
Di pagi hari yang cerah ini. Seekor burung elang tampak membawa selembar gulungan pada kakinya. Dalam perjalanan yang cukup jauh, burung tersebut singgah di sebuah oase hanya untuk sekedar menghilangkan dahaga.
Burung itu segera mengepakkan sayap ketika salah satu maniknya mendapati seorang manusia keluar dari balik semak.
"Elang sialan! Kembali!" teriak manusia tersebut seakan si burung dapat mengerti bahasanya.
Mungkin jika mengerti, elang itu akan mengejek, "Wek! Tidak kena! Tidak kena!" Jangan di bayangkan! Pasti akan terlihat mengerikan jika burung bisa berbicara.
Manusia tadi rupanya seorang pemuda dengan pakaian yang cukup bagus, terlihat dari rompi miliknya yang sebagian besar di buat dari kulit hewan. Celananya terbuat dari bulu domba yang di sulam menjadi kain. Tidak lupa dengan busur panah bertengger sempurna pada punggungnya.
Awalnya si pemuda sedang mengisi kendi air minum di danau yang kebetulan menjadi tempat minum si burung elang.
Pemuda tersebut mengetahui, burung itu bukanlah burung biasa. Karena pada kakinya terdapat selembar gulungan kertas. Ditambah, si burung melanjutkan perjalan ke arah barat, yang merupakan tempat tujuan utama kelompoknya. Yaitu kota Reda.
Setelah berhasil mengisi penuh kendi miliknya. Pemuda itu kembali ke perkemahan. Di sana banyak sekali orang-orang berlalu lalang. Dari tenda ke tenda, tampak sibuk mempersiapkan makanan.
Si pemuda segera memasuki tenda berukuran besar. Kemudian berlutut di hadapan seorang Pangeran—yang sedang duduk beristirahat di dalam tenda. Ia berucap, "Hormat saya kepada Pangeran Harith."
Pangeran itu tersenyum sembari menganggukkan kepala, dengan ramah beliau menjawab, "Syamsi. Kamu begitu lama padahal hanya mengambil air. Sepertinya ada kejadian menarik di sana. Coba ceritakan padaku."
Pemuda yang di panggil Syamsi itu tersenyum tipis. Meski tidak di beri izin secara langsung oleh Pangeran untuk duduk. Syamsi sangat mengerti, ketika Pangeran bertanya seperti itu, tentunya izin untuk duduk sudah ia dapatkan.
"Pangeran benar. Memang ada sedikit kejadian menarik di sana," ucap Syamsi memposisikan dirinya duduk bersila agar lebih nyaman. Ia melanjutkan, "Jadi, ketika saya sedang mengisi kendi air. Tiba-tiba ada seekor elang yang turun. Elang itu membawa gulungan kertas pada kakinya. Saya bermaksud ingin menangkapnya dan mengambil gulungan yang dia bawa. Namun, usaha saya gagal."
"Elang itu langsung terbang?"
"Begitulah, saat itu saya ingin menangkapnya dengan tangan kosong," raut wajah Syamsi berubah kusut. Menunjukkan kekecewaannya secara gamblang.
Wajah kecewa Syamsi terlihat lucu bagi Pangeran Harith. Beliau tertawa ringan membuat Syamsi tersipu malu.
"Yah, salahmu sendiri ingin menangkap seekor elang dengan tangan kosong. Padahal kamu memiliki busur panah di balik punggungmu," gelak tawa itu semakin pecah.
Ucapan Pangeran Harith telah menyadarkan Syamsi bahwa ternyata dirinya begitu bodoh. Wajah Syamsi berubah merah, tampak seperti kepiting rebus yang baru saja diangkat.
Tak lama, seorang wanita dengan pakaian pelayan membunyikan lonceng terlebih dahulu kemudian membuka tirai tenda. Dia memberi hormat kepada Syamsi dan Pangeran Harith.
"Tuan Pengawal Syamsi. Ada sedikit masalah di luar. Kami butuh bantuan Anda," terang si wanita sembari menundukkan pandangan.
"Pangeran ...." Syamsi ingin meminta izin terlebih dahulu pada pangeran. Sebelum kalimatnya selesai, Sang Pangeran sudah menganggukkan kepala pertanda beliau telah memberi izin.
