Akan Tetap Mencintai Mu

Akan Tetap Mencintai Mu
Tangannya Patah?


__ADS_3

Pintu terbuka bersamaan dengan suara yang datang. Alena terkejut dan menoleh ke arah pintu. Pria itu Sabian, suaminya yang tidak bertanggung jawab atas hidupnya. Kenapa bisa ada di sini. Sangat merusak pemandangan.


Sabian melirik ke ruangan sekitar. Ruangan ini sangat sempit untuk dijadikan tempat melukis. Ada banyak sekali peralatan melukis dan beberapa lukisan yang telah jadi di sini yang membuat ruang gerak di ruangan itu bertambah sempit. Bahkan ruangan ini terasa sangat panas, Alena sampai berkeringat banyak saking panasnya. Tidak ada kipas angin ataupun penyejuk ruangan di sana. Bagaimana bisa Alena melukis di tempat seperti ini. Apakah dia bisa menemukan inspirasi untuk karya lukisannya".


"Apa yang kau lakukan disini?" Alena bertanya dengan heran.


Sabian berhenti menatap sekitar. Ekspresinya datar tapi pandangan matanya sangat tajam sehingga membuat orang tidak berani menatapnya. "Aku ingin makan siang."


Alena mengernyitkan keningnya tak mengerti. "Lantas kau bisa menemukan makanan mu di galery ku? Atau kau adalah manusia pemakan kanvas dan kuas?"


"Aku mau kau makan siang dengan ku. Permasalahan semalam belum usai. Jangan berani lari dari tanggung jawab mu."


Heh, Alena mencemooh sikapnya yang tidak tahu diri itu. Siapa sebenarnya yang dirugikan dalam hal ini. Apakah ia itu adalah penyakit sehingga pria itu sangat tidak terima tersentuh olehnya. Dan lagi bukan keinginannya untuk di sentuh pria itu tadi malam.


"Apa kau mau pergi suka rela atau menunggu ku untuk menyeret mu?"


Alena berdiri dengan enggan. Ia pergi ke kamar mandi membersihkan tubuhnya dari cat dan mengganti pakaiannya. Sabian terlihat sangat senang ketika melihat wanita itu dengan patuh mengikutinya.


Restauran Cara Fauntana. Sabian mengajaknya ke restauran yang sangat mewah. Desainnya yang elegan dan bergaya Eropa membuat suasana di tempat ini pun terasa berbeda dengan tempat makan yang sering di datangi Alena. Alena bergidik ngeri membayangkan betapa mahalnya harga makanan di restauran ini.


"Selamat datang tuan muda" pelayan itu menyambut Sabian dengan sangat sopan tapi tidak berniat untuk menyambut Alena sama sekali. Alena pun juga tidak perduli. Ia sudah terbiasa hidup tak di anggap oleh siapapun. "Mari saya antar ke meja makan kalian, tuan."


Mereka naik ke lantai paling atas. Restauran ini terkenal dengan pelanggannya yang rata-rata berasal dari orang-orang ternama. Semakin tinggi tempat makan yang di pesan maka akan semakin mahal pula harga makanan yang di tawarkan. Terasa tidak masuk akal memang bagi orang seperti Alena, namun bagi orang seperti Sabian hal itu adalah hal yang biasa.


Mereka duduk di dekat dinding kaca yang memperlihatkan segala keindahan kota dari atas sini. Pemandangannya sangat bagus membuat suasana hati Alena sedikit membaik.

__ADS_1


Pelayan datang dan memberikan buku menu.


"Steik tenderloin dan sebotol anggur."


"Baik, tuan."


Pelayan itu lalu menoleh ke arah Alena yang masih melihat-lihat buku menu itu. Alena menyembunyikan wajahnya di balik buku menu. Mulutnya menganga tak percaya. Harga makan di buku menu itu ternyata melebihi apa yang ia pikirkan sebelumnya. Harga satu makanan saja sepertinya bisa menghidupi ia dalam sebulan. Bahkan harga air putih saja 5 kali lebih mahal dari pada yang di jual di pasaran. Ini adalah bentuk sebuah pemerasan. Ia membolak-balik halaman setiap buku menu dan tidak bisa berkata apa-apa. Pelayan pun mulai sebal karena Alena sangat lama memilih menu yang di inginkan.


