Ajari aku jadi istri sholeha yaa ustadz

Ajari aku jadi istri sholeha yaa ustadz
Move on yang menyakitkan


__ADS_3

Setelah lima tahun lebih Helwa menempuh pendidikan di luar kota, kini ia kembali mengepakkan sayapnya di kota kelahirannya. Dengan harapan membuka lembaran hidup baru tanpa bayangan masa lalu.


Di umur ke 24 tahunnya kini Helwa menjelma gadis dewasa dengan kecantikan yang semakin bertambah


***


Usai sholat maghrib Helwa telah rapi dan cantik untuk memenuhi acara tunangan kaka perempuan Ara di rumah Ara. Awalnya Helwa menolak, malas untuk pergi ke keramaian, namun Ara membujuknya dengan Embel embel kangen


Setibanya disana acara langsung akan di mulai tapi mempelai pria minta sedikit waktu untuk menunggu seseorang.


" Nahh...ini dia pak dokter tamu istimewaku!" ujar calon mempelai laki laki sambil menunjuk seorang pria berperawakan tinggi dan putih yang baru timbul di depan pintu.


" Ma'af telat, tadi masih ada pasien dadakan!" sang pria berucap seraya membuka jas putihnya


Serasa tak begitu asing dengan suara tersebut, Helwa menoleh, lantas mengerutkan alis " Itu seperti kak Chandra bukan Ra ?" Helwa menatap Ara yang sedang tersenyum senyum sendiri


" Iya, kak Chadra itu sepupu nya yang akan jadi suami kakak aku nanti !" jawab Ara dengan masih tersenyum.


Dari kejauhan sana Chandra tampak menatap keberadaan Ara dan Helwa tanpa ekspresi.


Acara tukar cincin pun di mulai, namun tak lama dari itu tiba tiba lampu hias ruang tamu jatuh tepat mengenai Helwa


" Helwa awass...!" di waktu yang tepat Chandra mend0r0ng Helwa hingga keduanya sama sama terjatuh, Helwa terselamatkan, namun tangan kanannya sedikit terluka kena gesekan beling saat lampu jatuh.


" Helwa kamu gak papa ?" Chandra tampak panik begitu juga Ara dan juga lainnya seketika heboh.


Chandra hendak memegang lvka di tangan Helwa namun segera Helwa cegah " Aku gak papa kok kak Chand!" sekejap Chadra terdiam.


" Gak papa apany, tangan kamu berd4rah gitu, tunggu aku ambilin kotak 0bat dulu di mobil" Chandra berlari keluar.


Ara membantu Helwa berdiri dan membawanya duduk di kursi balkon, tak lama setelah itu Chandra datang bersama adik perempuanya Chandrika dengan membawa kotak obat.


" Sini Hel tangannya, biar aku obatin !" Chandra hendak meraih tangan Helwa, namun lagi lagi Helwa mencegahnya


" Ma'af kak, aku bisa sendiri !" Helwa menolak halus, Chandra terdiam beberapa saat, hingga Ara berdehem.


" Kak Chandra gak usah tersinggung dulu, sekarang neng Helwa ini lagi jaga kontak fisik secara langsung dengan yang bukan mahromnya, secarakan dia sarjana pendidikan agama islam!" Ara tersenyum menggoda.


" Gak kok, aku ngambil jurusan matematika!" Helwa yang merasa gak enak campur malu berusaha mengelak.


" Itu kan pas nempuh S1, S2 nya kan sarjana pendidikan agama" timpal Ara seraya mengambil alih kotak obat dari Chandra.


" Jadj, biar aku aja yang ngobatin kak Chand "


Chandra langsung mengangguk, setelah mengobati tangan Helwa dan memperbannya Ara pamit sebentar karena di panggil kakaknya untuk berfoto, Chandra juga pergi mengembalikan kotak obat ke mobil.


" Nama Kaka Helwatus Salwa bukan?" tanya Chandrika yang masih duduk di bangku SMA,saat mereka tinggal berdua saja.


" Iya...kok tau?" Helwa tampak heran


" Soalnya kak Chand sering banget cerita tentang kaka ke aku dan bunda, bahkan sejak masih SMA, Kak Chand cerita ke bunda bahwa di sekolah ia menyukai seorang siswi yang cantiknya kayak budadari...siswi itu sering melakukan kecerobohan juga sering di hukum, di situ Kak Chand pengen banget jadi pahlawan untuk siswi itu "


Helwa senyum tak percaya dengan cerita Chandrika, mustahil jika Chandra menyukainya dulu...ia juga geli mengingat masa masa ken4kalan remajanya, dulu dirinya paling sering menerima hukuman hingga pacaran di sekolah, berpelukan dan hendak di nikahkan, alu...Ah...Helwa segera memutus ingatannya agar tak terhubung ke masa lalu yang akan membuatnya terpuruk lagi.


