ADURA

ADURA
Bagian 23: Ametis


__ADS_3

Pria dengan tinggi sebatas pinggang manusia, membawa kayu bakar pada punggungnya. Kupluk rajutan berbahan dasar wol ia gunakan sebagai pelindung kepala. Dirinya melangkah menuju pemukiman Pandai Besi. Rumah-rumah kayu berdiri kokoh di tengah hutan, saling berjauhan dan tersebar jaraknya dari satu rumah ke rumah lain. Atap rumah mereka berbentuk setengah lingkaran, sebagai ciri keberadaannya.


Tidak berbeda jauh dengan rumah-rumah kayu sebelumnya, pria itu juga memiliki rumah sendiri. Di halamannya, ada dua buah tungku untuk memasak. Salah satu tungku sedang ia gunakan untuk memasak bahan pangan.


Ia segera melempar kayu bakar yang ada di punggung ke tanah kemudian menatanya dengan bentuk melingkar. Terus seperti itu sampai selesai.


Terdengar bunyi air mendidih dari tungku. Saat tutup panci dibuka, bubur dengan campuran rempah telah matang, uap panas mengepul ke atas. Begitu harum, ia sendiri menjadi kelaparan setelah mencium aromanya.


Tapi, tidak! Bubur ini untuk seseorang yang ada di dalam rumah. Sedang terbaring tak berdaya karena luka dalam yang terus menggerogoti tubuhnya. Pria pendek itu segera mengambil mangkuk dan gelas setelah memadamkan api. Ia menggunakan sendok sup berbahan dasar kayu untuk menyudu bubur ke dalam mangkuk.


Seseorang berjalan pelan seraya berpegang pada dinding kayu rumah menuju bibir pintu, ia menatap pria pendek yang ada di depannya, "K-kau, siapa?"


Pria pendek menoleh, pupilnya membesar. Seseorang dalam rumah sudah bangun. "Oh, Pangeran Hazard, Anda sudah bangun?"


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Setelah mendengar penjelasan dari pria pendek, Hazard menurut. Kembali ke dalam rumah. Ia duduk bersandar di ranjang berbahan kayu jati sembari menunggu pria pendek yang terus berjalan mondar-mandir mencari sesuatu. Baru pertama kali bertemu dengannya, pandangan Hazard tak lepas dari jenggot hitam yang menjuntai. Hazard mengamati pakaian dengan pelindung besi di sekitar lengan itu.


Dalam kamar ini tidak terlalu banyak perabotan, hanya ada satu almari bercorak tumbuhan menjalar, ranjang untuk satu orang yang sekarang Hazard tempati, dan beberapa hiasan dari batu mulia yang dipajang berjejer di sekitar dinding kayu. Hazard mengenali beberapa namanya, bahkan ada sebongkah batu permataβ€”yang belum dimurnikan.


Pria pendek membawa meja berukuran 4x4, menurunkan di dekat ranjang. Ia menaruh sendok kayu, mangkuk dan gelas logam di atas meja. Bubur nikmat sudah siap untuk disantap. Namun, Hazard sedikit ragu.


"Tenang saja, bubur itu tidak beracun. Saya khusus membuatnya untuk Pangeran."


Hazard mengamati lamat-lamat bubur di hadapan, aroma kabut yang mengepul dari mangkuk membuat perutnya semakin lapar. Kerongkongannya semakin kering jika terus memandanginya. Hazard memalingkan wajah dengan tangan yang menekan perut. "Bagaimana Anda tahu saya seorang Pangeran?"


Pria pendek tampak tak berekspresi, ia menyentuh keningnya sendiri. "Saya tahu karena Pangeran memiliki kristal biru di dahi."


Dahinya berkerut, seketika membelai kristal biru. Lagi-lagi turban hilang entah kemana. Mungkin telah disimpan di suatu tempat oleh si pria pendek. "Sebenarnya hanya Ratu Tel-onera dan saya yang mengetahui hal ini. Bagaimana Anda bisa tahu?"


"Sang Ratu yang memberitahu saya. Jika Pangeran tidak percaya, saya tidak akan memaksa," tutur pria pendek, "silakan nikmati buburnya, Anda sudah pingsan selama dua hari." Lanjutnya, segera keluar dari kamar, memberi sedikit ruang untuk Hazard.


Hazard menatap kembali mangkuk berisi bubur. Dirinya sungguh kelaparan akibat tidak sadarkan diri. Dengan berat hati, ia meraih sendok yang tersimpan di meja, satu suapan dimasukan ke mulut dan mengunyah dengan perlahan. Namun, betapa terkejutnya, tekstur bubur yang sangat lembut langsung meluncur dengan mudah pada kerongkongan. Wangi rempah-rempah yang digunakan menambah cita rasa bubur. Sekejap mata, bubur telah habis dilahap. Bahkan saat memakannya, Hazard tidak memikirkan hal lain selain bubur di hadapan.


