ADURA

ADURA
Bagian 29: Hati


__ADS_3

"Hey, aku akan cari kayu untuk duduk. Kau bawa kapak?" tanya Hazard.


Yena memandang pada kudanya yang diikat di pohon akasia. "Ada, kau ambil saja di sana."


"Baiklah."


Hazard berjalan cepat kearah pohon akasia yang menjulang tinggi—ranting pohonnya melebar membentuk payung—tanpa melihat ekspresi Yena lagi. Di sana ia menemukan sebuah pohon akasia yang tumbang karena sudah tua. Hazard segera mengambil kapak dari dalam kantung yang tergantung di atas punggung kuda, menggunakannya sebagai alat pemotong batang kayu dan menjadikannya gelondongan. Selepas itu Hazard memanggulnya.


Sampai di dekat perkemahan, Hazard melihat Yena sedang menata ranting-ranting pohon dan dedaunan yang sudah mengering membentuk lingkaran. Lalu saling menggesekkan batu hingga percikan api membakar tumpukkan rating dan daun kering menjadi sebuah api unggun. Gelondongan kayu Hazard lepaskan hingga menimbulkan suara dentuman keras, menggetarkan tanah pasir di sekitarnya. Mereka akhirnya duduk di dekat api unggun tanpa berkata sepatah katapun hingga setengah jam berlalu.


"Ternyata dugaanku benar. Kau, si pembunuh gurun." Yena memeluk lututnya, dia baru menyadari setelah melihat Hazard keluar dari dalam tenda. Karena saat kabur Yena tidak begitu memperhatikan wajahnya.


"Kalau sudah tahu, memangnya kenapa?"


Embusan napas terdengar dari bibir Yena, begitu berat. Tangan kanannya mengambil ranting yang terpisah kemudian melempar kedalam api hingga ledakan kecil terlihat mengepulkan asap hitam lalu kembali memeluk lutut. "Aku tidak tahu," jawab Yena.


Hazard menatap api unggun seakan begitu menarik, dirinya sama sekali tidak menoleh. "Kau tidak ingin menanyakan tentang kejadian tadi?"


Pertanyaan dari Hazard semakin membuatnya canggung. Yena menunduk hingga wajahnya menelusup kedalam lipatan tangan, menyembunyikan sesuatu berwarna merah pada kedua pipi yang tirus.


"Beberapa kejadian dalam satu waktu bahkan aku sama sekali tidak mengerti mengapa salah satunya bisa terjadi. Menurutmu bagaimana?"


Pandangan Hazard beralih pada gadis di samping. Melihat tingkah Yena yang berubah, dapat dipastikan bahwa perasaan mereka hampir sama. Hanya saja Hazard tidak menduga bahwa Yena akan benar-benar menciumnya. "Sebetulnya aku sudah merencanakan situasi seperti ini dari awal," tutur Hazard tak menjawab pertanyaan.


Kepalanya terangkat. Yena menatap Hazard dengan alis yang bertaut. Menunggu kalimat selanjutnya.


Pandangan Hazard menerawang ke depan. Ia mulai bercerita, "Karena dari awal aku memiliki obat untuk gigitan ular hitam itu. Jika mau, aku bisa saja menyembuhkan diri sebelum kabur denganmu. Sayangnya, kantung berisi obat dan barang penting milikku terjatuh ketika kita sedang dikejar oleh para pengawal kerajaan. Aku sempat berpikir akan berakhir di sini."


"Tunggu sebentar," sela Yena, lalu beranjak dari duduk sembari mengangkat tangan, "kau merencanakan hal ini, tapi kau malah terperangkap oleh rencanamu sendiri, begitu maksudmu?"


Hazard mengangguk pelan tanpa kata.


"Astaga! Kau ...." Yena berkacak pinggang seraya menengadah dengan bibir yang digigit, "Sebenarnya apa yang kau inginkan? Mengapa aku tiba-tiba menciummu tanpa sadar?"


Hazard bangkit, menatap manik abu-abu Yena. Lengannya melipat otomatis di dada, napasnya sedikit berat. "Tentang hal itu, agak sulit dijelaskan. Yang pasti, kau menciumku tanpa sadar, karena kita saling terikat oleh takdir."