"Nona, apakah kau sudah selesai memilih menunya. Saya takut tuan muda Ardhana tidak terlalu suka menunggu."


Alena menurunkan buku menunya dan menstabilkan emosi tak karuan akibat harga makanan yang tak masuk akal baginya. Ia sedikit berdehem dan berkata tanpa emosi. "Aku tidak lapar dan haus. Tidak ingin memesan."


"Dasar ******. Apakah dia sedang mempermainkan ku. Wanita yang di rendahkan oleh tuan Sabian sendiri tidak pantas untuk bermain dengannya." Pelayan itu memaki dalam hati sambil tetap mempertahankan ekspresi sopannya. Di depannya ada tuan muda Ardhana. Sekesal apapun wanita itu terhadap Alena tetap saja tidak bisa menunjukkan secara terang-terangan didepan tuan muda. Itu akan merendahkan martabatnya di depan Sabian.


Suasana sangat hening di antara mereka. Tidak ada yang berbicara. Sabian sibuk dengan ponselnya dan Alena sibuk menatap sekitar. Beberapa pelanggan di restauran ini sedang sibuk berbisik-bisik sambil melihat ke arahnya. Tidak di ragukan lagi bahwa mereka sedang bergosip, dan bahan utama gosipan mereka tentunya adalah Alena. Sungguh begitu malang. Ia duduk saja langsung di gosipkan. Terkadang ia berpikir apakah cara duduk atau cara bicaranya yang membuat orang suka sekali membenci dirinya.


Tak lama kemudian makanan sampai. "Ayo makan." Suara berat itu terdengar merdu di dengar.


Sabian memulai makannya. Sementara Alena hanya sibuk memperhatikan sekitarnya dan pemandangan dari balik dinding kaca itu. Ia tidak berniat menyentuh makanan itu sedikitpun. Mana tahu nanti Sabian menyuruhnya membayar makanan sendiri setelah ia memakannya untuk mempermalukannya bukan. Hal ini pernah terjadi sebelumnya ketika pria itu membawanya makan malam bersama kekasihnya Sheila, pacar tercinta suaminya itu membuat Sabian marah kepada Alena sehingga meninggalkan Alena sendirian dan membayar makanannya sendiri pula. Padahal saat itu Sabian sudah tidak memberikan jatah bulanan lagi untuk Alena. Alhasil Alena di permalukan di restauran itu karena kekurangan uang untuk membayar makanan. Untung saja Denis datang dan membantunya. Ia tidak akan pernah mau mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.


Sabian sudah makan dua suap namun Alena belum menyentuh makanannya sedikitpun. Ia bertanya dengan suara beratnya. "Kenapa tidak di makan?"


Alena menjawab dengan santai. "Aku tidak memesannya jadi aku tidak ingin memakannya." Ia mendorong piring itu dengan pelan ke arah Sabian. "Kau saja yang makan. Aku sudah kenyang."


"Aku tidak berpikir kau makan dengan benar. Lihat saja tubuhmu itu sangat kurus sehingga tulang-tulang mu tampak akan seperti keluar dari dagingnya."

__ADS_1


Alena membuang muka cemberut. Pria ini, apa pantas melakukan body shaming seperti itu. Tubuhnya memang sangat kurus. Itu semua karena ia lebih suka berhemat dalam hal apapun termasuk makanan. Dokter bilang ia kurang gizi dan bisa pingsan kapan pun karena fisiknya lemah. Tapi siapa yang perduli, bahkan dirinya pun tidak perduli akan tubuhnya. Yang terpenting neneknya bisa sadar kembali. Dia tidak memiliki siapapun di kehidupan ini kecuali neneknya yang sudah renta ini.


