
Helwa memandangi piala piala Ahlan saat berprestasi di sekolah maupun di pesantren. Di semua piagamnya tertera juara satu semua membuat Helwa heran kenapa gak ada duanya, sesaat Helwa jadi minder bersuamikan Ahlan, jauh berbanding balik dengan dirinya, pantes saja Hulya terobsesi sama Ahlan, pikirnya Helwa.
Helwa menghempaskan diri di kasur, rasa bosan mengahampirinya, di pandanginya sekeliling kamar tiba tiba...sepi....
Sudah tiga hari ini Ahlan tidak ada di rumah, ia izin ke Helwa ke kota dua hari untuk mengurus pekerjaan dan satu harinya lagi ada acara seminar...ia juga bilang akan menyiapkan kejutan untuk Helwa saat ia melarang Helwa untuk ikut denganya...janjinya dia akan datang sore di hari kedua, namun sampai saat sore hari ke tiga ia belum datang juga.
Semalam Helwa telpon sedang dalam perjalanan pulang...Helwa yang bahagia mendengarnya segera merias diri memakai pakain yang sekiranya Ahlan terpesona.
Malam itu Helwa yang sudah selesai dari tamu bulanannya siap menyerahkan diri menjadi milik Ahlan seutuhnya...namun sampai hampir jam satu malam Helwa menunggu Ahlan belum datang juga hingga dirinya terlelap tanpa sengaja.
***
Usai sholat maghrib Helwa membuka WA hendak mengirimi pesan Ahlan, namun ia urungkan saat pesan yang tadi pagi ia kirim belum juga di balas, bahkan masih centang satu.
Helwa melempar Hp nya ke kasur, tiba tiba ia merasa sangat kesepian, juga...resah....
Bersamaan dengan itu tiba tiba Hp Helwa berbunyi notif panggilan, dengan cepat ia menjawab telpon
" Hallo Ustadzz!" Helwa bersemangat
" Lho...kok Ustadz sih " terdengar suara perempuan dari seberang telpon sana, Helwa melihat Hp nya dan ternyata Ara, sepupunya yang menelefon
" Eh, ma'af Ra...tadi gak sempet liat namanya !" Helwa tertawa garing
" Emang Ustadz Ahlan gak ada di situ ya kok sampek teleponku di kira Beliau?" tanya Ara
" Belum Ra, dari kemaren tuh belum dateng!"
" Ya di cariin dong Hel...jangan di biarin aja!" Ara terdengar nekan
" Emang mau cari dimana, di WA aja gak masuk!"
" Nah, kan...! Itu udah mencurigakan banget, harus bener bener di cari!"
" Iya, tapi dimana?"
" Ya dimana lagi...pasti di rumah sakit lah " jawab Ara cepat
Helwa terdiam mencerna kata kata Ara" Kamu kok kayak tau gitu Ra...memangnya ada apa?" Helwa mulai gelisah
"Emhh...eh...emhh...." Ara tampak gugup " Tapi kamu harus tenang dulu ya!" ujar Ara
" Iya..." jawab Helwa agak ragu
Ara mulai menceritakan hal yang tak sengaja ia ketahui...bahwa Hulya dan mama juga saudara saudaranya punya rencana untuk menjebak Ahlan agar bisa menikahi Hulya...dengan mengatakan Hulya sakit parah, s4kit k4nker otak sta-dium 4khir.
Dan mama Hulya selaku dokter menv0nis bahwa umur Hulya tidak akan lama lagi...dengan itu keluarga Hulya ingin mewujudkan keinginan ter4khir Hulya yaitu menikah dengan Ahlan.
" Dan sekarang Ustadz Ahlan ada di sana
..di rumah s4kit mamanya Hulya !" jelas Ara.
" Temani aku pergi ke sana Ra !" bibir Helwa sedikit bergetar
" Ok Hel..kamu cepat hentikan Ustadz Ahlan sebelum terlambat...aku tunggu dekat halte bus ya"
Helwa tak menjawab, ia segera meny4mbar tas...gegas keluar dari kamar dengan dada bergemuruh
Di ruang tamu ia tak sengaja berpapasan degan keluarga Ahlan yang tengah nonton tv.
"Lho.. .Mbak Helwa mau kemana kok udah rapi sambil bawa tas jalan juga" tanya Zen
" Ehmmm...saya mau keluar sebentar ada keperluan!" jawab Helwa hendak melangkah
" Tapi kan ini sudah malem Nak...mau hujan lagi" timpal Buk Eni
" Gak papa bik...Helwa bawa payung kok !"
" Emang mau kemana toh...kok buru buru amat?" kali ini paman Ahlan yang bertanya
" Mau kerumah s4kit paman!"