Syamsi segara bangkit dari duduknya. Memberi hormat terlebih dahulu sebelum keluar dari tenda.
Syamsi, salah satu pengawal pribadi Pangeran Harith. Dengan gelar yang disematkan padanya yaitu 'Pedang Kanan Pangeran Harith'. Dirinya bukanlah sekadar pengawal biasa. Bakatnya dalam berpedang dan memanah tak bisa di remehkan oleh siapapun termasuk Yena, si pemilik pedang legendaris.
__ADS_1
Syamsi tumbuh bersama dengan Pangeran Harith, hal itu menyebabkan hubungan mereka tidak seperti atasan dan bawahan melainkan seperti sepasang sahabat.
Sebenarnya Pangeran Harith masih memiliki satu pengawal pribadi lainnya dengan gelar 'Pedang Kiri Pangeran Harith'. Namun, pengawal itu sedang dalam keadaan bertugas sehingga kehadirannya tidak tampak di sini.
Setelah kepergian Syamsi bersama seorang pelayan wanita, tenda kembali terbuka. Terlihat seorang wanita dengan pakaian abaya khas Istri Kerajaan Altair terdahulu. Raut wajahnya yang menua tidak lantas membuat kecantikannya memudar.
"Ah, Nyonya Chayra." Harith bangkit dari duduknya sebagai tanda penghormatan. Ia melanjutkan, "Silakan duduk."
Wanita bernama Chayra mendekati Harith. Ia memeluk tubuh tegap itu dengan erat. "Harith. Sebentar lagi kerajaan akan kembali ke tanganmu. Tolong balaskan dendam Yang Mulia Raja Ghani dan Yang Mulia Ratu Alea."
Harith membelai lembut tubuh lemah Chayra. Wanita dalam dekapan itu sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri. "Tenang saja Nyonya. Saya berjanji akan menuntaskan semua kejahatan-kejahatan yang telah di lakukan oleh Raja Altair pada zaman ini."
Sejujurnya Harith tidak begitu yakin dengan statusnya sebagai Pangeran. Yang ia tahu, dari kecil dibesarkan oleh Chayra di sebuah kastel yang cukup terpencil dari peradaban. Ia belajar berpedang dan berburu dari orang-orang yang ikut bersama dengan Chayra.
Sedikit cerita dari Chayra, mendiang Raja Ghani merupakan ayahanda Harith yang telah gugur dalam perang pemberontakan. Sedangkan mendiang ibundanya meninggal sesaat setelah melahirkan Harith sebelum pemberontakan terjadi. Setelah pertimbangan yang cukup panjang barulah Nyonya Alea yang di angkat menjadi Yang Mulia Ratu menggantikan posisi mendiang Ratu terdahulu—ibunda Harith. Chayra bilang Ratu Alea memiliki seorang putra bernama Hazard sebelum beliau diangkat menjadi Ratu.
Namun sayangnya, mereka terpisah ketika sedang dalam pelarian akibat kekalahan Sang Raja dari kelompok pemberontak. Hingga saat ini tidak ada yang tahu, apakah Ratu Alea dan putranya berhasil selamat?
Mendadak Syamsi menyingkap tirai tenda. Napasnya tidak beraturan seakan baru saja di kejar roh jahat. Pada tangan kanannya terdapat sebuah gulungan kertas yang belum di buka.
"Pangeran ... ini ... su-surat dari si pembunuh gurun!" pekik Syamsi seraya mengulurkan lengannya ke arah Harith.
Harith melepaskan dekapannya dari Chayra. Dirinya segera meraih gulungan surat tersebut. Kemudian membacanya di dalam hati.
Apa kabar? Malam ini sungguh malam yang sangat cerah, bukan? Secerah perasaanku. Hahaha.
Aku menulis ini, pada malam hari karena tidak ada waktu jika menulis di siang hari. Jadi, jika suratnya baru sampai pagi hari maklumi saja karena saya baru selesai bertugas.
Oh ya, semua tugas yang Anda berikan, mengapa tidak ada yang menegangkan? Jujur, hal seperti ini sungguh membosankan.
