
Sabian kembali pada malam hari ke rumah sakit. Ketika turun dari mobil, ia langsung berlari menuju ruangan tempat Alena di rawat. Ia pergi begitu lama, jadi ia khawatir Alena merasa kesepian begitu lama karena menunggunya. Setibanya di ruangan tempat Alena di rawat, ia tak mendapati wanitanya berada di ranjang pasien. Ranjang itu tersusun begitu rapih seperti tak ada yang menghuni tempat itu. Sabian masuk dengan panik dan memanggil-manggil nama Alena. Ia membuka pintu kamar mandi untuk mengecek tetapi Alena juga tak berada di sana. Sabian keluar dari ruangan itu dengan marah dan langsung memanggil perawat yang ada di sana. "Perawattt..."
"Iya tuan, ada apa?" Jawab perawat.
"Dimana istriku? Kenapa dia tidak ada di sana?" Bentak Sabian.
Perawat itu ketakutan dan seluruh tubuhnya gemetar mendengar suara Sabian yang begitu penuh amarah. "Tu, tuan. Tadi nyonya Ribero sudah keluar dari rumah sakit."
Mendengar hal itu, Sabian langsung murka. "Siapa yang mengizinkannya. Bukankah kalian lulusan jurusan kesehatan. Apakah tidak bisa lihat kalau dia sedang terluka parah!!!"
"Maafkan saya tuan, saya tidak tahu siapa yang mengizinkan." Jawab perawat itu ketakutan.
Sabian langsung pergi membawa langkah kakinya terburu-buru untuk mencari keberadaan Alena. Ia tiba di tempat galeri Alena. Sedari berita yang ia dengar dari max, Alena menjadikan tempat ini galery lukisan sekaligus tempat tinggalnya. Alena tidak punya teman kecuali keparat Denis itu. Jika Alena tidak berada disini maka ia berada di tempat si keparat itu tentunya.
Pintu ini menggunakan sandi sebagai akses untuk membuka pintu. Sabian mencoba menebak sandi itu dengan tanggal lahirnya, dan ternyata gagal. Ia berdecak kesal, lalu memasukkan kembali kata sandinya dengan tanggal pernikahan mereka dan ternyata gagal lagi. Percobaan kedua membuat ia sedikit emosi karena Alena tidak menggunakan tanggal penting itu untuk akses sandinya. Lalu ia mencoba memasukkan tanggal lahir Alena dan masih gagal juga. Sabian memutar tubuhnya dengan emosi menghadap max. "Max, buka pintunya!" Perintah Sabian.
"Baik tuan." Jawab Max. Pekerjaan membobol seperti ini memang keahlian Max, jadi tidak butuh waktu lama pintu pun terbuka. Sabian dengan tidak sabar langsung berlari masuk dan berteriak memanggil nama Alena. "Alena..... Alena..... Dimana kau??"
Ruangannya sangat gelap. Sabian menyalakan senter ponselnya untuk penerangan dan ia melihat Alena yang sedang meringkuk di atas sofa kecil ruang tamu itu. Ia segera menghampiri Alena dan ketika kulitnya bersentuhan, tubuhnya sangat dingin. Max menyalakan lampu dan seketika jantung Sabian mencelos mendapati wajah Alena yang sangat pucat seperti mayat hidup.
"Alena, apa kau bisa mendengar ku?" Suara Sabian terdengar begitu khawatir.
__ADS_1
Alena perlahan membuka matanya dan langsung bertatapan dengan mata Sabian. Ia mengernyitkan matanya tak suka melihat keberadaan Sabian dan berkata dengan suara parau, "apa yang kau lakukan disini?"
Sabian mengelus wajah Alena dengan lembut dan berkata dengan suara rendah, "dasar bodoh. Kenapa pergi seenaknya saja dari rumah sakit heh. Apa kau tahu kalau kau itu terluka parah." Cecar Sabian.
Alena mendorong tangan Sabian pelan dari wajahnya dan berkata acuh tak acuh padanya. "Aku tidak perduli. Sabian pergilah, jangan menggangguku."
Sabian dengan sabar menghadapi tingkah keras kepala Alena. Wanita ini sedang merasa kesakitan membuat Sabian tak tega jika memarahinya. Ia membujuk dengan lembut. "Alen, kau sedang sakit. Ayo pergi ke rumah sakit jika tidak nanti sakitnya akan bertambah parah."
"Aku baik-baik saja. Nanti sakitnya akan hilang jika aku beristirahat. Kau tak perlu perdulikan aku. Pulanglah." Jawab Alena pelan. Suaranya terdengar sangat lemah. Hati Sabian terasa tercekik mendengarnya. Ia tak suka melihat wanitanya kesakitan dan tak berdaya seperti itu. Ia masih berusaha membujuk lagi, "apa yang membuat mu tidak mau ke rumah sakit, Hem? Aku akan memberika perawatan terbaik untukmu. Rumah sakit itu milikku, jika perlu akan ku sediakan satu lantai penuh hanya untukmu, bagaimana?"