Dulu neneknya mengirimnya ke panti asuhan agar bisa mendapatkan orang tua yang menyayanginya. Alena kecil sangat cantik dan manis, orang tua mana yang tidak menginginkan anak semanis dia. Akan tetapi harapan akan mengirimkan cucunya ke kebahagiaan ternyata tidak kesampaian. Cucunya malah bertemu keluarga baru yang tidak tahu diri. Alena begitu menderita dan di siksa sepanjang waktu oleh keluarga itu. Ibunya meninggal ketika melahirkannya dan dia tidak tahu siapa ayahnya. Mungkin saja ayahnya tidak menginginkannya. Ia tidak perduli.


"Aku tidak mau makan. Kau yang pesan, itu artinya kau yang makan dan bayar sendiri."


"Makan kata ku atau aku akan menyumpalnya ke dalam mulut mu!" Suara dingin itu bernada perintah dan ancaman. Alena takut mendengarnya. Tetapi membayangkan ia akan membayar mahal makanan itu akan lebih baik kalau pria ini mematahkan tulang-tulangnya saja di tempat ini. Ia tidak sanggup membayarnya, uang yang dikumpulkan saja pas-pasan untuk biaya rumah sakit. Lebih baik ia menerima sedikit kemurkaan pria ini dari pada perawatan neneknya terhenti.


Alena mencoba mengalihkan pembicaraan, "Sabian, cepat katakan apa maumu. Aku sibuk. Tidak punya banyak waktu untuk meladeni mu."


Sabian dengan jelas menyuruhnya makan, namun wanita ini mengabaikannya. Ia sangat kesal, wanita ini sangat tidak patuh kepadanya. "Habiskan makanan mu dulu, baru akan ku katakan."


"aku tidak mau."


"Kalau begitu tidak akan ku katakan sampai kau menghabiskan makananmu" tegasnya.


Alena kesal karena pria ini mencoba memaksanya. Ia berdiri dan berkata, "kalau tidak mau bilang ya sudah. Aku mau kembali bekerja".


Sabian marah, wanita ini keras kepala dan berani membantahnya. Seumur hidupnya, belum pernah ada yang berani berbicara seperti itu kepadanya. Tepat saat Alena hendak melangkahkan kakinya untuk pergi, Sabian dengan sekuat tenaga menariknya hingga Alena membentur meja  cukup keras. Ia terjatuh bersamaan dengan meja itu. Tangan yang di tarik Sabian membentur meja dan terdengar suara tulang yang retak. Sepertinya patah. Alena berteriak cukup keras dan menarik perhatian semua orang. Tidak ada yang merasa iba padanya, bahkan sepertinya semua orang yang menyaksikan menikmati pemandangan tuan muda Ardhana menyiksa istrinya di depan umum. Ini adalah saat-saat yang di tunggu-tunggu.


Alena menundukkan kepalanya dan mengigit bibirnya menahan rasa sakit hingga bibirnya itu berdarah. Air matanya jatuh, tapi suaranya tidak keluar. Sabian yang awalnya diam saja mulai merasa sedikit panik. Ia berjongkok dan melihat wajah wanita itu, dia menangis. Bibirnya berdarah karena ia berusaha mencega suaranya keluar. Sabian langsung tersadar kembali dari emosinya yang tidak terkendali. Ia bertanya dengan khawatir. "Bagian mananya yang sakit?"


Alena ketakutan ketika ia bertanya. Pria ini, apakah ia berniat untuk memukul kembali bagian yang di rasa sakit. Alena menghapus air matanya dan bersusah payah menahan sakit. Ia berbicara dengan pelan. "Tidak ada yang sakit". Bibirnya bergetar kala mengatakannya.


Sabian menjadi tidak sabaran dan langsung menggendongnya. Alena terkejut dan memberontak, "apa yang akan kau lakukan padaku. Lepaskan Sabian". Sabian tidak memperdulikannya dan terus membawanya turun menuju mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2