Hazard menyelesaikan satu suapan dengan hati berbunga. Rasa curiga yang sebelumnya muncul, lambat laun menghilang seiring waktu. Namun, ada yang aneh dengan isi air dalam gelas, warnanya ungu terlihat kotor.


Pria pendek membawa sebuah kursi kayu untuk dirinya, kemudian duduk di ujung ranjang. "Itu air obat. Dari rebusan batu mulia Ametis. Khasiatnya sebagai penetralisir racun."


"Begitu, ya?" tanyanya sebagai bentuk penegasan. Hazard langsung meminum air obat sekali teguk. Rasanya tidak terlalu buruk, sedikit manis dengan perasa pahit setelahnya.


"Sebenarnya air rebusan Ametis, hanya menetralisir racun saja. Saya baru tahu, air itu bisa menyembuhkan elves yang terluka karena energi hitam."


"Apa? Maksud Anda bagaimana?"


"Ya, saya terpaksa melakukan itu. Saya tidak tahu harus bagaimana karena Pangeran belum memiliki pasangan."

__ADS_1


Hazard tak bisa mengelak. Karena pada nyatanya obat untuk seorang elves yang terkena energi hitam, memang pengiriman energi dari pasangannya. Sejauh ini hanya sebatas itu yang ia tahu. Persis seperti apa yang dikatakan Kakek Vrede.


"Apakah energi hitam dalam tubuh saya sudah hilang?"


"Saya tidak tahu. Pangeran harus menemui Sang Ratu secepatnya. Mungkin saja air rebusan Ametis hanya menghentikan penyebaran bukan menghilangkan."


Hazard menatap lekat pria pendek, manik coklatnya cemerlang dengan lipatan wajah yang tegas. Hidung mancungnya tampak jelas ketika Hazard memutuskan untuk duduk di pinggir ranjang. "Terima kasih, Paman. Boleh saya tahu nama Paman?"


"Panggil saja Okan. Itu panggilan dari Yang Mulia Ratu," jawab pria pendek.


"Oh, sebentar ...." Ia bangkit, mendadak mengingat kendi air obat. Dirinya berjalan lalu mengambil kendi yang di maksud, letaknya di luar rumah ini.


Okan menyerahkan kendi dengan kedua tangannya, ia berkata, "Bawa ini, untuk jaga-jaga. Minum air obat ini bila Pangeran merasakan nyeri pada ulu hati."


Senyum tipis muncul, Hazard meraihnya dengan kedua tangan, "Terima kasih. Saya akan menyimpannya."


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Hazard berpamitan. Kendi yang diberikan tadi ia ikat di pinggang, tak lupa dengan turban yang selalu ia kenakan. Hazard sempat mengobrol dengan Paman Okan, mereka berbincang tentang hutan perbatasan ini, yang menjadi pembatas antara daerah kekuasaan Kerajaan Ukheil dengan Kerajaan Avalon, kerajaan yang di huni oleh para elves bersayap.


Setelah itu, Paman Okan bercerita tentang ras dwaft, rasnya sendiri. Ras dwaft bukan manusia, mereka berdiri sendiri meski bentuk fisiknya mirip manusia. Mereka mencintai kegiatan menambang dan membuat peralatan dari logam merupakan keahlian mereka. Dua hal itu mereka jadikan sebagai pekerjaan sehari-hari. Biasanya pembeli akan datang sendiri dan memesan. Ketika sudah jadi, si penjual akan mengirim langsung barang yang sudah di pesan.


Mengapa Hazard baru tahu tentang hal penting ini? Apa mungkin karena ia terlalu fokus dengan kewajibannya sebagai Pangeran? Ia tahu tentang pandai besi karena senjata para pengawal kerajaan hasil memesan dari mereka. Ia pikir para elves yang membuatnya, tapi ternyata bukan.


"Akhirnya, sampai. Lebih baik ke rumah dulu, menyimpan pedang ini," ucap Hazard, lega karena telah sampai di tempat tinggalnya.


Hazard sedikit berlari untuk mempercepat langkah. Sesekali ia disapa oleh para penduduk. Senyum ramah ia tunjukan. Mereka beraktivitas seperti biasa, bercocok tanam dan beternak.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Semua gandum sudah saya pindahkan ke gudang. Apakah Anda perlu hal lain?"


"Tidak, Terima kasih karena sudah membantu."


"Baiklah kalau begitu, saya permisi."


Pelayan pria itu berpamitan, meninggalkan kediaman Dienra dan pemiliknya.