Ayolah Pangeran, beri saya tugas yang lebih menarik. Agar saya bisa membawa pulang kepala manusia lebih banyak lagi.
__ADS_1
Tertanda,
Si Pemburu Kepala
Harith menggeleng, tak menyangka bisa mendapatkan surat menarik dari seorang assassin yang akhir-akhir ini sangat ditakuti oleh para Petinggi Kerajaan. Dirinya jadi teringat hari dimana ia bertemu dengan si Pemburu Kepala.
Tepatnya di hutan dekat kastel. Saat itu si Pemburu Kepala sedang terluka karena terperangkap pada jebakan yang dibuat oleh pengawalnya.
Aneh, setelah di obati, luka si pemburu langsung sembuh sehari setelahnya. Sama sekali tidak ada bekas luka pada kulitnya.
Setelah itu, si pemburu menawarkan bantuan pada Harith sebagai bentuk balas budi. Saat itulah Nyonya Chayra berkata lantang. Beliau meminta bantuan kepada si pemburu untuk menghabisi satu per satu para Petinggi Kerajaan Altair. Dan si Pemburu Kepala pun menyanggupi.
Mulai saat itu, pembunuhan demi pembunuhan terjadi pada Petinggi Kerajaan Altair. Bahkan gosipnya tersebar begitu cepat. Hingga menyebabkan pergolakan yang cukup mengancam posisi Raja Altair yang sekarang.
Dengan kondisi yang tidak stabil ini, Harith ingin memanfaatkan situasi. Ia berencana melakukan pemberontakan dan memenggal Kepala Sang Raja. Jika rencananya berhasil bukan tidak mungkin kekuasaan akan jatuh dengan mudah ke tangannya. Tentu saja hal semacam ini harus didiskusikan dulu dengan si Pemburu Kepala.
"Anu ... Pa-pangeran. Si pembunuh sekarang masih ada di luar ..." ucap Syamsi terbata-bata.
Harith mengerutkan keningnya. Agak tidak percaya dengan perkataan Syamsi. Namun tidak mungkin Syamsi berbohong 'kan?
Pangeran Harith pun segera mengecek kondisi di luar. Dan benar saja, di atas pohon kelapa. Ada seorang pria berjongkok di sana. Pria itu melambaikan tangannya dengan ceria tanpa beban.
Baru saja berkedip sekali, pria itu sudah ada di hadapan Harith. Membuatnya terkejut bukan kepalang. Hingga memeluk seorang pelayan perempuan di sampingnya.
"Maaf saya tiba-tiba menemui Anda, Pangeran, " ucap si Pemburu Kepala seraya berlutut di hadapan Harith.
Para pelayan dan pengawal saling bersenggolan melihat Harith yang masih memeluk seorang pelayan perempuan. Hingga akhirnya Harith tersadar dan kembali memposisikan dirinya seperti semula.
"Ekhm! tidak apa-apa. Berdirilah," Harith berdehem cukup keras untuk mengembalikan kewibawaannya.
Walaupun begitu, suara tawa masih terdengar samar dari beberapa orang bahkan Nyonya Chayra dan Syamsi pun ikut tertawa.
Si pemburu dengan wajah tanpa dosa, berdiri begitu santai. Ia menatap heran orang-orang yang tertawa. Baru saja ingin membuka mulut dan menanyakan mengapa mereka tertawa, Harith sudah merangkulnya. "Kemarilah, aku ingin mendiskusikan tentang rencana selanjutnya."
Pada akhirnya Harith dan si pemburu masuk bersama-sama ke dalam tenda diikuti oleh Pengawal Syamsi dan Nyonya Chayra.
Si pelayan perempuan yang baru saja di peluk. Tampak terpaku di tempat. Pipinya benar-benar merah merona karena ketidaksengajaan pangeran membuatnya merasa beruntung.
__ADS_1
"Kaila, kau akan di sana terus? Cepat bantu kami siapkan makanan!" teriak lantang seorang Kepala Pelayan.
"I-iya Bibi, tunggu sebentar!" Akhirnya Kaila berlari begitu sadar. Ia segera menyatu dengan pelayan-pelayan yang lain.