Akan Tetap Mencintai Mu

Akan Tetap Mencintai Mu
Mengakui Sherly Kekasihnya?


__ADS_3

Sabian langsung mengalihkan pandangannya dan kembali duduk di tempat semula. Ia mengeluarkan ponselnya dan mencari tahu tentang apa itu jampi-jampi. Tak berapa lama, urat-urat yang sebelumnya menegang di sekitar pelipis matanya kini mulai tenang dan ia memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana. Ia lalu melihat ke arah Alena dan berkata dengan seperti tanpa dosa, "ah, kurasa benar aku sudah terkena jampi-jampi mu."


Mendengar itu, Alena mencebikkan bibirnya dan merasa geli sendiri dengan tingkah konyol Sabian. Tiba-tiba saja terlintas di benak pikirannya tentang gugatan perceraian yang di bicarakan Adam kemarin. (Jika aku menggugat cerai Sabian apakah aku bisa meminta sedikit uang kompensasi? Ku rasa bisa. Aku tidak akan meminta banyak. Hanya akan meminta beberapa puluh juta saja untuk keperluanku bulan ini. Lagi pula uang keluarga Ardhana sangat banyak, ku rasa jika aku meminta segitu akan di berikan)


Alena tersenyum senang memikirkan hal itu. Ia dapat menyelesaikan masalah keuangannya untuk saat ini. Ia bertanya dengan senang kepada Sabian. "Sabian kira-kira apa hari ini aku akan di gips?"


"Tentu." Jawab Sabian lembut. Melihat senyum wanita itu yang tiba-tiba muncul membuat hati Sabian berdesir dan menghangat. Sungguh sangat cantik sekali wajah istrinya ketika tersenyum. Ia ingin melihatnya setiap saat.


"Oke baiklah." Ujar Alena. "Emmm... Sabian, apa kau tidak akan pergi? Sepertinya kau sudah cukup lama berada di sini." Ucap Alena lagi.


Sabian mengangkat tangannya dan mengelus kepala Alena lembut seraya berkata, "istriku sedang sakit. Bagaimana bisa aku meninggalkannya. Apalagi dia sangat keras kepala dan suka kabur seperti kucing liar. Aku harus mengawasinya secara langsung."


Mendengar hal itu, Alena hanya bisa mengerutkan keningnya dan berkata, "Sabian, aku bisa mengurus diriku sendiri. Jika kau terus-terusan berada di dekatku, orang akan dengan senang hati menyebarkan berita buruk tentang ku. Apa kau tidak kasihan dengan istrimu ini setiap hari dihina dan di injak harga dirinya hanya karena dekat-dekat dengan mu. Setidaknya walaupun tidak ada orang yang menyukai ku, biarkan aku berusaha untuk hidup dengan tenang."


Elusan dikepala Alena terhenti sesaat dan tak lama tangan itu kembali mengelus kepala Alena lagi. "Jangan khawatir, aku akan membersihkan namamu. Jika kau patuh dan tidak pergi dariku maka tidak akan ada lagi manusia di dunia ini yang dapat menghina dan menginjak harga dirimu."

__ADS_1


Alena mengerucutkan bibirnya pasrah tidak mau berdebat. "Terserah kau saja."


Dalam hati Alena berkata, "membersihkan apa katanya, namaku? Memangnya bisa. Nama ku kan tercemar akibat ulah dirinya sendiri, keluarganya, dan kekasihnya. Apa bisa dia melawan keluarga dan kekasihnya itu yang dia cintai. Sudahlah Alena. Jangan berharap apapun pada seseorang. Tidak ada yang bisa kau percaya selain dirimu sendiri."


.


.


.


Alena duduk dengan kesal di sofa sambil melihat Sabian berlalu lalang mengatur orang-orangnya menempatkan barang-barang yang menurut Alena tidak berguna. Mulai dari ranjang tidur, kulkas baru, sofa baru, AC baru, lemari baru yang entah untuk apa itu di beli, beberapa set pakaian rumahan pria dan pakaian formal yang sepertinya milik Sabian, perlengkapan mandi, TV baru dan masih banyak lagi hingga barang-barang itu tidak muat lagi di dalam galery Alena yang kecil dan sederhana ini. Alena mulai jengah dengan kelakuan Sabian. Ia berdiri dan berkata dengan kesal. "Sabian, barang-barang mu sudah tidak muat lagi dalam galery ku. Sebaiknya bawalah pulang hal yang tidak penting ini. Kalau kau meletakkan semuanya dalam galery ku nanti aku tidak bisa memajang lukisan ku."


Sabian menoleh ke arah Alena sambil berkacak pinggang dan berkata, "apakah perlu aku merenovasi galery mu ini supaya jadi besar?"