Dienra masuk ke rumah dan menutup pintu dengan rapat. Ia membelai wajah kemudian meremas dan menariknya bagai kulit yang terkelupas. Dia Dienra palsu. Pakaiannya langsung berubah saat itu juga, menjadi pakaian seorang assassin.


Netranya berkilat. Iris mata yang berwarna biru langit memandangi kamar dengan penerangan sangat minim, rahangnya yang kokoh mempertegas statusnya sebagai assassin. Ia berjalan memasuki kamar.


Dalam kamar tampak seorang pria berwajah Dienra, tangan dan kakinya diikat dengan mulut menggigit kain. Dienra palsu berlutut, memandang datar korbannya. "Maaf kawan, aku harus menghabisimu sekarang."


Pria terikat menggeleng kuat saat mendengar ucapan Dienra palsu. Ia beringsut hingga menabrak dinding kayu dekat jendela. Tubuhnya menegang disertai pupil mata yang melebar.

__ADS_1


Dienra palsu mengambil belati di balik baju, langkah kakinya terdengar menggema. Ia memeluk tubuh pria terikat seraya menekan belati pada sisi perutnya. "Selamat tinggal."


Belati itu menancap dalam, bau amis dari darah segar menusuk penciuman. Pria terikat mengerang penuh kesakitan. Dirinya sekarat, dengan menatap penuh kebencian.


Kini, misi dari Sang Raja telah usai. Dienra palsu segera keluar sebelum ada seseorang yang melihat aksinya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Kota Reda, malam hari.


Seseorang mengenakan judah. Wajahnya tersembunyi dibalik tudung. Ia berjalan menuju Istana Kerajaan Altair. Langkahnya santai, tapi tetap berhati-hati.


Saat di depan gerbang, ia menunjukkan kertas gulungan dengan tanda tangan Sang Raja, kedua pengawal langsung membuka gerbang tanpa bertanya hal lain.


Seseorang itu terus melangkah, menapaki jalan batu hingga ke lantai istana yang cemerlang, putih berkilat. Dirinya menaiki anak tangga yang melingkar dengan pegangan tangan berbahan dasar emas murni.


Di depan, ada dua pengawal sedang menjaga ruang kerja Raja. Seseorang itu berjalan kemudian menunjukkan gulungan tadi. Kedua pengawal tahu siapa orang yang sedang mereka hadapi.


"Silakan, Tuan."


Melangkah ke samping, dua pengawal memberi jalan tanpa pemberitahuan terlebih dulu pada Sang Raja. Karena mereka sudah diperingatkan untuk tidak menghalangi seseorang dengan gulungan bertanda tangan.


Seseorang itu berjalan tanpa ragu kemudian menarik salah satu gagang pintu, menutupnya kembali ketika masuk. Iris biru langit seketika berkilat terkena cahaya lampu. Iya membuka tudung jubah kemudian berlutut dihadapan Sang Raja seraya berkata, "Hormat saya Yang Mulia Firan."


"Berdirilah."


Sesuai perintah, orang itu bangkit kembali, menatap hormat Sang Raja.


"Bagus sekali, kau datang tepat waktu. Bagaimana dengan tugasmu yang sebelumnya, Sameer?"


"Selama tiga hari di sana, saya banyak mendapatkan informasi. Tentang siapa yang memberi mereka persediaan pangan dan tentu saja identitas si pembunuh gurun," tutur Sameer.


Rupanya seseorang itu adalah Sameer, seorang assasin teman baik Yena. Wajah ramah yang selalu ia tunjukan pada Yena tidak tampak lagi sisa keberadaannya. Yang terlihat hanyalah wajah kosong tanpa emosi.


Sang Raja menopang dagu, tersenyum senang dengan seringai licik. "Ceritakan semuanya, aku ingin mendengar semua informasi yang kau dapatkan."


Sameer mengambil sebuah gulungan di balik pakaian kulit dan judahnya, kemudian memberikan pada Sang Raja dengan kedua tangan. "Saya menuliskan semua informasi pada gulungan ini. Silakan Yang Mulia membacanya terlebih dahulu."


Raja menerima gulungan tersebut, ia segera membuka tali yang melilit. Kemudian membaca gulungan dengan seksama. Beberapa menit setelahnya, seringai licik terpahat jelas di bibir. "Bagus, tidak sia-sia aku membayarmu."


"Terima kasih, Yang Mulia."


Raja Firan menatap Sameer kembali, sudut matanya berubah tajam. "Masih ada tugas selanjutnya untukmu. Kau tidak perlu khawatir dengan bayarannya."


Sameer kemudian berlutut di hadapan Raja seraya berucap, "Saya siap melaksanakan apapun jenis tugasnya, Yang Mulia."

__ADS_1


__ADS_2