"Lho...siapa yang sakit...biar di anter Jen aja ya, Halte bis kan jauh dari sini!" imbuh Buk Eni
__ADS_1
" Nanti Helwa jelasin ya Bik...dan gak usah repot Helwa sama temen kok...Helwa keluar dulu ya " Helwa menyalami paman dan Bibik Ahlan sebelum melangkah
***
Sesampainya di rumah s4kit, Helwa segera menuju tempat dimana Hulya pura pura di rawat, dengan setianya Ara mendampingi sepupunya....
Di depan kamar inap sana tampak Ahlan sedang duduk di kursi panjang khusus tunggu, ia menundukkan kepalanya dengan tangan menutupi wajahnya, tampak sekali kebingungan dalam dirinya
Dada Helwa bergemuruh, dengan langkah pelan ia menghampiri Ahlan.
"Ustadz...!" suara Helwa bergetar
Ahlan mendongakkan kepalanya...dan tampak sekali keterkejutan di wajahnya saat melihat Helwa di depannya.
"Hel...Helwa...!" Ahlan segera berdiri
" Jadi karena ini sampek Ustadz lupa pulang...dan karena ini WA di off kan ?" Helwa melayangkan pertanyaan bertubi tubi
" Helwa aku bisa jelasin...!"
"Tidak perlu...aku sudah tahu semuanya.." ketus Helwa...." Dan aku juga tahu ini hanya raksasa mereka!" Helwa melirik keluarga Hulya yang berdiri di depan pintu kamar inap, yang di balas senyuman sinis oleh kakak perempuan Hulya.
" Aku kesini hanya ingin menjemputmu Ustadz ?" Helwa menarik tangan Ahlan
" Tunggu dulu..urusan Ustadz Ahlan belum selesai di sini !" cegat Nana kakak Hulya.
Helwa tersenyum sinls " Urusan apa...menikahkan suamiku dengan adikmu yang li-cik itu...jangan mimpi!" ketus Helwa
" Ini permintaan terakhir Hulya Hel...!" timpal abang Hulya
" Kalian pikir aku b0d0h percaya begitu saja dengan kalian...sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengizinkannya...!"
" Tapi Ustadz Ahlan sendiri mau menolong kami dengan mewujudkan keinginan terkahir Hulya ingin menjadi istrinya di penghujung hidupnya" ujar Nana.
Helwa menatap Ahlan" Jadi Ustadz percaya mereka...!"
Dengan tatapan sendu Ahlan mengambil tangan Helwa hendak menariknya agar sedikit menjauh dari orang orang " Helwa kita perlu bicara !"
" Helwa dengar...ini bukan rekayasa...Hulya benar benar sakit...dia ingin aku menjadi suaminya sebentar saja, dan dia...dia menginginkan cincin mahar kamu...aku pinjam sebentar ya...." Ahlan hendak mengambil cincin di jari masin Helwa namun segera Helwa tepis dan menggemggam jari manisnya dengan jemari jemari lainnya.
" Ini milikku, tak boleh satu orangpun mengambilnya dariku termasuk Ustadz sendiri...ini Maharku !" Helwa menghela nafas k4sar
" Dan harus berapa kali aku bilang ke Ustadz...Hulya itu tidak sakit...ia hanya pura pura agar bisa menikah dengan Ustadz, dia bilang sendiri padaku akan melakukan segala cara agar bisa menikah dengan Ustadz...dan sekarang ia bersekongkol dengan keluargannya yang mana keluarga Hulya memang punya den-dam pribadi dengan keluargaku yang aku sendiri sampai saat ini gak tahu apa permasalahannya...!" ungkap Helwa mulai em0si
" Kamu salah Helwa....!"
" Ustadz yang salah!" suara Helwa menInggi, Ahlan terdiam sejenak
" Helwa...aku mohon...jangan k3ras kepala !" pinta Ahlan
Helwa tersenyum mlris mendengar Ahlan mengatakan itu pada dirinya, sekuat mungkin Helwa menahan air matanya agar tak jatuh dan di lihat keluarga Hulya
" Kenapa baru sekarang Ustadz mengatakan itu, sebelum-sebelumnya Ustadz udah tau aku kayak apa...tapi kenapa baru sekarang...saat ada di bab tentang Hulya !" Helwa berucap dengan bibir bergetar
" Cukup Helwa...jangan bikin keributan...di sini rumah s4kit, silahkan keluar jika ingin tetap ribvt!" Mama Hulya keluar dari ruangan lengkap dengan baju operasinya.
" Aku akan pulang bibi...tapi dengan membawa serta suamiku !" Helwa tampak tugas
Mama Hulya mencebih " Jangan eg0is Helwa...posisi kami saat ini sama degan posisi Ayahmu saat meminta dan bermohon mohon Ustadz Ahlan untuk menikahimu...dan di sini kami lebih dari menyelamatkan harga diri...tapi ny4wa Hulya.!"
