
Malam yang sangat dingin. Sudah menjadi hal lumrah di Negeri Pasir. Tidak pula menyurutkan para penjahat kelamin untuk mencari kesenangan di malam hari. Hal seperti itu cukup terorganisir di kota ini. Kota Dellena.
Banyak penyamun menjual budaknya kepada pemilik penginapan, di sana mereka dipekerjakan sebagai kupu-kupu malam—sebutan untuk para pria mau pun wanita yang menjajakan diri kepada orang-orang berduit selama satu malam.
Kebanyakan budak yang dibawa oleh para penyamun merupakan orang-orang yang terdampar di tengah gurun. Setelah tertangkap, jika budak itu berparas cantik atau tampan, mereka akan segera dijual kepada para pemilik penginapan. Sedangkan mereka yang memiliki paras biasa saja bahkan jelek akan dijual dengan harga murah pada orang yang membutuhkan mereka—kebanyakan mereka bernasib malang, ada yang meninggal karena dipekerjakan paksa oleh majikannya.
Bagi manusia seperti mereka hukum kerajaan sama sekali tidak berarti. Karena Sang Raja sendiri melegalkan kegiatan tersebut. Sehingga banyak kota di beberapa wilayah menjadi tak berpenghuni akibat ulah Sang Raja Firan. Raja terburuk sepanjang sejarah berdirinya Kerajaan Altair.
Sudah banyak kerajaan-kerajaan yang menentang perbuatan tidak manusiawi Sang Raja Altair. Namun, mereka yang bersuara pun berakhir dengan menyedihkan. Bahkan harapan satu-satunya telah terbelenggu oleh kekuasaan Sang Raja Altair. Yaitu Pedang Legendaris Er'dura. Itulah sebabnya mengapa tidak ada yang mampu menggulingkan kekuasaan dan kekuatan Kerajaan Altair dalam masa kepemimpinannya.
...
Di sebuah pohon dekat penginapan. Seorang pria bermasker hitam, duduk dengan santai di sana. Tepat pada batang pohon. Dirinya mengamati jendela di sebelah yang terbuka.
Tak lama, masuk seorang pria menyeret perempuan cantik dengan busana transparan sekali. Dari luar dia dapat melihat dengan jelas bentuk tubuh si perempuan.
Jemarinya menekan lubang hidung yang mancung. Ditakutkan sesuatu keluar dari sana, tanpa sadar ketika melihat penampakan lawan jenisnya.
Di sekitar penginapan banyak para pengawal yang sedang berjaga. Bahkan tepat di bawah pohon—yang ia jadikan tempat persembunyian—sudah ada beberapa pengawal di sana.
Pria di dalam kamar sudah mulai membuka pakaiannya, sampai lupa menutup gorden saking semangat ingin mencicipi wanita yang ia bawa masuk.
Sebelum semuanya terlambat, pria di atas pohon segera melepaskan pedang dari dalam sarung. Mendadak cahaya berwarna ungu muncul dari sana. Motif tumbuhan pada pedang tampak hidup dan mencengkram pergelangan si pria.
Pria itu melompat cukup tinggi. Ia berpijak pada sisi jendela yang terbuka.
"Tuan Almeer. Suatu kehormatan saya bisa bertemu dengan Anda," serunya. Pria itu berjongkok dengan kedua netra membentuk busur panah.
Namun bukannya membalas sapaan, si pria bernama Almeer yang hampir menggauli wanita di bawahnya itu terkejut. Pada seluruh wajah mulai tampak keringat hingga tetesannya sampai ke ranjang
Tuan Almeer meraih celana kemudian memakai dengan tergesa-gesa, tubuhnya tampak bergetar takut. "K-kau ... bagaimana bisa?"
Pria bermasker melompat ke dalam. Kedua netranya masih tersenyum, sungguh ramah. Namun sayangnya ia membawa pedang yang menyala-nyala.
"Oh, sepertinya saya telah mengganggu kesenangan Anda. Silahkan lanjutkan."
Tuan Almeer menggeleng kuat. Kedua kakinya melangkah mundur bermaksud ingin meraih gagang pintu. Sialnya, pintu terkunci karena ulahnya sendiri.
"Ja-jangan mendekat! Kau pasti si pembunuh itu!"
Ekspresi pria bermasker berubah. Salah satu alisnya terlihat mencuat. Namun setelahnya tidak ada pergerakan.
Tuan Almeer berpikir inilah kesempatannya untuk kabur. Ia berencana melukai pria di hadapan dengan guci hias di samping pintu. Sayangnya si pria bermasker tahu dengan jelas rencana Tuan Almeer, dari garis pandangnya yang menatap guci.
"Arghh! Tanganku!" erang Tuan Almeer. Lengan kanan terputus dengan mudah dari tubuhnya. Darah segar mengucur deras. Kedua kakinya lemas sehingga tidak mampu untuk berdiri.
