
Alena terkejut melihat Sabian yang tiba-tiba membanting ponselnya dan marah padanya. Ini tidak seperti Sabian yang biasanya. Kenapa ia begitu perduli dengan hal sepele tentang Alena. Alena memandang Sabian dengan kesal dan berkata, "Sabian sebenarnya apa yang kau inginkan dari ku? Jangan bertingkah aneh seperti ini."
"Bertingkah aneh katamu. Alena apa aku harus mengajari mu bagaimana cara menjadi istri yang baik, heh!!!" Pungkas Sabian. "Katakan padaku, sudah berapa lama kau menjalin hubungan dengan bajingan itu" bentaknya.
Alena sebenarnya tidak mau meladeni sikap Sabian yang aneh ini, tetapi jika terus dibiarkan maka pria ini akan terus mencecarnya. Ia berkata "Denis adalah teman ku."
"Bohong. Mana ada pertemanan antara pria dan wanita." Pungkas Sabian.
"Tapi kami memang berteman. Kalau kau tidak percaya itu urusan mu, bukan urusanku." Ujar Alena yang sudah malas menanggapi Sabian.
Sabian mengusap wajahnya kasar dan menarik nafas dalam-dalam untuk menetralkan emosinya. Setelah beberapa saat ia sudah bisa mengendalikan emosinya dan berpikir jernih. Ia mengingat kembali malam pertama yang ia habiskan dengan Alena semalam, wanita itu baru pertama kali melakukan hubungan suami istri dan ia adalah pria pertama dan akan menjadi satu-satunya yang melakukan hal itu pada Alena. Jika Alena berselingkuh darinya maka tidak mungkin Alena saat itu masih perawan.
Sabian memandang wajah Alena yang terlihat sangat kesal dan berkata, "aku akan percaya kata-kata mu dengan syarat kau tidak boleh berhubungan lagi dengan bajingan itu."
Alena mengernyitkan keningnya dan memandang Sabian sambil berkata, "atas dasar apa kau mau mengatur dengan siapa aku bergaul."
"Aku ini suamimu. Aku punya hak melakukannya." Geram Sabian.
"Denis itu orang baik, dia jauh lebih baik dibandingkan kau. Dia sering membantuku saat sedang kesusahan sementara kau suamiku sendiri sering membuat ku kesusahan. Orang yang harusnya di jauhi itu kau bukan dia." Sarkas Alena tanpa rasa berdosa. Hatinya sangat puas sekali dapat mengatakan hal itu di depan wajah Sabian langsung.
Suasana hati Sabian yang semula mendung kini menjadi badai kembali. Beraninya wanita ini membandingkan ia dengan pria lain, apalagi pria itu bahkan tidak setara dengannya. Sabian berkata dengan dingin. "Alena, aku tidak perduli kau mau atau tidak memutuskan hubungan dengan pria itu. Selama kau dalam genggaman ku, maka aku sendiri yang akan memutuskan hubungan kalian."
Alena memandang sabian dengan malas dan berkata, "terserah kau saja. Aku tidak mau dengar." Ia memutar kepalanya ke arah kanan dan memejamkan matanya.
Sabian duduk dengan kesal di sofa samping tempat tidur Alena sambil mendekap kedua tangannya di dada. Matanya terus memandangi Alena yang sedang memejamkan mata itu seolah-olah tidak membiarkan Alena luput dari pandangannya. Ia memandang Alena seperti itu selama satu jam lebih hingga ada panggilan masuk dari ponselnya yang mengharuskan Sabian kembali ke kantor. Sabian berdiri dari duduknya dan berkata kepada Alena yang sedang tertidur, "aku ada rapat, jadi harus kembali ke kantor dulu. Nanti setelah rapat selesai, aku akan kembali untuk menemani mu disini. Jadi jangan kemana-mana mengerti!"
__ADS_1
Alena diam saja tidak menanggapi perkataan Sabian. Hingga sabian meninggalkan tempat itu dan langkah kakinya sudah tak terdengar barulah ia membuka matanya. Sedari tadi ia sebenarnya tidak tidur, ia hanya malas beradu argumen dengan Sabian.
Perlahan Alena berusaha untuk bangun dari tempat tidurnya dan turun dari ranjang yang menyesakkan itu. Ia berjalan perlahan sambil menahan rasa sakit di pergelangan tangan kirinya. Ia pergi ke tempat administrasi untuk membayar biaya perawatannya.
Di sepanjang koridor rumah sakit ini, ada beberapa orang yang mengenali wajahnya dan memandangnya dengan tatapan merendahkan. Sungguh itu adalah pemandangan yang biasa bagi Alena. Alena berusaha untuk tidak perduli akan hal itu, ia tetap berjalan dengan menundukkan wajahnya.
Sesampainya di meja administrasi, Alena langsung bertanya kepada perawat yang berjaga di sana. "Aku ingin membayar biaya perawatan atas nama Alena Ribero."
Perawat itu memandang Alena dengan sinis dan berkata "tidak perlu, rumah sakit ini milik tuan muda. Karena tuan muda yang membawamu jadi tidak perlu bayar."
Alena merasa senang mendengarnya dan ber oh riah di dalam hatinya. "Kalau begitu aku pergi." Ia berjalan perlahan meninggalkan rumah sakit itu.
Di pelataran rumah sakit itu, ia tak sengaja melihat Adam yang baru saja turun dari mobilnya. Alena lantas langsung memutar tubuhnya dan berusaha untuk memposisikan dirinya agar tak terlihat mencolok dan dikenali oleh Adam. Tetapi hal itu sia-sia. Adam langsung mengenalinya bahkan walau hanya melihat punggung Alena. Ia berjalan menghampiri Alena dan berkata, " Alena, apa yang sedang kau lakukan disini?"
