
Helwa termenung....
Duduk di shofa dekat jendela menghadap taman, walaupun pandangan fokus ke aneka tanaman bunga yang tersaji di taman, namun fikiran nya melayang di suatu tempat.
Satu bulan sejak kejadian di rumah sa-kit, Helwa lebih suka menyendiri, tepatnya mengurung diri di kamar, bahkan makanpun jarang nuggu di paksa
duku sama Alma, Kakanya juga Mamanya.
Dan selama satu bulan itu juga Ahlan belum menemui Helwa...jangankan menemui, menghubungi Helwa lewat via telefon aja tidak.
Pernah kakak laki laki Helwa ingin menemui Ahlan, namun di cegah oleh pak Gunawan, Ayah Helwa....
"Biarkan Ahlan sendiri yang datang menemui Helwa, untuk memperjelas dan menindak lanjutkan hubungannya...mau diapakan pernikahannya dengan Helwa " ucap kala itu pak Gunawan dengan nada tenang.
***
Sekitar jam tujuh malam pak Gunawan memanggil Helwa ke ruang tamu karena ada yang ingin di bicarakan dengan putri bungsunya.
Dengan langkah gontai Helwa pergi ke ruang tamu, saat akan tiba di shofa Helwa segera menghentikan langkahnya....
Tiba tiba em0si Helwa meluap tak terkendali saat melihat Ahlan duduk di ruang tamu bersama Ayah, Mama Helwa dan Alma tengah menatap dirinya.
Saat itu juga Helwa langsung pergi berlari ke kamar
" Helwa tunggu !" Ahlan mengejar Helwa masuk ke kamar.
Ayah Helwa hanya diam membiarkan anak dan menantunya menyelesaikan masalah rumah tangganya.
" Helwa kita perlu bicara !" Ahlan mencekal lengan Helwa saat tiba di kamar
Helwa segera melepaskan ce-kalan Ahlan " Percuma...aku tidak akan pernah mendengarkannya !"
"Dengar...pernikahanku dengan Hulya...."
"Prankkkk!"
Helwa mel3mpar guci ke kaca meja rias hingga pe-cah...Ahlan memandangi Helwa, tidak percaya akan apa yang di lakukan Helwa barusan.
" Pergilah...aku tidak ingin mendengar hal apapun tentang Ustadz maupun Hulya!" Helwa menyeka air matanya yang mengalir begitu saja dengan kasar.
" Helwa dengar...!"
Ucapan Ahlan terhenti saat Helwa meluapkan em0sinya dengan memb4nting barang yang ada di dekatnya...Alat make up yang ada di meja rias sudah berserakan dan pec4h di lantai bahkan pigura foto- foto dirinya dengan Ahlan ha-ncur tak tersisa.
Saat Helwa mengambil akuarium ikan kecil yang ada di nakas kamarnya...Ahlan segera meraih Helwa memeganginya.
" Berhenti Helwa...luapkan 4marahmu padaku...jangan menyakiti dirimu sendiri !"
Helwa tertawa di sela sela tangisnya
" Ustadz seakan akan polos...di depanku khawatir akan lu-ka di fisikku...tapi di belakangku Ustadz begitu kej4mnya melu-kai hatiku."
" Helwa aku tahu kau terluka...!"
" Aku tidak butuh pengakuan Ustadz !"
"Aku minta ma'af !"
" Ma'af Ustadz tidak lah bisa menyembuh kan kekecewaan atas pengkhi4atan ini...." Helwa mulai sesenggukan, saat kembali mengingat kenyataan Ahlan dan Hulya menikah.
" Helwa...." lirih Ahlan
" Ku kira Ustadz akan jadi pelabuhan terakhirku dengan potensi yang nyaris sempurna disepanjang aku mengenal pria...tapi nyatanya...." Helwa tersenyum miris di sela-sela sesenggukannya.
" Ustadz paling memberi dvka n3stapa dia antara mereka...Ustadz dan Hulya yang dikenal dengan segala kelebihannya malah membuat kedz0liman pada wanita b0d0h sepertiku yang masih awam dengan ilmu yang kalian punya."
" Mengertilah dulu Helwa...aku akan melepaskan Hulya, tapi tidak untuk sekarang ini, beri aku waktu sebentar saja...dan sementara..!" Ahlan menjeda kata- katanya...dipandanginya Helwa yang tengah menatap dirinya dengan linangan air mata
__ADS_1
" Dan sementara..." Ahlan mengusap wajahnya ka-sar seakan ada rasa gamang tuk melanjutkan kata katanya.
" Dan sementara jadilah istri sholehah ku dulu Helwa !"