Yena tak mampu berkata-kata, mulutnya menganga dengan manik membulat. Kalimat yang keluar dari mulut Hazard benar-benar membuat kepalanya berdenyut. "Aku lebih baik tidur. Kalau kau ingin tidur, masuk saja," lirih Yena segera melangkah dengan jemari menekan pelipis.


Namun, Hazard segera menjegal Yena, mencengkram pergelangan lalu menatapnya serius. "Aku akan menjelaskan semua ketika sampai di kota."


"Ya, tentu saja kau harus menjelaskan semuanya. Untuk sekarang aku ingin istirahat. Jadi, jangan mengganggu," jelas Yena sembari menarik lengannya. Ia mengusap pergelangan karena nyeri bekas cengkraman. Pandangannya menusuk, ada rasa ketidaksukaan yang menguat.

__ADS_1


Netranya mengekor hingga bayangan Yena tak terlihat kemudian duduk kembali di atas gelondongan kayu. Hazard melempar beberapa rating kedalam bara api unggun yang meletup-letup, mengeluarkan gas berwarna abu-abu. Napasnya berat, karena perjalanan yang masih panjang. Kejadian ini baru permulaan.


Sementara di dalam tenda, Yena tidur menyamping dengan tangan menjadi bantalnya. Mengingat-ingat lagi apa yang terjadi ketika dirinya tidak sadarkan diri.


Mendadak, Yena bangkit, terbayang gambaran terakhir sebelum dirinya tak sadar. Tepatnya ketika dia melihat kilatan cahaya pada perut Hazard. "Benar, ada sesuatu yang aneh padanya," ujar Yena, jemarinya meremas selimut, melirik keluar tenda.


🍂🍂🍂


Kota Reda.


"Paman, falafelnya empat porsi," ucap Yena seraya memberikan beberapa dirham kepada pedagang.


Si paman mengacungkan jempol. Tampak mengenakan celemek putih kusam. "Siap, Nona," serunya.


Paman pedagang mulai menggoreng falafel di atas wajan besar dengan tungku hampir menyatu pada wajan. Falafel terbuat dari kacang gurun yang digiling dan dipadatkan menjadi bulatan-bulatan kecil. Warna falafel berubah coklat, segera ditiriskan. Si paman dengan cekatan mengambil roti pipih dan menyimpannya pada alas kayu bersih. Roti diberi isian saus asin dan selada asal Negeri Tropis. Bola-bola falafel dibungkus dengan roti pipih. Terakhir si paman mengambil sebuah anyaman daun kelapa berbentuk mangkuk. Falafel di masukan kedalam mangkuk tersebut kemudian mangkuk dilipat dengan rapih.


"Silakan, Nona," ucap Paman pedangan, memberikan falafel yang sudah di bungkus pada Yena.


"Terima kasih." Yena menerima pesanan dengan tersenyum dan lekas pergi dari pasar kota.


Yena singgah dulu ke rumahnya dan memberi satu porsi Falafel untuk Adam dan ibunya, ia menyimpannya di meja makan sekaligus.


"Waaa, makasih kakak," seru Adam, langsung menempelkan pantat pada lantai kayu hitam. Raut wajah riang Adam sangat jelas terlihat, apalagi sekarang sudah memasuki waktunya makan siang.


"Aku makan di rumah oase saja, Bu. Masih banyak kerjaan." Yena harus berbohong berkat seseorang yang ada di rumah oasenya sekarang. Yaitu Hazard.


...


Hazard memasuki rumah oase lewat pintu depan kemudian duduk bersila di lantai kayu. Rambut senja miliknya tampak basah, tetesan air berkali-kali jatuh dari ujung rambut pada kaos merahnya.


"Nih, aku membeli falafel untukmu," seru Yena menyimpan piring kayu—berisi falafel—dan sendok kayu pada meja kotak yang permukaannya agak sedikit kasar.


Pandangan Yena tak lepas dari Hazard ketika melahap makan siang, terutama pada perutnya. Ia penasaran sekali ingin tahu tentang cahaya aneh dibalik perut itu. Ia duduk di depan Hazard dan bertanya, "Kau mandi di mana? Kenapa keluar dari depan?"


"Aku mandi di danau," jawab Hazard seolah tak peduli.


"Loh, kenapa tidak mandi di belakang? Di sana airnya bersih karena disuling langsung dari penampungan air."


"Kau tidak bilang."


