
Hazard membuka peti persegi panjang, mengambil dua buah kantung kecil berisikan penuh bunga prup dan pil mera. Pil Mera merupakan pil hasil racikan Paman Agail, berbahan dasar muntahan energi hitam yang dicampur dengan berbagai macam tanaman herbal dan tentunya darah seorang elves murni. Agak menjijikkan memang, jika mengikuti proses pembuatannya dari awal. Namun, khasiatnya untuk para elves petarung tidak main-main—bisa menjadi penunda penyebarannya jika terkena energi hitam.
Berkat penelitian berbulan-bulan lalu, dengan Hazard yang menyumbang muntahan energi serta darah, Paman Agail berhasil membuat pil mera. Jangka waktu ketahanannya sekitar lima hari setelah menelan pil. Elves yang memakan pil tersebut akan kebal dari energi hitam dalam bentuk apapun.
Dua kantung kecil lekas di ikat pada pinggang Hazard. "Beruntung, aku tidak membawa semuanya kemarin," ungkapnya, seraya beranjak dari peti. Netranya memindai keseluruhan benda yang ada di dalam tenda terbuka ini. Terdapat rak kayu dan beberapa peti lagi, terbuat dari pohon kelapa selama rombongan Pangeran Harith menetap di oase ini. Cahaya kuning dari matahari pun datang memancar dari kedua sisi tenda.
Hazard keluar dari dalam tenda. Dirinya langsung di pertemukan dengan Chayra, berjalan sendiri mendatanginya. Sontak, Chayra merengkuh Hazard dalam kungkungan, menciptakan kebingungan yang amat sangat jelas terpatri pada wajah Hazard.
Hazard diam. Tidak menolak ataupun menyambut rengkuhan itu.
"Maaf, saya terlambat mengenali Pangeran." Pelukan mengendur, Chayra menggenggam jemari Hazard penuh haru. "Mengapa Pangeran tidak jujur? Anda begitu menggebu ketika menceritakan tentang ruang rahasia di kota Mitri, tapi Anda tidak memberitahu kami soal identitas Anda yang sesungguhnya. Mendiang Walikota, tidak akan membocorkan informasi kepada orang lain kecuali orang yang ia percaya. Saya sangat yakin, Tuan Hazard, pasti, putra dari Yang Mulia Raja Ghani dan Ratu Alea."
Hazard menatap canggung Chayra di hadapan. Salah satu lengannya menggaruk tengkuk. "Saya ... tidak ingin mencampuradukkan pekerjaan dengan perasaan pribadi," jelasnya, "saya pun tidak begitu peduli dengan fakta tersebut. Saya hanya ingin beberapa kepala dari para petinggi Altair. Tidak lebih dari itu."
Penjelasan Hazard sedikit menorehkan luka. Bagaimanapun juga, Chayra sudah menantikan momen ini jauh-jauh hari. Namun, sepertinya Hazard sama sekali tidak peduli.
"Jadi, begitu ...." Tatapannya kosong, genggaman terlepas, Chayra tersenyum getir penuh sesak. "Memangnya apa yang Anda dapatkan dari kepala-kepala tersebut? Anda ingin mempraktikkan ilmu hitam?"
"Nyonya, bukan begi—"
"Ah, maaf." Chayra memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. "Saya terlalu gembira sehingga berlaku bodoh. Jangan terlalu dipikirkan, Tuan."
Tampak senyuman pilu dari Chayra begitu menghantam sanubari Hazard. Chayra berjalan pergi meninggalkan Hazard dalam kebingungan, daru ingat bahwa dirinya memang selalu begitu.
Misalnya saat bersama Yena. Hazard sadar, telah bicara terlalu jujur ketika pertemuan keduanya di kota Denvail. Memang itulah yang ia rasakan setelah menggigit telinga Yena. Oh, dan lihatlah sekarang, kedua pipinya memunculkan rona merah. Kejujuran yang sangat sulit untuk dilupakan.
Tak lupa, Hazard pun pernah menanyakan asal-usul putri kedua mendiang Walikota Mitri, bicara sekenannya sampai membuat mendiang walikota menghela napas.
__ADS_1
Masih banyak kalimat-kalimatnya yang terlalu jujur. Mungkinkah hal itu yang membuat wajah Nyonya Chayra berubah muram?
"Aku, harus minta maaf," ujar Hazard pada akhirnya.
...
Hazard melangkah, mendekati Harith yang sedang berbincang dengan pengawalnya, Syamsi. Netranya menilik kegiatan para pelayan. Ada yang disibukan dengan alat masak—mereka merapikan alat masak kedalam tenda khusus dan menyimpannya di dalam peti. Sementara di sisi lain ada yang membuka peti-peti untuk mengeluarkan isinya—yaitu obat-obatan dan kain bersih lalu dimasukan kedalam karung putih kemudian mengikatnya dengan tambang pada punggung unta. Terakhir ada yang mengangkut berkarung-karung makanan dan minuman pada kantung kulit besar lalu mengikatnya langsung pada si unta.
"Sebentar lagi kita bisa berangkat sesuai rencana, Pangeran," ujar Syamsi melaporkan.
Harith mengangguk lalu berkata, "Bagus, lebih cepat lebih baik. Pertama, kita menuju kota Mitri terlebih dahulu untuk mengambil seluruh persediaan senjata di sana." Kemudian Harith menengok Hazard yang sudah berada di sampingnya, "Dan ... Tuan Hazard. Sesuai rencana awal, buatlah kegaduhan di acara pernikahan Raja Firan. Lalu kami akan datang, membawa bala bantuan untuk Anda."
Hazard mengernyitkan dahinya. "Bala bantuan dari mana?"
