
"Maksudnya bagaimana? Ayolah, Bu. Cerita padaku, ya?"
Layha menatap manik abu-abu milik Yena. Sangat mirip dengan suaminya. Yena yang sudah tumbuh menjadi wanita dewasa semakin membuat Layha merindukan suami yang telah tiada.
Layha menghela napas kemudian berjalan melewati Yena, "Kapan-kapan akan Ibu ceritakan. Untuk sekarang Ibu masih belum sanggup menceritakannya."
"Tapi ...."
"Sudahlah, kau istirahat saja, sayang. Ibu mau memandikan Adam dulu."
Layha keluar dari rumah menuju kamar mandi batu yang ada di luar, tanpa peduli dengan rasa penasaran Yena yang sudah sampai batasnya.
Kakinya berjalan menuju kamar Layha. Yena sudah tidak peduli lagi, ibunya selalu merahasiakan masalahnya. Entah apa itu. Mungkin di kamar Layha, ia bisa menemukan suatu barang yang berhubungan dengan rahasia ibunya.
Tanpa pikir lagi, Yena menggeledah kamar ibunya. Membuka semua pintu lemari dan laci yang ada di sana. Sayangnya tidak menghasilkan apa-apa.
"Hahh ... Di mana Ibu menyembunyikan barang berharganya? Di bawah kasur pun tak ada," ucap Yena, merebahkan diri ke kasur dengan spray warna biru muda. Sorot matanya tertuju pada sebuah bantal di ujung kasur. Apakah mungkin ibunya menyembunyikan sesuatu di dalam bantal?
Yena duduk, menarik bantal ke pangkuan. Ia meremas-remas bantal, seperti ada sesuatu di dalam. Mendadak pintu kamar di buka dari luar.
Glek.
Tamat sudah.
"Bi, Bi Layha. Ini aku Bahar! Bibi ada di dalam, kan?"
Di luar ada yang mengetuk pintu. Membuat fokus Layha teralihkan.
"Oh? Ya, tunggu sebentar!" pekik Layha. "Adam, masuk saja dulu. Ibu mau ke depan sebentar."
"Iya, Bu."
Helaan napas keluar dengan keras dari bibir Yena. Yang muncul dari balik pintu hanya Adam dengan air muka terheran-heran. Handuk tertempel di pinggangnya.
"Nona, sedang apa?"
"Ssstt, jangan berisik." Yena berdesis pelan, menempelkan jari telunjuk di depan muka.
"Ada barang kakak yang ketinggalan di sini. Tenang, udah ketemu kok." Yena menyimpan kembali bantal dengan rapi. Senyum lima jari terpampang jelas. Setelahnya Yena menghampiri Adam dan berkata, "Adam, jangan kasih tahu Ibu kalau kakak sempat ke sini. Soalnya, Ibu lagi marah. Nanti, Ibu malah marah ke Adam. Adam, gak mau di marahin, kan?"
Adam menggeleng cepat, "Tenang aja, Nona, Adam gak bakal ngasih tahu Ibu."
Yena tersenyum puas, tangannya mengusak sebentar rambut Adam, "Bagus, anak pintar! Kakak keluar sekarang, ya."
Adam mengangguk cepat, saat itulah Yena kabur. Ia menutup pintu perlahan, masuk ke kamarnya segera. Napas Yena tak beraturan, jantungnya berdetak cepat setelah keluar dari kamar Layha. Yena lekas menggantung pedangnya di dinding kamar, handuk ia sampirkan pada pundak.
"Mandi dulu saja deh."
__ADS_1
πππ
Waktu belanja. Yena berjalan-jalan di pasar sambil menuntun unta, karena bahan pangan di gudang mulai menipis. Tentu saja, Yena harus segera mengisinya kembali. Sudah jadi tugasnya berbelanja untuk persediaan.
Yena mencari seseorang dengan potongan rambut pendek, Paman pedagang yang beberapa hari lalu sempat berkenalan dengannya.
"Ah! Paman Fan!" seru Yena, melambaikan kedua tangan sumringah.
Paman Fan membalas lambaian tangan Yena dengan tersenyum ramah.
Akhirnya Yena menemukan Paman Lutfan. Paman Fan sedang membereskan barang dagangannya pada sebuah tempat bertiang kayu, di atasnya menggunakan kain berwarna gelap agar terik mentari tidak langsung menusuk kulit.
Pada sisi kiri dan kanan telah berjejer bahan pangan mentah yang siap untuk di jual. Ada kelapa, buah kurma, dan berkarung-karung gandum di sebelah kiri. Kemudian, tepung dengan berbagai jenis di sebelah kanan. Serta, buah-buahan segar dari negara tropis dan rempah-rempah di bagian depan. Benar-benar lengkap. Yena sampai bingung mau membeli yang mana.
"Emm, aku mau sekarung gandumnya, Paman, yang ukuran kecil," ucap Yena akhirnya seraya menunjuk sekarung gandum.
Paman Fan segera memindahkan kelebihan pada karung gandum menggunakan batok kelapa kemudian mengikatnya, "Ada lagi, Nona?"
Berpikir sebentar sambil melipat tangan, Yena berkata, "Rempah-rempahnya masing-masing setengah kilo saja kalau beli banyak takut busuk dan buah apelnya satu kilo."
"Siap Nona, masih ada lagi?" tanya Paman Fan, senyumnya tak pernah pudar.
"Sudah sepertinya ... aku mau beli daging di toko sebelah saja."
"Baik, akan segera saya siapkan."