Jawabannya terasa menjengkelkan. Sungguh. Dia bisa saja mencari sendiri posisi tempat mandinya, kan?

__ADS_1


Suara hati Yena. Menatap Hazard penuh kekesalan. "Oke, lupakan soal itu. Aku ingin mendengarkan penjelasanmu tentang pembahasan tadi malam."


Hazard sama sekali tidak menggubris Yena sepatah kata pun, dia terlalu fokus pada makanannya.


Sementara falafel hampir habis, tinggal beberapa suap lagi. Yena justru merebut piring kayu berisikan falafel dari sisi Hazard.


"Kau sudah berjanji akan memberi tahu semuanya setelah makan siang, sekarang tepati janjimu," tegas Yena.


Menyimpan sendok di meja, Hazard menatap Yena lekat. Tangannya ditautkan di atas meja dan berkata, "Aku sudah bilang, kita terikat oleh takdir."


Yena memutar matanya lelah. "Oke, jika memang kita terikat oleh takdir, tunjukan buktinya."


Netra beralih pada pundak kiri Yena kemudian menatap Yena lagi. "Buktinya ada pada dirimu. Ketika ciuman berlangsung hanya aku yang sadar. Aku melihat benang cahaya membentuk lingkaran spiral di pundak sebelah kirimu," jelas Hazard, tampak satu garis merah muda timbul dari wajahnya.


Yena meremas pundak. Dia menyingkap kaos putih dan melirik ke kiri. Matanya membulat, tak percaya. Ada sebuah tanda aneh berwarna merah muda berbetuk spiral di sana.


"Bagaimana? Aku tidak bohong, kan?" tanya Hazard ingin mendengar pengakuan dari Yena, "jika masih tidak percaya, akan kutunjukan lingkaran spiral pada tubuhku."


"Sungguh?" Mendadak, Yena sudah berada di samping Hazard. Dia melipat kaki sejajar diikuti cengiran penuh maksud. Membuat perasaan Hazard tidak enak sendiri.


Hazard sedikit menggeser duduknya. Ia merasa Yena sudah terlalu dekat. "Kenapa semangat sekali?" tanyanya dengan kedua telapak tangan menyentuh lantai.


Pandangan menyipit, wajah Yena semakin dekat. "Aku ingin melihat tanda itu. Cepat buka. Atau kau ingin aku yang membukanya?"


"Tidak, tentu saja." Dan Hazard menolaknya tanpa kompromi. Baru saja selesai mandi, dirinya sudah merasakan udara panas lagi. Padahal di luar sana matahari tidak terlalu cerah berkat awan-awan menutupinya.


"Namun, sedikit agak sulit karena tanda ini ada di—"


Kaos merah tersingkap keatas tanpa aba-aba. Hazard menatap jemari lentik yang nyaris menempel pada kulit perutnya. Ia berkedip dalam, lalu menatap wajah serius Yena.


"Hn, Jadi begini bentuknya. Mirip, sih," ujar Yena, ia menatap Hazard intens, "kau pasti bukan manusia?"


"Itu ...," Hazard agak ragu, tapi tetap menunjukkan kristal biru di dahinya dengan menyingkap rambut, "... aku memang bukan manusia, tapi aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang."


Matanya tampak membulat, lumayan terkejut dengan fakta yang ada. "Sudah kuduga, kau memang bukan manusia," hardik Yena, lekas menutup kembali kaos Hazard kemudian beranjak sembari membereskan bekas makan dari meja, "kau sudah kenyang, kan?"


"Ya, buang saja." Hazard menutup wajah dengan tangan, pandangannya dialihkan ke samping.


Tidak ada balasan dari Yena, dia segera kebelakang, bermaksud mencuci bekas makan dirinya—sendirian makan karena Hazard belum datang—dan Hazard. Seluruh wajah seketika memanas dan merah sempurna berkat kecerobohannya sendiri.


Memalukan! Aku terlalu penasaran sampai-sampai lupa kalau dia seorang lelaki.

__ADS_1


Helaan napas terdengar. Yena menampar-nampar pelan pipinya sesekali karena terus teringat bentuk perut Hazard yang terlalu ideal. Ia mencuci piring di tempat mandi—pada lantai batu—dan jika bisa, sekalian ingin mencuci otaknya juga.


__ADS_2