Tak segan Helwa menceng-keram kerah baju Ahlan
" Aku memang ingin jadi istri sholeha Ustadz...tapi tidak dengan ini caranya...aku ingin dengan cara lain, bukan dengan berbagi suami !" Helwa mendo-rong tubuh Ahlan
" Pergilah...!" Suara Helwa mulai serak
" Aku tidak meminta Ustadz untuk melepaskan Hulya, aku lah yang akan mundur !" suara Helwa nyaris tak terdengar.
" Tidak Helwa...!" Ahlan menggelengkan kepalanya
" Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan mu dari ikatan ini, aku tidak main-main dengan hubungan kita Helwa !" ucap Ahlan, yang hanya di balas senyum getir oleh Helwa.
" Kita bicarakan ini baik baik...ikutlah dulu denganku!" Pinta Ahlan
" Ma'af Ustadz...cintaku telah ma-ti pada Ustadz sejak pengkhi4natan itu...." Helwa segera memali-ngkan wajahnya dari Ahlan
" Jadi pergilah...!"
" Tidak Helwa, ini masih bisa di perbaiki !"
" Pergi..!" b3ntak Helwa
" Aku mohon Helwa....!"
" Jika Ustadz tidak mau pergi maka...aku yang akan pergi !" Helwa mundur sedikit demi sedikit lalu mengambil serpihan kaca yang pe-cah hendak mengg0reskan ke pergelangan tangannya
Ahlan segera berlari memegangi tangan Helwa
"Helwa lepaskan kaca itu !" Ahlan berusaha merebut peca-han kaca dari tangan Helwa
" Biarkan aku ti4da...dengan ini aku tidak akan merasakan sa-kit hati lagi!" Helwa berusaha melepaskan diri dari Ahlan dan merebut kembali pecahan kaca dari tangan Ahlan namun bersamaan dengan itu....
Adam Kakak laki laki Helwa tiba-tiba masuk dan menam-par Helwa
" Jangan k0ny0l Helwa !" Adam mengambil serpi-han kaca dari tangan Helwa dan langsung mel3mparnya kesembarang arah..
Helwa yang dari awal badannya memang l3mah sebab jarang makan dan di tambah kejadian barusan yang cukup menguras tenaga tiba-tiba tak sadarkan diri.
"Helwa...!" Ahlan hendak menyentuh Helwa yang terkulai di lantai namun segera Adam tarik untuk menjauh " Ini semua gara gara anda"
" Masya Allah Helwa...!" Mama Helwa yang baru masuk dengan Alma kaka perempuan Helwa tiba tiba terkejut.
" Tolong urus Helwa dulu mah...perban juga, tangannya terlu-ka kena serpi-han kaca!" s
etelah berucap, Adam segera meny3ret Ahlan keluar, dan tak segan melayang-kan tinju-annya ke wajah Ahlan.
" Puas anda melihat adikku menderi-ta hah !"
Adam yang sangat 3m0si kembali mendar4tkan tinju-annya lagi...kali ini tepat mengenai perut Ahlan
" Adam sudah...hentikan " cegah pak Gunawan ayah Helwa.
" Biarkan Yah...biarkan pria br3ngsek ini merasakan s4kitnya yang adikku rasakan !" ge-ram Adam
" Di bayar berapa anda oleh keluarga Arga untuk menikahi putrinya Hulya !" tukas Ishaq kaka laki laki kedua Helwa.
Sambil memegangin perutnya yang sa*kit Ahlan menggeleng gelengkan kepalanya
" Yang anda tuduh-kan itu tidak lah benar!"
" Tidak usah mengelak, pria tidak pvnya seperti anda ini tidak di herankan lagi...apa kvrang ha-rta yang dari ayah kami berikan, fasilitas dan bahkan sekarang Ayah juga sudah berencana memberikan anda jabatan di kantor kami, sehingga masih menji-lati keluarga Arga yang telah lama memvsuhi keluarga kami !"
Hina-an demi hi-naan yang di l0ntarkar Ishaq mampu membuat Ahlan sadar bahwa ia di mata keluarga istrinya hanyalah di pandang sebatas orang mis-kin yang ingin ikut menik-mati hartanya.
__ADS_1
" Ishaq, jaga ucapanmu sama Ustadz Ahlan !" tegur pak Gunawan. " Yang sopan bicara pada yang lebih tua!" imbuhnya lagi
" Ishaq cuman ingin menyadarkannya saja yah, bahwa beliau itu hanya di per4lat untuk memb4laskan dend4m mereka...dan Om Arga benar benar pintar memb4las kita dengan cara meny4kiti Helwa " jawab Ishaq .
