
Pagi hari terasa menyilaukan. Alena perlahan membuka matanya dan menatap ruangan sekitar. Terasa sangat asing tempat ini baginya. Ia mencoba menggerakkan badannya untuk bangun namun seluruh badannya terasa sakit dan remuk sampai ke intinya. Ia mendesis kesakitan dan mengernyitkan matanya.
"Sudah bangun!".
Suara dingin dan maskulin itu masuk ke pendengarannya. Alena memutar kepalanya ke samping kanan dan melihat Sabian, suaminya sedang duduk santai sambil memegang tabletnya membaca berita.
"Kenapa kau masih ada disini?" Alena bertanya dengan marah.
Sabian tak bergerak dalam posisinya dan berkata dengan ringan. "Kau memberiku obat perangsang dan masih berpikir kalau aku akan melepaskan mu?".
Alena menggertakkan giginya sambil menahan amarah. "Aku tidak memberimu obat. Kau malahan yang menarikku kemari dan meniduri ku dengan paksa. Apakah kau bahkan tidak berpikir untuk bertanggung jawab dengan ku!"
__ADS_1
Sabian tertawa pelan meremehkan. "Itulah yang kau mau, pertanggung jawaban dari ku. Bersikap seolah-olah kau adalah korban dan berharap aku akan luluh dan mengasihani mu. Jangan mimpi. Di dunia ini wanita paling menjijikan bagiku adalah kau. Walaupun malam ini aku menyentuh mu, kau tidak akan mendapatkan apapun dari ku!".
Muka Alena terlihat masam mendengarnya. Pria ini, sampai bumi terbelah dua pun tak akan mau percaya padanya. Untuk apa dia repot-repot menjelaskan. Itu adalah hal yang sia-sia. Semalam dia hanya menghadiri undangan pesta perusahaan atas permintaan Denis untuk menemaninya. Siapa sangka bertemu dengan Sabian di sana. Suasana menjadi canggung seketika ketika semua orang menyaksikan istri dari tuan Sabian Ardhana lebih memilih menemani selingkuhannya ke pesta dari pada suaminya sendiri. Apalagi hal itu dilakukan secara terang-terangan. Benar-benar cari mati.
Alena tak bermaksud membuat acara itu menjadi ladang gosip untuk kehidupan rumah tangganya, jadi ia memilih untuk pulang dengan cepat tapi siapa sangka ketika mendekati pintu keluar ia ditarik secara kasar oleh Sabian ke kamar hotel di lantai paling atas dan Sabian menerkamnya habis-habisan seperti ingin memakannya hidup-hidup. Sekuat apapun Alena berjuang untuk melepaskan diri tetap saja tidak bisa menghentikan Sabian. Alhasil ia harus menjadi santapan Sabian tadi malam. Namun pria ini dengan tidak tahu malunya mengatakan kalau ia memberinya obat perangsang. Apakah dia pikir Alena sangat rendahan hingga melakukan cara kotor seperti itu untuk mendapatkan dirinya. Ia bahkan tidak meminta maaf malah menghinanya. Pria ini entah apa yang membuat Alena dulu begitu tergila-gila dan sangat mencintainya.
Alena bangun dengan marah menahan rasa sakit di tubuhnya dan memungut semua pakaiannya yang berserakan. Ia pergi ke kamar mandi dengan marah dan memakai bajunya. Bajunya robek dan memperlihatkan pakaian dalam atasnya. Ia berjalan keluar dari toilet dan melihat sekeliling kamar untuk mencari sesuatu yang dapat menutupi tubuhnya. Terdapat kemeja putih yang bersih di lantai. Itu punya Sabian. Harganya sangat mahal bahkan mungkin nyawanya yang tak berharga ini tak akan bisa menggantikan kemeja itu jika lecet sedikit saja olehnya. Ia menghilangkan pemikiran untuk memungut kemeja itu. Pria ini sangat pelit padanya. Tahun lalu ia tak sengaja jatuh dari kapal pesiar saat merayakan ulang tahun kakek tua Ardhana. Semua orang menuduhnya melakukan percobaan bunuh diri untuk menarik perhatian Sabian. Sabian muak dengannya yang suka menimbulkan masalah dan menghukumnya dengan tidak memberikan uang bulanan lagi padanya. Akibatnya biaya rumah sakit neneknya yang sedang koma terhenti. Ia harus bekerja keras mati-matian untuk menghasilkan uang demi membiayai pengobatan neneknya. Semua orang tahu betapa ia begitu menyedihkan hidup di keluarga Ardhana. Namun tak ada yang merasa simpati kepadanya. Ia adalah nyonya muda Ardhana tapi ia hidup seperti tak pernah ada orang yang melihatnya di keluarga itu. Selama dua tahun ia berjuang untuk membuat Sabian jatuh cinta padanya tapi tak ada hasilnya hingga ia menyerah dan memaksakan hidupnya dengan mengikuti takdir yang akan membawa ia pergi. Ia memutuskan untuk mengambil taplak meja di samping kasur untuk menutupi dadanya dan berjalan keluar dengan marah.
