Ajari aku jadi istri sholeha yaa ustadz

Ajari aku jadi istri sholeha yaa ustadz
Apa kabar hatimu?


__ADS_3

Helwa memarkirkan motornya, melepas helmnya lalu berjalan menuju angkringan tepi danau.


Selepas menghadiri acara kajian muslimah yang di adakan di kampus Ara, sorenya Helwa menyempatkan diri mampir ke tempat favorite nya yaitu danau.


" Es bobanya satu pak, rasa kayak biasanya !" usai memesan Helwa langsung duduk di kursi menghadap danau, memandangi pemuda pemudi yang tengah bercanda ria di atas perahu.


" Jangan banyak pikiran nanti stress, kan sayang cakep cakep stres !" ujar Huffair yang tiba-tiba datang dan langsung duduk di kursi depan Helwa yang terhalang meja.


Helwa hanya membalas dengan senyum simpul seraya menerima pesanan es nya.


Huffair menatapi Helwa yang tampak cuek sambil menyeruput es nya.


" Jadi kamu sudah pisah dengan suami kamu Hel, maaf aku tidak tahu siapa namanya, yang ku dengar kamu hanya di nikahkan dengan ustadz baru di sekolah kita sebagai penggantiku!"


Helwa tersenyum kecut " Kenapa kau menanyakan itu?"


" Kemaren aku lihat kamu lari saat bertemu dengannya di caffe, seakan menghindari bertemu dengannya...!"


" Lalu apa pedulimu?" sekak Helwa


" Aku masih sayang sama kamu Hel...tolong maaf kan kesalahan ku di masa lalu saat itu aku hanya ingin fokus sekolah, aku memang b0d0h meninggalkan berlian sepertimu"


" Velly mu kemana memang!" Helwa tampak mengejek


" Velly bukan siapa siapa ku Hel, dia hanya anak kawan sosialita mamaku!" jelas Huffair, Helwa hanya diam.


" Jadi ku mohon kembali lah padaku Helwa, aku janji akan membahagiakanmu, tak kan mengecewakanmu lagi, kita mulai semuanya dari awal lagi!"


Helwa membuang pandangan, kadang terlintas di pikirannya untuk menerima tawaran Chandra yang akhir akhir ini selalu menyatakan perasaannya ingin menjadikan Helwa kekasih halalnya, demi menghindari Huffair yang tidak ada menyerahnya mengejar dirinya, dan juga untuk memudahkan dirinya melupakan Ahlan dari memorinya.


"Helwa...kamu mau kan maafin aku!" Huffair menatap Helwa dengan penuh harapan.


Helwa tampak berpikir...


" Aku maafin kamu, tapi tidak dengan kembali lagi dengan kamu, maaf Huffair!"


Helwa meraih tasnya pergi berlalu dari hadapan Huffair.


" Aku bawa lagi keranjangnya ya pak !" sepeti biasa Helwa menjinjing keranjang berisi es boba yang telah terkemas rapi untuk menjajakannya dekat danau.


Jika masa remajanya dulu mainnya Helwa ke mall atau tempat wisata, entah kenapa saat ini ia lebih suka menghabiskan waktu senggang nya di tempat kajian kajian islami atau hanya pergi ke danau yang di akhiri dengan membantu bapak tua menjajakan dagangan es nya.


Helwa naik ke atas perahu yang telah terikat, sontak orang-orang di atas perahu lainnya mendekat untuk membeli es di keranjang Helwa, saat sibuk-sibuknya nya melayani tiba tiba...


" Permisi Kaka...ini untuk Kaka !" seorang anak laki laki memberikan kertas pada Helwa.


" Maaf dari siapa ya?" tanpa menjawab pertanyaan Helwa anak laki-laki tersebut pergi berlari.


Helwa menautkan alisnya tampak heran, tangan lentiknya membuka lipatan kertas dan membacanya


" Apa kabar hatimu?"


Helwa yang heran mengedarkan pandangan ke area danau, mencari sosok pemberi kertas tersebut, namun nihil...ia tak menemukan tanda tanda orang yang kemungkinan mengenal dirinya


'tak mungkin Huffair' batin Helwa


" Es nya satu ya !" ujar pembeli


" Ok Kak !" Helwa menyudahi pencariannya, melipat kembali kertas tersebut dan menggenggamnya.


Tangan lentik Helwa meraih keranjang di bawahnya


" Oh ya...rasa apa?"

__ADS_1


" Rasa yang pernah ada ?"


Degg...!