" Dengar...apapun yang anda tudvhkan pada saya itu tidak lah benar...saya orang baru di keluarga ini tidak tahu menahu masalah yang terjadi sebelumnya dengan keluarga Hulya, dan saya memang orang tidak punya, tapi sedikitpun saya tidak ada keingin seperti yang anda katakan " Ahlan membela diri
" Dan saat ini saya datang ke sini hanya ingin imenjemput istri saya Helwa !" imbuhnya Ahlan.
" Tidak perlu...setelah ini adik kami tidak akan menjadi istri anda lagi...kalian hanya menikah sirri jadi tidak susah untuk berce-rai...!" timpal Adam.
" Keputusan ce-rai ada ditangan saya sebagai suami Helwa, tidak ada di orang lain, kalian selaku dari keluarga Helwapun tidak bisa membuatku untuk bisa berce-rai darinya " jawab Ahlan tegas.
" Baik...kami beri anda kesempatan hingga Helwa sadar !" ujar Adam
***
Sekitar jam empat pagi Ahlan terselesai dari sholat subuhnya...di lanjutkan dengan berdzikir dan bermunajat, meminta kesembuhan Helwa dan kebaikan rumah tangganya...di beri jalan keluar dari masalah yang melandanya
Ahlan tiada berhenti berdzikir hingga Alma datang menghampirinya...
"Ada kabar baik Ustadz. .Helwa telah sadar!"
" Alhamdulillah..."! syukur Ahlan merasa senang
" Tapi...Helwa men0lak untuk bertemu dengan Ustadz.." ucap Alma hati hati
" Dia mau berbicara dengan Ustadz tapi dengan tanpa harus bertatapan dengan Ustadz...ia menunggu di jendela kamarnya!"
Seketika Ahlan meninikkan air matanya ada rasa perih di hatinya saat Helwa men0lak untuk menatapnya...namun akhirnya ia mensetujui permintaan Helwa.
Ahlan berjalan menuju kamar Helwa dimana ia dulu pernah tinggal di dalamnya bersama Helwa.
Setibanya di jendela kaca kamar...perlahan Ahlan menangkap bayangan Helwa yang tengah menyingkap tirai jendela kaca bening yang tipis.
Hati Ahlan ter lris melihat keadaan Helwa yang sekarang...Helwa yang cantik dan selalu ceria kini tampak kurusan dengan wajah pu-cat tanpa senyuman.
Helwa memiringkan badannya sedikit memungkuri Ahlan...menghindari tatapan Ahlan di balik kaca tipis yang bening.
"Aku terlalu percaya hingga lupa bahwa manusia bisa berubah kapan saja !" lirih Helwa...Ahlan bergeming
" Aku tahu..p0ligami memang di perbolehkan..tapi hatiku tidak bisa menerimanya sama sekali walau sedetikpun, ma'af...aku memang eg0is " Helwa berucap dengan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.
" Helwa aku...!"
Helwa mengangkat sebelah tangannya sebagai kode bahwa di situ hanya dirinyalah yang boleh berbicara.
" Aku ka-lah Ustadz..." Helwa tersenyum mi-ris.
" Salamkan pada istri barumu...selamat...dan semoga ia tidak akan pernah merasakan apa yang tengah aku rasa sekarang karena perbuatannya!"
Ahlan menempelkan tangannya ke kaca...ingin sekali ia menyentuh Helwa dan mengusap air matanya.
" Terimakasih atas pernikahan singkat ini Ustadz...aku banyak belajar hal di dalamnya.." Helwa berucap dengan bibir bergetar...kali ini Helwa maupun Ahlan tak lagi bisa membendung air matanya.
" Lepaskan lah aku Ustadz...!" bahu Helwa terguncang hebat. Ia tidak tahu kedepannya apakah bisa hidup tanpa seorang Ahlan...setelah beberapa bulan Ahlan hadir mewarnai hari harinya.
***
Saat ini Helwa berada di dalam mobil menuju bandara....
Pak Gunawan beserta Adam memutuskan untuk mengkuliahkan Helwa di luar kota demi kebaikan Helwa...agar tak terlalu terpuruk dengan masalahnya.
Helwa membuka kaca mobil saat mobil melewati mall dimana Helwa pernah bersenang senang dengan Ahlan di dalamnya....
Air mata kembali menetes di pipinya..
' Rasanya baru kemaren kita mengecap manisnya hidup sebagai pasangan suami istri...merencanakan masa depan bersama...tapi semua telah berubah bahkan tanpa aba aba...hingga pada akhirnya kita sama sama meninggalkan ' ....Lirih Helwa.
__ADS_1
___