Adam mengernyit keningnya tak suka atas tindakan Alena yang semena-mena ini. "Kau ini masih butuh perawatan. Siapa yang sudah mengizinkan kau untuk pulang, heh." Bentak Adam.
"Ah, aku tidak perlu mendapatkan perawatan. Aku akan baik-baik saja jika beristirahat di rumah." Jawab Alena sekenanya.
Adam mulai kesal dengan sikap keras kepala yang dimiliki Alena dan berkata, "wajar saja Bian mematahkan tangan mu, ternyata kau sangat keras kepala."
Alena memandang Adam tak suka. Tetapi tak bisa berkata apa-apa. Ia memilih untuk diam. Adam sangat menghargai wanita tetapi ia benci dengan perselingkuhan. Sewaktu Adam kecil, ibunya meninggal bunuh diri setelah mengetahui kalau ayahnya selingkuh. Sejak saat itu ia sangat membenci sebuah perselingkuhan dan ayahnya sendiri. Sementara Alena sendiri sudah dikenal hampir penjuru negeri sebagai tukang peselingkuh. Hal itulah yang membuat Adam tak menyukai Alena.
Melihat Alena yang diam saja, Adam kembali berbicara dengan lebih tenang. "Alena, sudahkah kau mengajukan gugatan cerai kepada sepupuku?"
"Ah, itu... Kenapa tidak kau minta sepupumu sendiri yang menggugat ku. Jika aku yang menggugatnya bukankah itu akan mencoreng namanya." Jawab Alena sekenanya.
__ADS_1
Adam berkata lagi dengan nada yang dingin, "bukankah kau tahu kesepakatan pernikahan ini dulu. Atau perlu ku ingatkan."
Alena mengangkat alis sebelah kirinya dengan bingung. "Kesepakatan yang mana?"
"Jangan berpura-pura lupa." Kesal Adam. "Jika Sabian yang menuntut perceraian dari mu sebelum 4 tahun pernikahan ini maka harta Bian akan di bagi dua dengan mu."
Alena kembali ingat dengan perjanjian pranikah mereka sebelumnya. Ia lalu berkata dengan tidak berminat, "aku tidak menginginkan harta keluarga mu. Jadi jika Sabian menuntut ku lebih dulu aku tidak akan mempermasalahkan harta dan akan langsung pergi tanpa membawa apapun."
"Kau pikir aku percaya." Jawab Adam meremehkan. "Kau itu ******. Seluruh orang di negeri ini sudah tahu bagaimana jalangnya dirimu demi mendapatkan uang. Bagaimana mungkin tidak berminat dengan harta keluarga Ardhana."
Alena memang tak menginginkan harta itu. Bukannya benar-benar tak menginginkannya, Alena saja saat ini sangat membutuhkan uang akan tetapi dengan adanya harta itu pasti akan memunculkan banyak keributan di sana-sini. Terlebih lagi keluarga angkatnya pasti tidak akan tinggal diam dan akan melenyapkan Alena dari muka bumi ini untuk menjadi ahli waris harta yang di tinggalkan Alena. Belum lagi ada jutaan orang di dunia ini yang sangat membencinya hidup. Jika ia mengambil harta itu, bisa saja orang-orang itu akan bertindak lebih ganas dari yang sebelumnya. Alena tidak punya siapa-siapa untuk menjaga dan melindunginya. Ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri. Jadi ia harus bisa berpikir panjang sebelum bertindak untuk menghindari segala resiko yang akan terjadi.
Alena merasa tak terima atas perkataan Adam dan berkata, "tapi aku benar-ben.... Akhhh apa yang kau lakukan. Lepaskan Adam." Alena merintih kesakitan kala tangan kirinya yang patah di tekan oleh tangan Adam. Kakinya sampai berlutut menahan rasa sakit yang teramat di deranya saat ini.
Adam berjongkok untuk menyetarakan tinggi badan mereka dan berkata didepan wajah Alena dengan penuh penekanan, "Alena, aku tidak keberatan untuk menyingkirkan dirimu dari muka bumi ini jika kau menolak mengajukan gugatan. Menyingkirkan orang sepertimu itu sangat mudah sekali bagiku. Jadi selagi aku masih memberikan mu kesempatan maka pergilah dengan tenang tanpa membuat masalah, kau mengerti!"
"Iya, mengerti." Ucap Alena sambil menganggukkan kepala dengan air mata kesakitan yang mengalir di pipinya yang cantik.
Adam lalu mendorong Alena sampai punggung wanita itu menghantam tanah dan meninggalkannya.
Alena memandangnya dengan nanar dan perlahan meninggalkan tempat itu.
Secret Painter
Alena kembali ke galery lukisannya sekaligus tempat tinggalnya. Tiffany sudah pulang dan hanya ada ia sendiri. Galery ini menggunakan kode sandi sebagai akses untuk membuka pintu jadi Alena dan Tiffany tidak memerlukan kunci untuk membuka pintu. Alena duduk meringkuk di sofa kecil ruang tamu galery itu yang selama ini ia jadikan tempat tidurnya. Tangannya yang sedari awal sangat sakit bertambah sakit setelah di tekan oleh Adam barusan. Tapi ia tetap bertekad untuk bertahan, ia tidak ingin membuang-buang uang yang berharga itu hanya karena ia sakit.
__ADS_1