Suara itu kembali mengingatkan Helwa pada seseorang....


Helwa segera menoleh kesamping


" Ustadz...!" Helwa tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, lantas ia memindai perahu yang ikatan talinya sudah terlepas dan mengapung ketengah danau tanpa Helwa sadari.


" Apa...mau berenang, agar bisa terlari dariku !" nada Ahlan tampak mengejek seraya menahan senyum.


Helwa tergelagap, menoleh kesana kemari...jujur ia belum siap bertemu, bertatap muka dengan Ahlan seperti ini, apalagi Helwa sedang dalam proses melupakan.


" Maaf, aku terpaksa pakai cara ini untuk menemuimu" ujar Ahlan, Helwa berusaha menguasai keadaan agar tak terlihat gugup di depan Ahlan.


"Karena kalau tidak sudah pasti kau akan lari, seperti di caffe kemaren kau lari...sengaja aku tak mengejarmu, karena aku tahu semakin aku kejar maka kamu semakin lari..itu lah dirimu seperti saat menyukai pelajaran matematika, tapi kamu selalu menghindarinya!"


Helwa terdiam mendengar ucapan Ahlan, masih belum bisa mencerna dengan baik kata katanya, apalagi saat Ahlan ingin mengejar dirinya.


Ahlan duduk di bagian ujung depan perahu sambil menatapi Helwa yang masih setia manatap air dengan posisi menyampingi Ahlan...Helwa sekarang sudah dewasa, banyak yang berubah darinya bahkan tingginya sudah batas telinga Ahlan, yang dulu hanya dibawah pundaknya...pakainnya juga lebih rapi.


" Apa kabar hatimu Helwa !"


Mendengar pertanyaan Ahlan sontak Helwa melihat kertas yang di genggamnya, mulai menyadari bahwa tulisan itu dari Ahlan.


" Bur...baik kok!" Helwa segera meralat ucapannya, menarik nafas berusaha setenang mungkin di depan Ahlan.


" Apa sudah ada orang yang berarti di hatimu saat ini?" tanya Ahlan


Helwa tersenyum kecut "Semenjak kehilangan Ustadz, mulai belajar bahwa untuk hidup bersama tidak cukup hanya bermodal percaya !"


Ahlan bergeming, menatapi Helwa tanpa ekspresi


" Apa kau trauma?"


Sesaat keduanya saling terdiam...sibuk dengan pikirannya masing masing.


" Semenjak kau meninggalkan ku.. entah mengapa hidupku gelisah..." Ahlan berbicara sambil menatap air


" Jujur dari hati...terkadang masih teringat kamu!"


Refleks, Helwa menoleh kesamping, menatapi Ahlan, mencari keseriusan kata kata yang barusan di ucapkannya, berharap Ahlan melanjutkan ucapannya yang lebih membuat Helwa yakin kalau Ahlan benar benar masih memikirkannya, namun nihil...Helwa kecewa, Ahlan terdiam dengan masih memandangi air.


" Oh ya...semenjak pisah kita baru ketemu lagi...Ustadz apa kabar, juga...Hulya?" sebisa mungkin Helwa tampak baik baik saja, padahal hatinya bergemuruh, lagi saat menanyakan Hulya, ia belum siap mendengar cerita Hulya dalam kehidupan Ahlan.


" Aku tak mencintainya...walau sudah berusaha !" Ahlan tersenyum samar


Helwa membuang pandangannya ke samping


"Tidak mencintainya..tapi kau punya anak dengannya Ustadz!" batin Helwa...entah kenapa tiba tiba ia menyesal menanyakan itu pada Ahlan, sama saja ia mencari luka sendiri, tiba-tiba air mata Helwa jatuh tanpa ia sadari, perih selalu ia rasa saat mengingat tentang Ahlan dan Hulya.


" Helwa...pulanglah...!"


Helwa tak menggubris titah Ahlan...ia masih sibuk menangis sambil menatap danau hingga air itu menimbulkan riak.


" Aku belum ingin pulang!"


" Apa kau ingin menangis sampai maghrib disini?"


" Maaf...aku tidak menangis.!" Elak Helwa


Ahlan tersenyum geli " Kamu pikir aku tidak tahu?"

__ADS_1


Helwa menoleh kesamping, mendapati Ahlan yang sedang menatap air, seketika Helwa sadar, sedari tadi Ahlan memantau dirinya melewati air yang memantulkan bayangan dirinya.


Helwa merasa jadi Helwa b0d0h lagi dihadapan Ahlan seperti dulu dulunya.