Alena mulai kesal dengan tingkah Sabian yang tidak mau menyerah ini. "Sabian, aku baik-baik saja. Aku hanya membutuhkan istirahat. Bisakah kau tidam mengganggu ku?"
"Alena jika kau tidak kerumah sakit, tangan mu akan meradang dan sakitnya akan bertambah parah. Kenapa begitu keras kepala." Ucap Sabian yang tak sabaran dan khawatir. Ia segera menggendong Alena tanpa persetujuan wanita itu karena tidak mau menerima penolakan.
Sabian tak memperdulikannya dan terus membawanya ke rumah sakit.
.
.
.
__ADS_1
Keesokan harinya.
Sabian bangun lebih awal dari Alena. Pria itu tak pernah meninggalkan Alena dan tidur di sofa ruangan itu. Ia begitu khawatir kalau Alena kabur lagi jika ia pergi sedetik saja meninggalkannya. Sabian berjalan mendekati Alena dan duduk di tepi ranjang. Ia menjangkau wajah Alena dan mengelusnya dengan lembut lalu mencium bibirnya dengan ringan berkali-kali. Sabian tersenyum senang melakukannya. Bibir istrinya ini terasa lembut dan kenyal. Sekali di cium maka ingin menciumnya lagi. Bibir mungil itu seperti telah menjadi candu bagi Sabian. Ia memandang wajah Alena lalu beralih ke leher jenjangnya. Sebuah pemikiran muncul di benaknya, ia belum menghukum wanita ini kemaren karena pergi dari rumah sakit tanpa seizinnya. Sabian mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Alena, menghirup nafas dalam-dalam dan mencium leher Alena perlahan. Tak lama kemudian ia mengecup leher Alena dengan pelan, kecupan itu lama-lama berubah menjadi gigitan kecil yang mulai membangkitkan nafsunya. Ia mengecup dan menggigit leher alena dengan penuh nafsu.
Alena perlahan terbangun dari tidurnya karena merasa tak nyaman di lehernya. Ketika ia membuka matanya, ia mendapati Sabian yang tengah menikmati lehernya dengan hikmat. "Sabian, apa yang kau lakukan. Menjauhlah dariku!" Ucapnya kesal.
Mendengar Alena sudah bangun, Sabian menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Alena. Wajahnya memerah seperti sedang menahan sesuatu dengan keras. Nafasnya jadi tersenggal tak beraturan. "Kau sudah bangun." Ucap Sabian dengan suara berat dan terdengar seksi. Lalu ia mencium bibir Alena. Alena menutup bibirnya rapat-rapat dan berusaha menjauhkan kepalanya dari Sabian, tetapi lelaki itu menahan kepalanya. Sabian menggigit bibir wanita itu dengan lembut sehingga tanpa sengaja bibir Alena terbuka di iringi dengan ******* lembut yang tak sengaja keluar dari mulut kecil itu. Sabian mengecup bibir Alena dan menautkan lidahnya. Lidahnya bergerilya di dalam mulut Alena dan mengabsen tiap baris dari gigi istrinya. Alena berusaha mendorong dada bidang Sabian tapi itu tak membuahkan hasil. Sabian bahkan tak bergeming sedikitpun dari tempatnya. Hingga Alena seperti sudah kehabisan nafas, barulah Sabian melepaskan tautan bibirnya dengan sang istri.
Ia menatap mata sang istri dengan kilatan kemarahan di mata Alena. Sabian tersenyum lalu dengan tanpa aba-aba ia menggigit leher jenjang Alena.
"Akhh.... Sabian. Apa yang kau lakukan.." teriak Alena mendorong pria itu dengan marah. Sabian terkekeh melihatnya dan menjauhkan wajahnya dari Alena. Seringaian puas terpahat di wajahnya kala melihat tanda kepemilikan yang sangat jelas terpampang di leher Alena dan wajah kesal sang istri yang terlihat sangat manis menurutnya.
"Itu adalah hukuman untukmu karena pergi tanpa seizin dari ku" ucap Sabian tegas.
Alena mengerutkan keningnya tak suka sambil berkata acuh tak acuh, " aku pergi itu urusan ku. Tak ada hubungannya dengan mu.
"Ada". Jawab Sabian tak mau kalah. "Kau istriku. Istri yang baik harus menurut dengan suaminya. Bukan jadi pembangkang seperti mu."
Mendengar hal itu, Alena mengerucutkan bibirnya kesal. Ia tak habis pikir dengan pria yang ada didepannya saat ini. Sejak kapan pria ini benar-benar menganggap dirinya sebagai istri. Alena hanya diam saja tak mau menanggapi Sabian yang menurutnya bersikap sangat aneh.
Hi readers, jangan lupa untuk selalu menunggu update cerita author ya. Nanti author bakal up sesering mungkin supaya readers pada seneng ☺️
__ADS_1
Untuk mendukung author dalam menulis cerita, author berharap readers mau memberikan like, kritik dan saran melalu kolom komentar agar author bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada. Semangat untuk kita semua😄🙌