"Anda mau apa, Tuan? Mengapa tidak melanjutkan senang-senangnya?" cerca si pria. Netranya berkilat dipenuhi aura membunuh.
"Kurang ajar! Berani-beraninya kau berbuat seperti ini padaku! Menteri Agung Kerajaan!"
Sebuah kepala jatuh ke lantai, suara terjatuhnya berhasil menimbulkan kegaduhan diluar. Tubuh tanpa kepala itu segera tumbang. Bau amis langsung menusuk penciumannya
"Hahh ... merepotkan." Pria bermasker segera menenteng kepala hasil tebasannya tanpa ragu. Ia melirik perempuan di atas ranjang dengan kondisi tidak mengenakan busana, tapi tubuhnya tertutupi oleh selimut tebal. Entah mengapa sosoknya jika dilihat dari dekat, terasa familiar.
"Maaf, Nona. Saya tidak berniat untuk menakuti Anda. Pergilah dari tempat ini jika ada kesempatan."
__ADS_1
Pria bermasker sama sekali tidak mengerti. Mengapa dirinya bisa dengan leluasa berucap sepanjang itu pada orang yang baru ia temui. Dirinya menggeleng, berbalik memunggungi.
"Tunggu!"
Langkahnya terhenti. Si pria bisa mendengar bahwa wanita itu berjalan mendekat dengan sehelai selimut membungkus tubuhnya.
"Ka-kamu ... Hazard?"
Terpaku. Udara di sekitar membuat suasana terasa mencekam. Langkah sepatu saling bersahutan terdengar semakin jelas.
Pintu kamar langsung jebol. Beberapa pengawal memasuki kamar. Sedangkan si pria bermasker sudah menghilang entah kemana.
"Tu-tuan Almeer!" pekik seorang Ketua Pengawal. Dirinya menatap perempuan yang bersimpuh di lantai.
"Siapa yang membunuh, Tuan Almeer?!"
Mengigit bibir, perempuan tersebut mengepalkan jemarinya di dada. "Sa-saya tidak tahu. Tiba-tiba ada seorang pria yang masuk melalui jendela dan membunuh Tuan Almeer. Saya tidak mampu menahannya."
"Sial! Lagi-lagi pembunuh itu! Kita harus segera bertindak!" Para pengawal dan ketuanya keluar dari kamar menyisakan si pemilik penginapan di sana.
Tuan pemilik itu menatap si wanita. Helaan napas terdengar dari bibirnya. "Sayang sekali. Hari ini Anda tidak bisa makan enak karena pelanggan pertama ... rupanya tidak memiliki hidup yang cukup panjang, Nyonya Senna."
Wanita bernama Senna mengepalkan jemari. Menahan ledakan emosi dalam diri, karena posisinya tidak bisa dikatakan mampu untuk melawan.
Tuan Pemilik memandang Nyonya Senna dengan tatapan hina. Ia berkata, "Suami Anda juga di bunuh oleh si pembunuh gurun. Mengapa Anda tidak membalas dendam padanya?"
"Hidupku ... lebih berharga."
Hening. Jawaban dari Nyonya Senna cukup membuatnya terkejut. Karena sama sekali tidak terpikirkan oleh si Tuan Penginapan. Seorang mantan istri petinggi kerajaan begitu tangguh dalam menjawab pertanyaan seperti itu.
"Pelayan! Cepat bersihkan kamar ini dan bawa mayat Tuan Almeer keluar. Berikan pada Ketua Pengawalnya," pekik si pemilik penginapan pada pelayannya. Ia melanjutkan, "Oh dan ... bantu Nyonya Senna untuk mandi. Beberapa minggu lagi saya akan meminangnya."
Senna menatap Tuan Penginapan. Sungguh aneh pikirnya.
Tuan penginapan itu tersenyum penuh arti. "Saya cukup tertarik dengan sikap Anda, Nyonya. Anda tidak keberatan 'kan?"
Senna membuang muka, tidak peduli dengan posisinya saat ini. Dalam benaknya hanya ada satu nama, seorang lelaki yang sudah lama ia cari.
🍂🍂🍂
Yena dan Sameer duduk di lantai tanpa alas. Sedikit segan berhadapan dengan wanita tua, sepertinya sudah cukup lama hidup di dunia.
"Katakan ... informasi seperti apa yang kalian ingin, kan?" tanya pemilik toko.
Yena merasa tegang. Kondisi ini, begitu asing baginya. "Um ... begini, Nek. Saya ... ingin bertanya perihal pedang yang saya miliki."
"Boleh saya memegangnya?" Tiba-tiba wanita tua mengulurkan tangan ke arah Sameer.
"Salah, Nek. Nona Yena ada disini," ucap Sameer seraya menggeser lengan pemilik toko ke arah Yena.