Ahlan mengambil gayung perahu, berusaha menepikan perahu


" Pulanglah...sudah hampir maghrib!"


" Ustadz tidak perlu memerintahku ataupun memperhatikanku seperti itu...sekarang aku bukan lagi istri Ustadz!" Helwa berucap seraya turun dari perahu mendahului Ahlan.


" Helwa...!" Ahlan naik ke daratan menyusul Helwa


Helwa menoleh, Ahlan mengulurkan sebuah kartu "Ini alamat tempat tinggalku...datanglah !"


" Maaf...aku tidak memerlukannya !" Helwa lanjut jalan menghampiri motornya


" Kenapa kamu pakai motor...itu tidak baik untukmu!" Nasehat Ahlan


" Polisi yang suka nilang aja tidak melarangku untuk berkendara motor!" ketus Helwa


" Tapi aku melarangmu...lebih aman pakai mobil kalau mau keluar jauh apalagi hampir maghrib...kamu ini perempuan soalnya, jangan bar bar." jelas Ahlan


" Dengar Ustadz...aku pakai motor karena lebih mudah parkirnya saat tiba tiba singgah di suatu tempat, bukan ada maksud lain..dan lagi semenjak kita bukan suami istri...aku tidak wajib menuruti perintah Ustadz, jadi jangan mengatur ngatur aku lagi!" Helwa meraih helmnya.


Ahlan senyum simpul" Keras kepalanya masih ya!"


Helwa menoleh, tak terima "Tenang aja, perempuan keras kepala ini bukan lagi istri Ustadz kok, urus aja perempuan kalem ustadz !"


Ahlan tampak menghembuskan nafasnya "Baik lah...biar aku mengantarmu!" tawar Ahlan


" Aku bisa pulang sendiri, jangan campuri kehidupanku lagi, dan juga jangan muncul di depanku lagi seadainya kita tak sengaja bertemu anggap aja tak pernah saling kenal!"


" Kenapa?"


" Ustadz sudah pasti tau jawabannya!" Helwa menghidupkan motornya.


" Tunggu..simpan alamat ini..aku harap kau datang!" Ahlan menyelipkan kartu alamatnya di tas Helwa.


" Aku tidak akan pernah datang!" ujar Helwa sebelum akhirnya menjalankan motornya .


***


Meski Helwa menolak untuk di antar, Ahlan tetap membuntuti Helwa dari belakang dengan mobil, tanpa sepengetahuan Helwa.


Hingga Ahlan memastikan Helwa baik baik saja sampai rumah.


Sesampainya di pelataran rumah Helwa, Ahlan turun dari mobil memantau Helwa hingga masuk kedalam rumah.


Lalu berdiri di samping pintu mobil sambil bersandar mengangkat wajahnya, menatap lantai dua yang terdapat kamar Helwa di situ.


Dari bawah Ahlan bisa melihat gerak garik Helwa dari kaca jendela yang tirainya belum tertutup sempurna.


Di sana Helwa tampak mondar mandir dari kamar mandi ke lemari hingga Helwa melepaskan jilbab dan baju luarnya hanya menyisakan tan top pink yang melekat, membentuk lek4k lekvk tubuh Helwa dengan sempurna.


Ahlan lekas mengalihkan pandangannya, sadar akan avrat Helwa yang tak lagi halal ia lihat seperti dulunya.


" Kamu masih seceroboh dulu Helwa !" gumam Ahlan dengan menyelipkan senyuman di bibirnya, dulu sering sekali Helwa membuka baju di depan Ahlan, bahkan tak segan segan berganti di depannya...membuat Ahlan menelan ludah sekuat mungkin menahan hasratnya.


Ahlan meraih handponnya, mengetik sebuah pesan....


' tutup dengan sempurna tirai jendelamu, biarkan orang lain yang bukan mahromu melihatnya!'


Saat akan menekan tombol kirim, tiba tiba Ahlan sadar bahwa kontak yang bernama Princess Cleopatra, sebuah nama yang Helwa ketik sendiri di hp Ahlan kala itu, adalahkintak dulu yang sudah lama tak aktif sejak mereka berpisah, dengan foto profile Ahlan dan Helwa saat di mall main Ice skating.

__ADS_1


Ahlan sekali lagi melihat ke atas kamar Helwa, yang lampunya sudah mati dengan tirai jendela yang masih tak tertutup sempurna...Ahlan menyunggingkan senyumnya sebelum akhirnya ia masuk mobil.


____


__ADS_2