
Rumah sakit
"Bagaimana keadaannya?" Sabian bertanya dengan nada suara khawatir.
Dokter Adam Wijaya sekaligus sepupu Sabian mengerutkan alisnya melihat tingkah laku Sabian yang khawatir dengan seorang wanita. Seumur hidupnya baru pertama kali melihat Sabian kehilangan ketengan seperti ini. "Tangannya patah, apakah kau berniat membunuh istrimu karena kesal padanya!" Sarkas Adam marah.
Rasa kesal yang Adam tunjukan bukan di buat-buat. Ia memang tidak menyukai Alena akan tetapi bukan berarti ia senang melihat Sabian menyakitinya. Seburuk apapun Alena ia tetap saja wanita, dan baginya wanita tidak pantas mendapatkan perlakuan kasar seperti itu.
Sabian menghela nafas kasar mendengar perkataan Adam. Ia menghela nafas berat dan berkata, "aku tidak sengaja. Wanita itu keras kepala dan tidak mau patuh padaku. Aku marah dan menariknya dengan keras. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan emosiku."
"Ini tidak seperti dirimu yang biasanya. Wanita itu membuat banyak masalah dan sudah sering mempermalukan mu dan kau tidak pernah semarah ini. Apa terjadi sesuatu yang tidak ku ketahui, Sabian?"
"Tidak ada. Aku ingin melihat Alena!" Ucap Sabian dingin.
"Kami belum selesai memberikan perawatan. Tunggulah dulu sebentar. Jika sudah selesai perawat akan memanggil mu." Sergah Adam.
Sabian mengangguk dengan patuh dan duduk di kursi tunggu yang disediakan rumah sakit. Ia menunggu dengan tidak sabaran. Rasanya satu detik terasa satu jam dan satu jam terasa seribu tahun. Itulah mengapa orang tidak suka di buat menunggu, pikirnya.
Setengah jam kemudian perawat keluar dan memberi tahu Sabian kalau ia sudah boleh melihat Alena.
Alena terbaring di ranjang itu. Tangannya di balut dan wajahnya tampak pucat. Ketika Sabian masuk, ia menoleh ke pintu dan wajahnya yang pucat bertambah pucat. (Pria ini kenapa tidak pergi juga. Apa dia belum puas mematahkan tangan ku?) Pikirnya dalam hati.
__ADS_1
"Apa masih terasa sakit?" Sabian bertanya dengan nada suara rendah. Suaranya sangat enak di dengar. Begitu menenangkan, tapi jika Alena yang mendengarnya suara itu tampak seperti suara yang datang dari malaikat kematian. Ia takut dan tidak menyukainya.
"Sabian, kenapa kau masih ada disini?"
"Kau terluka, apakah pantas kalau suami pergi ketika istrinya sedang terluka?" Ia berbicara dengan polos seolah tanpa dosa.
Suami apanya. Pria ini adalah sumber penderitaan yang di alaminya selama ini. Ia menderita dan terluka sepanjang waktu semenjak jadi istrinya dan pria itu tidak pernah perduli pada dirinya sedikitpun. Apakah dia sedang membuat lelucon dengan berkata menjijikan seperti itu. Jika ia maka Sabian berhasil membuat lelucon yang bagus untuknya. "Kau tidak perlu perdulikan aku. Selama ini juga kau tidak pernah perduli, kanapa sekarang malah cari muka dengan berpura-pura perhatian. Jika kau mau mengatakan sesuatu katakanlah sekarang, aku tidak punya banyak waktu meladeni mu."
Sabian duduk di kursi samping ranjang rumah sakit dengan santai tanpa mendengarkan apa yang dikatakan Alena. Ia memandang wajah Alena. Sangat cantik, Sabian selalu menyukai wajah cantik ini. Dulu Sabian sangat menolak untuk di jodohkan dengan putri dari keluarga Ribero. Berita mengatakan kalau calon istrinya itu ja*ang yang hanya menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Pergi malam dan pulang pagi dalam keadaan mabok, setiap hari berpesta dengan teman pria dan wanita. Entah sudah berapa banyak pria yang telah disinggahi wanita itu. Wanita seperti itu tidak pantas menjadi istrinya di kemudiam hari. Wanita itu adalah Chelsea Ribero, putri tertua keluarga Ribero sekaligus kakak angkat Alena. Akan tetapi Sabian mengetahui kalau keluarga Ribero mempunyai putri yang lain, yaitu Alena. Pertama kali Sabian bertemu dengannya, ia langsung terpikat dengan wajah cantik itu, apa lagi kala wajah itu menampilkan senyumannya. Sungguh hatinya berdebar-debar kala melihatnya. Karena itulah ia memaksa agar wanita yang akan dinikahkan untuknya di ganti menjadi Alena. Pernikahan itu di tentang kedua belah pihak keluarga. Alasannya adalah Alena hanyalah anak angkat sementara Chelsea adalah anak kandung. Selain itu, ibu Sabian dan ibu Chelsea adalah sahabat baik dari SMA. Mereka sudah merencanakan perjodohan ini dari lama, namun siapa sangka kalau keinginan itu sirna dalam sekejap karena kehadiran seorang Alena.
