
"Lihatlah, Nona Yena jauh lebih cantik setelah saya dandani. Menakjubkan!" puji seorang penata rias. Heboh.
Senyum Yena mengembang ketika melihat reaksi tak terduga itu. "Kau terlalu memuji, Mysha. Justru karena dirimu akhirnya aku bisa terlihat cantik. Meski aku melakukannya karena terpaksa."
"Karena tugas dari Yang Mulia?"
Yena mengangguk. Dirinya yang duduk segera bangkit ketika Mysha ingin mengikatkan selendang merah pada pinggang rampingnya.
"Coba kutebak. Em, tugas Nona pasti ada hubungannya dengan rumor si pembunuh gurun itu, ya?" Mysha berlagak seperti seseorang yang sedang memecahkan kasus besar, mengakibatkan kekehan kecil tak tertahankan dari Yena.
"Nona Yena mengapa tertawa? Tebakkan saya benar, bukan?"
"Ekhm, tidak ... yang kau katakan memang benar."
Yena tersenyum tipis. Teman barunya itu selalu bertingkah selayaknya anak kecil, sesuai dengan rambut pendek sebahunya yang berwarna kuning, melambangkan keceriaan. Ia kagum dengan Mysha, karena bisa mempertahankan jati diri di kota yang tidak membutuhkan orang seperti dirinya.
Tahap terakhir, Mysha memasangkan beberapa gelang pada kedua pergelangan Yena. Salah satunya menjadi tempat untuk mengikatkan selendang.
"Sudah selesai!" Mysha berhasil memunculkan kecantikan sempurna dari Pengawal Pribadi Raja yang tidak memiliki sedikitpun aura keanggunan seorang wanita.
...
Gemerincing gelang kaki yang di kenakan Yena segera menarik perhatian. Para pria di Bar menatap penuh muslihat. Penampilan Yena sangat jauh berbeda dari dirinya yang asli. Pakaian merah marun setengah telanjang dengan pusar indah di hiasi tato bermotif bunga. Wajahnya terhalang oleh khimar penutup transparan.
Yena berjalan menuju panggung kayu. Cukup besar ukurannya. Ketika musik di tabuh, ia mulai menari meliuk-liuk membuat berpasang-pasang mata tak berpaling dari ke molekkan tubuhnya. Hingga kedua netra menangkap sesosok pria dengan kain menutupi sebagian wajahnya. Pria tersebut mengenakan kain yang dililitkan di kepala.
"Pria itu, aku baru melihatnya. Siapa?" gumam Yena.
Yena perlahan menghampiri, dengan terus menjejakkan kaki, menari mengikuti alunan musik. Jemari lentik membelai mesra wajah kokoh itu, meraih lengan, agar si pria bersedia menari bersama.
Debaran jantung serasa terhenti. Ketika si pria mendekap erat tubuh Yena. Pandangan mereka saling bertemu, menciptakan suatu tarikan yang aneh.
"Tubuhmu wangi," bisiknya pada ujung telinga Yena.
Selama beberapa detik Yena tak bisa dengan leluasa menggerakkan tubuh. Dekapan dari sang pria asing membuatnya lupa untuk menolak.
Pria tersebut semakin dekat, penutup wajahnya ia turunkan sedikit. "Kau berusaha menggodaku?" cercanya. Hembusan napas panas tepat di telinga menggelitik saraf. Sukses membuat Yena terpaku tak berkutik.
Pria itu tersenyum picik, meninggalkan Yena dengan tumitnya yang melemas.
"Nona Yena!" pekik Mysha ketika mendapati Yena yang ambruk. Mysha berlari. Membantu Yena untuk berdiri.
"Terima kasih, Mysha."
Dengan kondisi ini, Yena tidak paham apa yang sudah terjadi padanya. Begitu cepat sehingga Yena tidak memiliki kesempatan untuk menolak atau pun melawan. Setiap sentuhan dari si pria bagai sihir yang membuat tubuhnya tidak bisa digerakkan.
__ADS_1
"Anda tidak apa-apa, Nona?"
Yena menatap Sameer yang baru saja muncul dari kerumunan. Ia seorang pria tampan dengan manik biru langit yang berlikau. Merupakan assassin yang cukup akrab dengan Yena di kota Denvail ini—kotanya para pembunuh.
"Mari saya bantu," ucap Sameer lagi.
Dengan senang hati Yena menerima uluran tangan Sameer. Ia berpesan pada Mysha untuk menyampaikan maaf kepada pemilik bar karena dirinya tidak bisa melanjutkan tugas sebagai wanita penghibur.
"Jangan khawatir Nona, Tuan pasti akan mengerti."
Yena tersenyum tipis pada Mysha sebagai pengganti ucapan terima kasih. Lagi pula Yena bekerja hanya untuk sehari saja, tidak di gaji pula. Tak lama, wanita penghibur lain muncul, menggantikannya. Yena segera dipapah keluar oleh Sameer.
"Kakiku lemas, aku tidak bisa berjalan lebih jauh lagi."
Sesaat setelah keluhan itu, Sameer mengangkut Yena seakan mengangkat tong kosong. "Maaf, saya tidak ada pilihan lain."
Yena mengulum senyum. Ia tak berani menampakkan ekspresi hatinya lebih dari itu. Lengannya melingkar erat pada tengkuk Sameer sebagai pegangan agar tidak jatuh. Kemudian Sameer segera membawa Yena menuju penginapan. Membaringkannya di ranjang.
"Ah, pakaianku masih ada di Bar Bafett," ucap Yena, menatap manik biru Sameer.
"Biar saya ambilkan. Nona istirahat dulu saja."
"Terima kasih."