" Apakah setiap ada orang yang meminta tolong ,haruskah suamiku akan terus menikahi wanita lain...begitu kata bibi !" Helwa mulai geram
" Istrimu benar benar manja Ahlan..." ujar abang Hulya
" Pergilah sendiri kamu Helwa...Ustadz Ahlan masih ada urusan disni....!" timpal Nana
" Sudah ku bilang, aku akan pergi dengan membawa suamiku " Helwa meraih lengan Ahlan.
" Kau gak ada hak Helwa!"
" Aku berhak...karena aku istrinya !"
" Oh...kalau begitu Hulya juga ada hak dong...sebab Hulya juga sudah jadi istrinya sekarang." ungkapan Nana seketika membuat Helwa terhenti saat hendak menarik tangan Ahlan untuk pergi.
__ADS_1
Namun Helwa masih tersenyum...." Kalian pikir aku akan percaya !"
" Kamu harus menerima kenyataan Hel, bahwa Ustadz Ahlan sudah dinikahkan oleh pak penghulu tadi maghrib disini, bahkan lengkap dengan surat nikahnya, bukan sirih !" Nana tersenyum sambil memperlihatkan dua buku nikah.
Dengan mata berkaca kaca, Helwa menatap Ahlan ,
seakan mencari kebenaran apa yang dikatakan Nana " Ini tidak benar kan Ustadz...?"
Seketika air mata Ahlan terjatuh " Helwa sayang...ma'afkan aku...." Ahlan hendak menarik Helwa kedalam p3lukannya, namun segera Helwa tepis.
" Katakan..!" b3ntak Helwa
Ahlan menunduk " Aku terp4ksa Hel...aku gak punya pilihan...tadi Hulya kritls, terlihat gak ada harapan lagi"
Seketika Helwa langsung membekap mulutnya...luruh sudah air mata yang ia tahan sedari tadi dengan sekuat tenaga, kedua kakinya terasa lemah menopang badannya...Helwa terjatuh dengan kedua lutut bertumpu di atas lantai.
" Ustadz tahu...ini sangat menyakltiku!" Hewa tersedu sedu
Ahlan memegangi kedua bahu Helwa menariknya untuk berdiri..." Ma'af kan aku Helwa !"
Helwa segera mendorong tubuh Ahlan...
" Dari ini Ustadz telah menampakkan kualitas ustadz yaitu gak lebih dari seorang Huffair...bahkan lebih brengs*ek dari dia "
Ahlan tertegun mendengar kata kata Helwa
" Jadi ini yang Ustadz bilang kejutan untukku hah...jadi ini juga yang ustadz bilang ingin ngurus data data kita untuk di daftarkan ke kantor agama...yang nyatanya malah mengurus surat nikah dengan Hulya !"
Ahlan menggeleng gelengkan kepalanya.
" Cukup tahu aja aku Ustadz...!"
Helwa melangkah hendak pergi, namun sebelumnya ia melepas cincin mahar nya
" Ambil ini...kasih ke Hulyamu....!" Helwa melemparkan cincinnya tepat mengenai dada Ahlan, lalu segera pergi berlari keluar rumah sakit
Ara yang sedari tadi hanya melihat dari kejauhan ikut menyusul Helwa
" Kalian semua benar benar tega!" ucap Ara sebelum pergi
***
Setibanya di rumah Ahlan, Helwa segera mengemasi barang barangnya ke koper dengan air mata yang tak kunjung reda, keluarga Ahlan yang melihatnya terheran heran.
" Nak Helwa mau kemana malam malam bawa koper, di luar hujan lagi...terus Alan kemana?"
Helwa tak menggubris pertanyaan buk Eni
" Helwa pamit ya " ucapnya dengan bibir bergetar sebelum akhirnya ia berlari menuju jalan besar biasa kendaraan lewat.
Beberapa kali Helwa menyetop taxi namun tak ada yang berhenti satupun...akhirnya Helwa kembali berlari menelusuri jalan raya ...Air matanya yang mengalir tersamarkan oleh air hujan yang deras.
Helwa terus berlari hingga kakinya tak sengaja tersandung batu hingga j4tuh.
Helwa bersimpuh di jalan...nangis tersedu sedu menumpahkan segala du-ka lara di dadanya.
" Akkhhhhhhhhhhh...." Helwa menjerit sekuat tenaga berusaha meluapkan 3mosinya...namun sia-sia...s4kit nya di khia-nati itu masih hangat ia rasa...bayangan Ahlan menikahi Hulya terus menari nari di pikirannya.
Di tengah tengah Helwa menangis tiba-tiba seseorang menghentikan motornya dekat Helwa
" Helwa...kamu kah itu ?"
Pria yang masih memakai Helm nya tersebut menghampiri Helwa yang terduduk di pinggir jalan.
Helwa terus menangis tak memperdulikan keberadaan ataupun pertanyaan pria tersebut...hingga sang pria membuka Helmnya
" Ini aku Hel...Chandra...!"
Seketika Helwa mendongakkan wajahnya
" Kak Chand...!" Lirih Helwa
____
__ADS_1