
' Malam minggu nanti di rumahku ada acara makan keluarga besar, bisakah aku membawamu Hel, mengenalkan dirimu pada keluargaku '
Helwa membaca tanpa membalas pesan Chandra yang dikirim satu jam yang lalu.
" Dek...acara lamaran khitbah abang jadi nanti malem, kamu jangan lupa dandan yang cantik siapa tahu nanti disana ada pangeran yang kepincut sama adek!" Ishaq tiba tiba nyelonong ke kamar Helwa dan duduk di sofa samping Helwa.
Helwa tersenyum ke arah ishaq" Gak minat bang !"
" Trus minatnya sama siapa, ayo dong move on dek cari pengganti jangan terlalu larut ke masa lalu seperti ini, sampek mama aja ngeliatnya gak tega hingga terpaksa menerima usulan Ayah!" jelas Ishaq
" Usulan apa?" Helwa bertanya dengan mimik serius
" Usulan untuk menikahkanmu dengan seorang pria yang tak lama ini ingin ngajak kamu ta'arrufan!" Jawab Ishaq, Helwa hanya bergeming
" Aku tahu ini berat tapi apa salahnya di coba dulu, sapa tahu cocok igat umur udah 24 mau jadi janda tua apa!" Ishaq terkekeh membuat lelucon yang di tanggapi ekspresi datar oleh Helwa.
Ishaq menatap Helwa yang hanya terdiam dengan mata fokus menatap lurus kedepan
" Aku masih ragu untuk menerima pria asing lagi, apa lagi belum pernah bertemu!"
" Jika kau punya pandangan pria lain yang ingin di coba, gak papa biar abang nanti yang kasih tahu Ayah !" ucap Ishaq seraya berdiri, lalu melangkah keluar yang sebelumnya mengusap pelan rambut Helwa.
Mendengar kata terakhir Ishaq, Helwa jadi kepikiran dengan tawaran Chandra ia membuka hp nya yang ternyata sudah ada pesan baru dari Chandra
' Kenapa tidak membalas pesanku ?, aku mohon Hel, jangan gantung perasaanku!'
Helwa hendak membalas pesan Chandra, namun bersamaan itu Ara mengirim foto di sertai caption...
' Ganteng banget sih Dokter Chandraku Hel, senyumnya itu lho seakan ngajak berumah tangga'
Ara mengirim foto Chandra yang lagi tugas sedang tersenyum, tampak gagah dengan jas putihnya.
Sontak Helwa mengurungkan niatnya yang ingin membalas pesan Chandra, ia tak ingin menjadi Hulya kedua menyakiti perasaan orang lain demi egonya, sedangkan Helwa tahu persis perasaan Ara pada Chandra.
Lalu ia pun beralih membalas pesan Ara mengabaikan pesan Chandra.
' Ra...lagi apa, sibuk gak?'
'Sibuk banget Hel...sibuk men stalking akun Dokter Chandra' Ara menyelipkan emot nyegir.
' bisa gak ikut aku sebentar ?' tanya Helwa
' kemana?'
' Nanti aku ceritakan...siap siap aku jemput kamu!'
Helwa menyudahi berbalas pesannya, tatapannya beralih menatap tas yang di dalamnya terdapat alamat Ahlan...entah kenapa tiba tiba ia penasaran.
***
" Bisa bisanya kamu ya Hel, jemput aku pakek motor, kan jadi ribet gini jadinya!" Ara ngoceh sambil menguliti masker hitam yang masih setengah kering di atas motor duduk di belakang Helwa.
Saat Helwa jemput Ara, ia tengah pakek masker yang belum kering, sengaja gak di lepas kiranya Helwa jemput pakek mobil, niatnya mau lepas di dalam mobil sambil nunggu kering eh tak tahunya malah pakek motor.
" Pelan pelan dong Hel bawa motorny, aku jadi susah nih ngelupasnya!" protes Ara dengan tangan masih sibuk bergerilya di wajahnya.
__ADS_1
" Bisa diem gak si Ra...aku lagi fokus nyetir nih nanti kalau nabrak gimana, lagian kamu siang siang kayak gini pakek masker " Helwa balas protes
" Ya perawatan dong Hel, biar cantik trus Chandra secepatnya sadar ada bidadari yang nungguin buat di halalin !" ucap Ara pede.
