mengambil sebuah keranjang kecil di atas rak, kemudian berjalan menghampiri Hazard dan membuka tutupnya. "Ambillah sebanyak yang Pangeran mau, saya bisa membuatnya kembali jika Pangeran membutuhkannya. Tapi, saya harap Pangeran dapat menggunakannya secara bijak. Karena pil ini cukup berbahaya jika dikonsumsi terlalu banyak."


"Tentu, Paman tidak perlu khawatir," jawab Hazard, segera mengambil beberapa lalu menggeser kantong dari belakang tubuhnya kesamping, kemudian memasukkan pil tersebut dan menggesernya kembali pada posisi semula.


"Terima kasih, Paman. Saya harus pergi sekarang. Ratu Tel'onera pasti sedang menunggu saya," jelas Hazard sembari berjalan mundur kemudian membuka pintu dan melambaikan tangan.


Agail sekadar tersenyum dan melambai pelan. Dirinya berucap, "Ya, hati-hati, Pangeran."


Hazard berlari setelah keluar dari rumah Agail, hampir saja menginjak ular hitam yang sedang menjalar di bawah tanah.


"Oh, ya ampun ...," gumam Hazard. Dirinya melangkah lebar dan berlari setelah melewati ular tersebut.


Dalam perjalanan, Hazard melihat Furo sebagai guru pelatih bagi Animal Elves lain. Mereka tampak duduk di sebuah batu besar dekat air terjun dan bermeditasi di sana. Melihat itu, Hazard tak kuasa untuk tidak tersenyum. Rasa bahagia dan bangga menyelimuti hatinya. Perlahan tapi pasti, rakyatnya mulai sadar bahwa menjaga Ukheil bukan sekadar tugas elves petarung saja, namun rakyatnya juga perlu ikut serta dalam menjaga tempat tinggalnya. Tentu saja, demi kedamaian dan kenyamanan bersama.


.


Ket:


Stalakmit, batuan yang terbentuk di lantai gua, hasil dari tetesan air dari langit-langit gua, letaknya ada dibawah lantai gua. 

__ADS_1


Alkemis, ahli kimia.


__ADS_2