Sabian menyaksikan betapa wanita itu marah padanya dan sudut bibirnya sedikit melengkung. Wanita ini selama setahun berhenti menggangunya. Hal itu membuatnya tak suka. Ia merasa seperti ada hal yang hilang dalam hidupnya. Dulu ia tidak terlalu memperhatikan keberadaan wanita itu. Ia selalu fokus untuk bekerja. Setiap kali asisten pribadinya menyebut nama Alena pasti berhubungan dengan masalah yang ia timbulkan. Ia muak dengan masalah yang ditimbulkan gadis itu. Ia menganggap Alena adalah gadis yang suka cari perhatian dengan segala cara, bahkan cara paling rendah sekalipun. Namun tetap saja, sebanyak apapun masalah yang Alena perbuat ia akan selalu menyelesaikan masalahnya. Contohnya saja saat ulang tahun kakek tua Ardhana di tahun pertama pernikahan mereka, Alena menghancurkan pesta malam itu dengan tanpa sengaja membakar gedung pesta karena menyenggol lilin di meja. Pestanya kacau dan tetua Ardhana itu ingin menghukum Alena namun Sabian membujuk kakeknya sehingga ia yang menghukum Alena. Kalau tidak, Alena pasti sudah mengalami trauma jika kakeknya yang menghukum. Ia sering menghukum Alena untuk mendisiplinkan nya. Saat itu ia berpikir semua tindakan yang ia lakukan untuk Alena hanyalah karena sebuah tanggung jawab sebagai seorang suami. Hal yang ia lakukan untuk Alena sepertinya terjadi secara naluriah. Namun siapa sangka ketika ia menghukum wanita itu karena mencoba bunuh diri, wanita itu tak pernah lagi mengganggunya seperti menyiapkan sarapan yang tak pernah ia sentuh atau menanyai apakah ia tidur nyenyak semalam. Masalah yang ditimbulkan wanita itu juga mulai berkurang semakin bertambahnya hari. Dan bahkan ia tidak pernah membuat masalah lagi sejak 3 bulan lalu ia keluar dari rumah Ardhana. Hal itu membuatnya marah pada dirinya yang merasa kehilangan suasana dari wanita itu. Ia menyadari bahwa wanita ini ternyata sudah berhasil menarik perhatiannya. Sungguh mengagumkan.
Alena berjalan keluar dari hotel dengan penampilan yang sangat kacau. Semua orang menatapnya dan mengambil foto dirinya. Siapa yang tidak tahu wajah nyonya muda Ardhana yang namanya sudah tercemar dimana-mana. Penampilannya yang sangat buruk tentu saja membuat orang-orang disekitar bersemangat untuk menyebar keburukannya lagi. Sepertinya keburukan Alena sangat dinanti-nantikan oleh semua orang untuk menjadi sumber kebahagiaan.
__ADS_1
("Lihatlah nyonya muda Ardhana yang tidak bermartabat ini. Apakah dia baru saja bersenang-senang dengan selingkuhannya?")
("Kudengar semalam dia menemani selingkuhannya pergi ke pesta perusahaan di hotel ini alih-alih menemani suaminya sendiri. Dasar tidak tahu diri")
("Kau benar. Lagi pula tuan muda Ardhana juga pasti tidak ingin ditemani wanita seperti dia. Tuan Ardhana pasti akan merasa terhina jika wanita itu bersentuhan kulit dengannya. Mana mungkin dia mau mengajak wanita rendahan seperti dia menemaninya pergi ke pesta")
Mereka berbicara seolah-olah sedang berbisik, namun volume suaranya sengaja dikencangkan agar Alena bisa mendengarnya. Alena merasa malu, marah dan terluka. Namun mau bagaimana lagi. Jika ia terlalu perduli dengan omongan orang, bagaimana ia bisa bertahan hidup dan membiayai perawatan neneknya di rumah sakit. Hal seperti itu sudah terbiasa ia dengar semenjak ia menikah dengan Sabian. Semua orang tidak pernah memandangnya bahkan menghinanya. Keluarganya sendiri tidak perduli dengan nasib Alena karena Alena hanya anak pungut yang terpaksa dibesarkan.
Manusia memang kejam. Ketika mereka mendapatkan keuntungan dari seseorang, tidak perduli bagaimanapun caranya mereka akan terus-menerus menggali keuntungan dari orang itu bahkan walau orang itu menderita dan mati mengenaskan. Mungkin inilah yang Alena jalani. Dimanfaatkan oleh orang tua angkatnya untuk menyembuhkan putri mereka tersayang, lalu di jual ke keluarga Ardhana setelah tidak dibutuhkan demi keuntungannya sendiri. Keluarga yang tidak tahu malu, Alena menyelamatkan hidup anak mereka namun balasan yang diberikan adalah mendorongnya ke jurang kematian secara perlahan.
Ia berjalan keluar dari hotel itu seolah-olah tak pernah mendengar suara bisikan yang ditujukan untuknya barusan. Orang bilang untuk membuat hidup mu sukses dimasa depan maka kamu harus mengabaikan suara bising yang mengganggu. Tapi bagi Alena untuk bisa tetap hidup dimasa depan ia harus bisa mengabaikan suara bising itu. Dunia sepertinya bertolak belakang dengan apa yang terjadi padanya. Sungguh hidup di dunia ini begitu memuakkan baginya.
__ADS_1