" Kak Chandra juga banyak menyimpan lukisan-lukisan wajah Kaka dan memajangnya di meja belajarnya, katanya bikin semangat liat senyuman kaka, pernah bunda menyuruh Kak Chand untuk mengungkap kan perasaanya, tapi kata kak Chandra kakan udah milik orang, terus pas lulus SMA katanya Kaka kuliah di luar kota, Kak Chandra juga ingin ikut kuliah di tempat kaka tapi ayah gak setuju, nyuruh kak Chandra tuk kuliah di sini saja dekat dengan keluarga!" jelas lagi Chandrika


Helwa kembali tersenyum tak menggubris kata kata Chandrika, bisa saja dulu Chandra hanya iseng bicara tentang dirinya sebab kenakalannya yang bikin para osis kewalahan.

__ADS_1


" Hei...lagi bicarain apa, kok seirius banget kayaknya!" tiba tiba Chadra sudah kembali.


" Bicarain tentang gadis kaka dulu!" ujar Chandrika membuat sang kaka menautkan alis tanda tak paham, namun setelahnya Chandrika pamit pergi tuk menemui kawan kawannya.


Helwa merasa canggung di tinggal berdua dengan Chandra, walau di sekitarnya masih terdapat orang orang yang lagi ngobrol sambil menikmati hidangan


Helwa berdiri dekat balkon sambil menatap bintang di langit


" Mubadzir banget ya Hel...cewek se istimewa kamu belum ada yang miliki !" Chandra memecah keheningan dengan candaan, seraya ikut berdiri disamping Helwa dengan berjarak.


Helwa hanya tersenyum tanpa menatapnya


" Makasih ya kak!" Celetuk Helwa.


" Untuk?"


" Untuk yang tadi, udah nyelametin, juga untuk yang di sekolah dulu+dulu nya sering banget kaka nolongin, dan....untuk malam itu kaka sudah mau memberiku tumpangan pulang !" seketika Helwa menunduk kata-kata terakhirnya membuat ia teringat akan malam yang meny4kitkan baginya, saat dirinya keluar dari rumah Ahlan dengan membawa lu-ka.


" Tidak kah kau ingin membuka hatimu lagi Hel...untuk pria lain " Chandra menatap Helwa dari samping, yang masih tertunduk.


Helwa tersenyum getir sebagai jawaban.


" Jika hatimu masih terlu-ka...bisakah aku menyembuhkanya Hel !" ujar Chandra hati hati.


" Setiap orang bisa berdamai dengan lvkanya...tapi gak semua orang bisa sembuh dari traumanya!"


Chandra terdiam sesaat...di pandanginya wanita ayu yang telah mengisi hatinya beberapa tahun lamanya.


" Baiklah,sembuhkan dulu hatimu sebelum memulai kisa yang baru...!" ucap Chandra sebelum akhirnya pamit untuk pergi.


Seperginya Chandra Helwa kembali mendongakkan wajahnya menatap bintang dengan tatapan sendu..


membuka hatinya lagi untuk pria lain.


" Sekarang Kak Chandra makin ganteng ya Hel!" Ara tiba tiba datang berdiri di samping Helwa .


" Ia mengikuti program pendidikan akademik profesional dengan lulusan yang mempunyai kualifikasi magister bidang kedokteran dan sekarang ia menyandang gelar dokter...gak heran dulu di sekolah ia siswa paling pinter salain Hulya...juga teladan...Kak Chand yang memiliki nama lengkap Chandra Prawida itu putra tunggal seorang TNI Yuda Prayoga, cita-cita Kak Chand jadi pelukis tapi Pak Yuda ingin kak Chan jadi seorang dokter...karena Kak Chand tipe nurut orang tua jadilah ia seorang dokter, tipe aku banget!" Ara tampak sumringah


" Awal ketemu waktu itu kak Chandra nolongin kita, lebih tepatnya kamu pas jatuh dari pagar sewaktu manjat, Kak Chandra baik banget, dari awal aku sudah mengagumi anak kelas IPA yang umurnya terpaut 6 bulan di atas kita itu " imbuh Ara lagi


Helwa terdiam seribu bahasa mendengar pernyataan bahwa Ara sepupu nya menyukai Chandra laki laki yang barusan menawarkan diri ingin menyembuhkan luka di hatinya


***


Definisi kesepian, ketika kita punya banyak hal yang ingin di ceritakan namun tak ada telinga yang bersedia mendengarkan.


Ialah yang Helwa rasakan....


Saat ini ia tengah duduk lesehan di caffe yang bernuansa islami sambil mengaduk aduk minumannya sendirian....


Awalnya Helwa mengajak Ara menghadiri acara tebar dakwah yang di selenggarakan oleh caffe tersebut satu bulan sekali, namun Ara menolak sebab mengantarkan kakanya ke butik memilih gaun pernikahannya.


Selama satu tahun terakhir ini Helwa memang sering mengikuti acara acara yang berbau islami, untuk mengisi kesepiannya.