Helwa menghentikan motornya saat tiba di depan rumah elit bercat putih.
" Ini benar rumah Ustadz Ahlan Hel!" Ara turun dari motor menatap rumah besar dari luar gerbang masuk.
" Menurut alamat nya sih ini Ra!" Helwa berdiri di samping Ara sama sama menatap rumah di depannya.
" Wuidihhh sekarang Ustadz Ahlan udah kaya aja, mungkin ini dari Om Arga kali ya Hel, sebagai imbalan karena sudah menikahi Huyul " tanggap Ara
" Kamu yakin Hel...mau masuk gak takut sakit hati tuh nanti ketemu tuh si pelakor!" Ara menatap Helwa yang hanya terdiam.
"Entahlah Ra..akupun juga gak yakin, aku hanya penasaran aja, Ustadz Ahlan menyuruhku untuk datang kesini" jelas Helwa dengan pandangan masih menelisik rumah Ahlan yang di sampingnya terdapat sebuah bangunan lagi berdempetan seperti sebuah asrama.
Ara memanggil satpam yang kebetulan mendekat ke pintu gerbang, menanyakan sang tuan rumah yaitu Ahlan.
" Maksudnya nona apakah pak Radis ?" tanya satpam
" Hah...dah ganti nama ya?" tanya Ara bingung
Helwa menyenggol lengan Ara " Bukan ganti Ra...tapi namanya memang Ahlan Nadhil Fahradis!"
" Cie...si mantan masih ingat aja...sosweet deh!" Goda Ara yang tak di gubris oleh Helwa sebab tak ada yang lucu menurutnya.
" Pak Radis sekarang lagi gak ada, sedang mengisi ceramah acara akbar di salah satu lembaga yang beliau aktifi " jelas satpam
" Terus pulangnya kapan pak satpam?" tanya Ara
" Wahhh, sekarang Ustadz Ahlan jadi Dosen rupanya" Ara tampak takjub
" Iya, kalau tidak ada jadwal biasanya beliau meninjau Showroom mobil miliknya !" jawab lagi sang satpam
" Waoo...memiliki Showroom mobil?" Ara kembali takjub, seraya melirik Helwa.
" Gak cuman itu, tuan kami beserta nyonya juga baru meresmikan caffe barunya, itu lho caffe yang lagi nge hits karena nuansa islaminya yang tiap bulannya di adakan acara siraman rohani!"
Penjelasan satpam membuat Helwa teringat pertemuannya dengan Ahlan di caffe yang artinya saat itu Ahlan mengisi acara di caffe miliknya sendiri.
" Rejeki Ustadz Ahlan melimpah banget ya Hel...saat beristri Hulya " canda Ara sambil nyengir.
Helwa tak menanggapi ocehan Ara...Ia masih fokus memandangi bangunan yang berdempetan dengan rumah besar Ahlan yang tampak ramai dengan suara anak anak
" Maaf pak...anak anak itu siapa ya " Helwa menunjuk beberapa anak yang berseliweran di halaman rumah.
" Waddoh...masa iya itu anak Hulya semua sama Ustadz Ahlan !" ucap Ara sekenanya.
" Ohh...mereka anak yatim piatu yang di adopsi pak Radis, awalnya hanya 5 orang lama kelamaan makin banyak hingga pak Radis membangunkan asrama kecil kacilan disamping rumah ini, yayasan pondok pesantren anak yatim piatu!" jawan satpam menjelaskan
" Aku kadang heran, kebaikan apa yang dilakukan Huyul hingga bisa dapat suami jempolan kayak Ustadz Ahlan...ya walaupun hasil ngerebut sih!" ucap Ara, sedangkan Helwa membisu dengan tatapan sendu.
" Sebaiknya nona pulang dulu, soalnya tuan gak tahu kapan pastinya datang, besok baru detang lagi kesini" usul satpam yang merasa kasihan pada Ara dan Helwa.
" Gimana Hel...kamu masih penasaran belom ,kalo masih aku temenin kamu sampek Ustadz Ahlan dateng!" tawar Ara...Helwa masih membisu.
