
"Ada apa ini?" Semua orang menoleh ke arah sumber suara dari pintu Lift yang baru saja terbuka dan menampilkan seorang Sabian serta asistennya yang baru saja keluar. Sabian melangkahkan kakinya dan sedikit terkejut melihat Alena berada di kantornya. Ia penasaran kenapa wanitanya itu berada disini.
Sherly langsung berlari ke arah Sabian dan memeluk lengannya di depan semua orang. Sabian tidak memperdulikannya dan terus memandangi Alena yang tampak sangat emosi dengan mata sedikit berkaca-kaca memandang kearahnya dengan tatapan nanar.
Sherly menggesek-gesekkan lengan Sabian ke dadanya yang montok dan seksi seraya berkata dengan nada suara di manja-manjakan. "Bian, wanita ****** ini bersikap kurang ajar barusan. Ia mengatakan kalau kau adalah anjing penguntit dan lelaki penggoda yang menguntit dan menggoda wanita murahan ini. Ia bahkan bilang kalau kau memaksa untuk tinggal di kediamannya yang sempit dan sederhana. Sangat tidak tahu malu. Dan apakah kau tahu hal apa lagi yang dia katakan?"
"Apa?" Tanya Sabian dingin memutar wajahnya ke arah Sherly dengan tangan yang sudah mengepal erat karena emosi. Melihat emosi Sabian membuat Sherly menjadi bersemangat untuk mengadu kepada Sabian. "Wanita ****** ini bilang kalau kita adalah peselingkuh dan pasangan pezina. Dia bahkan berkata kalau kau tidak akan bisa mencampakkan wanita ****** ini tetapi dia yang akan mencampakkan mu. Kalau kau tak percaya tanyakan saja pada semua orang yang ada disini."
Diana maju dengan percaya diri dan berkata, "tuan muda, benar apa yang dikatakan nona Sherly. Si ****** tidak tahu diri ini menghinamu habis-habisan. Benar-benar tidak tahu diri."
Sabian melepaskan tangan Sherly dari lengannya dengan kasar dan berjalan mendekati Alena. Sungguh Alena ketakutan setengah mati melihat raut murka di wajah Sabian. Apakah ini adalah akhir dari kehidupannya. Pikirnya dalam hati.
Sabian bertanya dengan pelan kepada Alena, "benarkah apa yang mereka katakan?"
Alena berusaha menyembunyikan ketakutannya dan berkata dengan sok berani. "Benar. Kekasihmu tidak salah. Kau seperti anjing penguntit yang mengikuti ku kemana saja. Bahkan sampai menyuruh pengawalmu untuk mengikutiku. Aku yakin kau pun tahu tujuanku datang kesini untuk apa menemui mu. Bukan hanya itu saja Sabian, kau itu adalah pasangan pezina yang berselingkuh terang-terangan di depan wajah istrimu dan malah aku yang dihinakan padahal aku tidak pernah selingkuh dari mu. Bukan aku yang tidak pantas untuk mu, tapi kau pria pezina yang tidak pantas untuk ku." Pungkas Alena puas mengatakan itu langsung di depan wajah Sabian. Ia lalu mengambil map kertas di dalam tas nya dan memberikannya kepada Sabian. "Ini, surat perceraiannya. Aku sudah tidak mau lagi menjadi istrimu. Ini adalah surat perceraiannya. Cepat tanda tangani surat perceraian ini dan nikahi kekasihmu secepatnya agar kalian tidak menjadi pasangan pezina lagi."
Sabian mengambil map itu dan langsung merobeknya berkeping-keping lalu di hamburan ke depan wajah Alena. Hal itu membuat semua orang tercengang melihatnya. Sabian lalu meraih pinggang Alena dan menariknya untuk mendekat dengannya seraya berkata dengan lantang. "Kau itu istriku. Selamanya akan menjadi istriku satu-satunya. Tidak ada wanita lain dan hanya ada dirimu saja yang akan menjadi istriku. Aku tidak perduli kau masih mau atau tidak menjadi istriku. Selama aku masih hidup akan ku lakukan segala cara untuk membuatmu tetap disisi ku bahkan jika itu harus mengurung mu akan kulakukan."
Semua orang tercengang mendengarnya. Apakah tuan Sabian tidak terima di ceraikan dari gadis murahan seperti Alena? Atau ada maksud lain. Sungguh ini menjadi tontonan yang sangat seru untuk dinantikan.
__ADS_1
Alena meneguk salivanya kasar dengan hawa dingin mencekam ini. Ia berkata dengan susah payah, "Sabian, jika kau mencintai kekasihmu maka pergilah dengan kekasih mu. Ku mohon jangan menahan ku. Aku sudah tidak tahan lagi dengan hinaan dan makian yang orang lain berikan untukku. Aku tidak punya siapa-siapa untuk melindungi ku. Setidaknya jika kau tidak mau melindungi ku, bisakah kau lepaskan saja aku. Aku tidak akan mengambil hartamu. Ku mohon."