Setelah pembayaran selesai, Paman Fan membantu Yena. Mereka berdua mengikat karung berisi gandum di sisi kanan si unta. Sedangkan sisi kirinya di isi oleh berbagai macam rempah-rempah danΒ satu kilo apel.
"Terima kasih, Paman."
"Sama-sama, Nona. Terima kasih juga karena sudah memborong."
"Ah, hanya belanja untuk persediaan saja, kok. Biasanya kalau ada yang kurang Ibuku akan belanja sendiri."
"Begitu, ya? Ibunya Nona Yena yang namanya Layha, bukan?" tanya Paman Fan, tangannya mengelus-elus dagu penasaran.
"Iya, itu Ibuku. Orangnya agak cerewet, hehehe."
"Pantas saja beliau selalu menyebut-nyebut nama Nona Yena. Sepertinya, beliau sangat menyayangi Anda."
Yena tersenyum tipis teringat masa kecil ketika sedang bersenda gurau dengan kedua orang tuanya.
Melihat air muka Yena yang berubah sendu, Lutfan sedikit merasa terbebani. Bukan karena tidak suka melihatnya, Lutfan hanya tidak tahu harus melakukan apa.
"Ah, saya lupa harus beli daging,"gumam Yena. Ia mendekatkan diri pada Paman Fan kemudian berbisik, "Paman, tahu tidak penjual daging mana yang harganya normal dan tidak curang?"
"Itu ... Nona tinggal lurus saja, nanti ada dua jalan, Nona ambil yang kiri. Nah, di situ ada teman saya penjual daging. Lengkap di sana," tutur Lutfan.
__ADS_1
Seketika Yena tersenyum simpul. Tidak sia-sia menanyakannya pada Paman Fan.
"Terima kasih, Paman. Aku pergi dulu, ya. Setelah selesai belanja aku ingin mengundang paman untuk makan siang di rumah. Jangan menolak ya, Paman."
Paman Fan langsung membungkuk, tersenyum senang, "Terima kasih, Nona. Dengan senang hati saya terima undangan Anda."
Sesuai penjelasan Paman Fan, Yena berjalan lurus sambil menuntun untanya, ia tidak peduli para pedagang lain yang menawarkan dagangan padanya.
πππ
Tengah hari lewat satu jam.
Semua tugas sudah selesei, termasuk mengisi air sudah ia bereskan. Yena pun sudah makan siang bersama Paman Fan. Sekarang waktunya untuk menyelidiki tetangga baru. Hazard. Sampai detik ini, tak terlihat sekalipun batang hidungnya.
Di depan halaman rumah Hazard, ada sumur mata air di sisi kanan. Tempat berpijaknya sudah bersih ditutupi oleh batu pahatan yang ditata. Pada setiap sudut ada pohon palem yang ditanam dalam pot. Kondisi rumah ini lebih bagus dari rumah Yena. Sayang sekali jika rumahnya ditinggalkan begitu saja.
Tiba-tiba...
"Yena! Untung saja kau ada," seru Eden, ia segara mempercepat langkahnya.
"Ada apa?"
"Yang Mulia Firan ingin bertemu. Ada yang ingin beliau diskusikan denganmu."
Tatapan heran tertuju pada Eden. Tumben sekali dia yang menjemput Yena langsung. Biasanya hanya para bawahan.
"Kenapa?"
"Emm, tidak. Aku hanya sedikit takjub. Biasanya yang menjemputku para pelayan atau jika tidak ada, ya ... para pengawal. Tapi kali ini, seorang Panglima bernama Eden rela panas-panasan di siang bolong demi menyampaikan hal seperti ini?" Yena menyeringai.
"Aku hanya menyampaikan mandat. Tak ada hubungannya dengan siapa yang menyampaikannya."
"Ya ya ya, kau memang Panglima paling setia."
Yena berjalan mendahului, menuju Istana Altair. Tak peduli dengan ocehan Eden. Memang sedikit aneh, kepribadian Eden langsung berubah jika berduaan dengan Yena. Tidak tahu mengapa, mungkin karena mereka sudah berteman sejak kecil? Kalau dipikirkan terus akan membuat pening, mending biarkan saja berjalan dengan semestinya.
πππ
Istana Altair
Pada sebuah ruang kerja Raja. Tersembunyi ruang rahasia di balik rak buku besar, hampir menutupi sepanjang dindingnya. Raja Firan menggenggam sebuah buku, terdapat tombol yang terganjal dibawahnya. Agar tombol berfungsi, buku segera diambil begitu saja. Saat itulah rak besar bergerak ke samping dan tombol tersebut adalah penggeraknya.
Sang Raja memasuki ruang rahasia. Terhirup aroma barang-barang antik di sana. Lukisan berbingkai emas banyak bergelantungan dengan bebas. Pot-pot bunga sepinggang terbuat dari bahan emas sebagai hiasan agar ruangan terkesan berkelas dan mewah.
Di tengah ruangan, ada sebuah tempat penyimpanan pedang berdiri kokoh dan memanjang. Di atasnya terdapat bantal panjang berwarna merah darah. Terukir motif bunga mawar di bawah lantainya, tampak sedap di pandang.
Raja Firan membawa buku yang menjadi ganjalan tadi. Membuka lembar demi lembarnya.
__ADS_1
"Adura Stone, batu mulia yang sangat penting untuk para Roh Pohon. Pantas saja dia dan Ayahanda begitu melindungi ruangan ini. Sayangnya, Tuan Zain hanya bisa menerjemahkan sebagian tulisan dalam buku ini."