"Dari kerajaan lain yang telah di porak-porandakan oleh pasukan Raja Firan. Mereka yang kabur menitipkan gulungan pada Syamsir kemudian Syamsir mengirimkannya lagi padaku. Isi gulung tersebut pada intinya mereka menawarkan diri untuk memberontak bersama. Bukankah itu bagus?" Harith memandang wajah Hazard, tampak mulutnya membentuk 'o' kecil kemudian mengangguk mengerti.
Harith kembali bercakap dengan Syamsi, sementara Hazard menemukan Nyonya Chayra tengah duduk pada kursi kayu persegi panjang. Di atas kepalanya terdapat terpal berwarna kuning pucat dan melebar dengan tiang kayu sebagai penyangganya.
Meski menunduk, Chayra bisa melihat bayangan seseorang yang duduk di depannya. Matanya mengerling, fokus memperhatikan tingkah Hazard yang tampak lucu. Tanpa sadar Chayra menyunggingkan sedikit senyum lalu melipat kedua tangan pada meja kayu persegi panjang.
"Ada apa, Tuan Hazard?"
Hazard terkesiap, spontan menggeser duduknya, menghadap Chayra. Ia menggaruk pipi di balik maskernya lalu memandang Chayra. "Begini, tentang ... kalimat yang terucap tadi ... saya tidak serius. Maaf, jika perkataan saya membuat Nyonya sedih," ungkapnya dengan memalingkan wajah tak menatap Chayra.
Mata membulat sedang, Chayra menahan tawa dengan tangan menutupi mulut. Dirinya tak menyangka bahwa Pangeran Hazard memiliki sisi lugu seperti ini—seperti ibunya. Padahal sebelumnya, perangai Hazard tampak mengerikan. Apalagi jika mengingat pembunuhan yang sudah ia lakukan.
Tahu-tahu, Harith merangkul Hazard dari sisi kiri, membuat si empunya terperanjat. Dengan tidak sopan, Harith hampir menarik masker Hazard. Untungnya, Hazard langsung bangkit dari duduk.
__ADS_1
"Ayolah ... sebagai keluarga, aku penasaran ingin melihat wajahmu," ucap Harith santai, sebelah sikunya menekan meja sebagai penopang dagu.
Sementara Hazard terpaku terlalu kaget. Pada situasi seperti ini, memang paling membahayakan ketika pertahan dirinya melonggar.
"Jadi, kau akan terus begitu seperti patung?" kelakar Harith sukses mengembalikan Hazard pada kesadarannya. Hazard duduk kembali kemudian memegangi maskernya refleks.
Senyum miring tampak jelas pada bibir Harith, adiknya ini ternyata benar-benar berbeda jika tidak dalam situasi serius. "Kau masih ingin menyembunyikan identitas dari kami?" tanya Harith melempar umpan.
Kedua tangan mengepal di meja, Hazard menghela napasnya dalam. Cepat atau lambat, wajahnya pasti akan terlihat juga. Maka, ia harus memperlihatkannya sekarang sebelum melancarkan aksinya nanti.
Tak tahunya, para pelayan dan pengawal melirik kearah Hazard. Mereka pun sama penasarannya dengan Chayra dan Harith. Seketika Hazard melepas maskernya, ia merasa bermacam pasang mata mengawasinya dari kejauhan.
Nyonya Chayra tertegun. Garis wajah Hazard sangat mirip dengan Ratu Alea, namun sudut mata dan lirikannya persis Yang Mulia Ghani. Sementara hidungnya perpaduan dari mereka berdua. Namun, karena garis wajah yang dominan, Hazard terlihat seperti pemuda polos yang hanya tahu di manja dalam kondisi seperti ini.
"Hebat ya! Di balik masker seorang pembunuh berdarah dingin, terdapat wajah lugu nan polos seperti itu," kicau seorang pelayan wanita pada temannya, mereka sedang memasukan pakaian Nyonya Chayra kedalam kantong kain. Di sisi tenda terbuka.
"Iya, ya, Pangeran Hazard adalah versi manisnya Pangeran Harith," sahut seorang pelayan lain.
Sementara seorang pengawal senior ketara tersenyum. "Aku seperti melihat Raja Ghani dan Ratu Alea setelah sekian lama," ucapnya sembari memandikan kuda.
"Betul," sahut yang lain.
Sedangkan Nyonya Chayra betul-betul menampilkan kebahagiaannya dari senyuman. Ia menggenggam jemari Hazard yang mengenakan sarung tangan hitam dan berucap, "Ratu Alea pasti senang saat melihat putranya sudah sebesar ini. Aku yakin, beliau masih hidup dan—"
"Tuan Albar berkata persis seperti Nyonya sebelum dirinya terbunuh. Ia memintaku untuk mencari Ratu Alea. Namun, apa mungkin bisa? Aku sedikitpun tidak tahu bagaimana rupanya."
Harith menepuk bahu adiknya, tersenyum tipis. "Setidaknya kau masih memiliki kesempatan bertemu dengan Ratu Alea." Hazard mengangguk pelan, membenarkan kalimat dari kakaknya.
__ADS_1
Terdengar langkah kaki mengais pasir. Rupanya Syamsi, sudah berdiri tegap di samping Harith. "Pangeran, perlengkapan dan persediaan untuk melanjutkan perjalanan sudah siap. Sekarang, kami tinggal menunggu instruksi dari Anda saja," jelas Syamsi dengan deru napas tak beraturan.
Sekilas Harith menengok Hazard dan Chayra kemudian melirik Syamsi lagi. "Baik, sepertinya kita harus bergerak sekarang. Tidak boleh di tunda-tunda lagi."