ADURA

ADURA
Bagian 22. Firan


__ADS_3

Yena dan Eden, telah sampai di depan pintu ruang kerja Sang Raja. Ada dua pengawal yang menjaga pintu. Yena baru sadar, ukiran-ukiran indah menghiasi pintu, bercorak daun dan ranting layaknya lambang Kerajaan.


"Maaf, Tuan Panglima. Anda tidak diizinkan masuk," ucap salah satu pengawal dengan intonasi yang jelas. Pedang bergagang perak mereka silangkan.


Langkah Eden terhenti di depan pintu, ia berkata, "Masuklah, Yang Mulia menunggumu di dalam."


Yena menggangguk, kemudian senyum sesaat. Sedangkan Eden melangkah mundur membiarkan Yena masuk sendirian. Sebelum masuk, pengawal segera mengetuk pintu.


"Yang Mulia. Nona Yena sudah menunggu di depan."


Satu menit, dua menit, tiga menit, tidak ada jawaban. Yena dan Eden mulai heran, tidak biasanya Raja Firan seperti ini.


"Yang Mulia?" Panggil si pengawal mengeraskan suaranya sambil mengetuk pintu kembali.


Pintu seketika terbuka, memperlihatkan Yang Mulia Firan dengan jubah berwarna putih bercorak garis-garis simetris. Garis matanya menatap Yena lekat.


"Masuklah."


Tenggorokan Yena tiba-tiba mengering, perasaan gugup mulai menjajah seluruh tubuhnya. Yena mengekor Sang Raja, masuk ke dalam ruang kerja.


Sang Raja duduk pada kursi perak dengan kondisi ruang kerja yang masih sama. Kebanyakan perabotan yang tersimpan hanya buku-buku dengan rak dan beberapa lemari panjang ber laci banyak. Sedangkan Yena berdiri menunggu Raja berbicara.


"Aku ingin bertanya sekali lagi padamu tentang Informasi si Pembunuh Gurun."


Yena menatap ujung sepatu kain dengan alas kayu berwarna hitam. Susah sekali menyembunyikan rahasia pada Sang Raja. Netranya berusaha memandang dengan percaya diri. "Maaf, Yang Mulia. Tetapi, semua informasi tentang pembunuh gurun sudah saya laporkan kepada Anda."


Nampak jelas, Sang Raja menyunggingkan senyum tipis sekali. Hampir tak terlihat berkat tangannya yang menopang pipi. "Baguslah. Kebetulan ada satu tugas untukmu, tapi tidak ada hubungannya dengan misimu yang sekarang."


Yena menajamkan pendengaran, badannya menjadi lebih tegap secara otomatis.


Posisi duduk Sang Raja menjadi tegak, menatap serius lawan bicaranya. "Tugasmu kali ini, melatih para calon prajurit menggantikan Wakil Syamsir."


"Bukankah Yang Mulia sedang mencari seseorang untuk menggantikan posisi Guru Danma?"


Raja Firan menggeleng seraya berkata, "Belum ada yang memenuhi syarat sebagai pelatih para calon. Sedangkan Wakil Syamsir sementara kutugaskan, memimpin pasukan di garda depan untuk mengawasi Kerajaan-Kerajaan yang ada di Negeri Tropis. Eden tidak mungkin menggantikan Wakil Syamsir, dia ada misi denganku. Jadi, hanya kau yang bisa kuandalkan."


"Bolehkah saya tahu, misi seperti apa yang sedang Yang Mulia kerjakan dengan Panglima Eden?"


"Kerajaan kecil dekat gunung batu Sibya, kau masih ingat Kerajaan itu?"


Alis Yena berkerut, mencoba mengingatnya. "Ah ya, saya masih ingat, Yang Mulia. Ada apa dengan kerajaan tersebut?"


Sang Raja menyeringai, iris orennya seketika berkilat. "Aku ingin menghapus simbol kerajaannya dari peta."


"Ap—maksud saya, bukankah mereka tidak pernah menentang Anda, Yang Mulia?" tanya Yena sedikit tergagap. Rasanya seperti mendapat kejutan secara langsung dari Sang Raja.


Raja Firan bangkit dari duduknya, berjalan menatap jendela bergorden kuning. Senyumnya mengembang, "Hanya ada satu Kerajaan yang boleh berdiri di Negeri Pasir, yaitu Kerajaan Altair. Aku tahu mereka tidak berniat untuk membelot. Tapi, kehadirannya membuat posisiku tidak absolut."


"Tapi, Yang Mulia ...."


"Kau tidak perlu khawatir. Soal rumor yang akan menyebar nanti, sudah ada yang mengurusnya."


