Akan Tetap Mencintai Mu

Akan Tetap Mencintai Mu
Berhasil menggoda


__ADS_3

Sabian duduk di samping ranjang Alena dengan senyum puas diwajahnya seperti tanpa dosa. Tak lama setelah itu dokter Adam masuk. Alena yang melihat dokter Adam masuk berusaha menormalkan kilatan kegugupan sekaligus rasa takut yang dimilikinya terhadap lelaki itu. Ya, Alena akui ia cukup merasa takut terhadap Adam, sepupu Sabian. Bukan hanya kepada Adam, akan tetapi seluruh anggota keluarga Sabian semuanya ia takut. Mereka sangat kejam dan bersikap dingin kepada Alena. Tak ada dari keluarga Sabian yang menyukai Alena sedikitpun. Hari-hari yang Alena habiskan di kediaman keluarga Ardhana hanya sebuah penghinaan dan siksaan. Memang siksaan dan hinaan itu tak berarti apa-apa lagi bagi seorang Alena yang sudah terbiasa mendapatkannya sedari kecil. Akan tetapi, Alena tetaplah hanya seorang wanita yang lemah. Ia bisa merasakan takut, sedih, kesepian seperti wanita lain pada umumnya. Akan tetapi ia selalu berusaha menyembunyikan setiap kelemahannya itu agar orang-orang tidak mudah menindasnya. Hanya satu orang dari keluarga Ardhana yang baik kepada Alena, ia adalah neneknya Sabian. Wanita tua yang berumur 70 tahunan itu menerima Alena sebagai menantunya terlepas dari rumor buruk Alena yang menyebar di seluruh kota. Bukannya ia tidak percaya akan rumor yang menyebar itu, hanya saja cucunya Sabian sangat tidak suka disentuh oleh sembarang wanita. Tidak ada wanita di luar sana yang dekat dengan Sabian. Sabian bahkan pernah bertekad tidak ingin menikahi wanita manapun sekalipun keluarganya memaksanya menjodohkan Sabian. Akan tetapi, Alena mampu mematahkan tekad Sabian. Nenek tua itu yakin sikap buruk yang ada pada Alena hanya karena ia berusaha untuk diperhatikan suaminya yang memang sangat dingin dan cuek terhadap segala hal kecuali pekerjaan. Walau pada kenyataannya tidak ada satupun spekulasi orang diluar sana yang benar tentang Alena.


Adam memandang Alena tak bersahabat. Lalu memeriksa keadaannya dengan tenang tanpa bersuara.


"Bagaimana keadaan istriku?" Tanya Sabian memecah keheningan di ruangan yang sepi itu. Adam memandang Sabian dengan heran dan bertanya, "sejak kapan kau menghawatirkan dia?"


"Itu urusan ku. Apa ada masalah?" Ucap Sabian dingin dan balik bertanya.


"Kak Bian, apa wanita ****** ini berhasil menggoda mu? Atau wanita ini menemukan kelemahanmu hingga kau bersikap aneh seperti ini?" Ucap Adam kesal sambil melirik Alena tak suka.


Alena menundukkan pandangannya. Ya dirinya memang serendah itu di mata orang lain.


Sabian tersenyum penuh arti memandang Alena lalu berkata tanpa rasa bersalah, "ya kurasa wanita ini berhasil menggoda ku."


Seketika saja Alena menoleh ke arah Sabian dengan matanya yang melotot seperti akan keluar. "Aku tidak menggoda mu." Ucap Alena tak terima.


"Maling mana ada yang mau mengaku." Ucap Adam sarkasme.

__ADS_1


Alena menundukkan pandangannya kembali dan tangan kanannya mengeratkan cengkraman selimut pasien itu ke tubuhnya. Rasanya selimut ini dapat membuat perasaannya yang sudah hancur menjadi lebih baik. Ia ingin menangis tapi berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh.


Alena menarik nafas sepelan mungkin untuk menenangkan dirinya. Ia lalu bertanya dengan pelan. "Tuan Adam, apakah saya bisa pulang hari ini?"


"Tidak!" Tegas Sabian dingin menyela pertanyaan itu. Sabian melirik Adam dingin meminta ia menjelaskan keadaan wanita keras kepala ini.