" Helwa...!" panggil seorang pria, lantas Helwa menoleh, langsung mendapati pria di masa lalunya saat sekolah.


Helwa segera mengalihkan pandangannya tampak cuek.

__ADS_1


" Kamu Helwa kan...masih ingetkan sama aku...Huffair!" ujar Huffair yang kembali di cuekin oleh Helwa, Huffair tampak ingin duduk di depan Helwa yg terhalang meja.


" Ma'af !" Helwa menunjuk sebuah peraturan berbentuk kaligrafi


" Di caffe ini ada peraturan melarang duduk berduaan yang bukan mahramnya.


Huffair menghela nafasnya tampak kecewa " Baik lah, bisakah kita bicara lain waktu Hel " Pinta Huffair


" Ada yang ingin aku bicarakan " imbuh Huffair, Helwa hanya menjawab dengan senyuman, lantas Huffair pergi ke tempat dimana khusus para pria.


Saat hendak minum tiba tiba gelas Helwa tumpah terkena tendangan bola.


" Maaf Bibi, Arfan tidak sengaja " seorang bocah laki laki Mengatupkan kedua tangan mungilnya di depan Helwa.


Helwa hanya tersenyum manis seraya berdiri mengambil bola yang menggelinding di lantai lalu memberikannya.


" Makasih Bibi!" ucap Arfan girang


" Sama sama " balas Helwa seraya tersenyum


"Arfan...kamu dimana!" seorang pria memanggil Arfan


"Arfan disini Abi...." Arfan segera berlari menuju seorang pria berpakaian koko.


Degg!


Seketika jantung Helwa berdegup kencang, keringat dingin membasahi telapak tangannya, Helwa terpaku terdiam di tempat, dunia seakan berhenti berputar tatkala ia melihat pria yang di panggil Abi oleh Arfan adalah Ahlan.


Pria yang sangat ia hindari pertemuannya hingga ia rela berlari ke kota lain untuk melupakannya.


Di depan sana Ahlan berdiri sambil memegangi tangan Arfan tampak sama terkejutnya melihat Helwa


Air mata Helwa jatuh tampa kompromi, tak tahan Helwa segera mengambil tas nya lantas berlari keluar dari kafe.


Setibanya di parkiran kaki Helwa tak sanggup lagi membawa lari badannya, hingga terjatuh.


Sekilas Helwa menoleh kebelakang...hingga akhirnya ia tertawa miris, merasa kasihan pada dirinya sendiri yang masih berharap Ahlan akan mengejarnya.


" Ingat Helwa..Ustadz Ahlan suaminya Hulya, bahkan sekarang mereka sudah punya anak, Ustadz Ahlan tidak akan perduli lagi dengan kamu ia sudah bahagia !" lirih Helwa tanpa mengurangi air matanya yang mengalir.


Helwa merasa sia-sia pelariannya selama lima tahun lebih, pertemuannya dengan Ahlan saat ini seakan mengulang luka lama.


Samar samar Helwa mendengar ceramah di dalam kafe di mulai...dan lagi itu suara Ahlan.


Helwa mengusap air matanya...berusaha tegar, dengan langkah pelan ia mendekat ke pintu kafe, ia lihat paling depan sana Ahlan tengah memegang microfon.


Figur Ahlan menebar sejuta pesona, setiap ucapannya di selipi senyuman simpul menghiasi wajah teduhnya...kata-kata indahnya mampu membius para jama'ah, bahasa tubuhnya penuh kelembutan dengan sesekali tangannya mengusap Kepala kecil Arfan yang duduk di sebelahnya.


Hati Helwa ter lris, sakitnya bak luka di taburi garam, Helwa cemburu melihatnya...cemburu dengan kedekatan Ahlan dan Arfan yang Helwa yakini putra Ahlan dengan Hulya...bibir Arfan begitu mirip Ahlan begitu juga rambutnya, usia Arfan sekitar empat tahunan lebih,itu artinya Ahlan langsung memiliki anak setelah berpisah darinya.


"Begitu mudahnya kau melupakan ku Ustadz..!" Helwa menyeka air matanya.


Dusta memang jika Helwa mengatakan cintanya untuk Ahlan telah m4ti, buktinya hingga saat ini Ahlan masih ter istimewa di hatinya, pesona Ahlan masih kerap hadir di sela sela kesepiannya.


Dulu Helwa begitu mudahnya gonta ganti hati dengan perasaan yang baru dengan para pacarnya, melupakan mantan adalah ke ahlianya...tapi sekarang ia sadar...yang ia rasa untuk para prianya hanyalah sekedar suka bukan cinta.


" Tapi untuk mu Ustadz...wabilhaqiqoh, uhibbukum!" Lirih Helwa

__ADS_1


" Tapi untuk sekarang aku akan mencari kebahagianku sendiri aku ikhlas melihat u


Ustadz bahagia!" Helwa mengusap air matanya...ia sudah bertekad untuk move on walau menyakitkan.


__ADS_2