Tidak! Bukan itu. Apa yang ingin Yena tanyakan berbeda dengan jawaban Sang Raja. Namun, Yena tidak mampu menyela. Ketika Sang Raja sudah berkehendak, tidak ada yang bisa mencegahnya.

__ADS_1


"Baiklah, Yang Mulia. Saya siap menerima tugas apapun," ucap Yena akhirnya. 


"Bagus, besok pagi ... kau harus ada di Istana. Jangan sampai terlambat."


"Baik, Yang Mulia."


Yena izin undur diri dari ruangan. Kini tinggal Raja Firan, sendirian di dalam.


Jemari kokoh Sang Raja menyingkap gorden, memandangi setiap orang yang berlalu lalang di bawah. Yena sudah terlihat jelas dari atas, sedang berjalan bersama Eden.


"Ekspresi wajahnya mulai berubah. Aku yakin ada yang dia sembunyikan dariku."


Raja Firan menutup gorden dengan keras. Dirinya segera memanggil pengawal yang ada di depan pintu dengan lantang, "Pengawal! Pengawal! Cepat kemari!"


Mendengar seruan Sang Raja, seorang pengawal memasuki ruangan dengan ekspresi wajah ketakutan, "A-ada apa Yang Mulia?"


Sang Raja mengambil sebuah gulungan dari meja kerja, menyodorkannya pada pengawal, "Ambil ini, berikan pada seorang assasin bernama 'Sameer dari kota Dokka'. Ingat! Jangan sampai ada seorang pun yang tahu tentang hal ini. Pakailah elang khusus untuk mengirim gulungannya."


"Ba-baik, Yang Mulia. Akan segera saya kirimkan."


Si pengawal meraih gulungan lalu membungkuk dan segera keluar dari sana. Seketika itu tawa keras menggema di sekitar ruangan. Dua pengawal yang mendengar, bulu kuduknya langsung berdiri. Mereka sudah sering mendengar tawa Yang Mulia Firan. Hanya mereka berdua yang tahu.


🍂🍂🍂


Warna senja mewarnai langit sore hampir separuhnya. Hewan nokturnal bersiap menjalani aktivitas mereka. Hazard sendiri sudah berdiri tepat di mulut gua, tempatnya membuka portal pintu.


Ia segera masuk ke dalam portal setelah pintu selesai di buat. Awal memasukinya, pintu itu membawa Hazard ke sebuah gua yang sangat gelap, penerangan hanya dari obor yang tergantung dari sisi gua. Sepatu kainnya menapaki tanah basah di bawah.


Secercah cahaya yang menyilaukan mulai masuk, menerobos gua. Hazard terus berjalan sembari menghalau wajahnya dengan kedua tangan.


Semakin maju kedepan, rupanya gua yang Hazard masuki berada di kaki gunung terendah. Sekitar 800 meter di atas permukaan laut.


Dari sini, Hazard bisa melihat dengan mudah, hutan yang masih asri. Gunung-gunung menjulang tinggi lebih dari 3000 meter. Serta lautan yang terhampar luas bagai menyentuh ujung bumi.


Dari kejauhan seekor burung Garuda terbang mendekat. Terlihat peri laki-laki, dengan pakaian dari daun berwarna hijau menunggangi sang Garuda. Rambutnya berwarna putih dengan beberapa helai hijau pada poninya. 


Hazard mundur beberapa langkah dengan menutupi wajah saat sang Garuda ingin lepas landas. Kibasan sayap raksasanya membuat debu di sekitar kaki gunung beterbangan.


"Pangeran Hazard!" seru peri laki-laki, dirinya segera turun dan berlari kemudian membungkuk hormat. "Hormat saya Pangeran."


Hazard melipat tangan melihat tingkah peri tersebut, menghela napas, "Ori, aku sudah bilang padamu, tidak perlu memberi hormat."


"Ehehe, maaf Pangeran. Sudah kebiasaan," ujar Ori, menampakan giginya yang berderet rapih.


"Ya sudahlah. Ayo naik." Hazard segera menunggangi burung raksasa tersebut. Namun, Ori justru diam saja.


"Kenapa diam? Cepat naik."


"Itu ... saya ... terbang sendiri saja Pangeran. Saya 'kan memiliki sayap juga," tutur Ori sembari mengepakkan sayapnya yang serupa capung dengan ujung runcing.


Alis Hazard mencuat, tertawa setelah mendengar ucapan Ori, "Kau serius? Kau itu peri bukan elves bersayap burung. Ayo cepat naik, aku sedang buru-buru."


"Ta-tapi ...."