Adam berdehem lalu berkata dengan profesional. "Luka di tanganmu cukup parah. Tanganmu harus di gips setidaknya 2 minggu untuk masa pemulihan. Setelah tanganmu di gips, besok kau boleh pulang dan hanya memerlukan rawat jalan saja."


Alena manggut-manggut saja mendengarkan penjelasan Adam, entah apa karena ia paham atau hanya karena ia mendengarkan saja. Sementara Sabian hanya memandang Alena tanpa bersuara. Melihat Alena manggut-manggut seperti kucing bodoh membuat ia gemas sendiri terhadap istrinya itu.


Selesai Adam menjelaskan, ia bertanya. "Apa kau mengerti?"


"Itu bukan urusanku. Tanya saja pada bagian administrasi." Pungkas Adam.


"Baik tuan Adam. Terimakasi." Ucap Alena tulus.


Adam hanya mengangguk saja lalu pergi berlalu tanpa berpamitan pada sepupu dan kakak iparnya. Ia kesal melihat Sabian yang memandang Alena sambil tersenyum-senyum seperti orang gila.

__ADS_1


Seperginya dokter Adam, Alena hanya diam saja dengan otak yang sedang memikirkan sesuatu. (Uang untuk biaya rumah sakit nenek masih kurang. Belum lagi untuk gaji tifany. Kalau uangnya dipakai untuk aku berobat pasti aku tidak akan mampu mencari gantinya bulan ini. Tapi kalau aku terluka seperti ini bagaimana aku bisa bekerja. Apa aku pinjam uang saja ya. Tapi dengan siapa? Masa dengan Denis lagi. Dia sudah terlalu banyak membantu ku tapi aku tidak pernah membantu apapun untuknya)


Begitulah sekilas isi pikiran Alena. Tiba-tiba....


Cup..,


Alena melototkan matanya kaget ketika Sabian tiba-tiba saja mencium pipinya. Ia memandang Sabian yang tersenyum puas dan berkata dengan marah, "apa yang kau lakukan Sabian. Jika orang melihatnya mereka pasti akan menuduhku telah melakukan jampi-jampi kepadamu."


"Jampi-jampi?" Tanya Sabian heran tak mengerti. "apa itu jampi-jampi? Apa dia orang? Apa dia pria?" Seketika pikiran bodoh yang datang di otak Sabian membangkitkan amarah yang terpendam dan siap untuk mencari pelampiasan. Jampi-jampi, siapa dia. Bagaimana ia bisa masuk kepikiran istrinya. Sabian rasanya ingin mencabik-cabik si jampi-jampi itu agar tidak menggangu istrinya ini.


Mulut Alena terbuka melongo melihat kelakuan bodoh Sabian. Orang bodoh mana yang mengira jampi-jampi itu manusia. Oh ya, Sabian orang bodoh itu. Alena sedikit tersenyum tipis mengejek pria bodoh di depannya ini.


Melihat Alena yang tersenyum mengejek, Sabian langsung berdiri dari duduknya dan memandang wajah Alena dengan tegas dan berkata dengan dingin. "Alena, katakan padaku. Siapa itu jampi-jampi?"


"Tanyakan saja pada nenek mu." Ucap Alena polos.


"Jangan bermain-main dengan ku." Pungkas Sabian dengan sorot mata yang sangat dingin seperti mampu membekukan Alena saat itu juga. Alena jadi ketakutan dipandang seperti itu dengan Sabian. Ia menelan salivanya kasar dan berkata dengan terbata-bata. "Sa...Sabian, i...tu bukan apa-apa. Kau ca...cari saja di google maka kau akan menemukan jawabannya."

__ADS_1


Hi readers, jangan lupa dukung author dalam menulis cerita ya dengan cara like, komen, dan share cerita author biar author lebih semangat lagi untuk menulis cerita. Dukungan kalian benar-benar jadi motivasi buat author untuk lebih semangat lagi dalam menulis. Author bakal usahakan untuk up setiap hari di tengah kesibukan author yang sedang kuliah. Doakan author juga ya supaya author bisa sukses dalam hal apapun. Aamiin. Jadi tetap tunggu kelanjutan cerita terbaru Sabian dan Alena ya readers. Semangat 😄🙌


__ADS_2