"Tidak, itu tidak perlu." Ucap Alena sambil melambaikan tangannya. "Eh,, Sabian kenapa kau meletakkan begitu banyak barang mu ke galery ku?"

__ADS_1


Sabian berjalan menghampiri Alena dan menarik pinggangnya untuk mendekat dengannya dan berkata, "kau bilang lebih suka tinggal disini. Jadi apa boleh buat, aku hanya bisa membawa barang-barang pribadiku ke sini untuk mengikuti mu."


Mata Alena melotot tak percaya. Sabian mau tinggal ditempat sempit ini dengannya. Yang benar saja. Tempat ini sangat kecil dan tidak cocok di huni oleh orang seperti Sabian. Luas kamar mandinya saja mungkin bisa seluas galery ini. Dan lagi pula Alena tak mau tinggal dengan pria ini. Ia sedang berusaha untuk melupakan Sabian dan berencana menggugat cerai Sabian agar keluarga dan kekasihnya tak terus-menerus meneror dan mengancam Alena untuk menceraikan Sabian. Ia ingin berusaha hidup dengan tenang dan seperti tak terlihat di dunia ini. Ia mengangkat suaranya untuk protes. "Sabian, aku tidak ingin tinggal denganmu disini. Tempat ini sangat kecil, jauh berbeda dengan kediaman keluarga Ardhana tempat kau tinggal. Tempat ini juga tidak sebersih di rumah mu. Beraktivitas disini akan sangat sulit untuk orang yang sibuk seperti kau apalagi kau sudah mengisi galery ku dengan barang pribadi mu. Lebih baik kau pulang ke rumah mu dan bawa kembali barang-barang ya."


Ekspresi Sabian yang awalnya sangat antusias dan bersemangat mengemas barang-barangnya untuk pindah kesini seketika berubah menjadi dingin dan menatap Alena tajam. Bahu kecil Alena sampai menciut ketakutan di buatnya. Ia berkata dengan dingin. "Alena, kalau kau tidak mau tinggal dengan ku disini lalu kau ingin tinggal dengan ku dimana?"


Alena bingung mencari jawaban yang pas agar tidak menambah bensin di api yang akan menyala ini. "Emm.... Sabian, kan biasanya juga kita tidak tinggal bersama. Kenapa sekarang ngotot ingin ikut dengan ku. Nanti kalau orang lain tahu kau tinggal disini dengan ku galery ku bisa saja langsung mereka musnahkan. Lagian kan kau itu sudah punya kekasih. Apa kau tidak merasa bersalah dengan kekasih mu jika kau tinggal disini dengan ku?"


Kekasih? Siapa? Pikir Sabian. Sepertinya wanita yang selalu mengganggu ketenangannya siang dan malam adalah wanita yang ada dipelukannya saat ini. Ia menatap Alena dalam sambil berpikir siapa wanita itu. Ahh, dia ingat. Ada satu wanita yang selalu mengganggu dan menempel padanya seperti parasit yang sulit dihilangkan, Sherly. Memikirkan itu membuat Sabian punya rencana terselubung. Ia melepaskan tangannya yang berada di pinggang Alena dan berkata acuh tak acuh, "ahh, kekasihku. Kau tak usah perdulikan dia. Selama dia tidak tahu maka semua akan baik-baik saja. Aku akan bermain dengan aman, jadi kau tenang saja dan tak perlu pikirkan apapun."


Rasanya masih terasa sakit ketika Sabian secara tak langsung mengakui hubungannya dengan Sherly. Tapi Alena bisa apa. Ia hanyalah manusia rendah dan tidak berarti apa-apa. Ia mengelus dadanya yang sesak dengan pelan dan berkata. "Sabian, tidak baik menjadi penghianat dalam hubungan. Nanti setelah kau kehilangan dia baru kau menyesal karena telah bermain-main denganku."


"Itu urusanku." Pungkas Sabian. Ia lalu berbalik dan mengatur kembali orang-orangnya yang menyusun barang. Kali ini ia memilah barang-barang yang sepertinya akan ia dan Alena butuhkan saja mengingat Alena ingin memiliki ruang untuk memajang lukisannya. Ia teringat dulu sebelum menikahi Alena, Jack berkata kalau Alena dari jurusan seni lukis. Karena menikah dengan Sabian, otomatis Alena tidak melanjutkan studinya lagi. Ia jadi berpikir apakah ia harus menyuruh Alena melanjutkan studinya lagi.


Hi, readers. Jangan lupa untuk mendukung cerita author dengan cara like, komen, dan share cerita author ya biar author makin semangat buat ceritanya. Dukungan dari kalian jadi motivasi terbesar author untuk menulis cerita ini. Semangat😄🙃

__ADS_1


__ADS_2