__ADS_1
"Duh...manusia itu unik ya, baru menyesal ketika udah hilang waktu ada di sia sia in, seharusnya tuh Hel dulu kamu berjuangin Ustadz Ahlan rebut kembali dari Huyul, bila perlu kita ker0yok tuh si pelakor kayak di film gitu, bukannya malah kamu ngalah, kalau dah kayak gini kan jadi kamu sendiri yang nyesel" bisik Ara pada Helwa
" Apa perlunih aku jadi pelakor kayak Huyul lagi, ngerebut Ustadz Ahlan biar Hulya bisa ngerasain sakitnya kamu dulu, eh...tapi aku harus setia sama dokter Chand ku...lagi pula aku terlalu imut jadi pelakor" ucap Ara dengan pede.
Helwa tak menggubris ocehan Ara...ia melangkah menuju motornya.
" Mau kamana Hel...?" tanya Ara
" Ayo kita pulang Ra"
"Ya udah aku aja yang nyetir...hati galau mah gak baik bawa motor !" Ara mengambil alih kunci motor
Saat Ara baru menjalankan motornya tiba tiba Helwa menghentikannya.
" Stop dulu Ra...stop ! " Helwa menepuk pundak Ara, spontan Ara menghentikan motornya.
" Ada apa Hel...Ustadz Ahlan udah dateng ?"
Helwa tak menjawab petanyaan Ara, ia berjalan fokus mendekat pagar depan asrama menatap lekat plang nama yayasan yang bertuliskan .
' Yayasan pondok pesantren yatim piatu AHLAN WAA HELWA '
Tiba tiba dada Helwa bergemuruh, ia tak mengerti kenapa nama yayasan yang Ahlan dirikan menyelipkan nama dirinya juga,sementara istrinya adalah Hulya, kenapa bisa Hulya membiarkannya di samping Hulya sangatlah membenci dirinya.
Tak tahan menanggung penasaran, Helwa berlari menuju pintu gerbang menemui satpam lagi, Ara yang mengerti juga ikut lari mengikuti Helwa.
" Pak, izinkan saya masuk...saya ingin bertemu dengan nyonya rumah ini, Hulya!" pinta Helwa penuh harap.
" Nyonya Hulya...siapa itu nona ? " satpam tampak bingung.
" Istrinya Pak Ahlan atau pak Radis kata Pak satpam tadi...Hulya Arganeesa!" kali ini Ara yang menyahuti.
Satpam itu tampak menautkan alisnya bingung
" Di sini gak ada yang namanya Hulya nona!"
Seketika Helwa membelalakkan matanya, tampak terkejut begitu pula Ara, jika tidak ada Hulya di rumah Ahlan, lalu kemana Hulya..dan bagaimana hubungan Hulya dengan ahlan, pisah kah...begitu banyak pertanyaan di benak Helwa.
" Ada siapa pak di luar ?" tanya seorang wanita
" Ini nyonya Sarah...ada dua cewek yang dari tadi nyariin pak Radis !" jawab satpam
Helwa dan Ara lantas menoleh pada wanita berpakaian syar'i yang kira kira seumuran Ahlan,vdengan sebelah tangan memegang tangan anak laki yaitu Arfan.
" Suruh masuk aja dulu pak, biar nunggu di dalam!" ucap Sarah lembut sambil berlalu memasuki asrama.
" Hah..jadi Ustadz Ahlan sudah nikah lagi setelah pisah dengan Hulya " celetuk Ara yang juga bingungnya dengan kehadiran Sarah yang menggandeng tangan Arfan.
Helwa hanya terdiam dengan mata berkaca kaca, entah mau sedih atau bahagia saat ini ia bingung...bingung dengan apa yang sebenarnya Ahlan sembunyikan darinya.
Tapi setidaknya dengan semua ini keraguannya pada Ahlan mulai pudar...saat ia tahu Ahlan tak lagi bersama Hulya...juga tahu saat Ahlan masih mengingat dirinya dengan menyandingkan namanya di nama yayasannya yang Ahlan bangun.
" Oh, Ustadz...kenapa kau buatku begitu penasaran akan dirimu !"
_____
__ADS_1