Sameer sekadar tersenyum sebelum akhirnya keluar dari penginapan. Meski terkesan dingin, sejauh ini Sameer cukup baik padanya. Tidak pernah sekalipun berlaku tidak sopan.
Yena berguling, mengubah posisinya jadi menyamping, kemudian mencabut khimar yang menempel di wajah. Ingatan tentang pria misterius itu membuatnya semakin penasaran.
"Siapa dia? Mungkinkah orang yang sedang kucari?" Yena kembali meluruskan tubuh. Berbaring menatap langit-langit. Lalu pandangannya tertuju pada lampu lentara, seketika memutar kembali ingatan dengan si pria.
Yena baru sadar, warna mata pria itu sangat unik. Ungu kebiru-biruan. Namun ketika menatap Yena warna matanya berubah menjadi ungu tua mendekati hitam.
"Aku harus mencari tahu tentang pria itu."
Pada akhirnya Yena terlelap karena terlalu keras memikirkan sosok pria yang membuat dirinya tidak bisa melawan. Sebenarnya cukup memalukan jika mengingat posisi Yena sekarang.
🍂🍂🍂
"Aku tidak tahu harus bagaimana jika tidak ada kamu, Sameer. Terima kasih." Yena menyunggingkan senyum.
"Tidak usah sungkan, Nona. Sudah seharusnya saya membantu Anda."
Pagi ini Yena sudah mengenakan pakaian khusus—yang terbuat dari bulu domba—lengkap dengan ikat rambut favoritnya. Ia dan Sameer berjalan beriringan pada jalan setapak. Masih di kota Denvail.
Yena memandang Sameer yang berada di sampingnya, ia memberanikan diri untuk bertanya, "Tentang pria semalam. Em, kau tahu siapa dia?"
__ADS_1
Sameer bersidekap. Satu tangannya menyentuh dagu. Berpikir, "Saya belum pernah melihatnya. Akhir-akhir ini memang banyak sekali assassin yang tidak saya kenal bermunculan."
"Hm, begitu," ucapnya sedikit kecewa. Ternyata Sameer pun tidak mengenal siapa pria tersebut.
"Tapi saya bisa memberi Nona sebuah petunjuk ...."
"Petunjuk?"
"Ya, jadi saya sempat melihat sebilah pedang di punggungnya. Pada sarung pedang miliknya terukir motif yang hampir sama dengan pedang yang Anda miliki."
"Benarkah?" Yena tidak percaya dengan perkataan Sameer. Dirinya sama sekali tidak memperhatikan.
"Saya berani bersumpah. Saya tidak sengaja melihat motifnya ketika dia keluar dari Bar."
Bahkan Sameer sampai seyakin itu. Jelas sekali penglihatannya tidak mungkin salah.
Yena berpikir keras. Bagaimana bisa pengguna pedang memiliki motif yang sama pada pedangnya. Karena motif itulah sebagai pembeda bagi sesama pengguna pedang.
Walaupun ada kemungkinan mirip, namun hal itu bisa terjadi apabila pengrajin pedang merupakan orang yang sama.
Kemiripan tidak mungkin terjadi pada Er'dura, sangat mustahil. Pasti pedang yang dipakai si pria misterius memiliki benang merah dengan sejarah terbentuknya Er'dura.
"Aku butuh informasi lengkap tentang Er'dura. Aku yakin pedangku ini tidak mungkin hanya sebuah pedang legendaris biasa. Pasti ada sejarah yang tersembunyi dibaliknya."
"Jika Nona ingin mencari informasi langka. Saya tahu siapa yang bisa membantu Anda," tutur Sameer penuh keyakinan, "ayo Nona, ikuti saya."
Mereka saling memandang, memantapkan hati untuk saling percaya dengan senyuman. Mereka berjalan menuju jalan setapak yang sempit dan penuh batu. Tanpa keraguan Yena mengikuti Sameer hingga pada akhirnya sampai di sebuah toko tersembunyi di balik bangunan-bangunan tua. Toko itu sedikit unik, karena banyak sekali motif bunga langka yang di gambar pada dindingnya.
"Kau sedang tidak mencoba menjebakku, kan?" Terlihat keraguan dari air muka Yena.
"Percayalah, Anda bisa mendapatkan informasi yang tepat di sini. Mari masuk, Nona." Tanpa ragu Sameer mengulurkan tangannya. Berharap disambut dengan baik oleh Yena.
Tidak ada pilihan lain. Siapa tahu pemilik toko memang memiliki informasi rahasia tentang pedang miliknya. "Baiklah, jangan kecewakan aku."
Sameer tersenyum simpul. Baru pertama kali Yena melihat senyuman tersebut. Entah bagaimana perasaannya sedikit bergetar. Mereka akhirnya memasuki toko tanpa meminta izin terlebih dahulu.
"Apakah kita tidak akan dimarahi oleh pemiliki toko?"
"Tidak. Karena pemilik toko tidak bisa melihat jadi harus pengunjung yang menemuinya."
"Maksudmu?" Yena tidak mengerti dengan penjelasan yang di berikan Sameer.
Dua insan itu masuk lebih dalam. Penampilan toko semakin nampak jelas ketika Yena menelusuri setiap inci bangunannya. Tua dan sedikit usang. Penuh jaring laba-laba di setiap sudut atapnya.
"Akhirnya ... ada pengunjung baru. Silakan masuk," seruan lirih dari seorang wanita tua mengejutkan pendengaran.
__ADS_1
Setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri. Akhirnya Yena mengerti apa maksud Sameer. Pemilik toko tidak bisa melihat karena sepasang matanya ditutup oleh kain putih, lusuh. beliau duduk di sebuah bangku kayu yang cukup tua.
Atau mungkin beliau memang buta? Dan penutup tersebut hanya untuk menyamarkan kekurangannya.