__ADS_1


Hazard menghela napas untuk yang kedua kali. Dirinya melompat turun kemudian menjitak kepala Ori cukup keras. 


"Awww... Pangerannn ...." Matanya memelas dengan binar emerald pada irisnya. Kedua tangan melindungi kepala, takut di jitak lagi.


"Jangan ngeyel. Kalau kau memaksakan diri dari ketinggian seperti ini. Sayapmu akan terluka, dan kau tidak akan bisa terbang selamanya, mau?"


"Ti-tidak Pangeran ...." Ori bergidik mendengar kata 'selamanya'. Selama ini ia pikir hal itu sekadar lelucon dari orang tuanya. Justru sekarang Ori mendengarnya langsung dari Pangeran Hazard. Itu artinya orang tua Ori tidak berbohong.


"Nah, makanya, ayo naik. Jangan menyia-nyiakan waktu."


"Baik, Pangeran." Ori segera menaiki sang Garuda. Hazard mengikutinya dari belakang.


Garuda ngibaskan sayapnya, langsung terbang tanpa ancang-ancang. Ori sudah mahir mengendalikan Garuda, itu sebabnya Hazard tak ingin mengendalikannya sendirian. Lagi pula, Hazard belum belajar mengendalikan Burung Garuda. Ia tak berani sendiri. Sssstt, ini rahasia antara Hazard dan Kakek Vrede, Nenek Onera pun tidak tahu mengenai hal ini. Hehehe. 


Ah, Hazard hampir lupa menikmati pemandangan dari atas, sangat indah sekali. Namun, mereka harus berjaga-jaga, tetap terbang rendah karena 1000 meter keatas adalah daerah para Naga.


Sang Garuda sampai di pos pengawas yang menjulang melebihi tinggi pohon-pohon di Ukheil. Garuda mendarat pada papan khusus dengan penyangga pohon jati di bawahnya. Hazard melompat turun lebih dulu di ikuti Ori setelahnya. 


"Setelah ini, Pangeran mau kemana?"


"Aku sedang buru-buru, Ori. Ingin—"


"Oh iya, beberapa hari yang lalu Furo juga pulang. Aku merasa aneh melihat dirinya yang sekarang. Dulu ia masih bermain lempar lembing denganku. Ah, sungguh kenangan yang indah." Ori mengenang masa lalu tanpa memperhatikan Hazard yang telah dipotong perkataannya.


"Tadi, Pangeran mau bilang apa?" 


Hazard menatap wajah tak berdosa Ori. Meski sudah biasa diperlakukan begitu, tetap saja rasanya kesal.


"Entahlah, aku lupa ingin bilang apa," ucap Hazard, dirinya segera menuruni tangga kayu.


Ori mengikuti Hazard dengan terbang mengelilinginya. Ia tak ada habisnya mengoceh. Entah apa yang dibahas, Hazard malas menanggapi.


"Oh iya, Pangeran. Saya dapat kabar dari Peri Bunga, katanya Pangeran Ruar'vrede sempat terbangun dari tidurnya."


Hazard mencoba mendengarkan ocehan Ori kali ini, "Teruskan ...."


"Terus?"


"Teruskan ceritamu," jelas Hazard. Tangan dan kaki masih mencoba turun hingga ke dasar hutan. Para elves mulai terlihat berlalu lalang di atas pohon rimbun, mereka menunggang elang sambil membawa benih bahan makanan.


"Eh? Saya belum mencari tahu lagi. Tapi, menurut kabar yang terdengar. Pangeran Ruar'vrede menulis sebuah pesan penting untuk Pangeran Hazard. Saya tidak tahu apa isi pesannya."


Akhirnya Hazard sampai di dasar. Alas kakinya memijak rumput lalu mempercepat langkah.


"Dah, Pangeran. Semoga berhasil." Ori melambaikan tangan. Di balas sekali lambaian oleh Hazard. Ia sungguh penasaran dengan kebenaran informasi dari Ori. Semoga bukan informasi palsu.


"Kakek, semoga kau baik-baik saja," gumam Hazard. Kakinya melangkah cepat menuju pemukiman. 


"Ouch, sial!"


Hazard tumbang, dadanya mulai terasa nyeri kembali. Ternyata energi alam dalam dirinya sudah hampir habis. Hazard tak bisa menggunakannya lagi untuk menghentikan luka dalam yang terus menjalar. Ia berusaha bangkit, karena pemukiman tempat para elves dan peri masih cukup jauh. 


Semakin sesak, napasnya menjadi semakin pendek. Ia mulai kesulitan mengenali benda di sekitar. 

__ADS_1


Tidak, jangan lagi...


__ADS_2