Alena memandangnya tak suka. "Sabian, apakah kau akan mematahkan leher ku bila aku mengatakan kalau aku tidak ingin melihat mu?"
"Tentu saja!" Jawab Sabian dingin dan singkat.
Sabian mengangkat tangannya dan membelai rambut Alena. Alena terkejut melihatnya dan berusaha menggerakkan badannya untuk menghindar tetapi sia-sia.
Sabian tersenyum lembut kala memandang Alena. Ia mengangkat tubuhnya sedikit dan mencium kening Alena.
Alena terkejut setengah mati dengan perlakuan manis Sabian. Ia tak pernah melihat Sabian tersenyum seumur hidup ia menikah dengan Sabian. Entah apa yang terjadi pada pria ini sehingga bersikap demikian.
"Alena, jika kau bersikap baik dan patuh padaku maka aku akan memperlakukan mu dengan baik. Jadi jangan melawan, oke." Suara itu terdengar lembut tetapi terdengar seperti ancaman di telinga Alena. Apakah pria ini salah makan atau kepalanya terbentur. Dia jadi aneh dan Alena jadi tambah takut.
__ADS_1
"Sabian, apakah kau dendam padaku? Jika ia, lampiaskan saja. Jangan bersikap seperti ini." Ucap Alena ragu-ragu.
"Aku sedikit dendam padamu. Jadi aku akan melampiaskannya sedikit demi sedikit. Sekarang jangan banyak bergerak dan istirahatlah."
Hem, Alena baru berpikir apakah pria ini salah makan obat atau apa. Ternyata pria ini ingin menyiksanya secara perlahan. Memang benar, manusia tidak akan pernah berubah dalam satu malam. Yang ada hanyalah sikap buruk manusia bertambah busuk semakin banyak hari berganti.
.
.
.
Drett... Drett...
Ponsel Alena bergetar. Ia dengan susah payah berusaha untuk mengambil ponselnya di atas nakas samping tempat tidurnya akan tetapi tidak berhasil. Sabian melihatnya namun tidak berniat sama sekali untuk membantunya. Ia berkata dengan enteng, "memohon lah pada ku maka akan ku bantu kau mengambilnya."
Alena kesal mendengar perkataanya. Pria ini kenapa tiba-tiba jadi bersikap kekanak-kanakan. Apakah sesenang itu membuatnya terlihat seperti lelucon. Ia berkata dengan marah, "Sabian aku tahu kau tidak menyukai ku, tapi apakah pantas kau berbicara seperti itu pada orang yang sedang sakit. Lagi pula kau yang mematahkan tangan ku, kenapa aku harus memohon bantuan dari mu. Jika kau tidak mau ya sudah, aku tidak mau memohon pada pria jahat sepertimu."
Raut wajah datar tanpa ekspresi Sabian langsung berubah menyeramkan. Pria jahat katanya. Bagian mana dari dirinya yang terlihat berbuat jahat pada wanita ini. Selama menikah 3 tahun, masalah sebesar apapun yang ditimbulkan wanita ini, Sabian hanya memberikan hukuman yang ringan padanya. Jika itu orang lain, mungkin tubuhnya kini sudah selesai di kremasi. Ia dengan kesal mengambil ponsel Alena. Saat hendak memberikannya kepada Alena, matanya langsung menyipit kala tak sengaja membaca nama penelpon di layar ponsel. Nama Denis terpampang di sana. Cengkraman tangannya langsung mengerat hingga buku-buku jarinya memutih dan uratnya menonjol seperti ingin keluar. Ia berkata dengan marah dan menuntut. "Apa ini. Apa kau benar-benar berselingkuh di belakang ku selama ini?"
Alena mengerutkan keningnya. Apa urusannya hal itu dengan pria ini. Bahkan jika Alena benar-benar berselingkuh apakah pria ini akan sangat perduli. Rasanya rumor tentang ia berselingkuh dengan banyak pria sudah menyebar di seluruh sudut kota, kalau ia merasa terhina atau terluka kenapa baru sekarang. "Sabian, itu bukan urusan mu. Kenapa kau bersikap seolah-olah perduli tentang kehidupan ku."
__ADS_1
Sabian marah dan membanting ponselnya dengan kuat. Layarnya terlepas dari tempat seharusnya. Suasana tiba-tiba menjadi terasa dingin. Saking dinginnya seperti bisa membekukan hatinya saat itu juga. Urat-urat di sekitar wajah Sabian mengencang seperti akan keluar. Ia berkata dengan marah. "Nyonya Ardhana. Kau itu nyonya muda Ardhana, artinya kau istri ku. Kau milikku, apa pantas kau menjalin hubungan dengan pria lain di belakang ku."