
Malam tiba. Alena sudah membersihkan tubuhnya dan sudah berganti pakaian tidur dengan ancaman Sabian yang ngotot ingin membantu. Kini ia telah duduk di sofa lamanya yang tidak jadi di ganti baru karena ia menolak sofa yang dibawa Sabian. Ya walaupun kulkas, lemari baju, AC dan ranjang Sabian tetap masuk ke dalam galery ini. Galery ini tidak terlalu luas. Bisa di bilang hanya memiliki dapur mini, satu kamar mandi, satu ruang sempit yang biasanya Alena jadikan tempat melukis, satu ruangan yang paling besar tempat Alena memajang lukisan dan satu ruang tamu yang Alena jadikan ruang pribadinya yang kini sudah menjadi kamar tidur tuan muda Sabian Ardhana.
Alena mengambil selimut dilemari miliknya dan bersiap untuk tidur di sofa kecil miliknya. Ia cukup tahu diri kalau ranjang besar di depan matanya di bawa Sabian untuk pria itu tidur, bukan untuk dirinya. Saat ia sudah bersiap untuk memejamkan matanya, Sabian keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Alena meneguk salivanya kasar melihat pandangan menggiurkan yang menodai matanya. Bagaimana tidak tergiur, pria itu nampak sangat seksi dengan perut kotak-kotak tercetak sangat jelas. Lengannya kekar dan tubuhnya yang jakung dan tinggi 190 cm membuat ia terlihat seperti dewa Yunani dalam legenda. Tubuhnya yang atletis dan kekar mampu membuat Alena berfantasi liar sejenak tentang Sabian. Iris matanya yang tajam berwarna cokelat bak elang siap menerkam siapa saja di depan mata. Air itu menetes dari rambut melewati wajahnya dan bulu-bulu halus di sekitar rahangnya menambah kesan seksi pria itu seusai mandi.
Pemandangan seperti itu membuat Alena berpikir memang ia dan Sabian sangat tidak pantas dan serasi. Alena hanya wanita biasa. Penampilannya biasa saja dan sederhana. Ia memiliki tubuh setinggi 167 cm, jika berdiri di samping Sabian maka ia akan terlihat seperti kurcaci yang menempel pada Sabian. Sedangkan Sherly, kekasih Sabian memiliki tubuh tinggi semampai 174 cm. Tubuhnya begitu molek dan seksi. Ia adalah seorang model yang sangat terkenal di negara ini. Semua pria mengagumi Sherly. Memang dari segi wajah, Alena adalah pemenangnya jika dibandingkan dengan Sherly. Tapi dari segi penampilan, Sherly menang banyak. Wanita itu tampil modis dengan semua barang branded yang ia kenakan sementara Alena hanya memakai barang lama dan bajunya yang sudah lusuh bahkan menguning karena keseringan di cuci. Kehidupannya dan Sherly benar-benar berbanding terbalik. Pantas saja semua orang lebih setuju jika Sabian menikahi Sherly dibandingkan dirinya.
Sabian yang merasakan pandangan terpesona Alena tersenyum smirk dan berkata dengan bangga, "apakah kau sangat terpesona hingga air liur mu menetes, sayang?"
Alena langsung tersadar dan menutup mulutnya yang terbuka. Ia berdehem untuk menetralkan debaran kekagumannya terhadap ketampanan Sabian dan berkata acuh, "siapa yang perduli. Hati yang bersih lebih penting dari pada wajah yang tampan." Ucap Alena menyindir Sabian.
Sabian terkekeh mendengarnya dan berkata dengan tidak tahu malu, "hati yang bersih dan wajah yang tampan membuat diriku terlihat sempurna."
__ADS_1
Alena mencebikkan bibirnya mendengar kalimat tak tahu malu itu. Bersih apanya. Hatinya sangat kotor berikut dengan pikiran-pikiran mesum Sabian yang sedari tadi memandang Alena seperti ingin menerkamnya.
Sabian berjalan mendekati Alena yang sedang meringkuk di atas sofa dengan tangan kirinya yang di gips. Posisi itu terlihat sangat tidak nyaman, Sabian bisa melihatnya sendiri. Ia berkata sambil berdiri di depan Alena. "Kenapa kau berbaring disini?"
Alena langsung duduk mendengar pertanyaan Sabian. Kenapa ia berbaring disini. Itu jelas karena sofa ini biasa ia jadikan tempat tidurnya. Dan galery ini adalah miliknya. Jadi kenapa ia berbaring disini, itu jelas karena tempat ini milikinya. Yang seharusnya dipertanyakan itu adalah Sabian, kenapa lelaki ini tidak pergi dari tempat Alena. Tapi Alena malas berdebat dengan lelaki di depannya ini. Pria ini memiliki seribu satu cara untuk mengancam Alena supaya dia nurut dan bungkam kepada Sabian. Ia lantas berdiri dan mengambil kainnya seraya berkata, "ya sudah, aku tidur di luar."
Ia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar namun Sabian langsung mencekalnya dan berkata dengan dingin, "siapa yang menyuruhmu tidur di luar?"
"Ehh... Kalau begitu aku tidak akan tidur di galery ini. Aku,, aku akan menghubungi Tiffany dan bertanya apakah boleh menginap di sana." Ucap Alena bergetar karena merasa takut dengan pandangan Sabian yang dingin itu.
"Sabian, tolong lepaskan aku. Ini tidak nyaman." Pinta Alena memelas.
__ADS_1
Sabian ikut merebahkan diri di samping Alena lalu mengatur posisi kepala Alena untuk bersandar di dada bidangnya seraya berkata, "tidak nyaman bagaimana sayang? Tempat ini jauh lebih nyaman dari pada sofa jelek dan kecil milikmu itu. Mulai sekarang kau akan tidur di sampingku selamanya." Tegas Sabian.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi tapi, jika kau berani menolak maka aku akan mengikatmu di ranjang mansion ku agar kau selalu tidur denganku setiap harinya. Apa kau mau?" Pungkas Sabian menyela ucapan Alena.
Mendengar hal itu membuat Alena bergidik ngeri dan langsung menganggukkan kepalanya berkali-kali, "iya, iya. Aku tidak akan melawan lagi."
Sabian tersenyum puas. Ia lalu bergerak-gerak dan melepaskan handuk yang tadinya melilit di pinggangnya dan melemparkannya kesembarang tempat.
Seketika saja bola mata Alena langsung ternoda dengan pemandangan di pangkal paha lelaki itu. Bagaimana tidak, Sabian dengan pedenya bertelanjang tanpa sehelai benang pun berbaring di samping Alena. Dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah batang besar, panjang, dan berurat itu tengah mengacung berdiri tegak membuat Alena seketika berteriak menutup matanya dan hendak menjauh dari Sabian. Tetapi Sabian menahan tubuhnya hingga masih tetap menempel dengan Sabian. Sabian berkata dengan suara beratnya. "Tenanglah, aku tidak akan menyentuhmu sampai kau sembuh. Aku tidak ingin menyakitimu. Jadi tidurlah."
__ADS_1
Alena cukup merasa tenang mendengar hal itu dan ia berusaha untuk tidur walau tidak nyaman. Sabian mengambil selimut dan menutupi tubuh telanjangnya beserta tubuh Alena.
Hi, readers. Mohon dukungannya untuk karya Mimin ya dengan cara memberikan like, komen, dan share cerita Mimin biar Mimin lebih semangat lagi dalam menulis novelnya. Setiap dukungan kecil dari readers adalah motivasi untuk Mimin agar lebih semangat lagi dalam menulis cerita. Semangat 😄🙌