Tak terasa air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya terjatuh juga. Hati Sabian terenyuh melihat air mata itu jatuh membasahi pipi cantik Alena. Sabian mengusapnya dengan lembut dan berkata untuk menenangkan. "Gadis bodoh, siapa yang tidak melindungi mu selama ini, heh? Kau itu pembuat masalah, apa kau tahu betapa besarnya kemarahan kakek yang harus kuhadapai untuk menyelesaikan masalah yang kau buat. Jika kakek yang menghukum mu apakah kau masih akan berdiri dengan sehat di hadapan ku, heh?"
Cup....
Sabian mencium kening Alena sekilas yang membuat semua orang terkejut bukan kepalang, termasuk Sherly dan Alena sendiri. Sabian lalu memandang wajah Alena sendiri dan berkata dengan lembut. "Kenapa pipi cantik ini memerah. Sapa yang memukulmu?"
"Dia" tunjuk Alena tanpa ragu mengarah langsung kepada Sherly untuk membuktikan apakah pria ini hanya mempermainkannya atau sedang serius.
Sabian menoleh ke arah yang di tunjuk Alena dan melihat Sherly berdiri mematung karena terkejut. Sabian lalu berjalan menghampiri Sherly dengan langkah panjangnya dan berhenti tepat di hadapan Sherly.
Plak..... Plakkk....
Kedua tamparan itu memotong ucapan Sherly dan terdengar sangat nyaring di telinga. Siapa saja yang mendengar ini tarasa sangat ngilu. Sherly tersungkur kelantai dengan kedua sisi wajahnya yang biru membengkak memandang Sabian ketakutan dan tak percaya seorang Sabian bisa memukul wanita. Sabian kemudian berjongkok dan mencekik leher Sherly lalu menyeretnya menuju Alena dan melemparkan wanita itu di bawah kaki Alena. Alena yang terkejut bergidik ngeri langsung mundur beberapa langkah. Wajahnya memucat melihat adegan yang baru saja ia lihat secara langsung itu.
Sabian tanpa basa-basi membentak Sherly dan menyuruhnya meminta maaf kepada Alena. "Minta maaf kepada istriku, sekarang!"
"Aku tidak mau" teriak Sherly tak terima di permalukan seperti ini.
__ADS_1
Sabian berjongkok lalu menarik rambut Sherly sekuat tenaga membuat wanita itu menjerit kesakitan dan wajahnya mendongak ke atas menghadap Sabian. "Dasar ****** tidak tahu diri. Kau berkoar di dunia luar bahwa kau adalah kekasih ku, iya kan? Hanya karena aku tidak perduli dan tidak ingin tahu menjadikan dirimu seolah seperti ratu yang bisa menindas nyonya muda Ardhana seenaknya. Kau bahkan tidak bisa di bandingkan dengan kotoran istriku. Berani-beraninya kau menyakitinya, hah!" Teriak sabain berapi-api membuat semua orang ketakutan.
Sabian tidak pernah seperti ini. Bahkan Jack yang sudah bekerja bertahun-tahun dengan Sabian pun baru pertama kali melihat sisi Sabian yang terlihat sangat kejam dan seperti pembunuh berdarah dingin.
Alena tak tega melihat Sherly yang terlihat sangat kesakitan serta menahan malu di maki Sabian di tempat umum. Ia reflek memegang lengan Sabian untuk menghentikannya. "Sabian, hentikan. Kau terlalu menyakitinya.".
Sabian mengabikan Alena dan berkata dengan penuh penekanan kepada Sherly, "wanita ini berani memaki dan menghinamu bahkan memukulmu. Aku tidak terima ada yang menyakitimu di dunia ini. Setiap orang yang menyakitimu harus membayar dengan harga mahal terhadap apa yang mereka lakukan padamu.
"Sabian, aku takut dengan kau yang seperti ini. Ayo kita pergi." Ucap Alena bergetar.
Sabian langsung melepaskan cengkraman rambut Sherly dari tangannya dan melihat keadaan Alena. "Apa aku membuatmu takut?"
Alena mengangguk pelan. "Wajahmu terlihat pucat. Maafkan aku sayang. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu takut." Ucap Sabian lembut untuk menenangkan Alena.
"Ayo kita pergi." Ajak Sabian
Keduanya mulai melangkahkan kakinya pergi namun sebelum mencapai pintu lift, Alena jatuh pingsan. Sabian seketika menjadi sangat panik, cemas dan khawatir. "Sayang, bangun. Jangan membuatku takut. Aku bersalah, maafkan aku."
Setiap orang yang berada di sana merasa sangat heran dan sekaligus terkejut dengan apa yang dilakukan Sabian. Ini tidak seperti rumor yang tersebar selama ini dimana Sabian mengabaikan istrinya dan tidak perduli sama sekali. Tapi yang ada di hadapan mereka adalah tuan muda Sabian menatap istrinya dengan penuh cinta dan sangat khawatir saat melihat istrinya sakit sedikit saja. Bukankah itu artinya tuan muda Sabian Ardhana sangat menyayangi istrinya?
__ADS_1
Sabian langsung menggendong Alena ala bridal style dan membawanya ke rumah sakit. Jantungnya benar-benar berdetak tak terkendali karena rasa takut dan khawatir yang bercampur jadi satu.