Pemilik toko itu melirik ke arah Sameer, seketika tersenyum ramah, "Sam, ternyata kamu?"
"I-iya, Nek." Sameer menggaruk belakang kepala yang tidak gatal. Sedangkan Yena menatap Sameer meminta kejelasan.
"Saya akan menjelaskannya nanti. Ingat tujuan kita, Nona," bisik Sameer mencoba untuk tidak membahas dirinya terlebih dahulu. Sameer ingin ... Nona Yena tetap fokus pada tujuannya kemari.
__ADS_1
Nenek pemilik toko tersenyum. "Nona, pasti ingin tahu tentang sejarah terbentuknya pedang Anda, bukan?"
"Betul, Nek. Saya pengguna pertamanya setelah berabad-abad, informasi tentang pedang ini pun sudah saya ingat di luar kepala. Namun saya merasa, pedang ini masih memiliki banyak rahasia."
Nenek itu kembali tersenyum, lengannya masih terulur meminta sebuah pedang tersimpan di atasnya. Meski Yena masih merasa ragu, dirinya tetap memberikan kedua bilah pedang itu.
Pertama kali pedang berpindah tangan, Nenek pemilik tampak terkejut. Kesepuluh jemari tangannya meraba dengan sungguh-sungguh, kemudian tersenyum puas setelahnya. Yena dan Sameer sama sekali tidak mengerti senyuman si nenek. Aneh sekali.
"Pedang ini bernama Er'dura, bukan begitu?"
Mengagumkan. Itu lah yang Yena dan Sameer pikirkan setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri. Seorang Nenek tahu nama sebuah pedang hanya dengan merabanya? Luar biasa!
"Bagaimana Nenek bisa mengetahuinya, hanya dengan menyentuh?" tanya Yena penasaran.
Si nenek tersenyum, menjawab pertanyaan Yena dengan ramah. "Saya bisa merasakan energi di dalam motif pedang ini. Sama persis dengan energi Adura Stone yang sudah lama hilang."
Adura Stone? Benda macam apa? Yena merasa belum pernah mendengar benda tersebut. "Memang ada benda seperti itu, Nek? Mengapa saya baru mendengarnya?"
"Jika Nona tidak percaya tidak mengapa, saya tidak akan memaksa Nona untuk percaya." Nenek menyerahkan kembali pedang Er'dura pada pemiliknya.
Yena dibuat bingung, memandangi sepasang pedangnya. Satu sisi ia sangat penasaran dengan sesuatu bernama Adura, tapi di sisi lain ... terasa aneh. Masalah utamanya terletak pada tempat penyimpanan pedang Er'dura, tak ada petunjuk tentang Adura di sana. Mengapa? Apa informasi tentang Adura sengaja disembunyikan?
"Kalau begitu, adakah bukti yang dapat menguatkan ucapan Nenek?" tanya Yena.
Nenek membalas dengan senyuman terkembang. "Tentu saja ada."
"Boleh saya melihatnya, Nek?"
Nenek pemilik toko mengambil sebuah buku di belakang punggungnya, memberikan langsung pada Yena. "Ini, ambillah. Bukti yang Nona cari."
Buku tersebut terlihat aneh, sampulnya bergambar akar-akar pohon dan pinggirnya terselimuti oleh gambar timbul bunga-bunga kecil.
"Hebat," guman Yena, netranya berbinar takjub.
"Terima kasih, Nek."
"Satu hal yang tidak boleh Nona lakukan, jangan membukanya ketika Nona sedang tidak sendirian ...."
Saat itu juga kedua tangannya berhenti. Hampir saja Yena membuka bukunya di sini.
"Memangnya kenapa, Nek?" sahut Yena balik bertanya.
"Buku tersebut tidak bersahabat, sesuatu hal buruk akan terjadi jika isinya di baca oleh orang yang bukan pemiliknya."
Yena mengangguk mengerti, segera memasang kedua pedangnya kembali.
"Saya akan mengingatnya, Nek. Terima kasih." Yena berdiri, membungkuk hormat, diikut Sameer.
"Kami pamit, Nek. Permisi," salam terakhir Sameer, berlari kecil mengekori Yena.
Nenek pemilik toko kembali sendirian. Namun tiba-tiba saja dari balik tembok kayu timbul sosok aneh dari sana. Postur tubuhnya tampak seperti manusia biasa. Padahal sebenarnya jika dilihat lebih dekat, tubuhnya di penuhi oleh urat-urat pohon. Wajahnya sendiri tidak ada, hanya sebuah batu besar berwarna biru yang dilindungi oleh akar pohon berbentuk cincin.
Makhluk ini bersuara dari batu birunya. "Akhirnya setelah berabad-abad. Adura Stone bisa dipersatukan kembali."
"Anda benar Tuan Yeubnet." Si nenek tersenyum.
__ADS_1